Bab 05 Syarat Dari Aska

1148 Words
"Pak Aska bilang apa? Buruan kasih tahu." Kini aku dan Erika tengah makan siang di kantin kantor. Gadis di sebelahku ini penasaran tentang kejadian di cafe kemarin. Kemarin sebelum aku menutup telepon Erika sempat mendengar suara Mas Aska. "Aku cuma diomelin," jawabku. Sebaiknya aku tidak usah menceritakan dulu pada Erika kalau Mas Aska masih memikirkan akan memecatku atau tidak. "Serius, gitu doang?" Dia seolah tidak percaya. "Emangnya Bu Bos berharap apa? Nggak mungkin, kan, aku disayang-sayang setelah ketahuan lagi nyumpahin dia." "Iya, juga sih. Tapi kan bisa jadi dia nggak marah. Lagian juga nggak mungkin dia marah lalu pecat pacar emm–." Aku membekap mulut Erika. Bocah ini kalau berbicara kadang tidak suka di filter. Aku jadi curiga jangan-jangan dulu Erika yang menyebarkan gosip di kampus bahwa aku dan Mas Aska berpacaran. "Jangan bicara sembarangan, aku bukan pacarnya. Gimana kalau karyawan lain dengar dan salah paham?" tekanku. Aku lalu menyingkirkan tanganku dari muut Erika. "Hehe, sorry. Tapi aku penasaran, serius kamu dulu gak suka sama Pak Aska? Dia ganteng, pintar, kurang apa coba? Kata aku, sih, kalau masih suka jangan dipendam, nanti kamu ditikung Laras lho," tukas Manager-ku ini. "Dia gak kurang, tapi akunya yang kurang. Rasanya gak pantas kalau aku suka sama dia, apalagi sekarang dia bos kita. Perbandingan aku dan dia seperti bumi dan langit." Ting! Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada pesan masuk di aplikasi hijau dari nomor tidak dikenal. Ketika aku mengklik foto profilnya, aku sedikit kaget saat melihat foto Mas Aska. 'Aku sudah memutuskan. Temui aku pukul tujuh di The Roastery.' Aku rada-rada cemas membaca chat tersebut. Mas Aska ini orangnya susah ditebak. Bahkan kadang mood-nya bahkan mengalahkan perempuan yang sedang menstruasi. Jadi sulit sekaki untuk menebak isi pikirannya itu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga saja karirku tetap aman. Takut banget aku kalau sampai digosipkan karyawan kantor bahwa aku dipecat gara-gara menyumpah-serapahi bos. "Pesan dari siapa, Sal? Kok kamu kayak tegang gitu." "Dari buk kos, emang bawaannya tegang mulu kalau dia yang ngechat," jawabku cepat, tak ingin membuat Erika curiga kalau kelamaan berpikir. "Oalah." Erika mengangguk lalu kembali melanjutkan menyantap makanannya yang tadi sempat tertunda. Sedangkan aku kembali mimikirkan Mas Aska. Aku bingung sebenarnya apa mau pria itu? Kenapa dia harus memutuskannya hari ini padahal dia bisa saja memutuskannya kemarin. Lagian kesalahanku ini sepertinya juga tidak terlalu fatal, masa iya gara-gara utu aku dipecat. *** Malam, pukul tujuh kurang lima menit aku sampai di cafe yang dimaksud Mas Aska. Pria itu ternyata telah datang lebih dahulu. "Mas Aska," panggilku. Pria itu menoleh, dia sempat terdiam sebentar menatapku. "Silahkan duduk," ucap Mas Aska beberapa detik kemudian. Aku lalu duduk di hadapannya. Setelah memesan makan aku langsung bertanya bagaimana keputusan Mas Aska. "Aku tidak akan memecat kamu, tapi dengan satu syarat?" Ah elah, syarat apa lagi sih yang dia inginkan? Lama-lama aku berpikir Mas Aska ini adalah orang yang sangat ribet. "Apa syaratnya?" "Jadi pacar aku." Uhuk! Aku tersedak, kaget mendengar perkataannya. Tuh, kan! Memang Mas Aska ini sulit ditebak. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia memintaku menjadi pacarnya. "Mas Aska tidak usah bercanda. Nggak lucu, Mas. Kita ini lagi serius." Lama-lama aku kesal berhadapan dengan bosku ini. Giliran aku serius, dia malah bercanda. Aku paling benci dengan orang yang suka bermain-main dengan perasaan. "Maksud aku pacar pura-pura. Kamu cuma perlu bersandiwara menjadi pacarku di hadapan kakek dan orang tuaku." Aku geram. 'Cuma' katanya? Yang benar saja! Aku disuruh untuk menipu Pak Bagaskara dan Pak Raharga dengan menjadi pacar pura-pura Mas Aska. Cari mati itu! "Jangan gila, Mas. Aku nggak mau, itu bukan jobdesk aku. Jangan mentang-mentang kamu bos aku sekarang, lalu kamu bisa ngancam aku!" Aku terbawa emosi. Syarat yang diminta Mas Aska benar-benar gila, aku tidak bisa melakukannya. "Aku nggak bermaksud ngancam kamu. Aku lakuin ini karena benar-benar butuh bantuan kamu, Sal. Please, tolong aku." Mas Aska memohon. Dia terlihat sedikit frustasi, mirip seperti orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Aku sempat merasa sedikit kasihan melihat wajah memelasnya itu. Dia kelihatan tidak berbohong dan serius butuh bantuanku. Namun, tetap saja aku tidak bisa membantunya. "Maaf, Mas, aku nggak bisa bantu kamu. Apalagi kamu minta aku untuk membohongi Pak Bagaskara dan Pak Arga." "Kakek ngancam bakal menjodohkan aku jika aku belum bisa mengenalkan pacar aku ke dia." Mas Aska tiba-tiba memberitahu. "Lalu apa hubungannya dengan aku? Kenapa tidak kamu terima saja perjodohan itu? Atau kamu bisa cari perempuan lain yang bisa bantu kamu." "Aku nggak cinta sama perempuan pilihan kakek. Aku takut jika kami menikah, pernikahan kami tidak bahagia dan hanya membawa kesengsaraan. Aku takut menyakiti gadis pilihan kakek karena aku tak bisa mencintainya. Aku hanya ingin menikah dengan gadis yang aku cinta, tapi aku masih belum menemukan pasangan yang cocok. Cuma kamu teman yang bisa aku percaya untuk bantu aku, Sal. Aku tidak punya teman perempuan lagi. Aku mohon, tolong bantu aku." Aku masih terdiam. Aku mengerti apa yang Mas Aska rasakan, tapi bantuan yang diminta Mas Aska ini cukup berat dan aku merasa kurang berani untuk melakukannya. Namun, dilain sisi sebenarnya aku masih membutuhkan pekerjaanku saat ini. Kedua adikku sedang berkuliah saat ini sehingga membutuhkan biaya yang banyak, orang tuaku tidak akan mampu membiayai mereka. Aku takut jika dipecat alasan apa yang akan kuberikan pada keluargaku? Mereka semua pasti akan sedih. "Bantuan ini tidak gratis, anggap saja ini pekerjaan sampingan. Aku akan bayar kamu sepuluh juta per bulan." Aku sedikit tercengang. Sepuluh juta adalah uang yang lumayan besar, tapi tetap saja belum bisa membuatku berani mengambil pekerjaan tersebut. "Aku takut, Mas. Bagaimana jika Pak Bagaskara dan Pak Arga tahu kalau kita hanya bersandiwara? Takutnya mereka marah besar karena dibohongi. Apalagi papa kamu juga tahu kalau aku ini karyawan di Djaya Technology, beliau mungkin tidak setuju kamu berpacaran denganku." "Aku berani jamin kita tidak akan ketahuan. Kamu hanya perlu jadi pacar pura-puraku selama enam bulan. Setelah itu aku akan jelaskan pada kakek dan orang tuaku bahwa kita putus secara baik-baik karena sudah tidak ada lagi kecocokan diantara kita. Dan aku pastikan saat itu aku juga sudah menemukan wanita yang ingin aku nikahi. Jadi nasibmu masih tetap aman, sedangkan aku terselamatkan dari perjodohan ini," ucap Mas Aska. "Aku masih ragu." "Sepuluh juta ditambah aku akan mengabulkan satu permintaan kamu!" tegas Mas Aska. Aku tidak mengerti kenapa pria ini begitu ngotot agar aku mau menjadi pacar pura-puranya. Padahal dengan gaji sepuluh juta dan cuma bersandiwara menjadi pacar pura-pura Mas Aska, perempuan mana pun pasti mau mengambil pekerjaan itu. "Baiklah, aku akan bantu kamu." Setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk membantu. Lagian sayang juga kalau uang sepuluh juta perbulan jatuh ke tangan orang lain. "Serius, Sal?" Mas Aska terlihat kaget. Dia seperti tidak percaya dengan jawabanku barusan. Aku mengangguk. "YES!" Tiba-tiba pria itu berdiri dan berteriak kegirangan, dia reflek merentangkan tangannya ke arahku yang membuat mataku terbelalak. Tapi untung saja pria itu cepat sadar dan gerakan langsung dihentikan. "Oh, iya belum muhrim." Hah? Mas Aska kembali duduk. Sedangkan aku terbungkam dengan d**a berdebar kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD