BAB 10

1027 Words
Setelah selesai menyantap makanan, Alex lansung menuju ke kamar yang di tempati Aisyah di lantai atas. Sementara Aisyah masih membereskan piring-piring kotor dibatas meja makan kemudian mencucinya. Begitu semuanya telah selesai, barulah ia kembali ke kamar. Tujuannya yang paling utama adalah melaksanakan Sholat terlebih dahulu, karena waktu Shila Isya telah masuk. Sesampainya di kamar, nampak Alex sedang duduk berstandar di atas tempat tidur dengan bertelanjang d**a sambil memainkan ponselnya. Aisyah begitu kaget ketika melihatnya, dengan cepat ia memalingkan wajahnya lalu bergegas menuju ke kamar mandi. “ Hai, kamu mau kemana.? " Tanya Alex. “ Sa... Saya mau melaksanakan Shalat Isya, Tuan " ucapnya gelagapan. “ Oh. Ya sudah, kerjakan dengan cepat. Jangan lama-lama ya karena aku sudah tidak sabar. " Ucap Alex memberi perintah sambil tersenyum menyeringai. Aisyah lalu mengambil Air Wudhu lalu segera melaksanakan Ibadahnya, Alex memperhatikan Aisyah yang sedang melaksanakan Sholat empat rakaat dengan khusyuk. Mata Alex tak pernah putus dari Aisyah hingga ia selesai memanjatkan do'a. “ Apa yang tadi kamu, do'akan? " Ucap Alex bertanya. “ Aku berdo'a agar aku dan Tuan selalu di berikan kesehatan, dan aku juga mendo'akan agar hati Tuan selalu melembut untuk selalu memaafkan apabila saya melakukan kesalahan. " Jawab Aisyah jujur sambil melipat mukenanya. “ Kenapa kamu tidak mendo'akan agar aku cepat mati, agar kamu bisa cepat bebas.?" Ujar Alex menyeringai licik. “ Tidak Tuan, Allah tidak menyukai itu, saya yakin Tuan orang yang baik, dan saya akan selalu mendo'akan untuk kebaikan Tuan. " Jawab Aisyah seadanya. “ Kamu pikir aku percaya dengan omonganmu.?" Jawab Alex meragukan. “ Biarpun Tuan tidak percaya, tapi Allah mendengarkan do'a-do'a saya. " Alex menatap Aisyah memastikan kejujuran dari ucapanya. Menurutnya, gadis itu memang tidak lagi sedang berbohong. Semakin Alex memperhatikannya, semakin Aisyah terlihat cantik dan mempesona saja di matanya sehingga membuat pikirannya menjadi liar. “ Kalau begitu, kamu kemarilah." Perintah Alex menyuruhnya naik ke atas ranjang. Perlahan Aisyah menghampirinya. “ Berbaringlah. " Perintahnya lagi. Perasaan Aisyah mulai tidak enak, namun dengan patuh ia tetap menuruti perintah Alex. Ia lalu berbaring di samping Alex. Begitu Aisyah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Alex lansung menindihnya. “ Aku sudah mengikuti semua permintaanmu, sekarang giliranmu memenuhi keinginanku. Okey, layani aku malam ini dan jangan coba-coba menolakku lagi." Ucap Alex berbisik di telinga Aisyah. Aisyah mengangguk, saat itu ia hanya bisa pasrah atas apa yang akan Alex lakukan padanya. Aisyah memejamkan matanya ketika Alex mulai beraksi. Hingga pakaiannya pun terlempar ke sembarang arah. Dan terjadilah sesuatu yang di inginkan oleh Alex, namun tidak dengan Aisyah. Butiran bening itu kembali mengalir di sudut mata Aisyah setelah Alex selesai menuntaskan hasratnya. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas air matanya tidak bisa di tahan. Alex yang masih ngos-ngosan seperti habis lomba lari maraton, ternyata memperhatikan air mata yang menetes di sidit mata Aisyah. Ia kesel melihat semua itu. Harusnya setelah melakukan kegiatan suami-istri itu, Aisyah harusnya tersenyum bukan menangis. “ Kenapa kamu menangis? Apa kamu merasa kalau aku telah memperkosamu lagi.? " Aisyah menggeleng. “ Lalu kenapa kamu menangis? Asal kamu tahu ya, di luaran sana sudah begitu banyak gadis perawan yang telah aku tiduri, tapi tidak ada yang menangis seperti mu. Apa aku perlu menyumpal mulutmu dengan uang agar kamu berhenti menangis, hah? " Teriakan nya mulai emosi sambil menatap Aisyah tajam dengan posisi masih menindihnya. Aisyah tak menjawab, malah air matanya semakin jatuh berderai. Alex jadi semakin tambah kesal di buatnya, lalu di cengkramnya pipi Aisyah dengan kasar. “ Dasar perempuan jalang, aku muak melihat mu terus menangis seperti ini. Tidak bisakah sekali saja kamu tidak merusak mood ku dengan tangisan mu itu, hah? " ucapnya geram lalu melepaskan cengkraman tangannya dipipi Aisyah dengan kasar. setelah itu ia bangkit dari menindkh tubuh Aisyah. “ Kalau kamu tidak suka disini bersamaku, katakan! aku dengan senang hati melemparmu keluar, tapi dengan syarat, kamu harus menggantikan uangku yang telah aku pakai untuk menebusmu dari Gery.? Aisyah tidak menjawab, tangisnya makin pecah. “ Kenapa kamu tidak menjawab, ayo katakan sekarang apa maumu.? " “ Saya hanya sedih mengingat perjalanan hidup saya Tuan, itu saja. " ucap Aisyah lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi Alex. “ Kamu pikir, dengan menangis hidup mu akan berubah, hah ? Sekalinya jadi p*****r, sampai kapanpun akan tetap jadi seorang p*****r. Paham? " Sakit sekali hati Aisyah mendengar penghinaan Alex, di remasnya ujung selimut yang menutupi bagian dadanya lalu ia menangis terisak. “ Tuan, kamu boleh menghina saya apa saja, tapi tolong jangan katakan saya p*****r, karena saya bukan wanita seperti itu. Saya bahkan tidak pernah bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahram saya sebelumnya. Percayalah, saya memang miskin, tapi saya tidak pernah menjual tubuh saya demi mendapatkan uang. Penghinaan mu itu sangat menyakitkan bagi saya Tuan, hikhikhik. " “ Aku tidak perduli. Bagiku, kamu tetaplah seorang p*****r, perempuan munafik seperti mu sudah banyak ku jumpai di luar sana, mengerti?" ucap Alex makin menghinanya mentah-mentah. Aisyah kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Alex yang ternyata juga sedang membelakangi nya dan duduk di tepi ranjang. Di pengangnya tangan Alex yang bertumpu pada kasur. “ Tuan, aku tahu kamu itu orang yang baik, aku juga yakin kamu bisa menilai wanita seperti apa aku ini. Aku rasa tidak perlu lagi aku menjelaskannya padamu tentang siapa dan bagaimana aku, aku tidak memintamu untuk memberitahu pada dunia bahwa aku wanita yang telah kamu nikahi Tuan. Tapi setidaknya, perlakukan lah aku sebagai mana seorang istri, bukan sebagai wanita penghibur. Hikhikhik. " “ Jangan mimpi kamu, " ucap Alex lalu menghempaskan tangan Aisyah. “ Maafkan saya Tuan, kalau permintaan saya ini terlalu berlebihan menurutmu. Saja janji akan mengikuti semua perintah Tuan setelah ini, tapi saya mohon jangan lagi hina saya, itu saja pinta saya Tuan, hikhikhik " Alex tidak lagi membalas perkataan Aisyah, entah mengapa saat itu ia mulai merasa kasihan mendengar ucapan wanita malang itu. Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun, Alex lansung berdiri dari duduknya lalu memakai pakaiannya kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Aisyah. Aisyah menumpuhkan semua kesedihan hatinya setelah Alex pergi. Diluar, Alex duduk menonton sendiri di ruang tamu. Pandangannya memang tertuju pada TV, namun pikirannya melayang entah kemana. Saat itu, ia teringat akan semua ucapan Aisyah yang tadi, ia mulai menyadari, apa mungkin penghinaannya tadi begitu menyakitkan sehingga membuat hati Aisyah begitu terluka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD