Mini Market

1302 Words
Jejeran berbagai jenis camilan dan kebutuhan tampak tertata rapi pada rak yang berjejer membentuk beberapa sap. Tertata sangat rapi sesuai jenisnya. Membuat para pembeli dengan mudah menemukan apa yang mereka cari. Pada bagian bawah di setiap merk dan jenis pun sudah ada keterangan harga dan beratnya. Di bagian rak yang terdapat berbagai macam jenis minuman berbentuk serbuk. Tampak seorang cowok tampan yang tengah menelisik seluruh isi rak itu, guna mencari pesanan sang kakak. Sambil bersiul pelan dengan memainkan kunci motornya. Cowok berkulit putih tersebut terus berjalan tanpa mengalihkan pandangannya dari rak yang berada disisi kanan dan kirinya. Karena tak melihat jalan, Dio pun menabrak seorang wanita di depannya hingga beberapa barang yang dia bawa jatuh berantakan. "Eh ... maaf-maaf saya nggak sengaja." Ucapnya. Membuat wanita yang dia tabrak itu menoleh. Dio diam untuk beberapa saat mengamati wanita di depannya itu. "Hmm ... Tante Rahma?!" Seru Dio saat mengingat siapa yang dia tabrak itu. Sama halnya dengan Dio, wanita yang di tabrak oleh cowok tampan itu juga terdiam seolah ikut mengingat sesuatu. Karena memang merasa tak asing dengan cowok di depannya ini. "Kamu ... Dio kan?" ucapnya. "Iya, Tante." Dio mengulurkan tangan kemudian di balas oleh Rahma, membiarkan cowok di depannya itu melakukan hal positif dan tata krama yang dia ketahui. "Tante, apa kabar?" "Alhamdulillah, baik. Kamu bagaimana? Udah lama pulang ke sini?" Mereka berdua memang sudah saling mengenal, karena Dio merupakan teman baik anak laki-lakinya. Bahkan, Rahma sudah menganggap cowok tampan di hadapannya itu layaknya anak sendiri. Sama halnya dengan Dio yang sudah menganggap Rahma seperti ibunya. Karena kedua orang tua Dio sudah tiada. Dia hanya tinggal bersama sang kakak yang berprofesi sebagai bidan. "Alhamdulillah baik, Tante. Saya sudah satu bulan disini." "Ooh ... lumayan lama ya, tapi kok gak pernah main ke rumah?" Meskipun hanya teman, tapi Dio lebih sering pulang ke rumah Rahma. Apalagi kalau kakaknya tengah dinas di luar kota. Bukannya tak punya saudara lain, tapi karena mereka memang sudah dekat sejak orang tua Dio masih ada. "Maaf, Tante. Beberapa hari ini masih sibuk ngurus pindahan. Sama bantu-bantu kakak." "Balik ke kampus yang sama kan?" "Iya dong, Tan. Kan biar bisa deket terus sama kakak cantik." "Bisa aja kamu ...," "Hehe ... tapi masih di restui kan, Tan?" Kening Rahma berkerut tipis, kemudian muncul ide. "Hmm ... Kayaknya enggak deh," jawabnya. "Laah ... kenapa?" "Tante udah punya menantu idaman." Setengah berbisik tapi sukses membuat Dio melongo. Dio tampak terkejut dengan jawaban Rahma kali ini. Sebab biasanya dia akan menanggapi candaan Dio layaknya calon anak mantu. "Weeh ... maksudnya gimana? Kakak cantik udah punya pacar, Tante?" Tanpa mau langsung menjawab, Rahma memilih untuk kembali memilih-milih apa saja yang akan dia beli. Tak peduli dengan Dio yang masih menunggu jawaban darinya. Wajah tampan tersebut tampak sangat menggemaskan saat menunjukkan raut kecewa. Entah kecewa karena mendapati gadis yang selalu menjadi korban keusilannya sudah mendapatkan pacar atau karena tak mendapat jawaban kepastian dari wanita di depannya itu. "Tante ... kakak cantik udah punya ya?" Untuk kesekian kalinya, Dio menanyakan kabar terbaru kakak kelasnya itu. Rahma yang juga merasa kasian dan gemas dengan kecerewetan Dio sontak menghentikan gerakan tangannya dan menghadap ke arah cowok tengil tersebut. "Sini, Tante kasih tahu." Menyuruh Dio untuk mendekat ke arahnya. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Dio. Sesaat kemudian, raut wajah tampan itu terlihat sangat terkejut dengan apa yang dia dengar. Tak pernah terbayangkan olehnya jika hanya dalam kurun waktu 5 bulan. Dio harus menerima kenyataan jika dia telah melewatkan hal sebesar itu. Anak pertama Rahma, yang sering menjadi korban keusilan dan candaan Dio ternyata sudah menikah sejak akhir masa kelas 3 SMA. Dan sekarang dia tengah hamil anak pertamanya. Padahal waktu Dio pamitan untuk pulang ke rumah neneknya yang ada di pulau sebrang, dia masih "I—ini serius, Tante?!" seru Dio menoleh ke Rahma yang tengah tersenyum. Rahma hanya membalas pertanyaan itu dengan anggukkan. Membuat mulut dan mata Dio semakin terbuka lebar. Bulu matanya bergerak naik turun dengan kompak. Satu, dua, tiga sampai akhirnya dia tersadar dari keterkejutannya. "Yaah ... padahal aku pulang mau ngelamar kakak cantik loh," gerutu Dio dengan wajah di buat melas semelas melasnya. Membuat Rahma tak dapat menahan untuk tidak tertawa. Dengan gemas dia memukul pelan bahu cowok tampan itu hingga membuat tubuhnya sedikit terdorong. "Emangnya si rambut panjang yang ikut ke rumah sebelum kamu pulang itu ke mana?" goda Rahma. "Kunti??" Tanya Dio cengo. "Pacar sendiri, cantik lagi masa di namai kunti, gimana sih," cibir Rahma menahan senyum. "Katanya rambut panjang." Protes Dio. "Hmm ... dia bukan pacar Dio, Tan." Sambungnya kemudian beralih menatap ke jejeran produk minuman instan yang terjejer rapi di sisi kanannya. Mulai mencari-cari pesanan sang kakak yang tak dapat di ganti dengan yang lain. "Bukan pacar ... Kok jalan?" Bukan hanya sekali dua kali Rahma memergoki Dio tengah jalan dengan seorang perempuan. Dan setiap di tanya, si cewek hanya diam, malu. Sedangkan Dio tampak cuek kalau di tanya soal hubungan mereka. Dia juga bingung mau jawab apa, mau jawab langsung kalau cuma temen takut nyakitin hati anak orang. Kalau jawab pacaran, mereka nggak ada hubungan apa-apa. "Tante ... Dio kan tampan, pinter, baik hati dan suka menabung. Jadi sudah otomatis kalau para ciwi pada ngantri buat bisa jalan sama Dio. Walaupun hanya sekedar jalan dan nggak pacaran," jawabnya dengan wajah yang sok ganteng. Rahma pun hanya menanggapi celotehan Dio dengan geleng-geleng kepala serta tersenyum geli. Cowok tampan dan super percaya diri ini memang sangat menggemaskan kalau tengah memanggakan dirinya sendiri. Ada aja tingkahnya, sejak dulu selalu bisa mencairkan suasana. "Oke ... Dio yang tampan, baik, pinter dan suka menabung. Tante duluan ya," ucap Rahma mulai mendorong troli belanjaannya. "Siap, Tante. Hati-hati di jalan tante cantik," jawab Dio dengan senyuman manis di bibirnya. Rahma yang masih bisa mendengar ucapan Dio. Hanya menanggapi dengan mengangkat jari tangan kanannya membentuk kode 'OK'. Karena jika terus membalas ucapan cowok tampan itu hanya akan membuang waktu karena tak akan ada habisnya. Apalagi mengingat jika ada hal yang harus dia lakukan sekarang. Sementara itu, Dio yang juga sudah mendapatkan apa yang dia cari kini segera membayar barang belanjaannya ke kasir. Bukan hanya Saat tengah mengantri, tak sengaja matanya menangkap jejeran coklat yang terletak di meja kasir. Membuat Dio kembali teringat dengan wanita yang dia temui di restoran tadi. Mengingat penghianatan yang di alami olehnya hingga melihat tetesan air mata yang jatuh dari kedua mata indahnya. Membuat hatinya ikut sedih dan prihatin. Tak menunggu lagi, Dio mengambil 3 buah coklat berukuran besar dan membayarnya. Entah kenapa dia ingin memberikan coklat itu ke wanita yang tengah patah hati. Apalagi mengingat sebentar lagi ada peringatan hari kasih sayang. Yang seharusnya para wanita mendapat kebahagiaan dari orang yang dia sayangi, bukan malah penghianatan yang baginya sangat memalukan. Setelah selesai membayar semua belanjaannya yang lumayan banyak. Sebab bukan hanya titipan sang kakak tapi juga banyak makanan lain yang hampir semua rasa coklat. Karena dia dan sang kakak memang sama-sama suka dengan makanan apa pun yang berbau coklat. Drt ... drt ... drt .... Ponsel di saku celananya bergetar membuat tubuhnya sedikit merasa geli. Dio yang sudah sampai di samping motornya segera merogoh ponsel tersebut untuk melihat siapa yang menelponnya. Ternyata sang kakak tercintalah yang menghubungi dia. "Halo!" "Halo, Dek. Kamu dimana?" ucap sang kakak dari balik telepon. "Di depan mini market. Kenapa kak." "Oh ... yaudah. Pesanan kakak jangan lupa, ya!" "Aman," Tuut ... Setelah memastikan sambungan telepon itu terputus, Dio kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian segera menyalakan motornya dan pergi dari tersebut. Cuaca hari ini sedikit membingungkan, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sudah 2x terjadi hujan dan panas. Membuat sebagian orang menggerutu karena merasa di ajak main-main sama cuaca di saat mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Berbeda dengan Dio yang terus saja jalan walau tengah turun hujan. Sama sekali tak berniat untuk bertedih sejenak. Yang penting belanjaannya sudah aman tidak basah terkena air hujan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD