PART 10 MENGUGURKAN KANDUNGAN

1072 Words
Amara singgah sebentar di taman yang berdekatan dengan danau, ia terduduk lesu dibawah pohon rindang. Tatapannya kosong, pikirannya membayangkan orangtuanya. Ia belum siap menerima konsekuensinya, ia tak memikirkan sampai situ kala 'melakukannya.' Matanya kembali memanas, namun ia segera menyekanya sebelum air matanya turun. Langit yang awalnya cerah kini terganti oleh kegelapan, pertanda bahwa hujan akan segera turun. Amara menyenderkan tubuhnya di pohon, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus perutnya yang masih rata. 'bagaimanapun caranya gue harus segera nyingkirin bayi ini, gue nggak mauu hidup menderita.' 'apalagi orang yang udah buat gue kek gini nggak mau tanggung jawab, gue nggak mampu besarin bayi ini sendirian.' Perempuan itu bangkit, dan tergesa-gesa meninggalkan danau tersebut. Pikirannya membawa ia ketempat pengguguran kandungan. Hujan mulai membasahi jalanan, manusia-manusia yang berada di danau tersebut segera berlari untuk meneduh, tapi tidak dengan Amara. Perempuan itu menyeka wajahnya untuk menghalau air hujan. "Nak, mampir dulu, hujannya deras," salah satu ibu-ibu memanggil, namun tak ia hiraukan. Ia terus berlari sekencang mungkin. Ibu-ibu tersebut menatap Amara yang kian menjauh dengan khawatir. Lantas ia bergumam, "hujannya deras banget." Amara menahan langkahnya, hujan semakin deras, tapi ia sama sekali tak ingin meneduh. Pikirannya kacau. Nafasnya terengah-engah akibat berlari, ia merogoh sakunya ketika ponselnya bergetar. Tanpa melihat kearah si penelepon, perempuan itu mengangkatnya. "LO DIMANA?!" Teriakan itu menyambut Indra pendengarnya, ia sedikit menjauhkan handphonenya dari telinganya. Kupingnya sedikit panas. "PULANG, HARI MULAI MALAM!" Ia memejamkan matanya sebelum menjawab. "Aku lagi ada urusan, nggak bakal pulang," tanpa izin, perempuan itu mematikan sambungan telpon, membuat seseorang di sebrang sana menggeram marah. Perempuan itu memasukkan kembali ponselnya, dan melirik kearah sekitar, ia tersenyum ketika tempat yang ia tuju berada di depan mata. 'TEMPAT KHUSUS IBU HAMIL!' Tulisan itu berada tepat di pinggir rumah kayu yang menjadi tujuannya. Lantas, ia bergegas memasuki pekarangan rumah tersebut, lalu mengetuk pintu untuk beberapa kali. Tak lama, seorang pria muda membuka pintu tersebut membuat Amara sedikit tercengang. Mana mungkin pemilik rumah ini seorang lelaki muda? "Mau ketemu siapa?" tanya lelaki itu ramah. Amara gelagapan, ia menggaruk tengkuknya yang kebetulan gatal. "Pemilik rumah ini, kamu?" Lelaki itu mengangguk, "mau ketemu ibuku?" Amara sedikit ragu ketika lelaki itu menyuruhnya masuk kedalam rumah kayu tersebut. "Tenang, aku nggak bakal macem-macem," ucap lelaki itu seolah tau pemikiran Amara. Amara lalu memasuki rumah tersebut. "Siapa, Nan?" tanya wanita paruh baya yang berada di salah satu ruangan. "Em, tamu, Bu!" Jawab lelaki itu kikuk, Adnan. "Ada keperluan apa kesini?" wanita paruh baya itu keluar. Amara menatap sekilas lelaki yang bernama Adnan itu, ia malu mengatakan apa tujuan sebenarnya ia kemari. Seolah mengerti tatapan dari perempuan ini, lantas Adnan bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Wanita yang dinyatakan ibu Adnan itu menyuruh Amara untuk duduk. "Jadi, tujuan kamu kemari untuk apa?" tanya wanita itu ketika mereka berdua sudah mendaratkan bokongnya. "Emm, anu," Amara ragu untuk menjawabnya. Ia malu, apalagi dengan keadaan ia masih menggunakan seragam sekolahnya, ia mengumpat untuk dirinya sendiri karena pergi ketempat ini dengan pakaian seperti ini. "Bicaralah, agar aku bisa membantumu." "Apa benar ini tempat khusus untuk ibu hamil?" tanya Amara sedikit kikuk. Wanita itu terkekeh mendengarnya. "Padahal kamu sudah tau jawabannya," balasnya yang masih mempertahankan kekehannya. Amara tersenyum canggung. "Saya," Amara menggantungkan ucapannya. Ia menatap wanita yang kini menunggu ucapan selanjutnya, "mau mengugurkan kandungan ini," lanjut Amara sambil mengusap perutnya yang membuat Adnan menjatuhkan nampan yang berisi gelas itu. Lelaki itu berniat ingin menyuguhi minuman, tapi ia yang disuguhi oleh perkataan perempuan yang baru beberapa menit membuat ia tertarik kepadanya. "Adnan, kamu apa-apaan?" sentak Nara, wanita yang di panggil ibu tadi. "Maaf, Bu. Adnan kaget," ucap Adnan seraya melirik kearah Amara yang kini berdiri, lalu lelaki itu bergegas membersihkan pecahan gelas yang berserakan dilantai. "Kamu yakin mau mengugurkan kandungan kamu?" Tanya Nara. Amara tanpa ragu mengangguk setuju. Ia bingung harus bagaimana lagi, ini tidak ada pilihan lain. Ia tidak mau membuat nama keluarganya menjadi buruk Dimata orang lain, hanya karna satu orang. Adnan berdiri menatap manik hitam Amara, "kamu tau sendiri, konsekuensi mengugurkan kandungan sangat besar, itu bukan hal baik untuk mengugurkan kandunganmu." "Mau bagaimanpun janin yang kamu kandung, itu darah daging kamu sendiri. Kamu tidak kasihan? Bagaimana jika bayi itu adalah anugrah dari Tuhan? Kamu tidak memikirkannya?" Nara menatap tajam kearah sang anak. Namun, Adnan sama sekali tak menghiraukannya. Ia hanya ingin perempuan itu sadar atas apa yang ia lakukan. "Lagipula, kamu yang melakukannya, kamu juga harus bertanggung jawab." Amara mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Adnan. Perkataan lelaki itu memang semuanya benar, tapi ia masih tidak bisa menerima kehadirannya, ini terlalu berat untuknya. Keluarganya selalu memikirkan reputasinya, bagaimana jika investor ayahnya membatalkan kerja sama dengan perusahannya? Pasti mereka semua akan menyalahkannya karena sudah membuat malu keluarga. Dan berakhir kebangkrutan, ia tak mau hal itu terjadi. Tapi di satu sisi, ia juga merasa kasihan dengan janinnya. Ia tak mau bayinya menanggung kesalahannya. Ini semua salahnya, tak ada hubungannya dengan bayi yang ia kandung. 'bayi ini tidak berdosa.' 'sadar Amara, Lo berlebihan!' 'lo keterlaluan Amara!' Amara beringsut mundur, tatapan perempuan itu kosong seolah jiwanya sudah direnggut paksa. "Adnan, kamu kembali," suruh Nara. Wanita itu menatap Amara yang kini tengah menangis, Nara mendekat, ia mengusap bahunya dengan pelan. "Ceritakanlah masalahmu," ujarnya. Amara menggeleng dengan air mata yang terus membanjiri kedua pipinya. Wanita itu seolah mengerti perasaan Amara, dengan lembut ia menarik tubuh Amara untuk ia peluk, diusapnya Surai panjang nan lepek itu dengan penuh perasaan. Adnan terdiam beberapa menit, ini kali pertama ia menasehati pelanggan ibunya. "Adnan, tolong ambilkan air hangat," Adnan dengan segera mengambil air hangat sesuai perintah ibunya. "Anak ini, aku tidak bisa menerimanya," ujar Amara dengan sesegukan, Nara mengurai pelukannya. Ia menatap lekat manik mata Amara. "Benar yang di katakan Adnan, bayi ini tidak berdosa, nak. Kamu harus memikirkan kedepannya, kamu tidak boleh egois. saya baru kali ini kedatangan pelanggan seorang siswi," ujar Nara yang sedari tadi meneliti pakaian yang di melekat ditubuh Amara. Amara malu. "Meskipun pekerjaan saya tidak baik, tapi sebagai ibu saya mengerti keadaan kamu, kamu harus mempertahankan bayi ini. Jika butuh sesuatu, kamu bisa datang kesini, jangan sungkan," Nara memberinya senyuman manis, yang mampu membuat hati Amara sedikit tenang. Adnan kembali dengan segelas air hangat, lalu memberikannya kepada ibunya. Nara menerimanya, dan menyuruh Amara untuk minum yang langsung dituruti oleh Amara. "Aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah." Amara memalingkan wajahnya, tak mau menatap Adnan yang sedari tadi tak henti-hentinya menatap dirinya. "Aku yang akan menjadi ayah dari anakmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD