Lapar

1199 Words
Di dalam kamar bernuansa pastel dengan kesan modern, dua orang gadis tengah menikmati tidur nyenyak mereka di bawah hangatnya balutan selimut tebal. Cuaca yang masih terasa dingin membuat mereka malas untuk bangun lebih awal. Apalagi, hari ini memang tak ada kegiatan bagi keduanya. Krukk ... krukk ... . Terdengar suara perut keroncongan dari arah Viona. Ya ... dia terlihat tidur tak nyaman sejak tadi, karena perutnya terus protes minta di isi. Sejak pulang dari restoran tadi siang, perutnya tak terisi sedikitpun. Apalagi kebiasaannya saat dalam mood buruk, perutnya akan lebih gampang merasa lapar. Karena tak lagi bisa menahan rasa yang terus mengusik tidur nyenyaknya. Vio memilih segera bangun dan mencari sesuatu yang bisa dia makan. Menoleh ke samping kiri, melihat Diana yang masih tertidur nyenyak sambil memeluk guling kesayangannya. Tak tega untuk membangunkannya. Tapi, dia pun tak mungkin berbuat sesuka hatinya di rumah itu, walau Diana sudah sering kali berpesan agar menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri. "Di ... Diana," panggilnya pelan seraya menyentuh pundak sahabatnya itu. Karena terbiasanya dengan kecekatan dan respon cepat. Diana menggeliat pelan, menoleh ke arah Viona dengan mata yang masih berusaha menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Sementara itu, Viona merasa sangat tak enak karena sudah mengganggu tidur Diana. "Kenapa, Vi?" tanya Diana setelah matanya bisa terbuka walau belum sempurna. "Hmm ... sorry, Di. Aku mau izin ... minta makan," jawab Viona dengan rasa bersalah di hatinya serta wajah memerah karena malu. Melihat Viona yang malu membuat Diana tersenyum, sahabatnya itu memang selalu merasa tak enak hati walau karena hal sepele. Sedikit beringsut hingga bisa melihat wajah Viona dengan jelas. Masih belum percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia dan Viona mempunyai nasib yang sama, sama-sama tak punya kedua orang tua, dan sama-sama berjuang meneruskan profesi dari sang ayah. Walaupun nasibnya lebih beruntung di banding Viona, sebab dia masih memiliki adik laki- laki. Sedangkan Viona anak tunggal yang kini hanya tinggal bersama pembantunya. Saudara yang sudah menetap di luar negeri membuat Viona tambah berat untuk meninggalkan tempat kelahirannya. Apalagi, semua peninggalan orang tuanya sudah beratas namakan dirinya. Jadi, semakin membuat Vio merasa bertanggung jawab untuk menjaga semua peninggalan itu. Oleh karena itu, hubungan keduanya semakin erat. Saling berbagi cerita, berbagi pengalaman dan meminta pendapat. Sekali mereka bertemu akan menghabiskan waktu sampai berhari-hari untuk saling berbagi cerita. Karena tak setiap hari mereka bisa bertemu. Apalagi, Diana yang sering ke luar kota hingga beberapa hari bahkan, sampai berbulan-bulan. Akhirnya selama itu, mereka hanya bisa berkomunikasi lewat vidio call. Seperti sekarang ini, sejak kedua orang tua Diana meninggal 5 bulan yang lalu, mereka baru bisa bertemu kembali. Awalnya Diana tinggal di rumah dinas yang terletak di pinggir kota. Dan kedua orang tuanya tinggal di pusat kota bersama adik laki-lakinya. Dan karena sang papa mempunyai klinik sendiri dan sudah sangat maju, membuat Diana memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga dan meneruskan usaha sang papa. Rumah yang baru kali ini di datangi oleh Viona, sebab selama ini mereka hanya bertemu di rumah Viona atau pun di rumah dinas Diana. Dan kalau keduanya sama-sama tengah di luar rumah, mereka akan membuat janji ketemuan di salah satu kafe atau pun restoran terdekat. "Vi ... kan aku dah bilang, anggap aja rumah sendiri. Terserah mau ngapain. Lagian ada bi Yaya yang bakal ngawasin kalau ada maling," jawab Diana. Viona mencebikkan mulutnya. "Iya ... maling hatimu yang kagak pernah tersentuh," balas Viona. "Ckk ... bukannya gak kesentuh, tapi lagi mencari yang benar-benar tulus tanpa adanya modus," sindir Diana membuat wajah Viona semakin di tekuk. "Terima kasih loh ya atas sindirannya," balas Viona memperlihatkan wajah sok bahagia dan seolah sangat senang atas sindiran yang di lontarkan oleh sahabatnya itu. Hanya saat mengucapkan kalimat tersebut, setelah selesai wajahnya pun kembali di tekuk. Memutar bola mata dengan bibir yang di tarik ke bawah. Dan bukannya merasa bersalah atau gimana, Diana justru bersusah payah untuk tidak tertawa. "Pffht ... orang patah hati kalau lagi lapar makin sensitif," cibirnya. Tanpa mau membalas cibiran Diana, Viona memilih beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di ruangan tersebut. Saat hendak masuk, Viona memutar tubuhnya menghadap ke arah sahabatnya yang masih betah di ranjang kesayangannya dengan tawa gelinya. "Eh, Di. Di kota A kemaren ada toko baru loh, dan sangat ramai," ucap Viona menghentikan tawa Diana. Dengan kening berkerut karena batmru tahu jika ada toko baru yang ramai, Diana pun bertanya, "hah?! Beneran?" Viona mengangguk semangat. "Iya ... rencana sih, mau ajak kamu kesana." "Wih ... mau dong!" Seru Diana tak kalah semangat dengan mata yang berbinar. Bidan cantik berlesung pipi itu memang tak pernah bisa ketinggalan dengan toko yang menjual barang murah dan ramai pelanggan. Apalagi yang ada sensani berebutnya. "Siap, habis makan ya." "Oke. Eh, tapi toko apaan?" Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Diana yang sedikit lemot itu membuat senyum jahil Viona semakin merekah. Diam untuk beberapa saat guna mengontrol mulutnya agar tidak tertawa sebelumnya waktunya. Setelah itu, gadis yang berprofesi sebagai arsitek muda tersebut sedikit memutar tubuhnya hingga setengah badannya menghadap ke pintu kamar mandi. Tangan lentiknya pun mulai memegang handle. "Toko jual beli sahabat yang hobi nyinyir. Dari pada meresahkan lingkungan mending di jual kan?" "Ah, iya setu— eh bentar-bentar, toko apa tadi? Sahabat yang hobi nyinyir?" Wajah kagetnya kini justru membuat Viona mengangkay kedua bahunya dan pangsung masuk ke dalam kamar mandi dengan bibir yang nahan ketawa. Setelah sampai di dalam kamar mandi, tawa Viona pun pecah seketika. 'Hahaha ... iya, Di. Toko jual beli gadis yang nggak laku-laku tapi suka nyinyir. Hahaha," Suara gelak tawa Viona dari dalam kamar mandi yang terdengar sangat bahagia itu membuat Diana ikut tersenyum. Bukannya marah karena sudah di ejek, Diana justru merasa ikut senang karena melihat Viona sudah tak sedih lagi. Setidaknya dengan begitu, Viona bisa melupakan sakit hatinya karena mendapati 0acarnya selingkuh. Sambil menunggu Viona keluar dari kamar mandi, Diana memilih untuk membuka laptopnya sebentar guna mengecek email yang masuk. Sebenarnya hari ini ada jadwal bertemu dengan dokter kandungan sahabat papanya, untuk membahas tentang apa saja yang harus di tingkatkan di klinik yang kini dia kelola. Namun, karena ada Viona yang butuh dia, Diana memutuskan untuk menunda pertemuan itu. Sampai email terakhir selesai dia cek, Viona belum juga keluar dari kamar mandi. Namun, sudah tidak terdengar suara gemericik air dari dalam sana. Yang kemungkinan sebentar lagi, gadis yang tengah patah hati itu akan segera keluar. Dan ... benar saja, saat Diana hendak turun dari ranjang, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Viona yang keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, serta handuk kecil yang membungkus rambut panjang miliknya. Jelas dia sudah selesai mandi. "Tumben mandi," ejek Diana kemudian berjalan mendekat. "Ckk ... walau pun hati tengah terluka parah, tapi fisik harus tetap cantik weeh," balas Viona. "Haha," Tak menunggu lagi, kini gantian Diana yang masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sedangkan Viona berjalan ke samping ranjang untuk mengambil bajunya yang ada di dalam koper. Ya ... kemana pun dia pergi, dia selalu membawa baju ganti yang dia simpan di dalam mobil. Jadi misal terjadi apa-apa atau tengah hujan saat ada pertemuan di luar, Viona tetap santai. Dengan pakaian atasan kaos putih polos dan di padukan dengan celana jins yang sedikit longgar, serta rambut yang di biarkan tergerai membuat penampilannya kali ini lebih fres dan cantik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD