Tamu?

1118 Words
Brem ... brem ... brem ... Suara geberan motor sport yang khas dari depan rumah berlantai dua dengan warna cat orange itu. Rumah peninggalan dari orang tua yang di tempati oleh Dio dan kakaknya. Rumah yang baru satu bulan ini mereka tempati. Sebab semenjak kedua orang tua mereka meninggal 6 bulan yang lalu karena kecelakaan. Dio dan Diana tak mau tinggal di rumah itu karena selalu teringat dengan orang tua mereka. Dan baru sekarang mereka mau menempati rumah tersebut karena memang rumah itu hak mereka berdua. Diana, sang kakak yang berprofesi sebagai bidan kini tengah belajar menjalankan usaha sang ayah untuk mengelola klinik keluarga. Dimas, papanya. Merupakan dokter spesialis kandungan yang sangat terkenal dan mempunyai banyak pelanggan tetap. Bahkan, kini klinik yang dia bangun 7 tahun yang lalu kini sudah semakin besar dan ramai. Sementara Dio yang memang kurang menyukai dunia medis tampak enggan mengikimuti jejak sang ayah. Dia memilih mengambil jurusan komunikasi. Walau begitu, Dio tetap belajar medis meski sedikit demi sedikit. Memarkirkan motor kesayangannya ke garasi rumah. Menoleh ke sisi kanan tepatnya ke arah mobil yang tampak asing baginya. "Ada tamu?? Tumben ... siapa ya?!" tanyanya pada dirinya sendiri. Karena setahu dia, sang kakak nggak pernah mengajak temannya main ke rumah. Apalagi pacar, Dio belum pernah lihat sang kakak dekat sama cowok. Saat di tanya jawabannya selalu sama, masih ingin belajar menjadi yang terbaik. Bahkan, untuk takaran kecantikan, kepintaran dan kebaikkan hati. Diana merupakan idaman banyak pria. Usianya pun sudah pantas untuk menjalin hubungan serius dan menikah. Tapi sampai sekarang dia belum bisa menemukan pria yang sesuai keinginannya. Belum berani menjalin hubungan serius sebelum dia benar-benar mampu mengelola klinik peninggalan keluarganya. Dan memastikan jika Dio sudah benar-benar bisa merawat dirinya sendiri. Penasaran dengan siapa tamu sang kakak, Dio segera masuk ke dalam rumah. Tak lupa membawa kresek berisi barang belanjaannya. Berjalan santai dengan memainkan kunci motornya. Melempar ke atas dan kembali dia tangkap, lalu di ulangi beberapa kali hingga dia sampai di dalam rumah. Keningnya berkerut saat mendapati rumahnya sangat sepi, menoleh ke kanan dan ke kiri tak menemukan sang kakak. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar sanga kakak yang berada di lantai dua terbuka. Sontak membuat Dio mendongak. "Udah pulang, Dek?" tanya Diana menatap ke bawah. Tepatnya di ruang tamu. Keningnya pun ikut berkerut saat mendapati pakaian adiknya basah terkena air hujan yang lumayan deras. "Kamu hujan-hujanan?" Sambil geleng-geleng kepala, Diana turun dari lantai dua dan mendekat ke arah sang adik. Menghela nafas melihat penampilan adiknya yang sudah persis kucing kecemplung kolam. Rambut Dio yang terlihat sedikit lebih panjang karena basah, menambah cowok yang mempunyai tinggi badan 178cm itu semakin terlihat tampan dan menawan. "Kenapa harus hujan-hujanan sih? Kan bisa nunggu bentar sampai hujannya reda," omel Diana menatap tajam ke arah adik satu-satunya itu. Dio yang ditatap seperti itu malah nyengir hingga menampilkan gigi-giginya yang putih dan terawat. Dia memang sedikit bandel soal kesehatan. Selalu mengabaikan hal-hal kecil yang mudah mempengaruhi kesehatannya. "Kelamaan, Kak. Lagian yang neduh itu para ciwi-ciwi yang suka ngegosip," jawabnya membela diri. "Kan malah enak, di perhatiin banyak cewek cantik." "Kakakku yang paling bawel, cantik, pinter tapi nggak laku-laku. Adik kakak yang satu ini kan tampan pake banget. Dan sudah banyak cewek yang ngantri buat bisa deket dengan aku. Lah ... ngapain repot-repot menawarkan diri buat bahan gosipan mereka," jawab Dio. Mendengar celotehan adiknya yang kelewat narsis, membuat Diana hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kok sepi, Kak?" tanya Dio menyerahkan kresek di tangannya. Matanya masih menelisik setiap sudut ruangan, mencari sosok lain yang dia yakini ada di rumah mereka saat ini. "Emang biasanya gimana?!" balas Diana. Menerima kresek yang di sodorkan oleh Dio kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Meninggalkan adiknya yang masih diam berdiri menatap kepergian sang kakak. "Trus yang di depan mobilnya siapa? Tetangga nitip parkir karena gak punya tempat parkir?" "Huss ... ngawur!" Tegur Diana. "Itu mobil temen kakak." "Ouuh ... trus dia sekarang dimana? Cewek pa cowok?" "Kepo! Dah sana mandi! trus ganti baju." "Tap—" "Nggak ada tapi-tapian, sekarang mandi dan ganti baju!" Perintah Diana dengan wajah yang sangat serius. Memnhat Dio mau tak mau harus menurut dan tam menahan rasa penasarannya. Sekali lagi, dia mengedarkan pandangannya ke selauruh ruangan, berharap ada sesuatu yang bisa dia temukan, namun tetap gak ada apa-apa. Tak berselang dia memilih segera naik ke kamarnya untuk bersih-bersih dan berganti pakaian karena tubuhnya mulai menggigil. Saat dia sampai di 3 tangga terakhir, teriakan sang kakak membuat gerakannya terhenti dan diam untuk beberapa saat. "Eh, Dek! Ini coklat siapa? Punya kamu?" Teriak Diana dari dapur dengan mengangkat 3 buah coklat berukuran besar dengan tangan kanannya. "Itu buat kakak, kasihan bentar lagi Valentine tapi gak ada yang ngasih coklat." Setelah mengatakan itu Dio langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar miliknya yang terletak di samping kamar sang kakak. Saat dia hendak masuk, gerakannya kembali terhenti karena merasa mendengar suara seseorang dari dalam kamar sang kakak. Diam tanpa bergerak sedikitpun seraya menajamkan pendengarannya. Ya ... samar-samar dia mendengar suara seseorang yang tengah berbicara sambil menangis. Penasaran, akhirnya Dio memberanikan diri untuk mengeceknya. Apalagi, kakaknya bilang kalau di rumah tidak ada siapa-siapa. Tapi, sekarang dia bisa mendengar suara orang lain di kamar sang kakak. Berjalan perlahan ke arah pintu kamar di sebelahnya. Membuat suara yang dia dengar semakin terdengar jelas. Dio pun semakin yakin jika di dalam kamar itu ada orang, dan itu bukan pemilik kamar. Karena sudah jelas jika pemiliknya sekarang berada di dapur. "Suaranya kek cewek, deh?!" Gumamnya saat sampai di depan pintu kamar sang kakak. Karena rasa penasaran yang terus meninggi, Dio berniat masuk untuk mengecek lebih dalam. Namun, ketika tangannya telah sampai di handle pintu kamar itu, suara dari arah belakang mengagetkannya. "Dio!" Dio menoleh. "Kamu mau ngapain?" tanya Diana. Kemudian berjalan mendekat ke arah Dio yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Kak!, di dalam ada siapa?" tanya balik Dio menunjuk ke arah kamar Diana. Diana melipat tangannya di depan d**a dengan menatap ke arah Dio. "Emang kenapa? Dari tadi nanya gitu terus," protes Diana tanpa mau menjawab pertanyaan sang adik. "Tadi, pas aku mau masuk kamar, aku denger ada suara orang ngomong di dalam sana. Nggak mungkin kan kalau setan bisa ngomong sambil nangis," ucap Dio. "Kepo! Dah sana, mandi. Tuh bibir kamu udah biru!" Sahut Diana kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa peduli adiknya yang benar-benar penasaran. Tak langsung pergi, Dio masih berdiri ditempat tersebut dengan mata yang masih menatap lurih ke arah pintu kamar sang kakak. Dia pun merasa jika sang kakak tengah menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tak berani memaksa agar kakaknya jujur. Setelah beberapa saat dia terdiam di tempat tersebut, Dio memilih masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya kian terasa dingin sekarang. Dia harus segera berendam di dengan air hangat agar suhu tubuhnya kembali normal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD