"Terima kasih banyak, ya, Pak. Bapak bisa nunggu kami di mobil saja. Nanti kalau Kak Bian sudah ingin pulang, saya akan panggil Bapak."
"Baik, Neng. Kalau begitu, saya permisi." Sopir keluarga Ndoro Brata yang sore ini mengantarkan Nada dan Abian, mengangguk patuh lalu segera menuruni gundukan tanah yang cukup tinggi tersebut dengan berlari kecil.
"Di sini, lho, Kak, Nada biasa menghabiskan waktu jika sedang libur sekolah," kata Nada.
Ya, keesokan harinya, wanita belia itu memenuhi janjinya untuk mengajak Abian ke tepi hutan yang berada di perbatasan kampung. Dia mengajak Abian ke tempat favoritnya, yaitu di dataran yang paling tinggi di sana. Untuk bisa sampai ke tebing tinggi tersebut, mereka berdua diantarkan sopir yang biasa mengantar Abian karena jarak tempat itu dari rumah besar Ndoro Brata, cukup jauh.
"Sini, Kak, kita duduk di batu besar ini!" ajak Nada kemudian sambil menuntun sang suami untuk duduk di sebuah batu besar yang cukup untuk duduk sekitar lima orang itu.
"Sekarang ini, kita menghadap ke mana, Sayang?" tanya Abian kemudian.
"Kita menghadap ke arah barat, Kak. Dari sini, kita bisa melihat dengan jelas ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat sana. Nada senang berlama-lama di sini kalau sore hari karena pemandangan langit senjanya sangat indah. Kalau di sebelah kanan kita adalah hutan pinus, Kak ...."
"Berarti tepat di belakang kita adalah kebun teh?" sahut Abian, memastikan.
"Benar, Kak. Itu sebabnya, udara di sini sangat segar. Apalagi kalau pagi hari."
Nada tak lagi bersuara. Begitu pula dengan Abian hingga keheningan sejenak tercipta di sana. Tiba-tiba, Abian menarik kepala Nada dan membawanya untuk bersandar di bahu kokoh pemuda itu.
Wanita belia itu pun menurut. Nada bahkan berani menggenggam tangan Abian kemudian hingga membuat pemuda itu tersenyum. Abian lalu mencium tangan istrinya itu dengan lembut. Ya, sikap Abian kepada Nada semakin hari, semakin manis saja meski sang eyang menentang dengan keras.
"Apa jika libur sekolah, kamu selalu menghabiskan sore harimu di sini, Sayang? Sama siapa? Apa sama kekasihmu?" tanya Abian kemudian, yang mulai penasaran dengan kehidupan Nada.
"Setiap sore Nada memang selalu ke sini, Kak, dan Nada ke sini sendiri. Nada enggak punya kekasih, Kak. Kenal dekat seperti ini sama cowok juga baru Kakak, kok. Makanya Nada shock ketika tiba-tiba disuruh nikah dengan Kakak, padahal sebelumnya kita belum saling mengenal."
"Pasti kamu lebih shock lagi, setelah mengetahui jika kamu menikah dengan orang buta seperti aku, kan?"
Nada terdiam.
"Tak perlu kamu jawab, Nad. Aku sudah tahu jawabannya."
"Awalnya, iya, Kak. Tapi, setelah Nada mendengar kata sah kala itu, Nada mencoba untuk ikhlas menerima semua," jawab Nada kemudian dengan sejujurnya.
"Termasuk menerima perlakuan burukku?"
Nada kembali terdiam.
"Maafkan aku, ya, Sayang." Abian lalu mengeratkan genggaman tangan mereka berdua.
"Nad, kenapa kamu selalu menghabiskan waktu soremu di sini? Memangnya, orang rumah tidak mencarimu?"
"Nada selalu ke sini karena enggak ada ibu di rumah kalau sore. Ibu kerja di tempat juragan beras dari siang sampai malam, sehingga Nada hanya berdua sama bapak."
"Kamu anak tunggal? Terus, waktu itu Mas Aji menyebut nama Gina dan mengatakan jika dia adalah kakak kamu, dia itu siapa?"
"Dia memang kakak Nada, Kak. Kami dua bersaudara. Mbak Gina bekerja di swalayan dan pulangnya selalu malam."
"Memangnya, kenapa kalau hanya berdua dengan bapakmu? Biasanya anak perempuan, apalagi anak bungsu itu sangat dekat dengan ayahnya, bukan?"
Nada menghela napas panjang. "Sikap bapak sama Nada selalu buruk, Kak. Nada juga tidak tahu apa alasannya."
"Selalu buruk?"
Nada lalu menceritakan tentang perilaku sang ayah selama ini kepadanya. Mulai dari sikap sang ayah yang membedakan antara dirinya dengan Gina, sampai menyuruh Nada bekerja menjadi pemetik teh, dan hasilnya diminta paksa oleh pria paruh baya yang dia panggil bapak itu.
"Kamu bekerja di kebun eyang?"
"Iya, Kak, tapi kalau pas liburan sekolah."
"Dan upah kamu bekerja, diminta bapak kamu?"
"Ya, begitulah."
Sikap Abian yang sudah berubah, serta kasih sayang yang ditunjukkan pemuda itu pada Nada, membuat wanita belia tersebut berani menceritakan tentang kehidupannya.
Sejenak, keheningan kembali tercipta.
"Kak, matahari hampir tenggelam, dan langit senja sudah berwarna kemerahan," kata Nada, mengurai keheningan.
"Ceritakan padaku, bagaimana keindahan langit senja yang kamu lihat, Sayang," pinta Abian, tidak sabar.
Nada pun mulai menjelaskan apa yang dilihatnya. Wanita belia itu menjelaskan dengan sangat detail hingga Abian dapat membayangkan keindahannya. Pemuda itu pun lalu tersenyum.
"Nada selalu menitipkan harapan ketika matahari hampir tenggelam," kata Nada mengakhiri penjelasannya.
"Harapan apa?"
"Nada ingin bisa hidup bahagia dengan pasangan Nada. Tidak seperti ibu dan bapak."
Abian terdiam. Jauh di lubuk hati Abian, dia ingin dapat membahagiakan wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Namun, keterbatasan yang dia miliki saat ini, mungkinkah akan membuat Abian sanggup mewujudkan keinginan tersebut? Akankah Nada bahagia jika terus bersamanya?
Mengetahui sang suami diam saja, Nada kembali membuka suara. "Apa Kakak bersedia untuk membahagiakan Nada?"
"Apa kamu akan bahagia jika bersama suami buta seperti aku ini, Nad?" Bukannya menjawab pertanyaan Nada, Abian malah balik melemparkan pertanyaan.
"Nada akan sangat bahagia jika Kak Bian dapat menerima Nada apa adanya. Nada yang hanya seorang gadis kampung. Nada yang hanya anak dari orang tak punya. Nada yang berpendidikan ren ...."
"Cukup, Nad! Bagiku, kamu luar biasa, dan sangat berarti," potong Abian dengan cepat.
"Apa benar kamu akan bahagia jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu apa adanya?" tanya Abian selanjutnya.
"Apa itu benar, Kak?" tanya Nada balik, seraya menelisik wajah Abian untuk mengetahui keseriusan pemuda yang menikahinya itu.
"Nad, sebelumnya kita tak saling mengenal. Aku juga tidak mengetahui latar belakang keluargamu. Tapi, seiring berjalannya waktu kebersamaan kita meski baru hitungan minggu, aku mulai merasakan getaran-getaran setiap kali berdekatan denganmu. Setiap mendengar suara merdumu, apalagi suaramu ketika sedang tadarus Al-qur'an." Abian menjeda perkataannya sejenak.
"Beberapa waktu yang lalu, aku mulai menyadari jika aku telah jatuh hati padamu, Nad. Aku mencintaimu karena kepribadianmu dan bukan karena rupamu karena aku belum pernah melihat wajahmu. Bukankah itu artinya aku mencintaimu apa adanya dirimu, Nada?"
"Tapi, Kak. Bagaimana dengan keluarga Kakak? Bukankah mereka tidak suka dengan Nada? Apalagi Ndoro Putri Brata."
Perkataan Nada barusan, membawa Abian ke kejadian kemarin sore, di taman belakang kediaman keluarga Ndoro Brata.
"Kalau Eyang tidak menyetujui Bian memiliki anak dari Nada, mengapa eyang memaksa Bian untuk menikah dengan dia, Eyang?" protes Abian, setelah Nada meninggalkan taman belakang kediaman keluarga Ndoro Brata sore itu.
"Eyang menyuruhmu untuk tetap menikah di tanggal yang telah ditetapkan, semata demi menjaga harkat, dan martabat keluarga kita di mata keluarga besar, juga rekan-rekan bisnis eyang kakung, Bian. Adapun kenapa kami memilih gadis lugu itu, agar nantinya jika kalian berpisah, dia tidak akan berani menuntut apa pun. Berbeda jika eyang menikahkan kamu dengan gadis-gadis lain, meski mereka lebih berpendidikan, dan lebih segalanya dari Nada tentu saja, tapi mereka pasti akan menuntut macam-macam."
Mendengar alasan panjang lebar sang eyang mengapa Abian akhirnya menikah dengan Nada, membuat pemuda itu pun terlihat sangat marah, serta kecewa pada eyangnya. Akan tetapi, Abian tidak dapat melampiaskan kemarahannya pada sang eyang karena pemuda itu teringat dengan nasehat Nada.
"Setelah beberapa bulan, kalian harus berpisah, Nang!" lanjut Ndoro Putri Brata, membuat Abian semakin murka.
Pemuda itu akhirnya melampiaskan kemarahan dengan memukulkan tongkat yang dia pegang ke bangku-bangku kayu yang ada di taman tersebut hingga menimbulkan suara gaduh. Sang eyang berusaha untuk menenangkan cucu kesayangannya itu, tetapi tidak berhasil. Sementara para pelayan yang kemudian berkumpul di sana, setelah mendengar keributan di taman belakang, hanya terdiam, dan tidak berani melakukan apa pun.
Barulah ketika Nada datang, Abian berhasil ditenangkan dengan pelukan.
"Kenapa, Kak? Ada apa? Kenapa Kakak seperti ini?" tanya Nada dengan lembut, sambil mengusap-usap punggung Abian.
Mendengar pertanyaan Nada, bukan pertanyaan tepatnya, tetapi panggilan untuknya, Abian pun tersenyum. "Kakak? Kamu memanggilku kakak, Nad?" tanya Abian sambil merenggangkan sedikit pelukan.
"Iya. Bukankah, tadi Kakak sendiri yang meminta? Kakak bilang, aku bisa pilih salah satu dari panggilan yang Kak Bian sebutkan tadi, dan aku memilih kakak. Kakak tidak keberatan, 'kan?"
Abian menggeleng dengan cepat. "Tentu saja tidak, Sayang. Aku malah sangat senang karena kamu mau memenuhi keinginanku."
"Dan mulai sekarang, aku akan memanggilmu sayang, Nada." lanjut Abian di dalam hatinya.
"Nada InsyaAllah akan senantiasa berusaha untuk bisa memenuhi keinginan Kakak karena Kak Bian suami Nada. Asalkan, keinginan Kakak tidak bertentangan dengan ajaran agama. Sebagai istri, Nada pengin menjadi istri yang berbakti pada suami, Kak. Nada ingin meraih ridho Illahi dengan mendapatkan ridho suami."
"Den, Aden!" seru sopir yang tadi mengantarkan mereka berdua, berhasil mengurai lamunan Abian.
"Ada apa, Pak Karim?"
"Maaf, Den, jika saya ganggu waktu Aden," kata sang sopir dengan deru napas yang terdengar memburu karena berlari-lari dari bawah.
"Itu, Den, di bawah ada mamanya Aden. Beliau datang bersama seorang wanita cantik, Den."
bersambung ...