Zara menunggu Nadin di depan kampus. Sengaja memberikan kejutan untuknya. Setelah kesembuhannya dia jarang bertemu Nadin.
Zara melihat Nadin dan melambaikan tangannya. Melihat itu Nadin lalu tersenyum.
"Zara, kamu disini?" Tanya Nadin.
"Aku sengaja pengen ketemu kamu." Jawab Zara
Kini Zara sudah bisa berjalan walau tidak normal seperti dulu.
"Udah baikan sekarang?" Tanya Nadin.
"Udah dong. Keluar yuk. Aku mau ngomong sesuatu." Ucap Zara.
"Ayo." Jawab Nadin.
Keduanya kemudian duduk di sebuah restoran.
"Aku banyak hutang budi sama kamu. Sejak saat itu kamu sudah jadi sahabat aku. Makanya aku mau kamu jadi orang pertama yang mendapatkan ini." Ucap Zara sambil menyerahkan selembar undangan.
Melihat itu Nadin segera mengambilnya. Membaca dan melihat nama Zara dan Zein tertulis di sana. Nadin tersenyum saat tahu kalau Zara akan segera menikah.
"Kamu sudah ingat semuanya?" Tanya Nadin.
Zara menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Cuma aku yakin kalau dia benar-benar mencintaiku. Walau aku lupa segalanya. Tapi kegigihannya berhasil membuat aku jatuh cinta lagi padanya. Makanya aku memutuskan untuk menjadi istrinya." Ucap Zara menjelaskan.
Nadin bahagia karena mendengar ucapan Zara. Nadin bersyukur karena walau lupa tentang kenangannya dulu, tapi cinta keduanya tetap kuat. Tak mampu dipisahkan oleh kematian sekalipun.
"Aku turut bahagia." Ucap Nadin lalu memeluk Zara dengan erat.
Kali ini Zara mengeluarkan sebuah gaun hijau muda. Gaun yang sangat indah.
"Jadilah pengiringku nanti. Ini gaun untuk kamu." Ucap Zara.
Nadin mengangguk setuju.
"Ajak kekasihmu juga." Kata Zara.
"Siapa?" Tanya Nadin.
"Arya." Ucap Zara.
"Dia bukan kekasihku." Jawab Nadin.
"Benarkah? Aku pikir dia kekasihmu. Karena aku lihat dia selalu ada buat kamu. Selalu siap membantumu. Aku pikir kalian berdua saling mencintai." Kata Zara.
Nadin terdiam sesaat lalu tersenyum.
"Iya, dia memang lelaki yang baik." Jawab Nadin.
"Iya, pokoknya ajak saja dia. Ajak juga Alisa. Dia juga temanku, kan?" Ucap Zara.
Nadin sekali lagi tersenyum dan mengangguk.
"Setelah menikah aku akan pindah ke Jakarta." Ucap Zara.
Nadin sedikit kaget mendengarnya.
"Kata Zein, dia akan mengurus perusahaan yang di sana. Makanya aku akan ikut bersamanya." Kata Zara.
"Jangan lupakan aku jika kamu sudah di sana." Kata Nadin.
" Tentu saja." Jawab Zara.
Keduanya lalu menikmati hidangan siang itu. Tanpa mereka tahu ada sosok menyeramkan yang mengawasi mereka berdua.
.....
Alisa dan Nadin datang ke acara pernikahan Zara dan Zein. Begitu pula dengan Arya. Mereka bertiga ikut senang. Apalagi mendengar sumpah pernikahan keduanya.
"Kini waktunya mempelai melempar buket bunga." Ucap pembawa acara.
Alisa dengan sigap berada di barisan paling depan. Sementara Nadin tidak memiliki keinginan untuk mendapat bunga tersebut. Entah kenapa Alisa begitu bersemangat. Nadin pikir dia ingin menikah muda.
"Satu, dua, tiga." Zara melempar bunga.
Semua berebut untuk mendapatkannya. Namun saat bunga itu hendak mengenai wajah Nadin, Arya yang ada disampingnya dengan sigap kemudian menangkapnya. Lalu memberikannya pada Nadin.
"Yah, curang. Kok Nadin yang dapat, sih?" Gerutu Alisa saat di perjalanan pulang.
