"Hmm ... tapi masih mending sih, Kak. Lebih baik jomblo karena mencari yang benar-benar serius, dari pada punya pacar tapi oon dan sukanya modus."
Ceplas-ceplos tapi penuh perhatian. Itulah kebiasaan yang melekat pada diri Dio. Walau sering berkata yang kurang mengenakkan hati, tapi cowok tampan berkulit putih tersebut selalu memberikan perhatian yang lebih. Tak peduli dengan siapa dia berhadapan.
Hampir semua orang yang sudah berteman lama dengannya akan sangat nyaman dan tak perlu canggung saat dia menghadapi masalah dan meminta bantuan atau sekedar meminta pendapat dari Dio. Walau di awal-awal mereka mengetahui cara Dio menghadapi masalah atau pun memberikan solusi dengan kata-kata yang kasar, tapi setelah tahu maksud dari setiap ucapannya, mereka mulai bisa memahami dan menerima setiap ucapan tersebut.
Memang terkadang, karena kita yang terbiasa dalam satu runah atau pun lingkungan yang selalu berkata halus dan 'boso' kalau kita masuk ke lingkungan yang cara bicaranya memakai cara yang kasar, maka apa yang kita denger pasti akan menjadi patokan. Menjadi penilaian pertama dan terus menjadi ciri khas seseorang dimata orang lain.
Tak peduli dengan bagaimana ekspresi Viona yang sangat kaget dengan ucapan yang terlontar dari mulut Dio. Dio justru terus memasukkan suapan demi suapan pisang goreng buatan Viona hingga hampir habis 3 potong. Sungguh saat ini yang ada dalam diri Viona adalah rasa marah dan benci yang terus membesar pada cowok tengil, sombong di depannya. Entah apa salahnya hingga harus di pertemukan dengan cowok seperti itu.
Dengan wajah memerah karena menahan amarah yang kian membesar. Viona meraih piring yang berisi sisa pisang goreng yang kini tinggal separo dari jumlah sebelumnya. Membuat Dio kaget dan menatap heran ke arah gadis berbulu lentik di depannya itu.
Sementara Diana dan bi Yaya hanya menatap kedua orang yang saling bersitatap itu dengan menahan senyum geli. Mereka tahu dan paham jika Dio tak bermaksud membuat Viona marah, namun cowok itu hanya sekedar bergurau agar tidak tegang dan Viona segera melupakan rasa sedihnya.
Dio mengalihkan pandangannya dari wajah merah Viona ke piring yang ada di tangan gadis itu. Sorot mata Dio tampak jelas jika dia masih menginginkan gorengan berbahan dasar pisang itu.
"Apa?!" Cetus Viona yang menyadari arti sorot mata Dio. Membuat Dio sontak menatap ke arahnya.
"Mau makan," jawabnya menunjuk piring di tangan Viona.
"Goreng aja sendiri, punya tangan kan?!"
Dengan sedikit menaikkan nada bicaranya, Viona terus menatap tajam Dio. Bukannya sedih karena teringat nasib percintaannya yang tak sesuai keinginannya dan terancam kandas karena kebohongan dan perselingkuhan. Tapi, Viona marah sebab di remehkan oleh cowok tengil tapi tampan di depannya itu. Cowok yang dari awal sudah membuat Viona emosi dengan cara bicaranya yang tak pernah di tata.
"Elah ... minta dikit napa sih, Mbak. Laper nih," ucap Dio dengan berusaha kembali mengambil gorengan itu. Namun, selalu gagal karena Viona terus menghindar.
"Jangan harap!"
Tak peduli jika saat ini dia menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, Viona menghentakkan kedua kakinya agar semua orang tahu jika dia benar-benar marah saat ini. Kemudian pergi meninggalkan dapur menuju taman belakang rumah dengan tanpa membawa piring yang sedari tadi dia jaga.
Dio, Diana dan bi Yaya, hanya bisa menatap kepergian Viona dengan raut wajah heran. Berbeda dengan kedua wanita di sampingnya, Dio justru tampak tersenyum tipis dengan mata yang terus terkunci pada sosok gadis yang kini sudah menghilang di balik dinding. Ada sesuatu yang mulai terasa sejuk di dalam hatinya. Membuat dia semakin semangat membantu gadis itu untuk bisa move on dari pacarnya yang kurang ajar.
"Ngapain senyum-senyum?" tanya Diana membuat Dio sedikit terkejut dan segera merubah raut wajahnya.
"Temen kakak cantik, apalagi kalau marah," ucapnya terbayang bagaimana wajah Viona. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis. Membuat sang kakak ikut tersenyum.
"Jangan macam-macam!" Ancam Diana di balas cengiran oleh sang adik.
***
Beberapa tahun yang lalu,
"Iih ... seharusnya jadi cewek itu yang tegas, kan udah ada bukti kalau dia selingkuh. Gimana sih!" gerutu seorang gadis pada sebuah novel yang tengah dia baca karena alurnya tak sesuai dengan apa yang dia prediksi.
Hampir setiap novel yang dia baca selalu mendapat protes dari gadis itu. Namun, tak jarang dia juga memuji hasil karya para penulisnya. Sempat terpikirkan olehnya untuk menjadi seorang penulis, tapi di urungkan karena ... malas mikir.
Dia adalah Diana Erfas atau yang biasa di panggil dengan sebutan Diana. Anak pertama dari keluarga Erfas. Setiap hari kerjaannya hanya baca novel dan nonton drama. Kuliah?? Aahh ... otak separonya nggak mau di ajak mikir lagi. Di samping sedikit oon, gadis itu juga pemalas.
Seperti saat ini, berbagai macam camilan dan kaleng bekas minuman tampak berserakan di sekitanya. Bahkan, gelas dan mangkok bekas semalam pun masih tergeletak tak jauh dari tempatnya. Benar-benar gadis pemalas.
Anehnya lagi, dia mempunyai cita-cita akan menjadi wanita tersukses dan terkaya tingkat Dunia. Pemilik puluhan perusahaan besar dan ratusan cabang yang tersebar di seluruh penjuru Dunia. Bahkan, dia akan menjadi wanita satu-satunya yang paling di segani dan di hormati. Ah ... sudahlah, orang ngehalu mah bebas.
Pendidikannya hanya sampai jenjang SMA, itu pun karena paksaan dari kedua orang tuanya. Setelah itu dia memilih untuk menganggurkan diri di rumah. Di saat teman-temannya tengah berjuang demi masa depan yang lebih baik, dia justru tak peduli sama sekali. Di pikirannya hanya bagaimana cara menikmati hidup tanpa mau bersusah payah.
Ceklek,
Pintu kamar berwarna putih itu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang tampak cantik terawat dengan balutan dres sederhana tapi terlihat elegan. Dia adalah Soraya Erfas, ibu kandung Diana. Raut wajahnya selalu berubah masam menahan emosi setiap masuk ke kamar bernuansa pastel ini.
Bagaimana tidak? Kamar dari seorang gadis berusia 19 tahun yang selalu berantakan dengan berbagai macam bungkus camilan serta minuman yang setiap hari menggunung. Bahkan, karena saking parahnya, keluarga ini sampai mempekerjakan satu asisten rumah tangga yang khusus membereskan kamar Sisi dan menyiapkan segala kebutuhannya.
"Diana! ... Sampai kapan kamu seperti itu?!" Seru Soraya menatap tajam ke arah anak gadisnya yang masih bergelud dengan selimut tebalnya. Padahal sekarang sudah pukul sepuluh lebih empat puluh menit.
Diana melirik sekilas ke arah sang mama, lalu kembali menatap novel di depannya. "Ada apa sih, Ma? Ini masih pagi loh," jawabnya malas.
"Ada apa?! Masih pagi?!," teriak Soraya geram. "Lihat jam itu! ... kamu itu anak perempuan, jam segini masih malas-malasan di kamar. Apa dengan kebiasaan jelek mu itu, perusahaan yang kamu impikan bakal terbangun dengan sendirinya?!"
Ceramah panjang lebar mamanya sudah tak lagi mempan bagi Diana. Baginya itu seperti nasi dan lauk yang sudah menjadi makanannya sehari-hari. Soraya pun hampir stres menghadapi anak gadisnya itu, tak pernah berubah. Selalu mengandalkan orang lain, tak mau berusaha menjadi yang lebih baik.
Karena semua sepupu Diana tak ada yang sepemalas dia. Semua selalu bangun pagi dan segera berangkat ke kampus atau pun ke kantor. Menggunakan waktu mereka dengan sebaik mungkin. Sungguh semua berbanding terbalik.
"Ada apa sih, Ma?" Sahut Firman, papa kandung Diana yang baru saja datang karena mendengar teriakan istrinya.
Menghela nafas berat dengan wajah yang masih menahan kesal dan gemes. "Anak papa tuh, kerjaannya gitu terus ... lama-lama mama nikahin juga, biar bisa belajar jadi ibu rumah tangga yang baik," ucap Soraya melirik ke arah Diana yang masih enggan beranjak dari ranjang kesayangannya.
"What?! Mama mau nikahin aku sama siapa?" Sahut Diana bersemangat. "Aku nggak minta yang muluk-muluk kok, Ma. Aku maunya yang tampan, gagah, kaya, romantis ... ."
"Halaah ... itu bukan lagi muluk! Tapi halu," potong Soraya membuat Diana berengut.
"Ah, Mama ... aminin gitu loh," protes gadis berambut panjang itu seraya beranjak dari ranjang, mendekat ke arah kedua orang tuanya dan langsung memeluk sang papa.
Diana memang tergolong gadis manja yang tak bisa jauh dari dekapan orang tuanya. Bahkan, dia masih sering tidur bersama kedua orang tuanya dalam satu ranjang dan satu selimut. Alasannya karena dia tak mau kehilangan kehangatan pelukan kedua orang yang paling penting dalam hidupnya itu. Di tambah lagi, dia tak mau kalau sampai mempunyai adik. Cukup dia dan hanya dia yang menjadi tuan putri di keluarga Erfas.
Dalam keluarga besarnya, dia juga merupakan satu-satunya cucu dan keponakan perempuan. Sehingga membuat dia semakin manja, apalagi kalau keluarga besar tengah berkumpul. Semua orang akan menuruti semua keinginannya, tanpa terkecuali.
"Sayang ... apa yang di katakan mama kamu itu benar. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, mana ada laki-laki yang mau nikah sama kamu. Apalagi dengan kriteria yang kamu sebutkan tadi." Mendengar penuturan dari papa, Diana pun terdiam. Otak separonya di paksa bekerja sekarang.
Walaupun dia terlahir dari keluarga ternama dengan kekayaan yang tak di ragukan lagi. Tapi, kalau soal kepribadiannya yang minus serta otaknya yang jauh dari kata cerdas, pasti membuat pria mana pun tak akan mau menikahinya, kecuali pria dengan niat terselubung. Yang hanya ingin memanfaatkan kebodohan dari seorang Diana.
"Ucapan kan doa, Pa. Siapa tahu di kabulin," bela Diana yang masih gigih dengan pendiriannya.
Soraya dan Firman pun saling pandang. Mereka tak bisa berkata-kata lagi. Justru gemuruh dalam d**a keduanya semakin membesar dan siap di ledakkan. Antara marah dan gemes.
Menghela nafas berat dan menatap tajam ke arah Diana "15 menit lagi ... kamu ... ikut mama ke super market untuk belanja bulanan. Tak ada penolakan dan tak ada kata terlambat. Kalau tidak, semua fasilitas yang kamu nikmati saat ini akan mama blokir," tegas Soraya pelan dengan menekankan setiap kata-katanya.
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Soraya langsung keluar dari kamar anaknya di susul oleh Firman. Namun, saat Firman hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Diana. Mata mereka beradu sesaat. Diana menatapnya dengan tatapan memohon. Namun hanya di balas gelengan oleh sang papa. Terpaksa, dia melepas kepergian papanya kali ini.
Diam untuk beberapa saat. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang memang ... super berantakan. Kembali menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Diana pun menghela nafas sejenak lalu mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa membawa handuk kesayangannya. Karena biasanya setelah sang mama keluar, tak berselang lama, Ika, pembantu khusus untuk Diana akan masuk untuk membersihkan kamar.