Dua gadis berbeda profesi tapi sama nasib kini tengah menyibukkan diri di dapur. Keduanya memutuskan membuat pisang goreng untuk di nikmati sore ini. Bukannya tak ada makanan, tapi karena belum masuk jam makan malam. Mereka memutuskan membuat sesuatu untuk mengganjal perut.
Bi Yaya yang juga bersama mereka tampak tersenyum senang melihat kedua gadis itu. Membiarkan mereka menguasai dapur sejenak, sementara dia mempersiapkan bahan-bahan yang akan dia masak untuk menu makan malam.
"Kopi atau s**u?" tanya Diana yang kini berada di dekat dispenser, menatap ke arah Viono yang tengah menggoreng pisang dengan tangan terampilnya.
Viona menoleh, menarik bibirnya ke samping kanan seraya berpikir. "Hmm ... kopi s**u enak deh," jawabnya.
Mendengar jawaban Viona, membuat Diana juga memilih membuat kopi s**u untuk menemani pisang goreng mereka. Namun, tiba-tiba gerakan tangan Diana berhenti. Dia baru teringat jika adik laki-lakinya tak terlihat semenjak pulang dari mini market dalam keadaan basah kuyup tadi siang.
Memutar tubuhnya hingga melihat ke arah lantai dua, tepatnya melihat ke arah pintu kamar yang berada di samping kamarnya. Sepi ... sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Diana menoleh ke arah bi Yaya yang duduk di meja makan seraya memotong sayuran untuk menu makan malam. Karena biasanya, adik laki-lakinya itu lebih manja ke bi Yaya.
"Bi ... Dio belum turun dari tadi?"
Wanita paruh baya itu pun menoleh ke arah nona mudanya. "Sudah, Non. Tadi katanya mau ke kolam samping rumah, bawa kopi sama kue sisa semalam," jawabnya seraya melirik ke arah pintu samping dapur yang terhubung dengan kolam renang di ikuti oleh Diana.
Sejak dulu, tempat tersebut memang menjadi favorit Dio. Apalagi kalau habis hujan seperti ini. Dio akan betah berlama-lama di sana. Apalagi kalau sambil main game, pasti bisa seharian.
"Dio? ... siapa, Di?" sahut Viona.
Berjalan mendekat dengan membawa piring berisi pisang goreng di tangannya. Aroma manis dan gurih yang menguar lewat uap yang masih keluar dari potongan pisang goreng itu, membuat siapa pun yang mencium aroma itu akan langsung ingin menyantap.
"Dio itu adikku," jawab Diana tersenyum. "Hmm ... siapa pun yang bakal dapetin kamu, pasti dalam kurun waktu 5 bulan dia sudah nambah berat badan," sambungnya.
Mendengar ucapan si tuan rumah, membuat kening Viona berkerut. Tak paham dengan apa yang dia maksud kali ini.
"Iya, Non. Lha wong mbak Viona pinter masak dan rajin. Pasti suaminya gampang nambah berat badan," sahut bi Yaya.
Walau baru pertama kali mereka bertemu. Tapi Viona dan pembantu keluarga Erfaz itu sudah bisa langsung akrab. Di samping Viona yang tak pernah merasa canggung dan membedakan satu sama lain. Wanita paruh baya itu, juga merasa senang dengan kehadiran Viona di rumah besar itu. Sama halnya dengan bi Rumi, pembantu di rumahnya yang sudah di anggap ibu olehnya. Viona juga menganggap bi Yaya sebagai ibunya.
Apalagi mengingat jika kedua gadis itu sama-sama kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan. Membuat kedua wanita paruh baya yang setia mengabdi pada kedua keluarga besar tersebut semakin sayang dan memutuskan untuk tetap berada di samping majikannya.
"Kita doakan saja, Bi. Supaya dia cepet bisa move on dan dapet yang benar-benar serius jagain dia. Bukan cuma jagain hartanya doang," sindir Diana.
Mendapat sindiran yang memang kenyataan itu membuat Viona tak berniat untuk membalasnya. Lagi pula, semakin dia merasa tak terima dengan kenyataan pahit dalam kisah asmaranya, akan membuat hatinya semakin lemah. Dia harus bisa membuktikan jika dia tak akan terpuruk hanya karena pria matre dan pembohong seperti Bayu.
Baginya untuk sekarang ini, dia harus berusaha memantabkan hatinya dan menyiapkan mental yang kuat agar bisa menghadapi Bayu setelah ini. Tak mungkin jika dia langsung menanyakan tentang apa yang dia lihat tadi siang. Harus bisa mencari bukti yang akurat agar bisa membalas sakit hatinya.
Menanggapi candaan Diana hanya dengan menatap malas. Kemudian meraih gelas berisi s**u coklat miliknya dan menyeruput minuman panas itu. Sungguh nikmat di nikmati di cuaca yang ekstrim seperti saat ini.
"Aku ke kamar mandi dulu ya?" pamit Viona, meletakkan gelasnya kembali le tempat asal. Dan di balas anggukkan oleh Diana.
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki dari arah samping. Membuat ketiga orang yang berada di dalam dapur melirik ke sumber suara. Detik kemudian, Dio masuk dengan memegangi perut datarnya. Menyipitkan kedua matanya hingga hanya terlihat seperti dua garis lurus.
"Enaknya ... bibi masak apa?" ucapnya dengan terus berjalan ke arah kedua wanita yang berkumpul di meja makan.
Sesampainya di sana, Dio menatap ke atas meja makan tepatnya di tempat kedua wanita itu berkerumun. Sontak matanya berbinar karena melihat makanan yang sangat menggoda baginya. Pisang goreng krispy dan kopi s**u panas. Perpaduan yang sangat nikmat.
Tanpa menunggu lagi, langsung saja dia comot satu potong pisang goreng yang masih hangat itu dan dia masukkan ke dalam mulutnya. Kemudian memejamkan kedua matanya merasakan betapa nikmatnya makanan ini.
"Hmm ... sungguh luar biasa! Bibi memang selalu yang teeerrbaik!!" puji Dio mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah wanita paruh baya di samping kanannya.
Yang di acungi jempol justru menaikkan kedua alisnya. Merasa bingung karena makanan yang tersaji di depan mereka bukan buatan dirinya. Dan ternyata bukan hanya dia yang merasa bingung dengan tingkah Dio kali ini. Tapi, Diana yang berada di depannya juga melakukan hal yang sama.
"Bukan bibi yang bikin semua ini, Den," ucap bi Yaya. "Tapi non Viona."
Mendengar jawaban terakhir dari pembantunya membuat Dio yang hendak memasukkan potongan ke tiga pun sontak berhenti. Keningnya berkerut dengan alis yang hampir menyatu. Kemudian menatap ke arah sang kakak dan pembantunya yang tampak tersenyum.
"Viona?!" ucap Dio yang tampak asing dengan nama itu.
"Hmmm," jawab sang kakak mengangguk. "Dia temen kakak yang menginap di sini tadi malam."
Dan ... kini Dio mulai mengaitkan setiap kejadian yang dia alami seharian ini. Dari terdapatnya mobil di garasi rumahnya, suara orang menangis di kamar sang kakak dan pisang goreng yang baru kali ini dia rasakan. Rasa yang benar-benar nyata, dia baru mengerti jika memang dia tidak salah dengar.
"Di ... besok gantian nginep di rumahku ya?" ucap dari arah belakang yang sontak membuat semua orang menoleh.
Viona yang berjalan sambil menunduk dengan tangan yang sibuk mengeringkan kedua tangannya tak menyadari jika saat ini dia tengah menjadi pusat perhatian. Terlebih sorang cowok yang menatap tanpa berkedip seolah tengah meneliti sesuatu.
Hingga sampai akhirnya Viona selesai mengelap tangannya dan membuang tissu itu ke tempat sampah. Viona baru menyadari jika menjadi pusat perhatian semua orang saat mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang tersebut. Detik kemudian kedua matanya membola kala melihat ada seseorang yang dia kenal di sana.
"Kamu?!" Serunya terkejut.
Sama halnya dengan Viona, Dio pun ikut terkejut melihat siapa yang menjadi tamu di rumahnya. Tak terduga jika mereka berdua akan bertemu kembali dengan jangka waktu yang sangat cepat.
"Eh!! Embak yang lagi patah hati, ya?!" Sahut Dio.
Tak cuma kedua orang itu, Diana juga tampak terkejut karena mendengar ucapan kedua orang di samping kanan dan kirinya yang tampak pernah bertemu tapi dalam keadaan kurang baik.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Diana menatap Dio dan Viona bergantian.
"Kak! dia beneran temen kakak?" Sela Dio tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.
"Iya," jawab Diana.
Dio menghela nafas lelah, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Viona. "Kasian tahu, Kak. Dia di hianati oleh pacarnya yang oon," ucap Dio bernada prihatin atas nasib yang menimpa Viona kali ini.
"Ohh ... jadi, cowok tengil yang di maksud Vio itu kamu, Dek?" Ucap Diana.
"Dan ... yang nangis di kamar kakak tadi siang ternyata orang yang tengah patah hati karena pacar oonnya selingkuh."