Dari kejauhan, air wajah Qenna berubah sendu. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Qenna merasa mereka yang di pecat Armand tidak sepenuhnya bersalah. Ini juga salahnya, andai ia tidak dekat dengan Armand menerima kebaikan pria itu, mungkin karyawati yang di pecat Armand tidak akan menebar fitnah. Tubuh Qenna tersandar lesu. "Qenna, kamu kenapa?" tanya Citra menangkap wajah kalut teman kerjanya itu. Qenna menggeleng."Tidak apa, Cit." Ia mencoba berkillah. Citra melirik dari jauh ke arah berkumpulnya orang."Kamu tidak salah, Qenna. Tidak seharusnya mereka menarik kesimpulan yang tidak mereka ketahui. Apa lagi ini menyangkut direktur kita. Bisa jatuh reputasinya sebagai direktur di kantor ini." "Kalau bukan salahku menerima kebaikam pak Armand, mungkin mereka juga tidak berpikir macam

