Mataku melotot sempurna mendengar penuturan Mas Aska barusan yang menyebutku sebagai calon istrinya. Otakku mendadak blank sehingga tidak tahu harus berkata apa saat ini.
Pria itu tiba-tiba saja menyodorkan ponselnya. "Tulis nomor ponsel kamu. Kita perlu mencari waktu, membahas tentang kesalahan kamu dan membuat kesepakatan untuk mempertahankan posisi kamu di perusahaan." Aura Mas Aska tiba-tiba jadi menyeramkan.
Aku meneguk ludah. Rasa cemas melanda hati. Apa ini artinya aku akan dipecat? Semoga saja tidak. Ayah dan ibu mungkin akan sedih jika hal itu sampai terjadi.
Dengan tangan sedikit bergetar aku menerima ponsel Mas Aska lalu menuliskan nomorku di sana. Ketahuilah jantungku kini berdebar kencang karena ketakutan.
Selesai menuliskan nomor, aku mengembalikan ponsel Mas Aska.
Tiba-tiba aku sadar akan sesuatu. Sejak tadi Mas Aska berbicara selalu pakai 'aku-kamu' padahal sebelumnya saat di kantor dia memakai embel-embel saya. Sungguh pria ini susah sekali untuk ditebak.
"Jangan pecat saya, ya, Pak?" Aku memasang wajah memelas, berharap Pak Aska luluh.
"Tergantung kesepakatan kita nanti," tegas Mas Aska. Dia sama sekali tidak ada rasa kasihan padaku. Kenapa sekarang dia jadi kejam banget, sih? Padahal dulu dia tidak semenyebalkan ini.
Habis sudah nasibku kali ini!
"Hallo, Tante. Nama aku Tiffany. Nama tante siapa?" Keponakan Mas Aska tiba-tiba berdiri di dekatku dan menggandeng tanganku.
Om dari bocah ini mungkin memang menyebalkan, tapi mana mungkin aku ikut kesal pada anak ini. Apalagi dia sungguh cantik dan menggemaskan. Pipinya gembul mirip seperti bakpau, membuatku merasa gemas.
"Hai, Tiffany. Nama tante Salsa."
"Calon istri Om Aska cantik sekali."
Mataku berkedip berkali-kali. Sumpah, rasanya kalau dipuji anak kecil itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti lebih menyenangkan, karena ucapan yang keluar dari mulut mereka itu jujur.
Aku masih bengong, bingung bagaimana menanggapi. Anak menggemaskan ini baru saja memanggilku calon istri omnya. Mas Aska bener-benar keterlaluan, tega sekali dia membohongi anak semanis ini.
"Terima kasih, kamu jauh lebih cantik dan lucu." Aku tersenyum seraya menyentuh pipi Tiffany. Tatapanku lalu beralih pada Mas Aska.
"Saya bukan calon–"
"Aku cuma bercanda, tidak usah baper."
Dih, siapa juga yang baper.
"Tapi kalau kamu memang mau diseriusin, ayo." Mas Aska melanjutkan, ucapannya terdengar kurang jelas karena suaranya sangat pelan.
"Pak Aska bilang apa?" tanyaku.
"Apa?" Pria itu malah balik bertanya.
"Tadi diakhir kalimat bapak bilang ayo. Ayo ke mana?"
"Ayo makan."
"Bukan, rasanya tadi bapak tidak bilang seperti itu." Otakku kini berpikir keras. Kalimat yang diucapkan Mas Aska sebelumnya cukup panjang, masa iya dia ngajak makan.
"Kalau kamu tahu sebelumnya aku bilang apa, ngapain kamu tanya. Lagian bener tadi aku bilang 'ayo makan'. Dan satu lagi, jangan panggil aku bapak karena aku bukan bapak kamu," tekan Mas Aska.
Karena sekarang aku masih miskin aku hanya bisa merengut dalam hati. Lihat saja, nanti setelah aku kaya dan tak lagi bekerja di Djaya Technology, akan aku balas ucapan pria sombong ini.
"Lalu saya harus panggil apa? Nggak mungkin, kan, saya manggil 'Kakek' ke bos saya sendiri."
"Apa di mata kamu aku sudah setua itu? Usia saya masih 28 tahun." Mas Aska berkacak pinggang sambil menatapku kesal. Aku hanya bisa menunduk. "Kalau diluar jam kerja nggak usah panggil pak, panggil mas aja. Dan tidak usah pake 'saya-anda'. Paham?"
"Iya, Pak–eh Mas." Dadaku tiba-tiba saja berdebar.
"Om Aska kenapa marah-marah ke Tante Salsa?" Tiffany menatap omnya itu tajam. Aku tersenyum, senang karena keponakan Mas Aska membelaku.
"Siapa yang marah? Barusan itu om lagi ngegombal."
"Tapi suara om tidak terdengar lemah lembut."
"Itu karena Om sangat bersemangat karena sudah lama tidak bertemu dengan Tante Salsa."
"Ohh."
Dih, pintar sekali pria ini berbohongnya!
Aku menatap Tiffany prihatin. Kasihan sekali kamu, Nak. Masih kecil tapi sudah dibohongi sama om-mu sendiri. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, aku yang lebih patut dikasihani di sini. Nasibku berada diantara hidup dan mati. Jika aku dipecat, mau makan apa aku setelah ini.
"Ayo kita pesan makan, Om. Tiffany sudah lapar. Tante Salsa ikut kita makan bersama kami, kan?"
Aku kini bingung mau jawab apa.
"Kalau kamu ikut makan bersama kami dan bisa bikin keponakan aku senang hari ini, emm aku mungkin akan memikirkan untuk tidak memecat kamu," ucap Mas Aska. Mataku seketika berbinar.
"Benar, ya, Mas?"
Mas Aska hanya berdeham. Senyumku seketika langsung cerah. Membuat Tiffany senang sepertinya itu adalah hal yang gampang, jika begini aku yakin tidak akan dipecat kali ini.
Kami bertiga duduk di meja yang sama. Tiffany duduk di tengah antara aku dan Mas Aska. Padahal kami berdua baru kenal, tapi anak perempuan itu sudah akrab denganku. Selain cantik, Tiffany sepertinya juga anak yang pintar. Ketika aku bertanya berapa usianya, dia menjawab usianya masih empat setengah tahun.
Bibirku tiba-tiba tersenyum sendiri. Sekilas aku dan Mas Aska mungkin mirip seperti pasangan suami istri yang sedang menemani anak kami makan di cafe.
Beberapa saat kemudian aku tersadar. Senyumku pudar, aku geleng-geleng kepala, menghalau hayalan yang ada di pikiranku. Bisa-bisanya aku menghayal begitu?
"Kamu kenapa?"
"Hah, anu Mas. Lagi pemanasan."
Aduh, bicara apa sih aku? Mana ada orang pemanasan sebelum makan.
"Dasar aneh."
Aku menghembuskan napas lega karena Mas Aska tidak bertanya lagi, syukurlah. Entah bagaimana reaksinya kalau aku bilang tadi sedang membayangkan kami adalah pasangan suami istri?
Selesai makan kami bertiga lalu keluar dari kafe. Aku senang karena kali ini makan tidak keluar duit, itu karena Mas Aska mentraktirku.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Mas Aska.
"Aku tadi bawa motor, Mas."
"Ohh, yasudah. Kalau gitu aku dan Tiffany pulang dulu."
"Mas." Aku menahan Mas Aska yang hendak pergi.
"Kenapa?"
"Emm, aku gak dipecat, kan?"
"Aku belum memutuskan."
Mataku terbelalak. Apa-apaan ini. Jadi maksudnya tadi dia membohongiku.
"Aku tadi bilang akan memikirkan untuk tidak memecat kamu. Jadi, aku belum mengambil keputusan," lanjutnya.
Dadaku naik turun, sebisa mungkin aku sembunyikan kekesalan ku ini. Sumpah, ini bos memang minta disantet. Mau ngelawan tapi takut benaran dipecat. Yasudahlah, aku pasrah saja. Sepertinya aku harus menempuh jalur langit agar pintu hati Mas Aska terbuka dan dia tidak memecatku.