10. Buah Halusinasi

1204 Words
Karena saking hausnya, Saidon memetik buah yang mirip kelapa muda itu lagi dan meminum sampai beberapa butir.  "Alula, Puca. Masih banyak ini, kenapa kalian tidak mau lagi?" tawar Saidon. "Cukup 1 saja, Karen aku takut jika kekenyangan nanti saat ada bahaya tidak bisa terbang," jawab Puca. "Rasanya aneh, masih lebih enak di rumahku," timpal Alula. Saidon tidak mempedulikan mereka, diapun menghabiskan butiran yang terakhir sampai tiba-tiba dirinya pingsan. Alula dan Puca begitu panik, mereka segera membangun tenda untuk istirahat sekaligus menolong Saidon. Begitu Saidon ditidurkan secara berbaring, Alula menjulurkan kedua tangannya di atas d**a Saidon. Keringat mulai bercucuran di kening Saidon, akan tetapi dia masih belum bisa terbangun. "Sudah lama sekali tidak sadarkan diri, apakah Saidon mati?" tanya Puca lemas. "Dia masih hidup, anehnya seperti sedang tidur hanya saja tidak bangun walaupun aku sudah menguras energi ku," jawab Alula. Beberapa saat kemudian cahaya yang terpancar dari kedua tangan Alula mulai pudar, peri pelindung tersebut sudah kehabisan energi. "Alula, sebaiknya kamu istirahat dulu untuk memulihkan tenaga. Aku akan mencoba berkeliling di sekitar sini siapa tahu ada yamg bisa membantu," pinta Puca. "Kamu harus berhati-hati ya, karena kita bukan sedang di wilayah kita sendiri," pesan Alula cemas. "Iya, aku cerdik pasti bisa lolos kalau ada bahaya," jawab Puca berubah menjadi mode seukuran rusa biasa. *** Saidon merasa kepalanya pusing, ketika dia terbangun dia sudah berada di kamarnya sendiri yang begitu mewah. "Saidon, kamu sudah bangun? Ini Ibu antarkan makanan untuk kamu." Saidon mengucek kedua matanya dengan jemarinya, dia yakin jika sosok wanita yang tersenyum ramah sambil membawa makanan itu adalah Victoria, istri kedua ayahnya. "Apa aku sudah kembali di rumah? Tapi kenapa tiba-tiba nenek sihir ini ramah padaku. Aku tidak boleh terjebak kedua kalinya, aku yakin pasti ada racun di dalam makanan tersebut," batin Saidon curiga. "Saidon, kenapa kamu tidak makan? Kamu takut ya jika ada racun, baiklah biar kamu tidak curiga aku akan mencicipinya," sela Victoria.  Ibu tiri Saidon ternyata berani memakan makanan yang dibawanya, meskipun begitu Saidon tetap enggan untuk memakan. "Di mana ibuku?" tanya Saidon tanpa basa-basi. "Ibumu sedang berduaan dengan ayahmu menghadiri acara, makanya mereka meminta aku untuk merawat kamu yang sedang tidak enak badan," jawab Victoria. Saidon heran, sebab selama ini jika ibunya berduaan dengan Shadow, Victoria akan cemburu dan murka. Lha ini malah tersenyum bahagia dan mau merawat dia. "Aku mau keluar dulu," ucap Saidon. Saidon segera keluar dari kamar, dia heran karena di rumah tersebut sama sekali tidak ada orang kepercayaannya. Semuanya adalah orang-orang ibu tirinya. "Kakak, kamu mau kemana? Mari aku antar, tubuhmu masih belum sehat," sapa seorang pemuda yang ternyata adalah Frons. Saidon semakin terkejut, sebab tidak biasanya Frons memanggil kakak dengan setulus ini. Bahkan yang paling aneh Frons tidak terkejut dengan kehadirannya, bukankah dulu Frons sudah membuat dirinya terjun ke jurang? "Kakak kenapa melamun? Aku diminta ibu untuk menemanimu jika ada urusan," tawar Frons manis. "Apa kamu lihat Dev? Aku ada urusan dengannya," tanya Saidon. "Kakak ini bagaimana, bukankah Dev sedang diutus ayah untuk mengantar kayu ke pabrik?" "Kayu?" pekik Saidon. "Iya, Kayu. Tahun ini pesanan kayu meningkat, makanya tanah bagian selatan akan ditanam lagi yang banyak. Sedangkan untuk pemotongan hanya akan dipilih kayu yang sudah cukup umur biar hasil bagus," jawab Frons. "Sejak kapan ayah menjadi penjual kayu? Bukankah kami keluarga mafia yang memperjual-belikan senjata?" Saidon semakin bingung, dia melihat sekeliling rumah. Hanya tempatnya yang sama melainkan isinya yang berbeda termasuk sikap orangnya. "Kak, ikan yamg kita pelihara di kolam sudah besar loh. Ayo kita pancing kemudian minta ibuku untuk memasak,'' ajak Frons sambil menarik lengannya. Saidon tidak menolak dan ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.  Mereka mulai menyiapkan pancing, kemudian duduk di pinggir kolam. "Frons, apa kamu ingat kejadian di hutan terakhir kali?" tanya Saidon. "Oh, tentu aku ingat. Maafkan aku ya, Kak. Semua karena kecerobohan aku. Kalau saja aku tidak ngeyel ikut ayah melihat proses penebangan pohon mungkin saat ini kakak tidak akan terluka," rengek Frons. "Apa?" pekik Saidon. Dia benar tidak ingat kejadian yamg barusan dikatakan oleh Frons, bahkan sifat adik tirinya ini bukan tipe yang manis seperti ini. "Iya, karena tidak hati-hati aku hampir saja terjatuh ke jurang. Tapi kakak menarik tangan aku, karena kakak tidak cukup kuat akhirnya kita berdua jatuh bersama. Aku yang berada di atas tubuhnya kakak tidak apa-apa, sedangkan kepala kakak terluka parah," jelas Frons. Saidon jelas bisa mengingat, jika dia jatuh ke jurang karena desakan dari Frons. Terlebih lagi dia juga tidak begitu akrab dengan adik tirinya itu. "Saidon, Frons. Apakah kalian sudah dapat ikannya? Nanti jika sudah langsung antar ke dapur ya, biar ibu buatkan bumbunya terlebih dahulu," sela Victoria setengah berteriak dari kejauhan. "Iya, ibu. Nanti kalau sudah dapay akan aku antar," jawab Frons. "Sejak kapan Victoria bisa masak? Terus Frons juga jadi sepatuh ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah aku ini sedang bermimpi atau amnesia?" batin Saidon. Kemudian Saidon melihat ke kolam, dia fokus menatap ikan-ikan yang berenang kesana - kemari. Seketika Saidon teringat tentang ikan yamg bisa berbicara di negeri Muria. "Mengenai Frons yang ingin membunuhku adalah sebuah fakta, terus aku yang jatuh ke jurang terjebak ke negeri Muria. Aku ingat terakhir kali aku sedang minum air yang berasal dari buah yang mirip Kelapa muda. Entah kenapa tiba-tiba aku pingsan dan langsung kembali ke duniaku sendiri. Tapi anehnya dari apa yang terjadi saat ini seperti sebuah halusinasi. Iya aku memang pernah berharap terlahir dari keluarga biasa dan bukan Mafia. Terus bisa hidup bersama dengan damai," batin Saidon. Seketika tubuh Frons seperti asap rokok yang perlahan lenyap dari pandangan. Bahkan Victoria yang tengah berjalan menghampiri dirinya juga seperti Frons. Kemudian Rumah, pepohonan dan apa yang ada di depan mata Saidon seperti asap yang berterbangan. Pandangan mulai diselimuti kabut hitam. Saidon sangat takut. Tiba-tiba Saidon terperanjat, dia membuka mata dan melihat Alula yang terbaring di sampingnya. " Apa barusan aku berhalusinasi? Oh tidak, Alula mungkin juga sedang mengalaminya," batin Saidon. Ketika dia ingin membangunkan Alula, Puca langsung masuk dan mencegah Saidon. "Jangan! Alula sedang kelelahan karena kehabisan energi saat ingin menyelamatkanmu." "Puca, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanya Saidon kebingungan. "Kamu kebanyakan minum air dari buah tadi, kata seekor monyet tua kamu masuk ke alam halusinasi. Tidak ada obat, semua tergantung kamu sendiri apakah bisa keluar atau tidak. Jika kamu terlena dari halusinasi selamanya kamu akan tertidur dan hidup di sana. Tidak sedikit orang yang bisa keluar, karena katanya di alam halusinasi kamu akan dihadapkan oleh keinginan yang belum terwujud di dunia nyata," jelas Puca panjang lebar. "Apa kamu dan Alula juga begitu?" tanya Saidon merasa lega. "Tidak, kami hanya minum sedikit. Sekarang kamu istirahatlah, setelah itu kita segera melanjutkan perjalanan dengan cepat. Di wilayah ini harus berhati-hati memilih makanan, kata Monyet Tua yamg aku temui ma;ah disarankan untuk tidak makan dari daerah ini," balas Puca. "Baiklah, kita juga harus menunggu Alula terbangun. Kamu juga istirahatlah, mungkin akan lebih cepat jika kita terbang saja nanti," saran Saidon. "Aku juga berpikir seperti itu, aku akan istirahat diluar. Aku lelah memakai mode kecil," jawab Puca. Kini di dalam tenda hanya ada Saidon dan Alula, begitu dia terbaring Alula langsung berpindah posisi miring menghadapnya dan melingkarkan tangannya ke perut Saidon. "Apa gadis ini tengah memelukku? Ya sudahlah, aku mengantuk sekali," batin Saidon. Diam-diam dia juga merasa nyaman berada dalam pelukan Peri Pelindung tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD