Saidon mengira setelah berbicara baik-baik dengan manusia es itu dia dapat berpamitan pergi, rupanya pikirannya itu salah besar. Dia tetap dipaksa untuk menikah.
"Sudah cukup kit berbincang, ayo segera melakukan persiapan ritual pernikahan kita," ajak wanita es itu bersemangat.
"Aku manusia biasa, jika kita bersentuhan saja aku pasti mati kedinginan. Jadi tidak mungkin bagi kita untuk menikah," jawab Saidon mulai panik.
"Hey, apa kamu sedang memikirkan tentang malam pertama?"
"Tidak, maksud aku…"
Saidon gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu tenang saja, setelah menikah kamu akan aku bekukan menjadi manusia es juga. Jadi setiap kali bercinta kita kamu tidak akan kedinginan," bujuk wanita es tertawa lebar.
"Kamu gila," umpat Saidon.
Saidon memutuskan berlari, dia sudah melangkah begitu jauh akan tetapi tetap saja tubuhnya terus berputar menuju istana istana wanita es.
"Sialan, sudah empat kali aku berlari tapi kembali lagi di sini. Oh iya, saking paniknya aku lupa jika memiliki pemantik api. Tapi di sini semuanya terbuat dari es, bagaimana cara aku membuat kobaran api yang besar?" batin Saidon sambil memutar otaknya.
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya, Saidon langsung berteriak kaget sebab mengira dirinya hendak di sihir menjadi manusia es.
"Saidon, ini aku. Alula," pekik Alula.
Saidon menoleh, betapa dia merasa lega saat melihat peri pelindung itu.
"Apa Puca sudah aman?" tanya Saidon.
"Iya, dia sedang menunggu kita. Ayo kita segera pergi, aku sudah tahu mengenai seluk beluk tempat ini. Jika orang biasa pasti akan tersesat sebab memang tempat ini di buat untuk mengelabui mangsa," jawab Alula.
Alula mengandeng lengan Saidon, tiba-tiba Saidon merasakan kehangatan yang mulai menjalar dalam tubuhnya.
"Rasanya tidak buruk juga," batin Saidon.
Setelah melewati beberapa tempat, Saidon mulai menyadari sesuatu. Ternyata bukan karena dia berputar-putar. Melainkan beberapa istana juga pemandangan dibangun sama persis. Sehingga orang-orang yang melewati mengira sedang berputar-putar.
Salju mulai turun, Saidon dan Alula tetap berlari menerjang. Walaupun jalanan semakin sulit akan tetapi mereka tidak menyerah.
Melihat Alula yamg terengah-engah membuat Saidon khawatir juga.
"Alula, kamu bisa terbang. Kenapa tidak terbang?" tanya Saidon.
"Salju terlalu lebat, kalau aku terbang bagaimana denganmu?" jawab Alula setengah berteriak.
Saidon kini baru mengerti, rupanya meskipun kakinya sulit bergerak akan tetapi dia tetap bisa berlari sebab tangannya ditarik oleh peri pelindung tersebut yang berlari duluan di depan.
Dalam seumur hidupnya, hanya ada dua wanita yang rela mengorbankan diri untuknya. Yaitu ibu beserta peri cantik ini. Tiba - tiba Saidon ada pikiran untuk membawa Alula ke dunianya.
"Astaga… Dalam bahaya seperti ini bisa-bisanya aku berpikiran ngacok," batin Saidon.
"Saidon, kamu harus bertahan. Sebentar lagi kita akan sampai di perbatasan," kata Alula.
"Iya," jawab Saidon agak kesal juga, sebab dirinya sebagai lelaki justru yang terlihat lemah.
Akan tetapi ketika jarak kurang tiga puluh meter lagi, dari dalam salju di tanah muncul sosok wanita es dengan suara nyaring.
"Astaga... Aku kaget sekali," pekik Saidon takut.
"Yah, padahal tinggal sedikit lagi berhasil," keluh Alula.
"Alula, kamu segera keluar dari wilayah ini. Carilah ranting yang kuat terus berikan kepadaku!" bisik Saidon.
"Biarpun tubuhku tidak terlihat tapi bagaimana dengan ranting yang ku bawa? Mereka pasti curiga kenapa bisa ada ranting terbang? Mereka bisa berpikir kamu bisa sihir dan langsung menyerang kamu bagaimana?" jawab Alula kebingungan.
Saidon berpikir sejenak, kemudian otak cerdasnya langsung mendapat ide.
"Kamu pinta Puca untuk membawa ranting itu kemari, aku yakin manusia es itu tidak akan curiga apa-apa," balas Saidon.
Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Alula melakukan perintah Saidon secepat mungkin.
"Saidon, beraninya kamu meninggalkan aku? Sudah aku bilang kemanapun kamu pergi aku akan menemukanmu lagi," sela wanita es mulai geram.
"Dan aku juga sudah bilang jika aku tidak mau bersamamu di sini, karena ini bukan dunia aku. Terlebih lagi aku tidak menyukaimu," balas Saidon tak gentar sembari mengalihkan agar Puca dapat masuk dengan lancar.
"Di sini yang berkuasa aku, dan hanya aku yang punya hak memutuskan segalanya."
"Aku tahu kamu merasa hampa dan kesepian, tetapi sebenarnya jiwamulah yang kosong. Seandainya aku di tahan lama-kelamaan akan menimbulkan rasa benci yang justru lebih menyakiti perasaanmu," ucap Saidon.
"Kenapa takdir ini tidak adil!" teriak wanita es mulai naik pitam.
"Jika berpikir seperti itu aku juga sama, aku benci pada takdir yang menahan aku di negeri aneh ini," jawab Saidon tidak gentar.
Wanita es mulai membangkitkan prajurit dari salju, walaupun berbentuk kerdil tetapi Saidon yakin tidak akan bisa mengalahkannya sekalipun dengan pistolnya. Karena mereka semua adalah benda mati yang dikendalikan.
Dari arah depan, belakang, sisi kiri dan kanan para prajurit itu terus mengepung.
"Saidon, tangkap!" teriak Puca yang melempar ranting kayu agar bisa cepat sampai di tangan Saidon.
Kemudian Saidon melepaskan jaketnya, kemudian melilitkan di ujung ranting dan membakar dengan pemantik api. Api langsung membesar, akan tetapi Saidon tahu jika api itu tidak akan bertahan lama.
Secepat kilat Saidon menyambar ke arah prajurit, belum sampai kena saja mereka sudah meleleh bagian depannya.
Karena takut mereka semua mundur, Saidon segera mencari celah dan kemudian nekat melawan wanita es.
Wanita es itu bukannya takut malah menusukkan dirinya sendiri ke api. Dari bagian perut sudah mulai mencair.
"Aku hanya ingin menakutimu, tidak ada niatan membunuhmu," kata Saidon merasa bersalah.
"Tadinya aku takut mati, tapi kemudian aku menyadari jika kesepian itu lebih menyiksa dibanding kematian. Aku sudah bosan sendiri, biarpun aku bisa membuat boneka salju yang bergerak tetapi mereka tidak dapat di ajak mengobrol. Saidon aku bahagia, setelah ribuan tahun akhirnya bisa memiliki teman bicara sepertimu."
Perut wanita es itu mulai meleleh, akan tetapi dengan segera pulih kembali.
"Kamu..." pekik Saidon terkejut, rupannya hukuman wanita es itu abadi.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran!" teriak wanita itu yang marah pada diri sendiri yang tidak bisa mati.
"Semoga suatu saat kamu mendapat kebahagiaan," jawab Saidon sambil berlalu pergi.
Dan akhirnya Saidon bisa keluar dari wilayah dingin, kini mereka berada di daerah yang normal.
"Saidon, kalian membuat aku khawatir. Hampir saja aku mengira kalian dimakan oleh mereka," rengek Puca.
"Mana mungkin," balas Alula tersenyum riang.
"Aku lapar sekali," keluh Saidon.
"Tenang saja, tadi aku lihat di sekitar sini tumbuh buah - buahan.
"Ayo kota ke kasa," ajak Alula bersemangat.
Buah yang di maksud Alula adalah buah yang mirip kelapa muda, Saidon juga tidak mengira di dunia ini bisa ada semacam ini.
Puca merubah dirinya menjadi besar dan langsung terbang menggigit buat tersebut, hanya saja dia langsung menjerit kesakitan.
"Aduh... Keras sekali," teriak Puca.
"Sepertinya tidak bisa di makan," jawab Alula.
"Bukan seperti itu cara memakannya," jawab Saidon.
Saidon memanjat dan memetik beberapa. Kemudian menggunakan giginya mengupas sabutnya.
"Aduh... Gigi aku nyilu sekali melihatnya," ujar Alula kemudian membelah kelapa muda tersebut ilmunya.
Saidon dan Puca melirik Alula dengan tatapan kesal. Alula pun meringis.
"Aku juga tidak tahu kalau aku bisa begini, yasudah ayo kita minum dulu airnya sepertinya tampak menyegarkan," bujuk Alula menenangkan mereka.
Nyes...
Dahaga mereka seketika lenyap, Saidon yakin jika buah itu adalah kelapa muda.