Alex yang tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, langsung menuju ke Villa. Ia sampai disana pas waktu Sholat Maghrib telah masuk. Ia berulang kali memencet bel, namun pintu tak kunjung di bukakan oleh Aisyah.
“ Kemana gadis itu.? " Alex menggerutu kesal kemudian ka kembali memencet bel tanpa henti.
Aisyah yang tengah melaksanakan Sholat Maghrib jadi tidak khusyuk di buatnya. Setelah selesai mengucapkan salam, ia langsung bergegas membuka mukena lalu memakai jilbabnya. Aisyah tahu kalau yang datang itu adalah Alex, ia lalu segera membukakan pintu untuknya. Baru saja pintu terbuka, Alex lansung berteriak memarahinya.
“ Dari mana saja kamu hah? Dari tadi aku memencet-mencet bel, kenapa kamu tidak segera buka pintunya? "
“ Ma... Maaf Tuan, saya baru saja selesai Sholat. " Ucap Aisyah gugup dengan tubuh bergetar melihat kemarahan Alex.
“ Aku sudah memberitahu mu kan, kalau aku akan datang. Kenapa pintunya masih saja kamu kunci.? "
“ Sa... Saya takut Tuan, siapa tahu nanti bukan Tuan yang datang. Makanya saya kunci. "
“ Alasan saja kamu. Ini Villaku, siapa lagi yang akan datang kecuali aku."
Alex lansung masuk dan duduk di ruang tamu.
“ Buatkan aku kopi. " Perintahnya pada Aisyah.
“ Baik, Tuan "
Aisyah segera bergegas membuatkan kopi untuknya. Tidak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa secangkir kopi.
“ Ini kopinya, Tuan " ucap Aisyah sambil menaruh kopi diatas meja.
Alex kemudian meletakkan kedua kakinya tang masih memakai sepatu ke atas meja yang sama. Aisyah heran melihat semua itu. Karena yang ia tahu, perbuatan seperti itu tidaklah sopan.
“ Bukakan sepatuku." Ucap Alex memberi perintah kepada Aisyah.
Dengan terpaksa Aisyah berlutut di lantai kemudian dengan perlahan membukakan sepatu yang melekat di kaki Alex. Alex tersenyum puas begitu melihat Aisyah yang begitu patuh melaksanakan semua perintahnya.
“ Berdiri. " Ucap Alex begitu Aisyah telah selesai melepaskan sepatunya.
Dengan patuh Aisyah segera menuruti perintah Alex. Baru saja ia berdiri, Alex lansung menarik tangannya hingga Aisyah terjatuh kepelukannya. Kemudian Alex lansung membuka jilbab Aisyah yang membuat Aisyah begitu terkejut.
“ Lain kali, kalau aku pulang kamu tidak perlu memakai jilbab seperti ini di kepalamu. Dan pakailah pakaian yang sedikit lebih seksi biar sedap mataku memandang, kamu mengerti.? " Bisik Alex di telinga Aisyah.
Aisyah tak tahu harus menjawab apa, ia hanya mengangguk patuh pada apa yang di katakan Alex. Bulu kuduknya merinding, ia tahu Alex pasti akan melakukan sesuatu padanya. Dan ia pun sudah mulai cemas saat Alex tiba-tiba memeluknya erat dari belakang lalu menciumi tengkuknya. Aisyah menggeliat sedikit melakukan penolakan.
“ Kamu diamlah, nikmati saja permainanku. "
Saat permainannya berubah semakin liar, Aisyah sudah tidak bisa lagi membendung rasa cemasnya.
“ Tuan, jangan Tuan. Saya mohon jangan lakukan lagi." ucap Aisyah sambil berusaha menolak perlakuan Alex.
Begitu mendapat penolakan dari Aisyah, Alex langsung menghentikan aksinya.
“ Apa kamu bilang? Jangan lakukan lagi katamu.?" Ujar Alex bertanya dengan ekspedisi seperti menyimpan kemarahan. Dengan kasar Alex mendorong tubuh Aisyah hingga ia jatuh tersungkur ke lantai, Aisyah hanya bisa menangis saat itu.
“ Kamu kurang ajar ya? Berani-beraninya kamu menolak ke inginanku, apa kamu lupa dengan janjimu hah.? Berdiri kamu, sekarang juga aku akan mengantarmu kembali ke Gery."
Mendengar Alex kembali menyebut nama Gery, Aisyah lansung merangkak dan memeluk kaki Alex.
“ Tuan, tolong jangan bawa saya kembali ke tempat itu lagi, saya sungguh minta maaf. Tolong maafkan saya Tuan, tapi saya tidak bisa melakukan perbuatan dosa itu lagi, diri saya sudah sangat kotor saat ini, saya mohon jangan paksa saya untuk melakukannya Tuan. Kita tidak terikat dalam pernikahan, ini sama artinya dengan Zina jika kita melakukannya. Saya tidak mau menjadi seorang pezina Tuan. "
Alex makin kesal dengan ucapan Aisyah, hingga ia kembali mendorong tubuh Aisyah dengan kasar menggunakan kakinya.
“ Berani sekali kamu bicara soal dosa padaku, kamu tahu! kamu itu hanya p*****r murahan. Dasar perempuan tidak tahu diri. Ayo ikut aku, kita ke tempat Gery sekarang. " Teriaknya sambil menarik tangan Aisyah agar segera berdiri.
Kali ini, Aisyah mencoba melepaskan tangannya dari tarikan Alex. Lalu ia bersujud di kaki Alex.
“ Ampuni saya Tuan, saya janji setelah ini akan memenuhi semua ke inginkan Tuan. Tapi saya mohon, tolong Tuan nikahi saya terlebih dahulu. Meskipun secara siri aku rela, asal kan halal di mata Allah. Saya janji, tidak akan menuntut apapun dari Tuan setelah ini, saya hanya ingin di halalkan, itu saja. Demi Allah, saya bukan p*****r Tuan, saya sudah berusaha menjaga kehormatan saya selama ini. Percayalah, hanya Tuan satu-satunya lelaki yang menjamah saya. Saya hanya korban dari perdagangan wanita Tuan, kasihanilah saya Tuan. Hikhikhik " Aisyah terus menangis memohon belas kasihan dari Alex.
“ Jangan mimpi kamu, aku benci dengan kata pernikahan. Jadi jangan pernah berpikir bahwa aku akan menikahimu sampai kapanpun. Dasar wanita munafik sok suci, padahal kamu itu hanya w************n yang bersembunyi di balik jilbab mu ini. " Ujar Alex lalu melempar jilbab Aisyah yang di pakai tadi ke wajahnya.
Setelah itu, Alex pergi meninggalkan Aisyah yang tengah menangis sendirian di ruang tamu. Alex masuk ke kamar tamu, lalu membanting pintu kamar itu dengan kasar. Aisyah hanya bisa menangis meratap sendirian.
Setelah lama menangis, ia kembali ke kamar yang tadinya telah di siapkan Alex untuknya di lantai atas, sementara Alex masih mengerutu kesal pada Aisyah.
“ Kurang ajar, wanita munafik itu benar-benar merusak mood ku kali ini. "
Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mencoba meredahkan emosinya yang masih menggebu, hingga akhirnya ia pun terlelap.
Tengah malam Alex terbangun dari tidurnya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia kembali teringat pada Aisyah. Saat itu juga, hasrat lelakinya muncul kembali. Ya begitulah Alex, ia tidak akan bisa tidur sebelum hasratnya terpenuhi. hingga muncullah pemikiran buruk di otaknya. Saat itu, ia berniat akan masuk ke kamar Aisyah untuk menuntaskan hajatnya meskipun harus dengan pemaksaan.
“ Peduli apa dengan penolakan gadis itu. Aku bisa memaksanya kapan pun aku mau, toh dia kan sudah aku beli pada Gery. " Gumamnya sambil tersenyum penuh siasat di dalam hati.
Kemudian tanpa menunda waktu lagi, ia lansung menuju kamar Aisyah di lantai atas. Perlahan di bukannya pintu kamar yang kebetulan tidak di kunci itu penuh hati-hati. Begitu pintunya hampir terbuka separuh, tampak Aisyah hampir selesai melaksanakan Sholat Tahajud. Gerak-gerik nya langsung terhenti saat mendengar Aisyah memanjatkan doa.
“ Ya Allah ya Robb, engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah segala salah dan dosa hambamu yang hina ini. Sesungguhnya hamba tidak ingin menjadi pendosa yang lebih hina lagi, tapi jika memang takdir yang hamba jalani memang harus seperti ini, maka bukanlah pintu hati lelaki itu untuk menghalalkan hamba, kalau memang begini cara membalas budi kepadanya. Hanya engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia ya Allah, hamba yakin dia adalah lelaki yang baik. Kabulkanlah do'a-do'a hamba. " Pinta Aisyah dalam doanya sambil menangis.
Entah mengapa Alex sangat tersentu setelah mendengar do'a-do'a Aisyah, pikiran kotor yang tadi bersarang di otaknya pun hilang seketika, yang ada hanya rasa simpati pada gadis itu.
Kemudian di tutupnya kembali pintu kamar itu secara perlahan, untung saja Aisyah tidak melihatnya saat itu. Setelah menutup pintu, Alex turun kebawah menuju kamarnya kembali. Ia bahkan tidak bisa tidur sampai pagi karena terus memikirkan permintaan Aisyah semalam.
***