Aku berjalan cepat sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Bodoh! Harusnya tadi aku memastikan dulu pertanyaan Mas Aska ditujukan untuk siapa, bukan malah sembarangan menjawab.
Arghh!
Malu sekali rasanya. Aku bahkan sampai tidak ingin lagi masuk ke ruang rapat tersebut.
"Salsa!"
Oh, s**t! Untuk apa Mas Aska mengejar dan memanggilku. Aku tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengannya. Sejak bertemu Mas Aska aku tidak pernah tidak malu-maluin di depan dia.
Apa aku pura-pura tidak dengar dia saja? Ya, itu ide bagus. Aku berjalan cepat menuju lift.
"Kalau kamu nggak balik badan gaji kamu saya potong! Kamu tidak sadar kamu sedang mengabaikan bos kamu?"
Aku berhenti dan meneguk ludah. Ancaman Mas Aska terdengar menakutkan. Segera diri ini berbalik badan dan memasang senyum semanis mungkin.
"Pak Aska manggil saya?"
Pak Aska belum menjawab. Dia malah tersenyum kecut. Apa dia tengah meledekku? "Saya tunggu di ruang rapat."
Jantungku kini berdebar-debar. Aku menarik napas panjang lalu menyusul Mas Aska ke ruang rapat.b
Kedua sudut bibirku masih diangkat ke atas. Ketahuilah, dibalik senyuman manisku ini aku menyimpan kekesalan yang luar biasa. Mentang-mentang sekarang Mas Aska bos di perusahaan ini lalu dia seenaknya mengancamku.
Sesampainya aku di dalam Mas Aska malah mengunci pintu, membuat perasaanku jadi tidak enak. Mau apa pria ini?
"Pak Aska mau ngapain?"
Mas Aska melirikku dengan alis bertaut dan kening sedikit berkerut. Sedangkan aku kini memasang kuda-kuda, waspada kalau Mas Aska berbuat macam-macam aku akan memukulnya lalu berteriak sekencang mungkin, tidak peduli lagi jika dia adalah bosku.
"Pikiranmu kotor sekali! Tenang saja saya tidak akan berbuat c***l. Pintunya saya kunci supaya nggak ada yang sembarangan masuk dan mendengar pembicaraan kita."
Aku menunduk dalam, mana aku kalau itu alasan dia mengunci pintu. Aku menghela pelan. Sejak bertemu Mas Aska sepertinya aku selalu malu-maluin di depan dia. Pasti dia makin ilfil melihatku.
"Kamu tidak ingat saya?"
Aku mengangkat kepala, bingung kenapa Mas Aska bertanya seperti itu.
"Kenapa dua hari yang lalu kamu lari setelah melihat saya?" lanjut pria itu.
Oh ya Tuhan, jadi dia memanggilku untuk bertanya tentang kejadian memalukan di indomaret dua hari lalu.
Lama terdiam, aku lalu menjawab, "Saya tidak ingat."
Aku mengulum bibir, menahan senyum ketika wajah Mas Aska menyiratkan kekesalan. Lagian siapa suruh sekarang jadi bos menyebalkan.
"Ah, rasanya itu tidak mungkin. Kamu bahkan tadi sampai kecoplosan manggil saya mas."
Pria itu tersenyum lebar. Ekspresinya itu sungguh membuatku jengkel. Melihat senyumnya itu membuatku ingin mencabik-cabik wajahnya. Mengapa dia suka sekali mengingatkanku pada peristiwa yang membuatku malu?
"Siapa bilang tadi saya bicara sama bapak?"
"Lalu kamu ngomong sama siapa? Sama setan? Saya bukan anak kecil yang bisa kamu kibulin."
Aish. Aku tak tahu lagi mau ngeles apa. "Lagian bapak ngomong gak pakai alamat. Mana saya tahu kalau bapak lagi teleponan."
"Tapi kayaknya kamu, deh, yang kepedean dan pengen banget ditanya kabarnya sama saya."
Sudahlah. Ngenes banget hidupku. Aku menyerah, tidak punya kata-kata lagi untuk menjawab. Kini terserah jika Mas Aska meledekku habis-habisan.
"Tapi saya senang dengar kamu baik-baik saja."
Deg!
Aku mematung. Pipiku mendadak panas. Kalimat Mas Aska barusan membuat jantungku berdesir hangat.
"Senang bertemu denganmu lagi, Suryo!" Dia melanjutkan lalu tersenyum menyebalkan.
Dasar bos kampret! Baru saja dia membuat hatiku melambung tinggi, sekarang dibikin kesel lagi. Nyesel aku karena dulu menjadi temannya.
***
Aku pikir dengan meninggalkan kos dan menghabiskan waktu di cafe akan membuatku lupa dengan kejadian di ruang rapat kemarin, tetapi nyatanya tidak. Ucapan Mas Aska masih terngiang dan membuatku kesal.
"Tumben kamu telepon aku?" tanya Erika dari seberang sana.
"Aku lagi kesal." Awalnya aku ingin memendam semuanya sendiri. Tapi makin ditahan malah membuatku kesal sehingga aku butuh Erika sebagai teman curhat. Karena hari minggu gadis itu sedang di rumah orang tuanya dan tidak bisa bertemu denganku, akhirnya aku curhat lewat telepon.
"Kesal kenapa, Sayangku?"
"Kesal sama Pak Aska. Kamu tahu nggak sih, Rik? Pertama kali aku ketemu dia di indomaret setelah enam tahun nggak ketemu, dia ngehina aku pendek dan dia ragu kalau aku ini cewek."
"Wait, wait. Kapan kamu ketemu Pak Aska? Kenapa nggak pernah cerita?"
"Nanti dulu nanyanya, aku belum selesai cerita. Kamu tahu apa lagi yang dia lakuin kemarin? Pertama, dia ngancem aku. Mentang-mentang dia bos lalu seenaknya ngancem bakal potong gaji aku kalau aku gak turutin kemauan dia. Setelah aku turutin kemauan dia, aku malah diledekin habis-habisan sama dia di ruang rapat."
Aku menyesap cappucino yang hampir dingin, berharap bisa meredakan suasana hatiku. Tapi tetap masih sama. Kesal banget aku tuh!
Bukannya kasihan, Erika malah tertawa. "Kok malah ketawa, sih, Rik?"
"Habisnya lucu." Erika masih terkikik, seolah menikmati ceritaku barusan. "Salsa, Salsa ... padahal dulu kalian dekat banget kek prangko, kenapa sekarang kamu jadi sebal gini sama dia?"
"Karena sekarang Pak Aska itu nyebelin! Suka bikin aku darah tinggi. Kalau dia bukan bos aku, udah aku cakar-cakar wajah dia yang ngeselin itu. Aku sumpahin dia jerawatan, diare, bisulan, dan dapat jodoh cewek jadi-jadian dan pendek–"
"Terima kasih untuk pujiannya." Suara berat yang terasa familiar itu tiba-tiba terdengar dari belakangku.
Seketika aku terdiam membeku. Mataku melebar dan napasku tercekat di tenggorokan. Perlahan, aku berbalik dan melihat Mas Aska berdiri menatapku. Pria itu menggandeng seorang bocah perempuan yang kira-kira berumur kisaran 4-5 tahunan. Buru-buru aku memutuskan sambungan telepon dengan Erika.
"Pa ... Pak Aska?" Aku tergagap, wajahku langsung memerah. "Bapak udah udah lama di sini?"
"Cukup lama untuk mendengar kalau aku ini, apa tadi? Nyebelin? Oh, dan bikin darah tinggi juga?"
Ingin sekali aku menghilang ke dalam gelas cappuccino yang ada di depanku ini. Aku menggigit bibir bawah, mencoba tersenyum canggung.
"Eh... saya cuma bercanda, kok Pak."
"Bercanda sampe nyumpahin aku diare, bisulan, dan dapat jodoh cewek jadi-jadian?"
Mati aku! Sudah ditebak pasti setelah ini aku dipecat.
"Tante ini siapa, Om?" Anak kecil yang datang bersama Pak Aska bertanya sambil menunjuk ke arahku.
Mas Aska berlutut di hadapan bocah perempuan tersebut lalu tersenyum. "Dia calon istri Om."
Hah?