"Pak Arya, sih? Ngapain juga dikasih ke Nadin." Kata Alisa sedikit kesal.
"Kan bunganya hampir kena Nadin, makanya saya kasih dia." Jawab Arya.
Nadin tertawa. Alisa sangat ingin menikah sampai prihal bunga saja dia permasalahkan. Padahal kekasih saja dia tidak punya.
"Pak, kok lewat sini?" Tanya Alisa sedikit takut saat melewati jembatan dimana Nadin kecelakaan.
"Saya pilih jalur yang paling cepat." Jawab Arya.
Alisa sedikit ragu, namun sepertinya Nadin teralihkan dan tidak memperhatikan seberang jembatan. Alisa bersyukur atas itu semua.
"Jadi akhirnya mereka berdua akan segera pindah ke Jakarta ya?" Tanya Alisa.
"Iya. Mereka cocok sekali. Aku aja gak nyangka di zaman sekarang ini ada cinta sejati seperti mereka." Kata Nadin.
"Kamu benar. Setelah Zara sembuh, perjuangan Zein untuk membuat Zara mencintainya sungguh berat. Zara sempat menolak. Tapi Zein terus berusaha sampai hasilnya Zara kembali luluh." Tambah Arya.
"Wah, so sweet sekali. Kalau bapak sama Nadin gimana?" Tanya Alisa.
Pertanyaan Alisa membuat Nadin dan Arya terdiam.
"Eh, aku dengar di sana ada restoran baru. Mampir yuk." Ajak Nadin mengalihkan pembicaraan.
"Eh, iya. Ayo mampir." Ucap Arya.
Alisa hanya mengikuti keduanya saja. Di saat makan, keduanya melihat postingan Zara dan Zein yang terlihat sangat bahagia. Nadin yang sangat serius tidak memperhatikan foto kedua pasangan yang baru menikah itu.
...
Zara baru saja selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dan alangkah sialnya, dia terpeleset lalu jatuh. Zara melihat ada air yang tumpah dan membuatnya jatuh.
"Za, kamu kenapa?" Ucap Zein.
Kemudian membantu Zara bangun dan membuatnya berdiri. Untung saja Zara tidak cedera sedikitpun.
"Kok ada air sih, Zi? Kan aku jatuh." Kata Zara.
"Mana aku tahu, Za. Makanya kamu hati-hati." Ucap Zein.
"Ah, katanya hotel bagus. Tapi, air tumpah aja gak ada yang tahu." Kata Zara.
Zein tertawa melihat Zara yang menggerutu kesal.
Zein kemudian memeluk Zara dari belakang. Merasa bahagia karena sekarang keduanya sudah resmi menjadi suami istri. Kini Zara menjadi milik Zein seutuhnya
Disaat keduanya terlelap, ada suara seseorang yang menangis. Sosok berambut panjang itu sangat menyeramkan.
Malam harinya, Nadin melihat foto saat dia dan Zara bersama. Nadin melihat semua foto yang dia ambil tadi di acara pernikahan. Namun setiap ada Zein, selalu ada sosok bayangan yang kabur dan tak jelas.
"Apa emang fotonya aja yang rusak ya? Tapi kok banyak ya?" Ucap Nadin.
Nadin tak memikirkan itu lagi. Dia mulai tidur dan mencoba untuk menenangkan pikirannya.
"Aku selalu mencintai kamu. Sampai kapanpun itu. Asalkan kamu tahu, gak ada wanita lain selain kamu. Nadin Alexa Clare."
Nadin terbangun dari tidurnya karena dalam mimpinya dia melihat seseorang yang tak jelas mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Tapi, Nadin bersyukur karena mimpi saat dia tenggelam sudah tidak terjadi malam ini.
Nadin menuju dapur seperti biasanya, dia mengambil segelas air dingin. Kebiasaan yang dia lakukan setiap malam. Setelah itu, dia akan bisa tertidur lagi.
Samar-samar, Nadin melihat sosok bayangan yang lewat dengan sangat cepat. Namun Nadin menganggap itu mungkin sebuah Arwah yang tak sengaja melintas.
Pagi menjelang,suara bel berbunyi membuyarkan tidur Nadin.
"Sayang, bangun. Ada pak Arya di depan." Kata Sisi.
Nadin segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Apa? Pak Arya? Sepagi ini dia mau ngapain, ma?" Tanya Nadin.
"Pagi? Ini sudah jam sebelas. Arya bilang katanya ada janji sama kamu. Mamanya mau ketemu kamu. Kamu lupa?" Tanya Nadin.
Nadin menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa jika ada janji pagi ini. Dan karena mimpi semalam, Nadin bangun kesiangan.
"Mama, bilang sama dia suruh nunggu sebentar. Nadin mau mandi dulu." Kata Nadin.
Sisi tersenyum melihat Nadin yang dengan cepatnya menuju kamar mandi. Sisi sangat suka jika nantinya Nadin akan mendapatkan pasangan seperti Arya. Lelaki yang mampu melindungi dan menemani Nadin. Makanya dia berusaha membuat Nadin dekat dengan lelaki itu.
Setelah selesai, Nadin dan Arya pamit dan segera menuju kediaman Ibu Dewi. Nadin sangat antusias saat hendak menemui Ibu Dewi. Banyak hal yang harus dia katakan dan juga ceritakan pada wanita itu. Mengenai mimpi-mimpi yang terjadi padanya.
"Nadin." Ucap Bu Dewi saat melihat Nadin.
Nadin kemudian menyalami wanita paruh baya itu.
"Ibu." Ucap Nadin lalu memeluknya.
"Sudah lama ya, sayang. Ibu sudah bilang sama Arya kalau suruh sering-sering bawa kamu kesini. Dia banyak alasan." Kata Bu Dewi.
Keduanya kemudian menuju halaman belakang. Bu Dewi memperlihatkan foto masa kecil Arya. Arya terlihat lucu dalam foto itu. Namun mata Nadin melihat sosok bayangan yang kabur dalam beberapa foto.
"Oh, itu? Jangan kamu anggap foto itu rusak. Foto itu di ambil setelah sebulan kematian Ayah Arya. Tidak semua orang bisa melihatnya. Dia itu arwah Ayah Arya." Jelas Bu Dewi.
"Jadi, maksud ibu ada arwah saat pak Arya berfoto?" Tanya Nadin penasaran.
"Iya. Sosok arwah ayahnya mengikuti Arya. Karena sebelum empat puluh hari, arwah orang yang meninggal itu akan selalu ada disekitar kita. Mereka belum sepenuhnya pergi." Kata Bu Dewi.
Nadin hanya mengangguk mendengarkan ucapan Bu Dewi.
"Bu, lihat foto ini." Ucap Nadin mengeluarkan ponselnya.
Bu Dewi menatap beberapa foto Nadin dan Arya dengan mempelai. Bu Dewi terkejut melihatnya.
"Iya betul. Itu arwah. Tapi ibu tidak tahu itu arwah siapa." Kata Bu Dewi.
"Tapi gak ada yang meninggal kok, Bu." Kata Nadin.
"Mungkin saja ada yang lewat." Kata Bu Dewi.
Nadin hanya mengangguk saja. Tak ada rasa curiga untuk saat ini.
"Nadin, Arwah itu di bagi dua. Ada yang baik ada pula yang jahat. Kamu tidak perlu khawatir pada sosok Arwah yang baik. Umumnya, dia hanya akan mengawasi kamu tanpa menyakiti. Tapi, berbeda dengan Arwah yang jahat. Dia mati dan masih menyimpan dendam dan kebencian. Kekuatannya dahsyat apalagi sebelum empat puluh hari. Dia cenderung menyakiti orang yang dia benci. Dia juga akan senantiasa mencari kesempatan untuk membunuh lawannya." Jelas Bu Dewi.
"Cara mengetahui Arwah itu baik atau jahat bagaimana, Bu?" Tanya Nadin.
"Melihat matanya. Jika matanya merah darah, berarti dia jahat." Jawab Bu Dewi.
Nadin mulai mengerti. Saat menghadapi arwah-arwah yang dia tangani sebelumnya, Nadin tak melihat mata merah mereka. Itu karena mereka semua adalah sosok Arwah yang baik dan tak menyimpan sebuah dendam.