Apa?!

1033 Words
Diana, gadis yang kini berprofesi sebagai bidan terbaik, dahulu adalah gadis pemalas dan sedikit jorok. Namun, setelah dia merasakan betapa sakitnya di permainkan dan di manfaatkan oleh orang terdekat, membuat dia sadar jika orang kaya tak menjamin kesejahteraan. Tiara, sahabat yang dulu sangat dia percaya dalam segala hal ternyata hanya memanfaatkan kecerobohan dan kemalasan Diana untuk bisa mengambil keuntungan dari pertemanan mereka. Berbeda dengan Viona yang selalu membantu dengan semampunya tanpa minta imbalan. Tiara justru memanfaatkan segala situasi agar bisa menikmati kemewahan fasilitas sahabatnya itu. Acara apa pun itu, dia akan mengajukan diri untuk membantu. Tapi setelah acara selesai, dia pasti meminta traktiran atau minta sesuatu yang dia inginkan tapi tak punya uang untuk membelinya. Hingga suatu hari, Diana yang tak sengaja memergoki percakapan Tiara dengan Viona yang membahas tentang kebiasaan Tiara yang selalu memanfaatkan dirinya di segala situasi. "Ra, kamu gak kasian sama dia? Kita itu sahabat, seharusnya bisa saling melindungi dan menjaga, bukan hanya memanfaatkan seperti ini," ucap Viona. Mendengar ucapan yang tak hanya sekali dia dengar dari mulut sahabatnya itu, membuat Tiara jengah dan meresponnya dengan memutar bola matanya. "Ngapain juga kita jagain dia? Dia itu orang kaya, anaknya dokter. Kalau pun kita tinggal begitu saja, dia tetap bisa hidup kok," balas Tiara. Viona pun menggelengkan kepalanya, sungguh dia tak tahu harus menasehati gadis di depannya itu. "Lagian, walaupun kita poroti setiap hari. Harta keluarganya gak akan habis! Kita juga gak ambil keuntungan banyak," sambung Tiara. "Aku gak setuju! Kita sahabat bukan musuh dalam selimut," balas Viona yang benar-benar sudah tak tahu harus berbuat apa. "Terserah!! yang jelas, aku tetap akan jadi aku." Setelah mengatakan niatnya yanag akan terus memanfaatkan Diana, Tiara pun pergi dari tempat tersebut dengan langkah sombong. Meninggalkan Viona yang menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa. Dan tanpa mereka sadari semua yang mereka bahas itu membuat seseorang yang sedari tadi berada di balik tembok merasakan hatinya hancur seketika. Egois dan tak mau tahu dengan urusan orang lain yang tak ada untungnya buat dirinya. Tiara yang memang sejak awal mendekati Diana, hanya karena ingin memanfaatkan kebodohan gadis itu, membuat dia terus berusaha untuk mencapai semua keinginannya. "Ternyata ini yang malian kakukan di belakangku selama ini?" Dengan wajah merah menahan marah dan kesedihan yang amt luar biasa. Diana pun keluar dari tempat persembunyiannya dan mencoba meminta penjelasan tentang apa yang baru saja dia dengar tanpa sengaja tersebut. Menyadari kedatangan Diana, membuat Viona yang masih larut dalam pikirannya sendiri tampak sangat terkejut. Sungguh dia tak tahu harus menjawab apa sekarang. "Diana ... kamu ... sejak kapan ada di sana?" Pertanyaan yang sekilas melintas di pikiran Viona membuat dia semakin gugup. Dia tak mungkin memberi tahukan semuanya kepada gadis baik di depannya itu secara langsung. Tak mungkin dia merusak persahabatan yang sudah lama mereka jalin. Namun, dia sendiri juga tak mau jika persahabatan mereka berlandaskan saling memanfaatkan satu sama lain. "Tak penting sejak kapan aku ada disini. Yang penting sekarang jawab pertanyaanku. Apa benar yang di katakan Tiara tadi? Bahwa selama ini aku hanya di manfaatkan olehnya?" tanya Diana menahan untuk tidak menangis. Diam ... Viona pun terdiam untuk beberapa saat. Dia benar-benar bingun dan tak tahu harus menjawab apa sekarang. Menundukkan kepalanya dalam dengan rasa bersalah tinggi. "Vi ... jawab, Vi!" Diana mendekat dan memegangbkedua bahu gadis di depannya itu. Membuat si pemilik semakin di rundung kesedihan dan rasa bersalah. Apalagi mendengar suara Diana yang tampak menahan tangis. "Vi ... jawab!!" Tak tahan lagi, Diana semakin menaikkan nada bicaranya. "Di ... aku ... aku minta maaf. Aku ... gak tahu harus apa lagi sekarang," jawab Viona dengan wajah yang sama-sama menahan tangis. "Jawab!! Apa selama ini Tiara manfaatin aku?!" Tak langsung menjawab, Viona memilih untuk memunduk kemudian perlahan kepalanya mengangguk. Tanpa menatap ke arah sahabatnya. Dan semenjak kejadian itu, Diana memutuskan untuk berubah. Dia tak mau jika kebiasaannya yang tak pernah pilih kasih pada semua orang justru akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Memilih mengikuti kata hatinya untuk memilih profesi sebagai bidan, profesi yang sangat pas untuk karakternya. Di tambah sang ayah juga seorang dokter kandungan yang handal. Membuat Diana semakin yakin dengan pilihannya. *** Viona yang tengah berada di dekat kolam kini tampak masih menahan rasa marahnya. Terlihat jelas jika raut wajah yang kesal dan nafas yang masih memburu. Tak pernah terbayangkan olehnya, jika dia akan kembali di pertemukan dengan cowok tengil yang sebelumnya memergoki dirinya tengah menyaksikan secara langsung sang kekasih b******u dengan wanita lain. Pria yang selama ini di matanya sangat baik, perhatian dan selalu mengutakan dirinya. Namun, di saat dia benar-benar yakin dengan hubungan yang berjalan baik dan keseriusan yang selalu di ucapkan oleh Bayu, justru kejutan yang sangat luar biasa. "Aku gak pernah nuntut kamu apa pun, Bay. Aku juga nggak pernah nyuruh kamu buat mengumbar kata-kata romantis yang bisa membuatku tersenyum bahagia. Tapi, kenapa di saat hati ini sudah yakin dan mantab dengan hubungan yang kita jalani. Kamu malah seperti ini. Apa salahku," ucap Viona menahan untuk tidak menangis. Manatap ke arah air kolam yang tampak terkena tetesan gerimos air hujan yang mulai kembali turun. Gelombang-gelombang kecil yang di sebabkan tetesan gerimis tampak saling bersahutan soalah merespon apa pun yang dia ucapkan. "Apa benar yang di katakan wanita itu? Kamu mendekatiku hanya karena ingin ikut menikmati harta peninggalan orang tuaku?" Sambungnya tanpa mengalihkan pandangannya dari arah kolam renang di depannya. Saat pikirannya masih bergelut dengan apa yang menjadi alasannya menemui Diana dan berakhir dengan bertemunya dengan cowok bau kencur yang tengilnya minta ampun. Tiba-tiba sebuah coklat berukuran besar dengan campuran kacang mede menutupi pandangannya. Perlahan, Viona mendongak menatap siapa yang berada di balik datangnya coklat favoritenya itu. Beberapa detik kemudian, wajah Viona kembali memerah saat tahu siapa yang berdiri di sampingnya. Dio ... ya, pembawa coklat itu adalah Dio. "Ngapain kamu kesini?!" Cetus Viona membuang muka. "Ckk ... orang mau niat baik kok salah," jawab Dio kemudian duduk di samping Viona tanpa izin. Membuat gadis itu semakin menahan amarah. 'Dasar gak punya sopan santun,' batin Viona menatap tajam ke arah cowok tampan di sampingnya tanpa berniat untuk menjauh. "Eh, Mbak. Jadi cewek itu jangan judes-judes. Entar cantiknya ilang. Yang lebih parahnya lagi, entar aku masih sayang," ucap Dio tersenyum dengan menatap ke arah wajah cantik itu. Yang sontak membuat Viona membulatkan kedua matanya. "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD