Satu Petunjuk

1097 Words
Alisa berlari menuju kelas. Ingin sekali dia segera menemui Nadin. Alisa melihat Nadin yang sedang duduk di bangku miliknya. "Nadin, aku punya sesuatu." Kata Alisa antusias. "Apaan sih, kok sampai segitunya." Kata Nadin bertanya. Alisa mengeluarkan sebuah ponsel jadul sekitaran empat tahun lalu. "Kenapa sih, Lis? Kamu sekarang jadi pencari barang antik." Ucap Nadin. "Nadin, dengerin dulu. Aku dapat ini. Kamu tahu ini punya siapa? Punya mbak Aisyah." Kata Alisa. Nadin menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Alisa. Ini sebuah petunjuk yang sangat berarti. "Terus, gimana isinya?" Tanya Nadin. "Sayangnya rusak. Tapi aku yakin bisa di perbaiki, kok." Kata Alisa. "Kamu benar. Kita nanti ke tempat reparasi ponsel." Ajak Nadin. Sepulang kuliah, keduanya segera menuju tempat perbaikan ponsel. Namun pegawai di sana berkata kalau memperbaiki ponsel seperti itu lama dikarenakan semua komponennya langka karena termasuk ponsel jadul. "Pokoknya usahakan secepatnya, mas. Saya bayar berapapun asal bisa hidup." Kata Alisa. "Iya, mas. Kabari kami kalau sudah benar." Tambah Nadin. Setelah itu keduanya duduk dan makan disebuah cafe yang cukup ramai. Tempat dimana anak SMA dan kuliahan nongkrong. "Alisa, sebelumnya emang kita sering kesini ya?" Tanya Nadin. "Tentu saja. Kita sering kesini. Tiap Minggu kota kesini. Makanan favorit kamu disini itu mie setannya. Gak ada yang bisa nandingin level pedas kamu, Nad." Ucap Alisa. Nadin tersenyum. Mencoba mengingat namun tidak bisa. Tiba-tiba Siska datang dengan beberapa temannya. Menatap sinis ke arah Nadin dan juga Alisa. "Aku heran sama dia. Jutek banget sih." Kata Alisa kesal. "Udah, biarin aja. Suka-suka dia." Kata Nadin. "Padahal kita kan gak salah apa-apa." Kata Alisa. "Mungkin sebenci itu dia sama aku, Lis." Kata Nadin. "Terserah dia. Yang penting ada aku yang sayang sama kamu. Aku janji gak akan biarin kamu kenapa-kenapa lagi." Kata Alisa. Mendengar itu Nadin merasa terharu. "Aku juga akan berusaha melindungi kamu, Lis." Kata Nadin. "Terus kamu jadi ngelakuin rencana itu? Apa gak terlalu berbahaya?" Tanya Alisa. "Percaya sama aku. Dia gak akan berani karena itu di rumah aku, kan? Ada mama aku juga. " Kata Nadin. "Ok, aku percaya sama kamu. Hati-hati ya? Kita belum kenal dengan betul siapa pak Arya itu." Kata Alisa. "Iya, Lis. Jangan bawel. Kamu udah kayak mama aku aja." Kata Nadin. Kemudian keduanya tertawa. Melihat Nadin dan Alisa yang tertawa, Siska merasa kesal. Dia mengambil tasnya dan menghampiri Nadin dan Alisa di mejanya. "Bahagia banget ya kamu? Tanpa kamu tahu kalau..." Sebelum mengatakan itu, Alisa memotongnya. "Siska, tolong. Nadin baru saja pulih. Setidaknya kamu jaga perasaan dia." Kata Alisa. Siska merasa sebal dan langsung meninggalkan Nadin dan Alisa. "Tadi dia mau ngomong apa sih?" Tanya Nadin penasaran. "Jangan dengerin. Dia cewek gila. Emang sebelumnya suka cari gara-gara sama kamu." Kata Alisa. ... Tiba saatnya Nadin melakukan les privat dengan pak Arya. Lelaki itu sudah menunggu Nadin keluar dan bersiap. Sisi menghidangkan minuman beserta cemilan. Berharap kalau putrinya lekas mengerti pelajaran yang di berikan. Nadin keluar dengan rambut tergerai. Memakai dress di atas lutut tanpa lengan. Mengekspos lengan putihnya. Pak Arya menatap Nadin sedikit salah tingkah. Saat mendekat, pria itu mampu mencium wangi tubuh Nadin. Apalagi Nadin semakin terlihat cantik dengan pakaian rumahan seperti itu. "Maaf pak, menunggu." Ucap Nadin. "Tidak masalah." Jawab pak Arya. Sesekali lelaki itu mencuri pandang ke arah Nadin. Dan sebaliknya, Nadin mencoba mencerna setiap materi yang di jelaskan oleh dosennya. Atau lebih tepatnya guru privatnya. "Nadin, mama tinggal sebentar ya? Mama mau ke supermarket dekat sini. Belajar yang baik ya?" Ucap Sisi. Kemudian meninggalkan Nadin dan pak Arya berdua saja di rumah itu. "Bagaimana? Ada yang belum kamu mengerti?" Tanya pak Arya. Nadin menggeleng. Dia takut saat ini. Dia yang memulainya namun dia juga takut sendiri. Mamanya meninggalkan Nadin dan hanya berdua saja bersama pak Arya. "Enggak pak, saya paham kok." Jawab Nadin. Pak Arya lalu memberikan tugas untuk Nadin kerjakan dan dia lihat minggu depan. "Kerjakan itu dan akan saya check minggu depan." Ucapnya. Nadin tersenyum lalu mengangguk. Pak Arya mulai mendekat. Menatap Nadin dengan seksama. Bahkan kini jarak keduanya tak dapat dihitung lagi. Nadin mulai memundurkan tubuhnya. Sekarang dia merasa terancam. Bisa saja lelaki itu mengambil kesempatan saat sepi. Pak Arya semakin mendekat. Melihat Nadin dia merasa aneh. Pak Arya segera mengambil pulpen di sebelah Nadin. "Saya cuma mau ambil ini." Kata pak Arya sambil memegang pulpen miliknya. Nadin terdiam. Dia sudah salah sangka dan mengira yang bukan-bukan terhadap dosennya itu. "Saya pamit pulang dulu. Kita jumpa lagi minggu depan. Titip salam buat mama kamu." Ucap pak Arya lalu pergi. Nadin terdiam sesaat. Dia merasa sedikit bersalah. Bahkan pak Arya tidak tergoda sedikitpun dengannya. Jelas-jelas Nadin sengaja ingin memikatnya. Berusaha mengetahui suatu rahasia tentang kematian Aisyah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Nadin dan Alisa kembali nongkrong di Cafe langganan mereka. Nadin menceritakan prihal kemarin. "Sumpah, Lis. Dia bersikap biasa dan masih sopan. Aku sempat pikir dia mau ngapain aku, ternyata cuma ambil pulpen. Justru aku yang ngerasa malu." Kata Nadin. "Aku masih gak percaya, sih. Bisa aja dia takut, kan? Ini masih pertama. Dia gak bisa langsung gitu aja nunjukin kebejatannya. Bisa aja dia nunggu kamu terbuai dulu. Lalu baru dia melancarkan aksinya. Kamu pokoknya waspada dan hati-hati." Kata Alisa. Setelah itu Nadin dan Alisa melihat pak Arya juga berada di Cafe bersama seorang wanita muda yang seumuran dengan Nadin dan Alisa. "Baru aku bilang, kan? Dia itu b***t. Buktinya pacaran sama yang lebih muda. Mana mesra lagi. " kata Alisa. "Jangan rame-rame. Nanti dia dengar, lho." Kata Nadin menghentikan ucapan Alisa. "Iya-iya. Tenang aja. Dia gak lihat kita, kok." Kata Alisa. Setelah itu keduanya pulang. Alisa pergi duluan sementara Nadin masih menunggu taksinya. Namun tiba-tiba hujan turun dan tentu saja Nadin berteduh di depan Cafe. "Nadin, kamu disini." Ucap pak Arya. Nadin salah tingkah. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sama sekali tak menyangka kalau lelaki itu akan melihatnya. "Iya, pak. Mau pulang. Nunggu taksi tapi ternyata taksinya lama. Keburu hujan, deh." Kata Nadin menjawab pertanyaan Arya. "Tunggu disini. Saya ambil mobil dulu. Saya antar kamu pulang." Ucap pak Arya. "Tapi, pak?". Ucapan Nadin terhenti. Dia sudah tidak melihat lagi wanita yang tadi sempat bersama Arya. "Sudah, saya antar kamu." Paksa Arya. Nadin menurut saja. Hatinya bertanya-tanya dimana gadis yang bersama dosennya tadi. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD