Bab 6. Wanita Yang Tidak Berpendidikan

1130 Words
Malam harinya, Aji pulang ke kota bersama kedua orang tuanya dengan menyimpan dendam pada Abian. Pemuda itu berjanji pada diri sendiri akan memisahkan Abian dengan Nada lalu memiliki wanita belia itu seutuhnya. Sepertinya, Aji telah benar-benar terpesona dengan kecantikan Nada. Apalagi, setelah dia melihat istri Abian tanpa menggunakan penutup kepala. "Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua!" batin Aji, sebelum meninggalkan kediaman sang eyang. Hari-hari selanjutnya, setelah anak cucu Ndoro Brata kembali ke tempat masing-masing, kehidupan Nada menjadi lebih tenang. Sebab, hanya Ndoro Putri Brata yang bersikap tidak baik padanya. Sementara Ndoro Brata sendiri, sedari awal memang acuh dengan keberadaan wanita belia itu. Seolah, keberadaan Nada di rumah besar miliknya, sama sekali tak terlihat, dan tak berarti apa-apa. "Nad, kamu enggak bosan di rumah terus?" tanya Abian di suatu sore ketika wanita belia itu tengah membantunya mengenakan pakaian. "Tidak, Den. Saya sudah terbiasa berdiam diri di rumah," jawab Nada. "Apa Aden pengin jalan-jalan? Saya bisa antarkan jika Aden tidak mau," lanjutnya menawarkan diri. Abian terdengar menghela napas panjang, setelah mendudukkan diri di tepi ranjang. "Tapi, percuma juga, ya, Nad, aku jalan-jalan. Toh, aku enggak bisa melihat apa pun," katanya yang terdengar begitu pesimis. Nada yang sedang membantu Abian menyisir rambut pemuda itu, menghentikan sejenak aktifitasnya. "Maaf, Den. Sesungguhnya, tidak ada yang percuma di dunia ini. Jika Aden keluar jalan-jalan, kalau pun Aden belum dapat melihat keindahan alam di senja hari, setidaknya Den Bian dapat menghirup udara segar. Aden juga dapat mendengarkan kicau burung yang hendak pulang ke sarang. Serta, mendengar bunyi aneka binatang hutan yang menyambut datangnya malam." "Iya, kamu benar, Nad. Jenuh juga hanya berdiam diri di rumah dan mendengar suara cempreng eyang uti yang suka marah-marah itu." "Den, enggak baik, tahu, ngatain eyang seperti itu. Bagaimana pun, beliau itu eyangnya Aden yang harus dihormati. Lagi pula, kalau pun Ndoro Putri Brata marah, itu pasti ada alasannya." Abian tersenyum, mendengar Nada menasehatinya agar tidak berkata kurang ajar tentang sang eyang. Padahal, maksud pemuda tersebut berbicara seperti itu adalah karena membela Nada. Sebab, suara sang eyang terdengar cempreng di rungu Abian, setiap kali wanita tua itu memarahi Nada. Sementara jika menghadapi Abian, suara sang eyang akan terdengar sangat lembut. "Iya, Nad, aku juga tahu itu. Aku cuma kesel aja mendengar eyang uti sering memarahi kamu," kata Abian. "Ya, udah, yuk, kita jalan!" ajaknya kemudian yang segera beranjak. "Mau pakai kursi roda, Den?" tawar Nada. "Aku mau jalan-jalan, Nad. Kalau aku pakai kursi roda, bukan jalan-jalan namanya." Mendengar jawaban Abian, Nada pun terkekeh pelan. "Iya. Benar juga, ya, Den." Nada lalu menuntun suaminya itu untuk keluar dari rumah besar Ndoro Brata, menuju taman belakang sesuai permintaan Abian. Begitu melihat keberadaan Abian di sana, para pekerja pun menyingkir karena tidak mau terkena masalah, dan dianggap mengganggu kenyamanan cucu kesayangan sang majikan. Menyisakan Abian dan Nada berdua saja yang saat ini tengah duduk di sebuah bangku panjang, di tengah taman. "Kamu benar, Nad. Udara di luar terasa begitu segar masuk ke dalam paru-paruku," kata Abian, setelah beberapa saat mereka berdua duduk di sana. Di taman belakang kediaman keluarga Ndoro Brata memang terdapat sebuah taman yang dilengkapi dengan kolam ikan, serta air mancur di tengah kolam kecil tersebut. Sementara di sekelilingnya, pohon-pohon besar yang sangat rindang menaungi taman itu hingga terlihat begitu asri, dan sejuk. Karena itulah udara di sana terasa sangat segar karena banyaknya oksigen yang tersedia. "Benar, Den, dan suara kicau burung piaraan Ndoro Brata yang berpadu dengan gemericik air di kolam, terdengar sangat merdu, bukan?" Abian pun mengangguk setuju. "Benar, Nad, tapi suara-suara alam itu kalah merdu dengan suara kamu," kata Abian yang tiba-tiba saja menggombali Nada hingga membuat wanita belia itu menatap Abian dengan tatapan penuh tanya. "Aku berbicara yang sejujurnya, Nada," lanjut Abian yang seolah dapat melihat tatapan Nada. "Tetap lebih merdu suara alam, Den," sanggah Nada. "Jika kita berdiam diri di sini, kita memang hanya akan mendengar dua suara itu yang mungkin akan membuat kita cepat bosan. Berbeda jika kita berada di tepi hutan, di sebelah barat daya kebun teh eyangnya Aden. Di sana, suara yang kita dengar lebih beragam, dan itu benar-benar terdengar sangat merdu." "Kalau begitu, ajak aku ke sana, Nad," pinta Abian kemudian dengan tidak sabar. "Jangan sekarang, ya, Den. Hari hampir gelap. Saya khawatir, kita akan kemalaman di jalan karena jaraknya cukup jauh dari sini. Tepatnya, di perbatasan kampung saya." "Baiklah, tapi kamu harus janji, kalau besok kamu akan mengajakku ke sana." "InsyaAllah, ya, Den." "Dan satu lagi." "Apa itu, Den?" "Jangan panggil aku den karena aku bukan tuanmu." "Tapi, Den ...." "Aku ini suamimu, Nad. Maka panggillah aku selayaknya suami," potong Abian dengan cepat. "Su-suami?" "Iya, Nad, suami. Apa belum jelas terlihat, perubahan sikapku selama beberapa hari ini padamu? Nada terdiam. Dia akui, sejak kejadian malam itu, ketika Abian tiba-tiba masuk angin, sikap pemuda itu memang berubah padanya. Apalagi setelah kejadian pelecehan yang dilakukan oleh Aji terhadap Nada yang hampir saja merenggut kesucian wanita belia itu, Abian mulai menunjukkan sikap sayangnya. Hanya saja, Nada tetap belum berani mengambil sebuah kesimpulan bahwa Abian benar-benar dapat menerimanya sebagai istri. Ingatan Nada lalu tertuju pada beberapa malam terakhir. "Nad, kamu tidak sedang tidur di bawah, kan?" kata Abian yang belum juga memejamkan mata ketika Nada baru beberapa saat yang lalu selesai menjalankan rutinitas di setiap malamnya, yaitu tadarus Al-qur'an. Biasanya, setiap kali Nada melantunkan ayat-ayat Allah itu, Abian akan langsung terlelap. "Kamu tidak boleh tidur di bawah, Nad. Kamu masih ingat 'kan dengan permintaanku malam itu? Tidurlah di sini, di sampingku," lanjutnya. Nada yang tak ingin membantah, segera menuruti keinginan sang suami. Lalu, wanita berkulit putih bersih itu merebahkan diri di samping suaminya tanpa kata. Mereka berdua pun kemudian tidur di ranjang yang sama, meski cara tidur mereka tak selayaknya tidurnya sepasang suami-istri, apalagi pengantin baru. Mereka tidur cukup berjauhan dan masing-masing menghadap langit-langit kamar. Anehnya, setiap kali Nada terjaga untuk menjalankan sholat malam, posisi mereka berdua selalu saja sudah berubah. Abian pasti akan memeluk tubuhnya dengan posesif, sementara Nada terhanyut dalam kenyamanan dekapan hangat Abian. Wanita belia itu pun tersenyum, mengingat semuanya. "Bagaimana, Nada?" tanya Abian, mengurai lamunan panjang Nada. "Kamu tidak keberatan 'kan jika memanggilku dengan sebutan mas, kak, akang, atau ...." Abian menjeda sejenak perkataannya. Dahi pemuda itu berkerut dalam, seolah sedang berpikir dengan keras. "Atau apa, Den?" "Em ... atau ayah, bapak, papa, daddy mungkin? Seperti itu juga kedengaran lebih enak. Lagi pula jika nanti kita memiliki anak, biar enggak canggung lagi, Nad." "Ha ... anak?" "Iya, Nad, anak. Kenapa? Kamu enggak mau memiliki anak dari suami buta sepertiku?" "Apa maksudmu, Nang?" Suara seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua, mengalihkan perhatian Abian, juga Nada. "Apa kamu sudah tidak waras, Nang, sampai-sampai kamu mengatakan hal konyol seperti itu? Memiliki anak dari wanita yang tidak berpendidikan macam dia, itu adalah hal terkonyol, Bian! Keluarga besar eyang pasti akan menertawakan kita!" bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD