Bab 8. Mengambil Hak Sebagai Suami

1413 Words
"Kamu jangan terlalu dekat dengan gadis kampung itu, Bian! Karena sebentar lagi jika Dokter Tyas memberi kabar baik, kalau sudah ada pendonor mata yang cocok untukmu, kamu harus segera menceraikannya!" kata sang mama memperingatkan putranya dengan tegas, setelah wanita cantik yang bersamanya memberikan penjelasan mengenai kondisi mata Abian. Ya, rupanya wanita cantik itu adalah seorang dokter spesialis mata yang bekerja di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura. Dokter Tyas sengaja diajak ke sana oleh mamanya Abian untuk mengambil hasil diagnosis milik sang putra, sekaligus untuk mengecek sendiri bagaimana kondisi mata Abian. Dokter itu pun memberikan angin segar jika kemungkinan besar, Abian akan segera dapat melihat kembali karena namanya sudah didaftarkan dalam antrian sebagai pasien penerima donor mata. "Nanti setelah kamu bisa melihat kembali, kamu harus tinggal di Singapura untuk sementara waktu agar kalian bisa lebih dekat. Dokter Tyas ini cantik, Bian. Lebih cantik dari maminya, Tante Dena. Cerdas, baik, dan tentunya kamu tahu, dong, seperti apa kekayaan keluarga Om San?" lanjut sang mama. Wanita cantik yang duduk tepat di hadapan Abian, senyum-senyum kesenangan karena dipuji sedemikian rupa oleh sang calon mama mertua. Berbanding terbalik dengan raut wajah Abian yang nampak tidak suka sang mama membahas tentang wanita lain. "Mama ini ngomong apaan, sih? Bian tegaskan, ya, Ma. Bian tidak akan menceraikan Nada karena Bian mencintainya, Ma!" Mendengar perkataan sang putra, wanita paruh baya itu tertawa, seolah apa yang dikatakan Abian adalah sebuah lelucon semata. Sementara Dokter Tyas seketika cemberut. Dia tidak suka ditolak karena sedari kecil wanita itu senantiasa dimanjakan oleh kedua orang tuanya dan tak pernah menerima penolakan. "Cinta kamu bilang? Sejak kapan putra mama yang paling tampan ini, menjadi turun drastis seleranya?" "Setiap orang bisa saja berubah 'kan, Ma?" "Iya, kamu benar, Bian. Tapi, berubah ke arah yang lebih baik. Jadi, kalau kamu ditinggalin sama Zizi yang hanya seorang designer kacangan itu, maka kamu harus bisa membuktikan pada dunia bahwa kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya dari dia. Ya, seperti Dokter Tyas ini. Dia ini seorang dokter mata hebat, Bian!" Sang mama tetap berapi-api menjodohkan Abian dengan putri dari rekan bisnis suaminya itu. "Ma, bukankah Dokter Tyas itu seumuran sama Mas Aji, ya?" tanya Abian. "Memang benar, Bian. Lalu, apa masalahnya jika dia seumuran sama masmu?" "Masak setelah melepas seorang gadis belia seperti istri Bian, Bian harus menikahi wanita tua seperti Dokter Tyas?" Abian tersenyum seringai, setelah mengatakan demikian. Dia sangat yakin, perkataannya barusan pasti akan membuat wanita yang bersama sang mama mundur dengan sendirinya. "Hanya selisih beberapa tahun saja, Bian, dan itu masih wajar," sahut sang eyang, yang ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut. "Lagi pula, wajah Nak Tyas ini awet muda, kok, dan masih terlihat seperti gadis belasan tahun," lanjut wanita berusia senja itu, membuat Dokter Tyas tersenyum jumawa. Abian tidak lagi menanggapi kedua wanita yang sangat berarti dalam hidup dan sebenarnya sangat dia sayangi itu. Pemuda itu memilih beranjak untuk segera kembali ke kamar dan menemui sang istri yang tadi tidak diizinkan mamanya untuk ikut bergabung bersama mereka. Meski sang eyang dan mamanya mencegah, Abian tetap melangkah dengan bantuan tongkatnya, meninggalkan tempat tersebut. "Nada, Sayang. Kamu di mana, Nad?" Baru saja Abian membuka pintu kamarnya, pemuda itu sudah berseru memanggil-manggil nama sang istri. "Nada di sini, Kak. Habis dari teras samping, cari angin," kata Nada yang baru masuk melalui pintu samping, mencoba untuk berkata dengan tenang. Buru-buru dia seka sisa air matanya karena tak ingin Abian mengetahui jika dia habis menangis. Ya, di kamar Abian terdapat pintu samping yang langsung menuju ke taman bunga. Di sana, Nada biasanya duduk menyendiri jika lelah menghadapi ocehan anggota keluarga Ndoro Brata. Setelah semua pergi dari sana dan sikap Abian semakin baik padanya, Nada sering mengajak sang suami untuk duduk di sana hampir di setiap malam sekadar untuk menikmati keindahan langit yang bertabur bintang. "Suara kamu, kok, aneh gitu, Sayang?" "A-aneh gimana maksud Kakak?" Tergagap, Nada menjawab dengan sebuah pertanyaan pula. "Kamu habis nangis, ya?" Tebak Abian kemudian, lalu tangannya terulur mencari-cari sang istri. Nada lalu membantu menuntun tangan Abian untuk menyentuh pipinya. "Iya, aku yakin kamu pasti habis nangis," lanjut Abian sembari mengusap-usap dengan lembut salah satu pipi Nada. "Enggak, kok, Kak. Jemari Kakak bisa merasakan kalau pipi Nada kering, 'kan? Kalau untuk suara Nada kenapa jadi sengau seperti ini, barusan Nada minum air dingin di kulkas, Kak. Nada lupa kalau punya alergi terhadap minuman dingin. Itu makanya Nada langsung pilek." Wanita belia itu mencoba berkilah. "Sejak kapan istriku yang sholehah ini pandai berbohong?" Nada terdiam. Dia tahu, tak 'kan mudah baginya membuat Abian percaya setelah pemuda itu mendengar suaranya. Sebab, orang yang tak dapat melihat biasanya memiliki kepekaan pendengaran yang lebih baik. "Kenapa kamu menangis, hem? Apa kamu mendengar pembicaraan kami?" tanya Abian. "Enggak perlu dijawab, Sayang," kata Abian kemudian, seraya merengkuh tubuh sang istri lalu mendekapnya dengan erat. Pemuda itu sudah dapat menebak, apa yang sebenarnya terjadi. "Ya, Rabb. Kenapa harus Engkau hadirkan cinta di hati hamba untuk pemuda ini jika dia bukan sebenar-benarnya jodoh hamba?" Dalam dekapan Abian, air mata Nada kembali bercucuran. Ternyata, secara tidak sengaja Nada mendengar pembicaraan mereka ketika wanita belia itu hendak mengambil air minum di dapur. Karena itulah saat ini Nada menjadi galau. Bagaimana wanita belia itu tidak galau jika di saat benih cinta mulai tumbuh di hati karena sikap Abian yang sangat manis, Nada harus mendengar kenyataan jika sang suami disuruh menceraikan dirinya. Nada sudah harus merasakan patah hati, sebelum bunga cinta di hatinya bermekaran. "Kamu tidak perlu risau, Nad. Karena apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Kamu istriku satu-satunya, Sayang. Hanya kamu yang aku cinta." Abian lalu mengecup puncak kepala sang istri cukup lama. Setelah dirasa bahwa istrinya cukup tenang, Abian lalu mengurai pelukan. "Kamu sudah sholat isya', apa belum, Sayang?" "Belum, Kak." "Kita sholat berjama'ah, yuk!" Ajakan Abian barusan, membuat Nada membulatkan mata karena tak percaya. Sebab, selama ini jika dia mengajak suaminya untuk sholat, Abian selalu menjawab : Kamu sholat dulu aja, Nad. Aku gampang, bisa nanti. Tak henti Nada mengucap syukur dalam hati karena Allah telah membuka pintu hati suaminya hingga Abian mau melaksanakan ibadah wajib tersebut. Nada lalu segera mengajak sang suami untuk mengambil air wudhu. Mereka berdua lalu sholat isya' berjama'ah di dalam kamar. Nada cukup takjub mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-qur'an yang dilantunkan sang suami. Ternyata, suaminya itu bisa mengaji dengan baik, meski bacaannya tak sebagus teman-teman Nada di pesantren. Yang membuat Nada bertanya-tanya, kenapa selama hampir satu bulan kebersamaan mereka, Nada belum pernah melihat suaminya itu beribadah, padahal Abian bisa mengaji? Usai mengucap salam dan berdo'a, Abian menoleh ke belakang lalu mengulurkan tangan. Nada pun menyambutnya dan mencium punggung tangan sang imam dengan takdzim. Abian lalu membalas dengan kecupan di kening. "Terima kasih, ya, Sayang. Karena kehadiranmu, aku kembali ingat sholat." "Memangnya, kapan terakhir Kakak melaksanakan sholat?" "Em ... kapan, ya? Ah, aku lupa, Sayang." "Lupa?" "Iya. Karena itu sudah lama sekali. Sewaktu aku masih SMP kayaknya." Abian tertawa kemudian. Tawa yang mengisyaratkan kegetiran karena selama ini, ternyata hidupnya sudah jauh melenceng hingga Abian tak ingat lagi akan Tuhannya. Bahkan kecelakaan yang menimpa pemuda itu beberapa waktu lalu hingga menyebabkan kebutaan di kedua matanya, belum cukup mampu untuk membuka hati Abian. Barulah setelah cukup lama bersama Nada, hati Abian mulai terbuka. "Sekali lagi, terima kasih, ya, Sayang. Karena kamu telah menuntunku menuju jalan kebenaran," kata Abian, setelah tawanya reda. Nada merangsek maju lalu memeluk suaminya. "Nada berharap, Kakak adalah satu-satunya imam bagi Nada." Mendengar perkataan sang istri, Abian mengeratkan pelukan. "Kita takkan terpisahkan, Sayang, kecuali oleh maut." "Aamiin." Dalam hatinya, Nada mengaminkan. "Sayang," panggil Abian dengan lembut. Nada mendongak, menatap wajah tampan sang suami. "Ada apa, Kak?" Abian tak segera menjawab. Tangannya justru terulur lalu menyusuri setiap lekuk wajah Nada. "Kamu cantik sekali, Sayang." Jari telunjuk Abian yang berhenti di bibir Nada, mengusap dengan lembut bibir itu. "Maaf, Sayang. Apa aku boleh menciummu?" "Nada ini istri Kak Bian. Apa yang ada pada diri Nada, adalah milik Kak Bian. Dan selayaknya pemilik, Kakak tidak perlu meminta izin jika ingin mengambil apa yang memang sudah menjadi hak Kakak." "Kamu serius, Sayang?" Nada mengangguk dan Abian mengetahui itu karena saat ini, tangan Abian masih berada di dagu Nada. "Kamu tidak keberatan jika aku mengambil hakku sebagai suami?" Abian tak perlu menunggu jawaban istrinya karena dia sudah tahu jawaban Nada. Pemuda itu pun mulai mengikis jarak. Dekat dan semakin dekat. Ketika baru saja Abian menempelkan bibirnya, Nada tiba-tiba menjauhkan sedikit wajahnya. "Kenapa, Sayang? Apa kamu berubah pikiran?" Raut wajah Abian terlihat sangat kecewa. bersambung ... Duh, Nad ... Jangan pehapein Bian, dong, Nad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD