Qenna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya masih teraduk-aduk oleh nama Armand. Di satu sisi, ia sempat melihat seseorang yang mirip dengan Armand. Sedangkan di sisi lain, nama yang sama juga di sebutkan oleh anaknya sendiri dan Tante Lydia. Tentunya semua itu di sangkut pautkan oleh Qenna. Sebab, setiap kali mendengar nama pria itu darahnya berdesir hebat. Hingga ia kesulitan mengatur deru napasnya. Bahkan perempuan itu sampai tidak fokus berbicara dengan Tante Lydia. Qenna sering melamun, dan cengingiran saja. Pada hal ia tidak sepenuhnya mendengar ucapan Tante Lydia. Hanya mengikuti Tante Lydia tertawa, Qenna juga ikut ketawa. Pikirannya buyar saat menjelaskan gaun yang di pesannya lagi oleh Tante Lydia. Merasa dirinya kurang sinkron, dan Qenna tidak enak hati, akh

