Coklat

1009 Words
Memastikan pintu tertutup rapat, kemudian berjalan ke arah ranjang yang kini di kuasai oleh orang lain. Menghela nafas sejenak kemudian mulai naik ke atas ranjang. Cuaca dingin yang semakin menusuk tulang membuat siapa pun enggan meninggalkan benda empuk dan hangat itu. "Siapa, Di?" Tanya seorang gadis yang menatap ke arah Diana dengan mata sembabnya. "Adikku," jawabnya dengan tangan sibuk menutupi kaki hingga sebatas perut dengan selimut tebal kesayangannya. Kemudian menatap ke arah sahabatnya yang tengah patah hati dan butuh sandaran itu. Ya ... gadis tersebut adalah Viona Rasti. Gadis cantik dan pintar yang berprofesi sebagai arsitek. Profesi turun menurun dari sang kakek dan papanya, dan sekarang sampai ke dia. Anak tunggal dari sepasang suami istri yang meninggal akibat kecelakaan 2 tahun yang lalu. Dan sekarang kembali jatuh karena kekasih yang dia percaya dan sayangi ternyata hanya memanfaatkan kebucinannya untuk mengeruk hartanya. "Tadi dia bilang kalau denger suara orang nangis, makanya penyakit keponya kambuh," sambung Diana. "Hmm ... sorry ya kalau aku ngrepotin." Vio selalu berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain kala dirinya tengah terpuruk. Namun, untuk saat ini dia benar-benar butuh temen untuk berbagi keluh kesahnya. Hatinya hancur dan sulit menerima kenyataan yang baru saja dia dapatkan. Oleh karena itu, dengan terpaksa dia meminta tolong kepada Diana untuk menerimanya menginap malam ini. "Nggak ada kata ngrepotin di kamusku. Apalagi buat sahabat yang tengah patah hati," jawab Diana menggoda. Tak merasa sakit hati atau pun marah, Vio justru tersenyum bahagia karena dia masih memiliki orang yang tulus menolongnya. Selalu ada untuknya bagaimana pun keadaannya. Walau mereka sudah kama tak bertemu karena terpisah sebab keadaan. Tapi sekali bertemu mereka sudah layaknya saudara. "Terima kasih ya, Di. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Vio menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca dan di balas dengan anggukkan oleh Diana. Bahagia, Vio memeluk Diana dengan air mata yang kembali membasahi kedua pipi mulus miliknya. Apa yang dia khawatirkan kini ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Tidak semua orang yang saat ini dekat dengannya, adalah mereka yang hanya memanfaatkan kelemahan hatinya untuk mengambil keuntungan. Tapi, masih ada orang lain yang memang benar-benar menyayangi dengan tulus. Kehilangan kedua orang tuanya, sudah membuat hati Vio hancur dan hidupnya berantakan. Kemudian bertemu dengan Bayu yang menjelma sebagai malaikat yang di turunkan tuhan untuknya. Memberi rasa nyaman dan hangatnya kasih sayang yang dulu di berikan oleh kedua orang tuanya. Sampai akhirnya dia terlena dan jatuh pada pesona pria tampan itu. Namun, kenyataan pahit tentang siapa Bayu sebenarnya dan apa yang telah dilakukannya sekama ini membuat Vio tertampar keras. Sakit, kecewa, dan terasa sulit mempercayai orang lain. Terutama makhluk berjenis laki-laki yang penuh dusta dan kepalsuan. Membuat rasa yang terus tumbuh subur itu harus segera dia basmi agar tak menimbulkan kerugian yang kian besar. "Udah ... sekarang kamu nggak boleh sedih lagi. Ada aku yang akan selalu ada buat kamu. Kita sama-sama nggak ada orang tua. Harus saling bisa memahami apa yang terjadi," ucap Diana setelah tubuh mereka terpisah. Tangan lembut dan putih bersih milik Diana tampak membantu Vio menghapus air mata gadis itu. Tersenyum tulus menyalurkan kasih sayang yang keduanya tak lagi mampu di dapat dari kedua orang tua masing-masing. Kembali tak kuasa menahan rasa bahagia, Vio menarik Diana ke dalam pelukaanya dan memeluk erat sahabatnya itu. Hujan di luar sana semakin deras, suhu di sekitar pun iku semakin minus. Membuat semua orang memilih menghabiskan waktu di atas ranjang guna menghangatkan tubuh atau sekedar mencari tempat ternyaman saat ini. Vio dan Diana pun memutuskan untuk tidur sejenak sampai hujan mereda dam mereka bisa berpikir dengan baik, apa yang harus mereka lakukan setelah ini. Juga agar hati dan pikiran Vio bisa sedikit tenang dan bisa sedikit melupakan cowok b******k seperti Bayu. *** Alat penunjuk waktu kini memberi peringatan jika hari mulai petang. Hujan yang sempat mengguyur di beberapa titik pun mulai mereda tergantikan oleh sinar matahati yang mulai menguning. Tampak sangat indah saat semburat orange memancar di ufuk barat dengan hiasan awan putih yang mencoba menangkap ke indahan sinar itu. Udara di sekitar kini mulai terasa sejuk, tak sedingin sebelumnya. Membuat sebagian orang mulai beraktifitas di luar rumah. Ada yang sekedar menikmati udara habis hujan dan melihat indahnya langit sore. Ada juga yang memilih berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Cuaca yang sangat pas untuk menikmati secangkir kopi dengan ditemani potongan kue. Membayangkan itu, membuat perut yang memang sedari siang belum terisi kini terdengar meminta makan. Tak hanya suaranya yang mengganggu, tapi rasa lapar yang kian terasa menyiksa membuat Dio harus menghentikan permainan gamenya. Hujan sedari siang membuat rasa malas semakin terpupuk. Apalagi kalau tidak punya pacar atau pun gebetan. Makanya Dio lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain game. "Hahh ... makan dulu lah," ucapnya. Mengantongi ponselnya di saku celana kemudian berjalan keluar kamar. Saat sampai di luar, Dio kembali teringat dengan suara aneh yang berasal dari kamar sang kakak. Kembali menajamkan pendengarannya seraya berjalan mendekat ke kamar sebelah. Namun, sama sekali tak ada suara dari sana. Detik kemudian, Dio teringat dengan mobil yang terparkir di depan rumahnya. Berjalan ke arah jendela untuk mengecek keberadaan mobil itu. Dan benar saja, mobil tersebut masih ada di tempat yang sama. "Apa emang aku salah denger ya?!" Gumamnya menggaruk alis. Kruukk ... krukk ... . Perut datar milik cowok tampan yang kini tengah mengenakan kaos putih polos yang di tumpuk dengan kemeja hijau serta celana jins hitam yang sobek di bagian lutut kini kembali terdengar. Nampaknya sudah tak sabar untuk minta di isi. Mau tak mau membuat Dio harus melupakan rasa penasarannya dan turun ke bawah untuk isi perut. Berjalan menuruni tangga dengan bersiul pelan. Dalam pikirannya sudah terbayang betapa nikmatnya makanan yang akan dia santap setelah ini. Apalagi kalau di akhiri dengan segelah kopi dengan potongan kue yang menemaninya. Hmm ... sungguh tak sabar untuk segera menyantap semua itu. Sampai di dapur, Dio justru teringat dengan coklat yang dia beli tadi siang. "Apa udah kakak makan ya?" Gumamnya kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengeceknya. Kemudian tersenyum karena ketiga coklat yang dia beli karena teringat gadis yang tengah patah hati di depannya tadi siang. "Semoga dia segera sembuh dari sakit hatinya dan bisa tersenyum bahagia seperti sedia kala."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD