Gara-gara Mas Aska semalam aku terpaksa mencari warung yang masih buka hanya untuk membeli pasta gigi. Mana pulangnya hujan tiba-tiba turun sehingga aku kehujanan, lengkap sudah penderitaanku malam itu. Sejujurnya aku masih kaget kenapa tiba-tiba Mas Aska bisa berada di Jakarta? Kapan dia pulang dari luar negeri?
"Ih, kamu dengar aku nggak sih." Laras, rekan kerjaku, memukal pelan bahuku. Saat ini aku berada di auditorium kantor menghadiri acara pelantikan CEO Djaya Technology yang baru.
"Ngelamunin apa kamu?" tanya Erika.
"Lagi mikirin kapan gajian?" kilahku. Kalau Erika tahu semalam aku ketemu Mas Aska, bisa-bisa aku habis digoda oleh dia.
"Cerita kamu sampai mana tadi?" tanyaku ke Laras, berusaha nengalihkan topik pembicaraan kami.
"Katanya CEO baru kita ini ganteng dan masih single."
"Lalu kenapa kalau single? Kayak dia mau aja sama kamu," jawab Erika.
"Kan, jodoh gak ada yang tahu, Bu," jawab Laras cengengesan. Kalau sudah membahas soal cowok ganteng, Laras akan maju paling depan untuk mendengarkan.
"Tapi, ngomong-ngomong bos baru kita kok belum kelihatan, ya?" Di sofa paling depan aku hanya melihat Pak Raharga Djayabrata atau yang biasa kami panggil Agra, CEO Djaya Technology sebelumnya, duduk bersama ayahnya Pak Bagaskara yang merupakan pendiri Djaya Technology. Kini posisi Pak Arga akan digantikan oleh anaknya. Semua karyawan kantor belum ada yang tahu siapa nama anak beliau, pasalnya Pak Arga seperti merahasiakan tentang keluarganya. Dari gosip yang beredar sebelumnya anak Pak Arga bekerja di perusahaan cabang yang ada di Singapore.
"Ho'oh, kayaknya beliau di belakang. Kalau begini, kan, kita jadi makin penasaran seganteng apa anak Pak Arga."
"Selanjutnya adalah sambutan dari CEO Djaya Technology." MC berdiri di panggung membacakan acara selanjutnya yang membuatku semakin tidak sabar. Sebentar lagi bos baruku akan berdiri di panggung dan aku bisa melihat wajah tampannya seperti yang digosipkan orang-orang.
"Kepada Pak Askara Bintang Djayabrata disilahkan."
Aku ternganga, mematung menatap ke depan, tepatnya ke arah pria yang sedang berjalan dengan langkah penuh percaya diri menaiki panggung. Rasanya sulit untuk dipercaya, pria yang pernah dirumorkan berpacaran denganku kini adalah CEO Djaya Technology. Ya Tuhan, plot twist apa ini?
"Waw, bakalan ada yang satu kantor sama mantan." Erika berbisik di dekat telingaku.
Mantan dari Hongkong!
Disaat aku masih kaget, Erika malah terlihat biasa saja, seperti tidak terkejut sama sekali.
Sudah delapan bulan aku bekerja di Djaya Technology, tapi aku tidak pernah tahu bahwa Mas Aska memiliki marga Djayabrata di belakang namanya. Anehnya, kenapa saat kuliah juga tidak ada yang tahu bahwa dia adalah anak dari pengusaha ternama? Kami dulu mengenalnya hanya sebagai Askara Bintang.
***
Hari ini aku dan tim lainnya akan mengadakan rapat dengan CEO. Jumlah orang di ruangan rapat saat ini ada 30 orang, hanya perwakilan dari beberapa divisi saja yang diminta hadir. Dari divisiku ada empat orang termasuk aku yang akan mengikuti rapat ini.
Mas Aska masih belum datang saat ini. Entah kenapa aku merasa deg-degan akan bertemu denganya?
Saat pintu ruang rapat terbuka, keheningan menyelimuti.
Mas Aska melangkah masuk dengan percaya diri, mengenakan setelan abu-abu elegan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti sesaat menatapku, lalu menatap ke arah lain. Apa Mas Aska terkejut melihatku? Ini hari kedua Mas Aska di kantor dan pertama kalinya dia melihatku di sini.
'Tenang, Salsa. Tenang.' Menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan, aku berusaha untuk tenang dan bersikap profesional.
Rapat dimulai. Mas Aska saat ini sedang berbicara, menyampaikan poin penting yang akan menjadi fokus perusahaan ke depan.
Aku berusaha untuk fokus mendengarkan, tapi sesekali aku merasa tatapan Mas Aska jatuh padaku. Jantungku berdebar, aku menatap ke arah lain sejenak untuk menormalkan detak jantungku ini, tapi sialnya yang aku lihat malah Erika. Dia menyadari kegugupanku. Bukannya prihatin dia malah menyeringai, seolah sedang mentertawakaku. Kawan lucknut memang!
Begitu rapat selesai aku buru-buru keluar dari ruangan tersebut. Saat sampai di lantai enam aku baru sadar bahwa buku catatanku tertinggal di ruang rapat. Aku meminta Erika menemaniku kembali lagi ke ruang rapat.
"Nggak mau, ah. Ambil saja sana sendiri. Lagian ruang itu udah kosong sekarang."
"Okelah, Bu Bos," ucapku pasrah. Erika mungkin benar. Semua peserta rapat mungkin sudah meninggalkan ruangan. Aku lalu memberanikan diri kembali ke lantai sembilan.
Aku membuka pintu perlahan. Ruangannya sunyi. Namun, saat aku melangkah masuk, aku terhenti. Mas Aska masih di ruangan ini dan berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Jakarta. Pria itu memegang handphone, matanya sangat fokus pada layar benda pipih tersebut.
Aku langsung menahan napas, berharap langkahku tadi tidak mengusik kesunyian. Tapi, pintu yang kututup perlahan mengeluarkan suara kecil, dan aku tahu ia mendengarnya.
Mas Aska menoleh. Untuk kesekian kali tatapan kami kembali bertemu. Aku terdiam di ambang pintu, jantungku berdetak keras. Mas Aska juga tidak berkata apa-apa.
"Maaf, Pak. Saya ingin mengambil buku catatan yang tertinggal di meja."
Dengan gugup, aku melangkah ke meja tempatku tadi duduk. Buku catatanku tergeletak di sana, persis seperti yang kuingat. Aku mengambilnya cepat, mencoba menghindari tatapan Mas Aska, lalu bergegas menuju pintu.
"Kamu apa kabar?"
Langkahku terhenti. Rasanya aku benar-benar tidak mau berbicara dengannya setelah mengingat kejadian di indomaret dua hari lalu. Tapi dia adalah bosku sekarang, kalau tidak dijawab nanti aku dianggap sebagai karyawan yang tidak profesional.
"Selama ini saya baik-baik saja, Mas–eh Pak," ucapku sembari berbalik badan menghadap ke arah Mas Aska. Pria itu berdiri memunggungiku dengan ponsel yang menempel di telinga. Namun, detik berikutnya dia berbalik badan, menatap ke arahku.
Aku terdiam mematung dengan mata membola.
"Syukurlah kalau sudah sehat. Besok Om janji akan ajak kamu jalan-jalan." Mas Aska kembali berbicara dengan seseorang di telpon, tapi tatapannya tak lepas dariku.
Pundakku merosot, kakiku lemas seolah tak mampu lagi menopang tubuh ini.
Oh, batu belah batu bertangkup. Makanlah aku, telanlah aku sekarang juga!