“Luna ... Luna bangun sayank,” panggil Danis sambil menepuk pipi istrinya. “Pak, bawa dulu ke UGD. Kasian Ibunya.” “Iya. Nanti biar jenazahnya ada yang ambil. Bersihkan aja dan siapkan ya. Saya urus istri saya dulu.” “Oh iya.” Danis segera menggendong istrinya keluar dari ruang penyimpanan jenazah. Luna tidak sadarkan diri saat dia melihat Roy sudah terbujur kaku di lemari pendingin itu. Dia tergeletak pingsan dan tidak sadarkan diri sampai sekarang. “Looh ... Luna kenapa, Dan?” “Pingsan dia liat Ayahnya. Lisa urus semua keperluan pemakamananya. Aku pulang setelah Luna sadar.” “Baik, Tuan.” Danis dibantu oleh Yoga segera membawa Luna ke ruang IGD. Karena terlalu berat dengan pembopong dari depan, maka Danis memindahkan Luna ke punggungnya agar dia bisa segera berlari lebih cepat.

