BAB 9

1056 Words
Esok harinya, Alex kembali ke Villa bersama pak Yusuf untuk menjemput Aisyah. “ Kamu sudah siap.? " Tanya Alex pada Aisyah begitu ia melihatnya bersama bi Surti sudah menunggu di ruang tamu. “ Sudah, Tuan " jawab Aisyah lalu bangkit dari duduknya. Alex cukup terkesima melihat Aisyah berpakaian rapi dan memakai sedikit riasan di wajahnya. Ia semakin cantik dengan jilbab segiempat model simpel dan elegan yang membungkus rambut hingga lehernya. Dan juga balutan kebaya model lama berwarna putih, namun masih terlihat modern saat ia kenakan. Ternyata, bi Surti lah yang telah mendandani Aisyah sedemikian cantik. Tidak di sangka, di balik penampilannya yang sederhana, ternyata Surti cukup berbakat dalam hal merias wajah orang lain. Ia juga meminjamkan kebaya lamanya untuk di pakai Aisyah hari itu. “ Hmmm... Boleh juga. " Batin Alex berucap begitu melihat Aisyah terlihat cantik begitu di dandani oleh Surti. Sementara pria tampan dan arogan itu, hanya memakai jas biasa saja. Setelah selesai bersiap, mereka berangkat ke kediaman Penghulu tadi. Tepat pukul 10.00, Pernikahan Aisyah dan Alex di langsungkan. Pak Yusuf duduk di samping mereka sebagai saksi, sementara bi Surti duduk di belakang Aisyah. Begitu selesai mengucapkan Ijab Kabul, wali hakim dan juga saksi menjawab " sah." Pertanda Aisyah dan Alex telah resmi menjadi suami istri menurut Agama, semua orang yang ada disana pun mengucap Syukur. Saat itu juga, air mata mengalir dari sudut mata Aisyah. Entah air mata bahagia atau sedih, yang jelas butiran bening itu tak bisa ia tahankan. Bahagianya mungkin karena ia bisa merasakan yang namanya menikah meskipun bukan dengan orang yang ia cintai. Dan sedihnya mungkin karena mengingat hal yang membuatnya terpaksa harus mengemis untuk di nikahi oleh lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu. Alex kemudian mengulurkan tangannya untuk di jabat oleh Aisyah, Aisyah membalas jabatan tangan Alex lalu mencium punggung tangannya. Alex merasakan air mata Aisyah jatuh di atas punggung tangannya, di pandangi wajah Aisyah yang terlihat sendu. “ Apa maunya gadis ini? Semalam nangis-nangis minta di nikahi, giliran sudah di nikahi masih nangis juga. Memancing emosiku saja. " Gerutu Alex dalam hati sambil menatap Aisyah seperti menahan emosi. Aisyah menyadari tatapan Alex yang tidak biasa, ia paham betul dengan tatapan itu, ia segera menghapus air matanya yang menetes di pipi lalu memalingkan wajahnya dari Alex. Begitu melihat Aisyah berhenti menangis, barulah tatapan tajam Alex berubah. Setelah pernikahan selesai, mereka semua pamit undur diri. Penghulu itu memberi izin lalu mengantar mereka sampai ke teras, kemudian mereka pun pulang. Pak Yusuf mengantar Aisyah terlebih dahulu ke Villa. “ Aku ke kantor dulu sebentar, kamu tunggulah di Vila. Ingat, jangan coba-coba kabur. Mengerti." Ucap Alex memberi perintah pada Aisyah. Aisyah mengangguk kemudian mereka pun pergi. Setelah tiba, Aisyah masuk ke dalam lalu mengunci pintu. Kemudian Aisyah mengganti pakaiannya begitu tiba di kamar. Sehabis Magrib, Alex pun kembali ke Villa. Aisyah membukakan pintu untuknya. Sesuai perintah Alex, Aisyah tidak boleh memakai hijabnya selama Alex berada di Villa. Tapi ia tetap memakai pakaian tertutup karena memang hanya setelan rok panjang dan kemeja yang ia punya. melihat Aisyah berpakaian seperti itu, Alex lansung kesal. “ Pakain macam apa yang kamu pakai ini? Membuat moodku jadi buruk saja. " Ucap Alex sambil berjalan menuju ruang tamu. Lalu membanting sebuah paper bag yang di bawahnya di atas meja. “ Maaf Tuan, hanya pakaian ini yang saya punya. " Jawab Aisyah jujur sambil menunduk. “ Ganti pakaian mu dengan yang ini. Setelah itu, buatkan malam malam untukku, aku sudah sangat lapar." Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah paper bag yang ada di atas meja. “ Baik, Tuan " Aisyah mengambil paper bag itu lalu membawanya ke kamar. Sampai di kamar ia mengeluarkan isinya, tampaklah sebuah piyama lingerie pakai rompi panjang berwarna merah muda. Melihat modelnya saja, Aisyah sudah risih. Bagaimana mungkin ia bisa memakainya, namun takut kalau Alex akan marah lagi, ia terpaksa memakainya. Setelah itu ia bergegas turun menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Alex. Alex yang lagi bermain ponsel di ruang tamu, melihat Aisyah turun dari tangga dengan memakai lingerie pemberiannya ia tersenyum puas. Saat Aisyah sedang sibuk memasak di dapur. Alex menghampirinya lalu duduk di kursi dapur memperhatikan Aisyah yang begitu lincah meracik bumbu dapur, ia juga memperhatikan lekuk tubuh Aisyah yang di balut lingerie dari ujung kepala sampai ujung kaki. Merasa di perhatikan seperti itu, Aisyah semakin risih. “ Jangan menatap saya seperti itu, Tuan" “ Kenapa, kamu grogi.? Tanya Alex. “ Tidak, saya merasa risih saja di perhatikan seperti itu." Jawabnya jujur dan tetap fokus pada bawang yang sedang di irisnya. Alex terkekeh mendengar jawabannya. “ Ya sudah, kalau begitu segera selesaikan pekerjaanmu, aku sudah sangat lapar. Tapi kamu yakin kan bisa memasak? " Tanya Alex memastikan. “ Insyaallah saya bisa Tuan, memasak adalah hobi saya. " Sahut Aisyah sambil tersenyum pada Alex. “ Oh, ternyata kamu memang sangat berbakat jadi pembantu. Hahaha " ucap Alex sambil terkekeh seolah mengejek. Aisyah yang tadinya sedang tersenyum, seketika lansung berubah murung begitu mendengar ejekan Alex. “ Ya sudah, bikinkan makanan yang enak untukku. Jangan terlalu banyak bawang, aku tidak suka makanan yang kebanyakan bawang." “ Baik, Tuan " Setelah selesai, Aisyah lansung menata mekanan yang sudah di masaknya di atas meja. “ Silahkan makan, Tuan " ucap Aisyah mempersilakan makan. “ Coba kamu cicipi duluan. Buat jaga-jaga saja, sapa tau kamu mau meracuni makananku. " Mendengar ucapan Alex barusan, Aisyah cukup tersinggung karena di curigai telah melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya dari awal. Segera ia mengambil sendok lalu memakan makan itu. “ Sudah saya cicipi Tuan, Insyaallah tidak ada racunnya. " Alex tersenyum licik, ada kepuasan tersendiri baginya melihat Aisyah yang patuh dan menurut seperti itu. Setelah memastikan bahwa makanan itu tidak mengandung racun, barulah Alex memakannya. Begitu makanan itu mendarat di lidahnya, Alex tersenyum tidak menyangka, ternyata masakan Aisyah sangat nikmat. cocok dengan seleranya. “ Hmm... Ternyata kamu memang ahli dalam hal memasak, sebaiknya kamu aku jadikan sebagai pembantu saja. " ujarnya dengan kembali mengejek Aisyah dengan senyum liciknya. “ Saya sudah menawarkan diri sebelumnya, tapi Tuan lebih memilih menjadikan saya sebagai simpanan. " Ucap Aisyah lirih sambil menunduk sedih. “ Tapi ada bagusnya juga kamu aku jadikan simpanan, selain kamu bisa memasak makanan untukku, kamu juga bisa menjadi teman tidurku selama berada di Villa ini. " Ucap Alex sambil tertawa. Aisyah diam saja, ia lebih memilih fokus menyantap makanan ke banding mendengarkan ucapan Alex yang selalu saja membuatnya tersinggung. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD