Nada terus berteriak, tapi sepertinya tak ada yang mendengar suara wanita belia itu karena kamar Abian terletak di ujung, dan cukup jauh dari ruang keluarga tempat semua orang sedang berkumpul saat ini. Wanita berwajah ayu itu pun terus memberontak, tetapi sia-sia belaka karena tenaga Aji tentu lebih kuat dari tenaganya. Sementara Aji masih terus berusaha untuk dapat menguasai Nada dan membalik tubuh wanita belia itu agar mudah baginya melakukan apa yang dia inginkan.
"Diamlah, Manis! Aku akan memperlakukanmu dengan lembut jika kamu menurut," kata Aji ketika pemuda itu berhasil membalik tubuh Nada menjadi telentang.
"Tidak! Tolong lepaskan saya!" Nada masih saja berteriak dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh besar Aji. Sekuat tenaga, Nada berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat tangan pemuda itu.
"Percuma saja, Manis. Kamu tidak akan bisa lepas dariku sekarang. Kamu milikku, Nada. Jadi, sebaiknya kamu simpan tenagamu untuk melayaniku," kata Aji, seraya tersenyum seringai. Pemuda itu lalu berusaha melepaskan hijab yang Nada kenakan dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih membelenggu kedua tangan Nada.
"Wow! Ternyata kamu sangat cantik jika kerudung sialan itu dibuka, Nada," puji pemuda yang tengah kesetanan itu, setelah menarik paksa hijab yang Nada kenakan, dan membuangnya dengan asal ke lantai kamar.
"Jangan! Ah ... tolong!" Nada terus berteriak sekuat yang dia bisa sambil memejamkan mata karena jijik melihat wajah Aji yang sangat dekat dengan wajahnya.
Aji terus mendekatkan wajah dengan tatapan yang telah dipenuhi oleh kabut gairah. Pemuda itu sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menikmati tubuh indah Nada yang selama ini tertutup rapat. Dekat dan semakin dekat hingga embusan hangat napas Aji dapat dirasakan oleh Nada dan membuat wanita belia itu semakin jijik pada pemuda yang saat ini menindih tubuhnya. Namun, Nada tidak dapat berbuat apa-apa.
Di saat Nada sudah pasrah karena suaran dan tenaganya telah habis, tiba-tiba wanita belia itu mendengar suara pukulan yang sangat keras lalu diiringi suara teriakan Aji yang mengaduh kesakitan. Nada pun buru-buru membuka mata dan setelah menyadari apa yang terjadi, wanita itu segera menyingkirkan tubuh berat Aji dari atas tubuhnya. Nada dengan mudah dapat terbebas karena Aji masih fokus dengan rasa sakit di bagian punggung akibat pukulan benda keras barusan.
"Dasar, b******n! Beraninya sama wanita yang lemah!" teriak Abian, memaki kakaknya.
Di atas ranjang, Aji tertawa terbahak. Namun, sedetik kemudian pemuda itu mengaduh sambil meringis menahan sakit di area punggung. Beruntung, pukulan Abian yang dilayangkan sekenanya itu hanya mengenai punggung Aji, dan bukan kepala. Jika saja pukulan keras Abian mengenai kepala Aji, bisa dipastikan pemuda itu akan mengalami gegar otak, saking kerasnya pukulan yang Abian layangkan.
Aji lalu menatap Abian dengan sorot kemarahan yang terlihat jelas di matanya. "Bukankah kamu tidak mencintainya? Lalu, kenapa kamu mengganggu kesenanganku?"
"Bukan urusanmu! Tapi yang jelas, Nada adalah istriku. Aku harus melindunginya!" jawab Abian, membuat Nada menatap tak percaya pada pemuda yang telah menikahinya itu karena Abian lagi-lagi mengakui Nada sebagai istri. Apalagi saat ini Abian mengakui itu di hadapan salah satu anggota keluarganya.
"Nad, Nada. Kamu di mana, Nad? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Abian kemudian yang terdengar sangat panik. Pemuda itu mencari-cari keberadaan Nada dengan tangannya yang menggapai-gapai ke sembarang arah.
Mengetahui jika Abian, lah, yang telah menyelamatkannya, dan mendengar ucapan pemuda itu barusan, Nada pun menghambur lalu memeluk pemuda itu dengan erat. "Terima kasih, Den, terima kasih. Sa-saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Aden tidak segera datang," kata Nada di sela isak tangisnya.
Abian menyambut pelukan Nada tak kalah erat. "Apa b******n itu melukaimu, hem? Apa dia menyakitimu, Nad? Maafkan aku, ya. Aku terlambat menolongmu," bisik Abian yang terdengar penuh penyesalan.
Nada tak memberikan jawaban. Hanya isak tangisnya yang masih terdengar. Mengetahui jika istrinya masih shock dengan kejadian barusan, Abian mengusap lembut kepala Nada.
Aji yang merasakan sakit luar biasa di punggungnya, masih tergeletak tak berdaya di atas ranjang Abian ketika Ndoro Brata, dan yang lain masuk ke kamar setelah mendengar suara keributan di sana.
"Ada apa, ini?" tanya Ndoro Putri Brata.
"Bian memukul punggung Aji dengan tongkatnya gara-gara wanita itu, Eyang," jawab Aji dengan cepat, mengadukan perbuatan sang adik.
Sementara Abian yang mengetahui kedatangan sang eyang, semakin mengeratkan pelukannya pada Nada. Pemuda itu dapat memperkirakan jika sang eyang pasti akan menyalahkan Nada atas semua yang telah terjadi.
"Bian, kenapa kamu memukul kakakmu? Eyang yakin, Nang, kakakmu itu tidak bersalah. Pasti gadis kampung ini yang telah menggodanya," kata wanita berusia senja tersebut, seraya berusaha memisahkan sang cucu dengan Nada.
"Tidak, Eyang! Nada tidak seperti itu! Mas Aji, lah, yang terus-terusan menggoda Nada. Dan barusan, Mas Aji hampir saja merudapaksa Nada, Eyang." Abian semakin mengeratkan pelukan untuk melindungi Nada.
"Bian tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya, Eyang. Dia hanya percaya dengan aduan Nada barusan, tanpa mau mendengar penjelasan dari Aji," sangkal Aji.
"Nada yang merayu Aji terlebih dahulu, Eyang, dan ketika Nada mendengar suara tongkat Bian mendekat ke kamar ini, wanita munafik itu sengaja berteriak, seolah-olah Aji, lah, yang bersalah," lanjutnya berapi-api.
"Dia itu munafik, Eyang. Dia sengaja bersembunyi dibalik kerudung untuk menutupi kebenaran jika sesungguhnya Nada tak kalah liar dari Gina, kakaknya!"
Di d**a bidang Abian, Nada menggeleng-gelengkan kepala mendengar tuduhan keji dari Aji.
"Eyang bisa lihat sendiri 'kan, jika saat ini dia sudah melepaskan kain yang selama ini menutupi kepalanya? Itu karena dia sudah siap untuk melayani Aji, Eyang. Nada yang menawarkan diri dan menggoda Aji!" lanjut pemuda itu.
"Cukup!" Suara teriakan Abian, membuat Ajj yang masih ingin menjatuhkan harga diri Nada, terdiam. Sementara di dalam pelukan pemuda itu, tubuh Nada nampak bergetar karena menahan kemarahan.
"Aji benar, Bian. Kenapa kamu malah membela wanita itu?" Salah seorang budhe Abian, ikut bersuara
"Tolong lepas, Den," pinta Nada kemudian dengan suara lirih karena tak ingin melihat Abian dimusuhi oleh keluarga demi membelanya.
"Tidak, Nad! Aku akan tetap memelukmu, melindungimu!"
"Saya mau mengambil hijab, Den. Tadi, Den Aji melepas dan membuang hijab saya dengan paksa," lanjut Nada yang baru menyadari jika saat ini dia tidak memakai penutup kepala, setelah Aji mengatakan demikian. Abian pun mengerti lalu melepaskan pelukannya.
Nada secepat kilat memungut hijabnya dan segera mengenakan hijab yang telah robek itu kembali. Wanita belia itu lalu berdiri menjauh dari semua orang dengan kepala menunduk dalam karena semua mata kini menatapnya dengan tajam.
"Bian, Nang, sadar, Sayang. Kenapa kamu malah membela wanita kampung itu? Apa yang dikatakan kakakmu itu pasti benar, Nang. Nada pasti sengaja menggoda kakakmu karena selama ini, dia tidak mendapatkan sentuhan darimu. Kamu belum pernah menyentuhnya, 'kan? Eyang sering melihat dia tidur di lantai jika malam. Wanita yang sudah menikah, pasti haus dengan sentuhan, Bian, dan Nada pasti ingin mencarinya dari laki-laki lain karena kamu tidak mau menyentuhnya." Lembut, Ndoro Putri Brata berusaha mempengaruhi sang cucu.
Nada menggeleng kuat, begitu pula dengan Abian. "Bian tetap mempercayai Nada, Eyang."
"Hai, gadis miskin! Apa yang kamu lakukan pada cucuku? Mantra apa yang kamu baca hingga Abian memilih membelamu dari pada membela kakaknya sendiri?"
Lagi-lagi, Nada menggeleng. "Saya tidak melakukan apa pun, Ndoro. Den Bian membela saya, itu karena memang saya tidak bersalah."
"Bohong! Dia berkata bohong, Eyang!" sahut Aji.
"Nada! Katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi! Pasti kamu 'kan yang telah menggoda Dik Aji?" Salah satu kakak sepupu Abian, turut mengintimidasi Nada. Namun, jawaban Nada tetaplah sama, yaitu gelengan kepala.
"Nada! Saya tegaskan sekali lagi, benar 'kan apa yang dikatakan Aji? Kamu 'kan yang telah menggoda Aji terlebih dahulu?"
"Tidak, Ndoro. Sungguh," jawab Nada yang terdengar memelas, hingga membuat Abian memukulkan tongkat yang masih dia pegang, ke lantai dengan keras.
"Nad, kemarilah!" pinta Abian kemudian.
Patuh, Nada mendekat. Abian lalu memeluknya kembali.
"Pergi kalian semua dari sini dan jangan ada lagi yang berani menyakiti istriku!" usir Abian pada semua orang, setelah Nada kembali kembali ke dalam pelukan.
"Nang, Bian. Apa eyang tidak salah dengar, Nang? Sejak kapan, kamu mau mengakui wanita udik ini sebagai istrimu?" tanya eyang putri Abian.
"Benar, Bian. Kamu pasti salah bicara 'kan, Sayang?" Sang mama pun menimpali dengan tatapan tak percaya.
Dalam dekapan Abian, Nada mendongak hendak memastikan sendiri dari raut wajah sang suami, apakah benar yang dikatakan Abian barusan yang mengakui dia sebagai istri di hadapan keluarga besar, benar-benar keluar dari hati nurani pemuda yang telah sah menjadi suaminya itu?
bersambung ...