Bab 12. Bercinta Dengan Adik Ipar

1531 Words
Setelah berminggu-minggu menunggu dan setelah Nada berhasil meyakinkan kembali pada sang suami agar mau menerima donor mata, kabar baik untuk pemuda itu akhirnya datang jua. Dini hari tadi, Tyas mengabarkan jika donor mata untuk Abian sudah ada, dan pemuda itu diharapkan untuk segera terbang ke Singapura guna menjalani operasi transplantasi kornea mata. Pagi-pagi sekali, Ndoro Putri Brata telah bersiap hendak mengantarkan sang cucu bersama kedua orang tua Abian yang telah menunggu di bandara untuk memesan tiket terlebih dahulu. "Bian, cepatlah sedikit, Nak! Jadwal keberangkatan pesawat kita tiga jam lagi. Jangan sampai kita terlambat sampai sana!" seru Ndoro Putri Brata dari luar kamar Abian. Sementara di dalam kamar, Abian malah kembali duduk di sofa setelah mengetahui jika sang istri tak 'kan ikut bersamanya. "Kalau kamu enggak ikut, aku enggak akan pergi, Nad." "Jangan begitu, dong, Kak. Mama sama papanya Kak Bian udah beliin tiketnya, loh. Sayang 'kan, kalau hangus." "Biar aja hangus! Aku enggak peduli!" "Kak, enggak boleh gitu, dong, Kak. Lagipula, operasi pencangkokannya juga harus segera dilakukan, Kak, agar hasilnya lebih optimal." Bukan keinginan Nada jika wanita belia itu tidak ikut serta. Sebagai seorang istri, tentu saja Nada ingin selalu mendampingi suaminya, apalagi ini adalah moment terpenting dalam hidup Abian. Hanya saja, tidak ada yang mengajak Nada. Eyang putri Abian bahkan terkesan menghalang-halangi ketika tadi Nada menyampaikan maksudnya untuk ikut ke Singapura. "Maaf, Eyang. Apa saya boleh ikut mendampingi Kak Bian?" tanya Nada ketika bakda shubuh tadi, Ndoro Putri Brata mengabarkan pada Abian untuk segera bersiap karena mereka akan terbang pagi ini menuju Singapura. Nada nekat keluar dari kamar ketika Abian sudah berada di dalam kamar mandi, menyusul Ndoro Putri Brata untuk meminta izin agar diperbolehkan ikut. "Maksudmu? Kamu mau ikut kami ke Singapura?" "I-iya, Eyang, jika diperbolehkan. Saya ingin mendampingi Kak Bian," jawab Nada, mengulang keinginannya tadi. Mendengar jawaban Nada, Ndoro Putri Brata malah tertawa. Tawa yang terdengar begitu mengejek. "Gadis kampung sepertimu mau naik pesawat? Yakin, kamu tidak akan muntah di dalam pesawat nanti? Yakin, sikapmu yang kampungan itu tidak akan membuat suamimu menjadi malu? Atau kamu sengaja ingin mempermalukan Abian?" "Ti-tidak, Eyang." Nada menggeleng cepat. "Lagipula, apa menurutmu ongkos naik pesawat itu murah seperti ongkos naik ojek? Harga tiket pesawat itu sangat mahal, Nada! Bahkan, upah ibumu selama satu bulan bekerja sebagai buruh kasar pada juragan beras, tak 'kan cukup untuk membeli satu tiket keberangkatan saja! Belum untuk pulangnya dan biaya hidup di sana! Jika kamu mampu membelinya sendiri, silakan saja kalau mau ikut!" Mendengar penjelasan panjang lebar dari Ndoro Putri Brata yang terkesan merendahkan sang ibu, Nada pun tertunduk lesu. "Aku bilang enggak, ya, enggak, Nad! Aku akan pergi jika kamu ikut bersamaku." Penolakan kembali dari Abian mengurai lamunan Nada. "Maaf, Kak. Bukan Nada enggak ingin ikut, tapi ...." "Istrimu tidak bisa ikut, Bian, karena Aji dapet tiketnya hanya empat. Semua penerbangan untuk hari ini dan dua hari ke depan sudah full. Sekarang ini 'kan lagi musim libur sekolah, jadi harus booking dahulu jauh-jauh hari." Sang eyang yang tiba-tiba masuk ke kamar Abian, menjeda perkataan Nada. "Tapi, Eyang ...." "Sudah, Bian, istrimu biar nyusul sama Aji! Nanti eyang akan bilang sama masmu agar segera memesankan tiket untuk Nada!" "Kenapa enggak mama atau papa saja yang nyusul ke sana, Eyang! Bian maunya pergi bersama Nada." Abian masih keukeuh dengan pendiriannya. Pemuda itu sama sekali tak mau terpisah dengan istrinya. Seolah, Abian takut jika mereka berdua akan benar-benar terpisah nantinya. "Tidak bisa, Bian! Sudahlah ... ayo, nanti kita terlambat!" "Nada, bujuk suami kamu!" Perintah Ndoro Putri Brata kemudian, setelah melihat sang cucu bergeming, dan tetap terpaku di tempat duduknya. Setelah Ndoro Putri Brata keluar dari kamar Abian, Nada berusaha untuk membujuk sang suami. Wanita belia itu terus meyakinkan jika mereka berdua pasti akan secepatnya kembali dipertemukan. "Ini 'kan hanya sementara aja, Kak. Setelah Kakak dioperasi dan kondisi mata Kakak sudah membaik, Kak Bian 'kan bisa segera pulang. Maaf, jika Nada enggak mau nyusul Kak Bian. Nada harap, Kak Bian bisa mengerti karena Nada merasa enggak nyaman jika harus pergi dan hanya berdua saja dengan Den Aji." "Iya, aku mengerti, Nad, dan aku pun setuju denganmu." Tentu saja Abian mendukung jika sang istri menolak bepergian berdua saja dengan kakaknya karena Abian tahu jika Aji sangat menginginkan Nada. "Tapi, aku maunya ditemani sama kamu, Sayang. Menjalani pemulihan pun bersama kamu, bukan dokter tua itu!" "Ssttt, Kak. Enggak boleh bilang begitu, ah!" "Memang si Dokter Tyas itu sudah tua, 'kan?" "Memang iya, Kak. Tapi, enggak baik mengata-ngatai orang dengan perkataan yang tidak disukai. Bu Dokter Tyas pasti tidak suka jika dikatakan tua, meski sebenarnya dia memang sudah tua, Kak. Bukan hanya Bu Dokter Tyas, sih karena semua wanita pasti juga enggak bakalan suka jika dikatakan tua." Abian terdengar menghela napas panjang. Sepertinya, pemuda itu masih keberatan untuk pergi tanpa sang istri. Sementara Nada terdiam karena sudah lelah membujuk sang suami hingga keheningan sejenak tercipta di sana. "Bian!" Seruan dari sang eyang, mau tak mau membuat Abian beranjak. "Oke, aku akan berangkat, Sayang. Tapi, kamu harus janji padaku bahwa kamu akan menungguku di sini. Apa pun yang terjadi, jangan pernah pergi dari rumah ini!" "Iya, Kak. Nada janji akan menunggu Kak Bian. Kak Bian juga harus janji, ya. Janji, jaga hati Kakak hanya untuk Nada." Wanita belia itu lalu menghambur ke dalam pelukan sang suami. Cukup lama sepasang suami-istri itu saling memeluk, seolah enggan untuk berpisah. Seruan kembali dari sang eyang, memaksa, keduanya untuk mengurai pelukan. Nada lalu melabuhkan kecupan di pipi sang suami, kanan, dan kiri. Dibalas Abian dengan kecupan di kening, lalu turun ke hidung, dan berakhir di bibir tipis sang istri. Kecupan yang singkat, tetapi sangat berkesan, dan tak akan pernah dapat mereka berdua lupakan. "Tunggu aku, Sayang. Aku akan segera pulang," bisik Abian, sebelum mereka berdua keluar dari kamar tempat mereka berdua mengukir kenangan indah selama beberapa bulan. Nada kemudian mengantarkan kepergian sang suami bersama eyang putrinya sampai di halaman. Dia lambaikan tangan pada sang suami, seolah Abian dapat melihat apa yang dia lakukan. Kesunyian sejenak merajai hati Nada kala mobil yang membawa suaminya telah menjauh dari pandangan. "Nada pasti akan selalu merindukanmu, Kak. Cepatlah pulang," gumam Nada, sambil melangkah masuk ke rumah besar keluarga Ndoro Brata, tempat Nada beberapa bulan ini tinggal di sana. Dia susut air mata yang menyeruak begitu saja, setelah kepergian suaminya barusan. Air mata yang sedari tadi dia tahan karena tak ingin sang suami mengetahui, kalau dia bersedih. Jika sampai Abian tahu dia menangis, sang suami pasti akan membatalkan kepergiannya. Ya, secinta itu memang Abian pada Nada. Pemuda itu tak mau melihat Nada bersedih. Abian akan selalu berusaha membuat Nada bahagia. Karena itulah selama beberapa bulan ini, Abian selalu menuruti keinginan Nada. Mulai dari mengajak Abian ke kebun teh di setiap harinya untuk melihat para pekerja yang sedang memetik daun teh, sampai melakukan kebiasaan Nada, yaitu duduk di batu besar untuk menikmati keindahan langit senja kala sang surya hampir tenggelam di batas cakrawala. Ya, meski Abian tak dapat melihat, tetapi dari cerita Nada, pemuda itu seperti dapat menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Abian pun sangat menikmati setiap momen indah kebersamaannya dengan sang istri. Pemuda itu menjadi lebih bersemangat dalam menjalani kehidupannya, berkat kehadiran Nada. "Nad, Nada!" Baru saja wanita belia itu hendak masuk ke kamar, seruan dari seseorang yang memanggil namanya membuat Nada mengurungkan langkah lalu menengok ke belakang. Dahi wanita itu berkerut dalam kala mendapati Aji saat ini sudah berada di depan mata. "Den Aji?" "Iya, Nad. Aku ke sini untuk menjemputmu." "Menjemput saya? Tapi, saya tidak akan pergi ke mana-mana, Den." "Kamu akan pergi bersamaku, Nad. Kita akan ke Singapura bareng. Barusan eyang yang memintaku untuk memesan tiket dan menemani kamu ke sana." "Bukankah, semua tiket penerbangan untuk hari ini, dan beberapa hari ke depan sudah habis?" Ya, Nada mengungkapkan apa yang dia dengar tadi dari Ndoro Putri Brata. "Kita akan terbang dari kota sebelah, Nad. Aku baru saja booking dua tiket." "Oh, begitu. Tapi maaf, Den. Saya ndak bisa pergi." "Kenapa, Nad?" tanya Aji yang nampak sangat kecewa. "Em, saya takut dengan ketinggian, Den, dan saya juga suka mabok kalau naik kendaraan. Apalagi kalau naik pesawat. Saya takut jika nanti malah merepotkan Den Aji." Nada berusaha mencari alasan untuk menolak ajakan Aji dan alasan tersebut dia rasa yang paling masuk akal karena tak mungkin Nada mengungkapkan alasan yang sebenarnya. "Kalau masalah mabok kendaraan, itu gampang, Nad. Kita bisa ke dokter dulu sebelum berangkat biar dokter kasih kamu obat anti mabok. Ayo, cepatlah bersiap! Waktu kita tak banyak!" Perintah Aji. Pemuda itu lalu menyeret tangan Nada dan membawanya ke kamar. "Tidak, Den! Saya tidak akan pergi!" "Kamu harus pergi bersamaku, Nad! Aku sudah booking hotel dan aku sudah sangat lama menantikan momen ini, Manis. Atau, kamu mau aku melakukannya di sini?" Satu tangan Aji yang bebas lalu terulur hendak membelai pipi mulus Nada tetapi segera ditepis oleh Nada dengan tangan kirinya yang tidak dipegang pemuda itu. "Lepaskan saya, Den!" Nada berusaha melepaskan cengkeraman kuat tangan Aji, tetapi tenaga wanita belia itu kalah dengan tenaga pemuda yang tengah dirasuki setan tersebut. "Baiklah jika kamu enggak mau kuajak pergi. Itu artinya, kamu memintaku untuk melakukannya di sini." Aji tersenyum seringai lalu mulai mendekatkan wajahnya. "Sepertinya, aku harus meminta maaf dulu sama adikku karena aku menggunakan kamarnya untuk bercinta denganmu, Adik Ipar." bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD