Dapatkah Bersatu?

1818 Words
Ingatan Zara tentang kecelakaannya kembali berputar di otaknya. Dia sudah mengingat segalanya saat ini. "Sayang, kenapa kamu gak nungguin aku aja, sih? Kan enak kita nanti bareng pulangnya." Kata Zein. "Sorry, Zi. Aku duluan aja. Gak tahu kenapa aku ngantuk banget. Pengen tidur. Aku juga capek banget." Kata Zara. "Ya udah. Kamu hati-hati ya? Kabari aku kalau sampai. Nanti aku nyusul. Secepatnya." Kata Zein. "Iya, Zi. Aku pasti telepon kamu, kok." Kata Zara. Mobil itu kini hendak keluar dari parkiran. Namun mata Zara menangkap sosok perempuan. Dia kenal dengannya. Dia pelayan yang tadi sempat kena marah. "Pak, berhenti dulu." Ucap Zara. "Lia, kamu mau kemana?" Tanya Zara. "Saya mau pulang Nona. Tugas saya sudah selesai." Jawab Lia. "Ayo naik denganku. Kita kan searah. Lagi pula disini gak ada taksi. Ada bus tapi kayaknya jarang. Ayo, naik." Pinta Zara. Lia tersenyum dan dia akhirnya naik ke dalam mobil Zara. Zara sosok yang sangat baik menurut Lia. Walau sudah menjadi model , tapi dia menghargai semuanya. Termasuk pelayan sepertinya. "Terima kasih, Nona." Ucap Lia. "Umur kita sama. Panggil saja aku Zara." Kata Zara. "Tapi, anda kan calon istri tuan Zein." Kata Lia. "Lia, kita ini sama aja. Aku cuma anak yatim piatu dari panti asuhan. Dan sekarangpun masih sama. Jadi, panggil aku Zara." Kata Zara memaksa. "Baiklah, Zara." Kata Lia. "Aku lihat-lihat kamu cantik juga. Postur tubuh kamu juga bagus. Kenapa kamu gak jadi model saja?" Tanya Zara. "Saya ini cuma wanita kampung. Gak pantes jadi model." Jawab Lia. "Enggak. Kamu cantik. Nanti aku rekomendasikan kamu sama Zein, deh." Kata Zara. "Beneran, Zara? Apa bisa?" Tanya Lia. "Tentu saja bisa. Serahkan semuanya padaku." Kata Zara. Mobil menuruni jalan yang penuh tanjakan. Tiba-tiba mobil seakan hilang kendali. "Pak, ada apa pak?" Tanya Zara. "Remnya Nona. Remnya blong." Ucap Sopir. "Apa? Bagaimana bisa? Apa sebelum kemari bapak gak ngecek dulu?" Tanya Zara. Sementara Lia mulai ketakutan. Dia memiliki phobia terhadap ketinggian. "Pak, kita harus bagaimana?" Ucap Zara panik. "Melompat dari mobil Nona." Kata Supir. "Lia, kita harus melompat." Ucap Zara. Lia hanya bergetar. Tak mampu bergerak. Mobil juga hilang kendali dan malah menabrak bebatuan. "Sebentar lagi kita jatuh." Ucap Supir. Zara menatap mobil yang terus terjun kebawah tebing. Zara segera membuka pintu dan bersiap untuk melompat. "Lia, melompat denganku." Ajak Zara. "Aku takut." Ucap Lia. "Cepat melompat Nona." Suruh supir. Zara tak punya pilihan lain. Dia segera melompat dan akhirnya terjatuh di bawah tebing, sedangkan mobil terus jatuh kebawah. Zara mengalami luka berat dan yang dia dengar setelah itu hanyalah sebuah ledakan besar. Dia tahu kalau mobilnya terbakar. "Zara, ayo kita ke rumah sakit. Kamu belum meninggal dan masih hidup. Kamu koma dan meninggalkan tubuhmu. Makanya kamu berada antara kematian dan kehidupan. Sebelum terlambat, ayo kita pergi. Jalan satu-satunya kamu harus kembali ke tubuh kamu." Kata Nadin. "Apa maksud kamu, Nadin?" Tanya Zein. "Zara masih hidup dan koma di rumah sakit. Sebelum terlambat, kita harus ke sana dan membuat Zara sadar lagi. Nanti malam segala peralatan medis Zara akan dibuka." Kata Nadin. Mendengar itu Zein segera bangkit. "Kalau begitu ayo kita berangkat." Ucap Zein. Zara segera mengikuti ketiga orang itu. Kini dia mengingat segalanya. Yang mati bukanlah dirinya tapi Lia. Ada orang yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit saat itu. Makanya dia tidak mati tetapi justru koma. Arwah Zara keluar dari raganya dan tidak tahu kalau dia masih hidup. Dia jadi berkelana mencari sosok lelaki yang dia cintai. Nadin terus mencoba menelepon suster yang tadi menghubunginya. Namun sudah tidak tersambung lagi. Nadin ingin meminta suster itu agar mencegah para dokter membuka alat medis di tubuh Zara. .... Sementara itu di rumah sakit, terdengar suara EKG. Sosok wanita tengah tertidur. Para dokter dan perawat menatap prihatin. Tubuh itu sudah koma selama setahun tanpa tahu siapa keluarganya. Dia dibawa oleh seorang lelaki pencari rumput yang menemukannya jatuh dibawah tebing. Keadaannya sangat parah saat itu. Rumah sakit memperjuangkannya selama setahun ini berharap ada keluarga yang mencarinya. Namun sayangnya tidak ada satupun yang datang mencarinya. Kini saatnya para dokter membuka semua peralatan medisnya. Waktu mempertahankan pasien itu sudah habis. Di koridor rumah sakit, Nadin dan lainnya sedang berlari menuju ruangan Zara dirawat. Jika telat sedikit saja, Zara akan hilang selamanya. "Suster, dimana ruangan pasien koma setahun tanpa identitas itu?" Tanya Nadin. "Ini nona Nadin?" Tanya Suster itu. "Iya. Benar." Jawab Nadin. "Saya suster yang menelpon nona tadi. Ayo ikuti saya. Para dokter sekarang sedang menuju kamar pasien itu." Kata Suster. Nadin terus berlari. Nyawa Zara menjadi taruhan untuk saat ini. "Nadin." Ucap Zara. "Ayo, Zara. Cepat." Kata Nadin. Tubuh Zara sedikit demi sedikit mulai menghilang. Tangis Zara pecah untuk saat ini. "Zara, kamu pasti bisa." Ucap Nadin. Nadin terus berlari. Dia harus mencapai kamar Zara secepat mungkin. Nadin menerobos masuk. Di sana semua hampir terjadi. Oksigen sudah di lepas dan untung saja Nadin datang tepat waktu. "Jangan dokter. Kami keluarganya." Ucap Nadin. Nadin menatap sekitar dan tidak melihat Zara lagi. Sementara itu Zara mulai melihat tubuhnya yang semakin menghilang. Zara tersenyum. Dia ikhlas jika harus pergi setelah ini. Zara melihat Nadin yang tengah berlari ke arahnya. "Zara, jangan menyerah." Kata Nadin. "Sudah terlambat, Nadin." Kata Zara. Di ruangan Zara berada, bunyi EKG terdengar. Semua dokter mulai mengecek keadaan Zara yang semakin menurun. Zein sangat panik untuk saat ini. Dia takut bila harus benar-benar kehilangan Zara. "Ini belum terlambat Zara." Ucap Nadin lalu melempar sehelai rambut ke arah roh Zara. Tiba-tiba Zara menghilang dan tak terlihat lagi. Nadin menangis. Usahanya gagal. Dia tak bisa menolong Zara. Nadin berjalan dengan tubuh terkulai dan menuju ke ruangan dimana Zara berada. Zein terlihat sedang menangis. Dokter juga tak bisa berkata apa-apa lagi. Suara EKG memastikan bahwa Zara benar-benar tiada. "Maafkan aku, Zara." Lirih Nadin. Nadin kecewa, dia telah gagal untuk saat ini. Dia tak bisa lagi menyelamatkan Zara. Andai saja Nadin lebih cepat, mungkin Zara akan selamat. Arya mencoba menenangkan Nadin. Bagaimanapun juga, Arya dan Nadin telah berusaha untuk menyelamatkan Zara. "Maaf, tapi dia sudah tiada." Kata Dokter. Nadin terus menatap Zara. Berharap dia akan bangun dan hidup kembali. Saat dokter hendak membuka alat medisnya, Zein menghentikan segera. "Tunggu dokter. Biarkan ini sebentar. Siapa tahu dia masih hidup dan akan bangun." Ucap Zein. Terpisah selama setahun membuat Zein teramat merindukan Zara. Dan saat melihatnya sekejap, Zein tak mau hal ini cepat berlalu. Dia masih ingin melihat Zara berlama-lama. Setengah jam berlalu, namun tanda-tanda Zara hidup tidak ada. Dokter kembali harus membuka alat medis Zara. Saat semuanya sudah dibuka, semua tercengang saat tangan Zara bergerak. Kemudian mata Zara terbuka lebar. Para Dokter terkejut dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Na-din." Mulut Zara terbuka. Dan kata pertama yang dia ucapkan adalah Nadin. "Za, kamu sudah bangun?" Tanya Zein. Dokter segera mengecek keadaan Zara. Dan mereka tambah heran saat tahu kalau keadaan Zara normal kembali. Zara bahkan tak perlu memakai oksigen lagi. Seperti terlahir kembali. Apa yang di lakukan oleh Nadin ternyata berhasil. Ketika Roh dan tubuh manusia terpisah, jalan satu-satunya adalah membuat tubuh mereka bersentuhan. Zara kehilangan kekuatannya saat-saat terkahir tadi. Dan Nadin memutuskan untuk membawa sehelai rambut Zara pada arwah-nya. Nadin berfikir dia gagal, tapi takdir berkehendak lain. "Terima kasih, Nadin." Ucap Zara. Nadin tersenyum. Dia tak menyangka kalau Zara menyebut namanya untuk pertama kalinya. "Za, kamu baik-baik saja kan, sayang?" Tanya Zein. Zara menatap Zein dengan tatapan asing. Dia tak mengenali Zein lagi. "Maaf, tapi kamu siapa? Aku hanya mengingat Nadin." Kata Zara. Zein tersentak. Dia bingung kenapa Zara melupakan dirinya? Padahal tadi dia masih mengingatnya. "Jangan-jangan karena yang menyatukan roh dan tubuhnya adalah aku, makanya yang dia ingat hanya aku." Kata Nadin. Zein memeluk Zara dengan erat. "Maafkan aku, sayang. Mulai sekarang aku akan menjagamu dengan sangat baik." Kata Zein. Dokter mengatakan kalau Zara mengalami lupa ingatan tentang beberapa memori-nya. Zein tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting Zara kembali hidup dan ada disisinya. "Zara, Zein itu tunangan mu. Dia lelaki yang sangat menyayangimu. Apa kamu ingat?" Tanya Nadin. "Maaf, tapi aku lupa." Kata Zara. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengingat segalanya. Kamu hanya perlu istirahat. Setelah ini kamu akan menjalani terapi agar bisa kembali berjalan normal." Kata Nadin. Nadin pernah terapi. Dia juga sempat lumpuh sementara karena koma cukup lama. Tapi, dengan terapi yang di lakukan, dia kembali normal seperti biasanya. "Arya, kamu bawa Nadin pulang. Biar aku yang jaga Zara disini." Ucap Zein. Arya mengangguk. Zara dan Zein juga butuh waktu untuk saling berbicara. Zein berjanji akan membuat Zara mengingat segala kenangan mereka. "Nadin kemana?" Tanya Zara. "Dia pulang. Dia harus kuliah besok. Dia berjanji akan mengunjungimu jika luang." Kata Zein. "Aku lapar." Kata Zara. Zein tersenyum. Kini Zara sudah mulai duduk walau harus dia bantu. Zein segera keluar dan membelikan Zara makanan yang dia suka. Zara mengambil Ponsel Zein yang ada di atas meja. Melihat beberapa foto dirinya dulu. Dalam foto itu dia terlihat sangat bahagia. Namun sayang Zara melupakan kenangan itu. Zara menangis sedih. Di saat dia bangun, dia lupa segalanya tentang Zein. Zein masuk dan melihat Zara yang tengah menangis. "Maaf, karena aku lupa segalanya." Ucap Zara. Zara meletakkan ponsel itu kembali di atas meja. "Tidak masalah. Yang penting kamu sembuh dan pulih." Kata Zein. "Makanlah. Ini makanan kesukaan kamu." Kata Zein. "Maaf ya? Aku merepotkan mu." Kata Zara. Zein tersenyum lalu memeluk Zara. Namun dengan sigap Zara justru mendorongnya agar menjauh. Zara belum terbiasa akan hal itu. Karena dia lupa segalanya. Sebulan telah berlalu, kini Zara sudah mulai bisa berjalan walau masih dengan tongkat. Zara juga sudah kembali ke rumah Zein. Dan pada akhirnya Zein mengurusnya dengan baik. Awalnya Zara ingin tinggal dengan Nadin, namun Nadin meyakinkan Zara kalau Zein adalah orang baik. "Zara, lihatlah. Hujan mulai turun. Bukankah favorit kamu saat hujan turun? Dengan senangnya kamu akan berlari di tengah hujan." Ucap Zein. "Aku tidak ingat." Ucap Zara. "Kamu pernah hujan-hujanan saat itu. Bahkan kamu menarik ku agar aku juga ikut basah." Lanjut Zein. "Maafkan aku. Aku tidak ingat semuanya. Dan maaf , karena aku belum merasakan cinta itu." Ucap Zara menangis. Selama sebulan ini, Zein terus merawat Zara dan mencoba mengingatkannya tentang kenangan mereka. Zara mampu merasakan cinta yang Zein berikan untuknya. Namun sampai saat ini, Zara belum bisa merasakan cintanya pada Zein. "Bagaimana kalau sampai kapanpun aku tidak ingat segalanya tentangmu? Bagaimana kalau aku tidak ingat tentang cinta kita? Aku sudah berusaha dan tidak bisa mengingatnya." Kata Zara. Zein juga menangis. Membawa Zara ke dalam dekapannya. "Tidak masalah. Jika kamu lupa kenangan kita, aku akan membuat kenangan baru yang indah bersamamu. Dan jika kamu tidak merasakan cinta padaku. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Kamu hidup dan ada di sampingku saat ini , aku sudah bersyukur akan hal itu." Kata Zein. Mendengar itu Zara terharu. Tangisnya semakin jadi. Zara tahu kalau cinta Zein untuknya sangat besar. "Kamu mau kan memberiku kesempatan untuk melakukan semua itu?" Tanya Zein. Zara tersenyum. Dia mau menghabiskan hidup bersama Zein. Zara tahu lelaki itu teramat sangat mencintainya. Bahkan saat Zara lupa segalanya, dia tetap berusaha meyakinkan Zara tentang cinta mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD