Mencari Tahu

1111 Words
Nadin dan Alisa berangkat ke kampus seperti biasa. Dalam pikiran keduanya sedang menerka-nerka tentang siapa Dosen yang telah menghamili Aisyah. Nadin juga yakin kalau itu ada hubungannya dengan kematian Aisyah. Sayangnya bagian dari Diary itu telah di robek. Jadi, Nadin dan Alisa tidak tahu kelanjutannya. Yang Nadin pastikan, salah satu dosen di sana pasti tahu tentang apa yang terjadi. Nadin mulai mendekati pak Arya. Karena saat bertanya kemarin, lelaki itu terlihat gugup dan seperti menyembunyikan sesuatu. Namun kali ini Nadin tidak gegabah. Dia melakukannya dengan cara lain. "Pak, ada waktu gak? Saya punya beberapa tugas yang gak saya mengerti. Bisa gak kalau bapak ajari saya." Ucap Nadin. Pak Arya diam sejenak. Mulai memikirkan sesuatu. Dia tahu kalau Nadin ketinggalan pelajaran selama setahun. Jadi dia memaklumi itu. "Boleh saja. Setiap hari Sabtu datanglah keruangan saya. Saya akan mengajari kamu tentang beberapa materi yang tertinggal." Kata Pak Arya. Nadin tersenyum senang. Caranya berhasil. Di sana dia bisa menggali informasi mengenai kematian Aisyah. "Kamu tenang aja, Lis. Aku janji akan mengungkap segalanya." Kata Nadin. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Hari Sabtu telah tiba. Hanya beberapa fakultas saja yang masih masuk. Nadin berjalan menuju ruangan Pak Arya. Di ruangan itu masih sepi. Beberapa dosen memang memiliki ruangan sendiri. Termasuk pak Arya yang memang menyediakan ruangan khusus. Pak Arya juga masih single di usianya yang sudah hampir kepala tiga. "Kamu sudah datang?" Tanya Pak Arya. Nadin tersenyum lalu mengangguk sejenak. Pak Arya mulai memberikan materi-materi yang Nadin tidak ketahui. Menyuruh Nadin mengerjakan beberapa tugas untuk dia koreksi secara langsung. Untuk sementara ini Nadin tidak melihat sesuatu yang mencurigakan terhadap dosennya itu. Justru Pak Arya terlihat sangat sopan terhadapnya. "Pak, kepala saya sakit rasanya. Saya lupa kalau obat saya ada di dalam tas. Dan tas saya ada di kelas. Apa bapak bisa mengambilkannya untuk saya?" Tanya Nadin. "Kamu sakit? Tunggu disini. Saya akan mengambilnya untuk kamu." Kata Pak Arya. Pak Arya bergegas keluar. Melihat itu, Nadin menggunakan kesempatan itu untuk mencari sesuatu. Di mulai dari mencari data tentang Aisyah, namun hasilnya Nihil. Nadin terdiam sesaat setelah itu ada sebuah suara yang memanggilnya. "Nadin." Ucapnya. Sosok Aisyah kembali membayangi pandangan Nadin. Sesaat kemudian sosok itu justru berubah menjadi menyeramkan. Nadin mulai bergetar karena ketakutan. Sosok itu mulai mendekat dan Nadin mendengar suara yang memekakkan telinga. "Aaaaaahhhhhh." Nadin menjerit lalu pingsan. Pak Arya yang melihat itu terkejut dan segera membawa Nadin ke UKS. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nadin. "Pak, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Sisi. "Dia tertidur. Saya tidak tahu kenapa tapi dia tadi pingsan." Kata Pak Arya. "Pak, sebenarnya ini bukan pertama kalinya Nadin pingsan. Apa bisa kalau pelajaran Extra-nya di rumah saja." Pinta Sisi. "Saya pikirkan dulu, bu." Jawab Pak Arya. Nadin mengerjapkan matanya. Sisi menatap Nadin lalu memeluknya. "Kita pulang ya, sayang." Ajak Sisi. "Ibu naik apa kesini? Boleh saya antar?" Pinta Arya. "Baik, pak." Jawab Sisi. Pak Arya mengantar Nadin kerumahnya. Bagaimanapun dia turut khawatir karena Nadin pingsan di ruangannya. Pak Arya melihat sekeliling rumah Nadin. Sisi keluar membawa minuman untuk pak Arya. Sedangkan Nadin masih diam. Memikirkan apa yang tadi sempat dia lihat. Sosok mengerikan itu marah padanya. Nadin tidak tahu apakah itu benar-benar Aisyah atau sosok lain yang menyerupai-nya. "Saya setuju untuk memberikan pelajaran untuk Nadin di rumah ini." Ucap Pak Arya tiba-tiba. Nadin menatap dosennya itu dengan ragu. Namun dia tidak bisa menolak karena itu permintaan mamanya. "Kalau begitu kita ketemu Minggu depan. Jaga diri baik-baik. Saya pamit pulang dulu." Kata pak Arya lalu pergi. Nadin mendengus kesal. Rencananya justru berubah total. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia yakin kalau bisa menggali sebuah informasi. Nadin hendak mengambil ponselnya dalam tas, namun sesuatu keluar dan terjatuh. Ada sebuah surat yang terjatuh dari tasnya. Alangkah terkejutnya Nadin saat membaca sebuah surat yang Aisyah kirimkan untuk Pak Arya. Pak Arya. Saya mencintai bapak. Saya yakin bapak juga mencintai saya. Ada yang ingin saya beritahukan pada bapak. Saya tunggu bapak di tempat biasa. Nadin tersenyum saat membacanya. Dia yakin kalau itu sebuah petunjuk. Nadin tidak tahu kenapa bisa ada surat di tasnya. Dia yakin kalau Arwah Aisyah yang melakukan itu. Nadin semakin yakin kalau Pak Arya ada hubungannya dengan semua kematian Aisyah. Nadin kembali memikirkan cara agar pak Arya bisa mengatakan semuanya. "Aku tahu bagaimana caranya. Memikatnya." Gumam Nadin lirih. Malam harinya, Nadin duduk sambil menonton tv. Seperti biasanya, papanya sangat sibuk dan sampai tidak pulang karena lembur. Sementara mamanya sudah tidur terlebih dahulu. Nadin tertawa saat melihat acara televisi itu begitu lucu. Namun setelah beberapa saat terdengar suara petir yang menggelegar. Nadin terpaksa mematikan televisinya. Suara jendela yang terbuka karena angin mengagetkan Nadin. Nadin beranjak untuk menutupnya. Dia rasa hujan akan segera turun setelah ini. Baru hendak menutup jendela, lampu menjadi padam. Hujan turun dengan derasnya. Bulu kuduk Nadin tiba-tiba berdiri. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak untuk saat ini. "Nadin..." Suara itu terdengar lirih. Nadin mulai ketakutan. Tak ada cahaya apapun untuk menerangi indra penglihatannya. Sosok hitam di depannya mulai mendekat. Nadin terpaku untuk sesaat. Ingin berteriak namun mulutnya tercekat untuk saat itu juga. Tak bisa berkata apapun. Nadin hanya bisa memejamkan mata sesaat. Berharap sosok bayangan hitam itu pergi. "Nadin, tutup jendelanya. Hujan, nanti kamu basah." Ucapan Sisi mampu membuyarkan penglihatan Nadin. Nadin pun segera memeluk mamanya dengan erat. "Mama. Nadin takut." Ucap Nadin. "Kenapa takut? Ini kan cuma mati lampu." Kata Sisi. "Mama, Nadin tidur sama mama malam ini, ya?" Pinta Nadin. "Boleh dong, sayang. Ayo." Kata Sisi. Mama Sisi mengambil lentera yang ada di dalam lemari dan menghidupkannya. Nadin mulai memasuki kamarnya. Berharap ketika bangun esok, dia akan menjadi lebih baik lagi. "Mama, apa ada yang mama sembunyikan dari Nadin?" Tanya Nadin. Mama Sisi disampingnya hanya diam. "Enggak, Sayang. Mama gak sembunyikan apapun dari kamu, kok." Kata Sisi. Nadin merapatkan tubuhnya. Memeluk mamanya dengan erat. "Nadin berharap mama tetap sayang sama Nadin walau tahu sikap Nadin berubah." Kata Nadin lirih. "Sayang, kamu tetap putri mama. Dan tentu saja mama itu sayang sama kamu." Kata Sisi. Nadin tersenyum. Hatinya senang mendengar ucapan mamanya. "Makasih ma. Nadin sayang sama mama." Kata Nadin. "Mama juga sayang sama kamu." Jawab Sisi. Nadin mulai memejamkan matanya. Dan kini dia benar-benar berharap kalau dirinya akan bisa menghadapi hari-hari dengan penuh keberanian. Karena Nadin tahu, kalau semenjak bangun dari koma, dia menjadi berbeda. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD