Malam telah tiba, tapi gadis cantik yang sedari tadi tidur belum juga terbangun, itu sedikit membuat Gama khawatir.
"Zell, bangun udah malem," sedari tadi Lelaki berparas tampan itu tak henti-hentinya membangunkan Grizella, yang sama sekali enggan untuk bangun.
"Kalo Lo gak bangun, gue tinggal nih," detik berikutnya, mata bulat itu terbuka dengan perlahan, beriringan dengan tubuhnya yang merubah posisi menjadi duduk.
"Ganggu banget sih Lo!" Ketus Grizella mengucek kedua matanya.
Gama terkekeh melihat wajah Grizella yang menurutnya sangatlah lucu. Ia menahan tangannya yang ingin mengusap kepala gadis itu.
"Gue mau keluar, Lo tunggu disini," kerutan di dahi Grizella terpampang jelas bahwa ia tengah kebingungan. Mana mungkin ia berdiam diri dirumah orang, sedangkan sang pemilik rumah tengah pergi? Itu hal yang tidak sopan.
"Nggak, gue nggak mau sendirian," kini giliran Gama yang mengerutkan dahinya.
"Gue keluar cuman sebentar, itupun buat belanja keperluan dapur," ujarnya.
"Gue kalo sendirian disini namanya nggak tau diri! Gue malu, Lo udah nolongin gue buat numpang di rumah Lo, gimana kalo ada barang yang hilang, hah? Dan Lo nuduh gue sebagai pencuri nantinya, gue nggak mau!" Cerocos Grizella kesal. Namun, Gama hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Sungguh gadis di depannya berpikiran terlalu jauh. Lagian, dirumahnya tak ada barang berharga jika bukan perabot dapur semacam kulkas, televisi dan lain sebagainya. Mana mungkin gadis kecil bisa mengangkat barang Segede gaban itu sendirian? Tak mungkinkan?
"Haha, Lo lucu banget!" Gama tak bisa berhenti tertawa mendengar celotehan Grizella.
Sampai-sampai lelaki itu memegang perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak tertawa.
Grizella menatap bingung kearah Gama. Apa gila lelaki di depannya ini? Ia jadi takut. Gadis itu beringsut mundur, jaga-jaga jika Gama akan menerkamnya hidup-hidup, jika benar lelaki itu gila.
"Gue percaya sama Lo," ucap Gama yang berusaha menghentikan tawanya. Namun itu sangatlah susah, buktinya ia masih tertawa terpingkal-pingkal.
Baru dua kali ketemu kok bisa percaya? Pikir Grizella yang ingin mengatakannya langsung tapi ia urungkan yang melihat Gama yang masih tertawa.
'bener-bener gila!'
"Udahlah gue mau keluar dulu bentar, Lo tunggu disini jangan kemana-mana!" Gama berdiri dan bergegas keluar apartemennya dengan kekehan yang masih bisa Grizella dengar.
Gadis itu menghela nafasnya lega. Lalu, pandangannya menatap kearah dapur yang bisa dibilang berantakan, bagaimana tidak berantakan? Wajan yang berada di tengah-tengah meja makan, kompor yang terdapat cipratan minyak, cangkang telur yang berpisah dari tong s****h, lalu, minyak yang mengotori lantai. Grizella tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki itu, apa gunanya tampan jika otaknya tidak bisa dipakai?
Lantas ia berdiri dan segera membereskan semua kekacauan yang disebabkan oleh Gama. Untung saja lelaki itu sangat baik hati mengizinkannya untuk tinggal sementa di apartemennya, jila tidak, ia sangat malas membereskannya.
Gama yang saat ini berada di supermarket tengah kebingungan, lelaki itu dari setengah jam lalu, memutar-mutar rak yang terdapat bumbu-bumbu dapur. Kelihatannya ia tengah kebingungan memilihnya.
"Yang mana ini?" Bisik lelaki itu seraya mengangkat dua botol yang berbeda itu.
Ia bingung harus milih yang mana.
"Loh? Gama?" Suara itu mengalihkan atensi Gama. Ia menoleh tanpa ekspresi.
Perempuan yang tadi memanggilnya mendekat dengan jalan yang terlenggok-lenggok seperti model internasional.
"Lo sendirian?" tanya perempuan itu seraya melirik ke sekitarnya.
"Hm." Gama hanya berdehem tanpa menoleh kearah perempuan yang membuat mood nya ambyar.
Perempuan itu terkekeh, lalu menatap tangan Gama yang mengangkat botol bumbu yang berbeda itu.
"Bunda yang nyuruh?"
"Bukan, tapi pacar gue."
Perempuan itu mengangguk mengerti, tapi tak ayal jika wajahnya saat ini tengah menahan gejolak cemburu.
"Nggak nyangka kalo Lo secepat itu lupain gue," gumam perempuan itu yang masih bisa didengar oleh Gama.
Gama menyimpan kedua botol tersebut ke troli belanja nya. Ia menatap sebentar perempuan yang tengah menunduk itu.
"Kita harus jaga jarak, kita sama-sama sudah mempunyai pasangan. Kita nggak pantes saling sapa," setelah mengatakan itu, Gama berlenggang pergi meninggalkan perempuan yang menatapnya dengan kesal. kedua tangan perempuan itu terkepal erat, merasa marah dengan ucapan Gama.
"Cewe mana yang bisa luluhin hati Lo? Selain gue?" Bisik perempuan itu tersenyum miring.
"Nggak ada."
Setelah melakukan transaksi pembayaran, gama bergegas keluar dari supermarket. Lelaki itu memasuki mobilnya dan menancapkan pedal gasnya menjauhi pekarangan supermarket.
Lelaki itu menghentikan mobilnya ketika telah sampai di tempat tujuan. Ia turun dari mobil, dan berjalan menuju apartemennya.
Kala ia membuka pintu apartemennya, ia disuguhi oleh pemandangan yang menyegarkan. Rumah yang tadinya berantakan kini bersih tak ada noda sedikitpun, bahkan sampai dinding yang terbuat oleh keramik itu bersih tanpa jejak.
Pandangan lelaki itu beralih kearah gadis yang tengah berbaring di atas sofa. Ia mendekatinya dan menyimpan barang belanjaannya diatas meja bundar.
"Lo yang lakuin ini?" Grizella enggan untuk membuka matanya, nafas gadis itu masih terengah-engah.
"Kalo bukan gue trus siapa? Setan? Nggak mungkin kan!" Ketus Grizella dan mengenyampingkan kakinya, membiarkan Gama duduk.
Lagi-lagi Gama dibuat terkekeh, sepertinya lelaki itu akan terbiasa dengan gadis itu, buktinya saat ini, baru juga satu hari ia dengan gadis ini, tapi entah berapa banyak kekehan yang ia keluarkan hanya karna hal sepele yang menurut orang lain sangatlah tidak lucu?
Gama menghentikan kekehannya, lalu ia membuka barang belanjaannya.
"Buat Lo," ujar Gama menyerahkan Tote bag kepada Grizella.
Dengan bingung ia menerimanya dan membukanya. "Loh? Lo beliin gue baju?"
"Buat apa?"
Gama berdiri dari duduknya, ia segera bergegas ke dapur dan menata barang yang ia beli.
"Lo mau pake baju gue selama disini?" tanya Gama tanpa menatap kearah Grizella.
"Ya, nggak papa sih!" Ujar Grizella, namun sebuah senyuman terpampang indah di sudut bibir gadis itu.
"Tapi, makasih Lohh. Lo baik banget, gue jadi malu," Grizella terkekeh dan menatap Gama yang membelakangi nya.
"Ini nggak gratis!" ketus Gama berjalan kearah Grizella.
"Yaudah, hitung aja nanti gue ganti kok!" Gama menghela nafas, bukan ini yang ia maksud!
"Gue nggak butuh!"
"Lalu?"
"Setiap hari Lo harus nyiapin sarapan buat gue, makan malam, dan juga beres-beres rumah!" Gama sangat antusias mengucapkannya membuat Grizella tersenyum lebar, memang ini keahliannya, meskipun ia malas membersihkan rumah, tapi ia bisa kok! Jangan meremehkannya, dulu pekerjaan rumahnya ia yang kerjakan, bahkan ibunya tak sempat menyewa asisten rumah tangga.
"Tenang aja! Gue nggak setau diri itu kok!" Gama tercengang, ia kita gadis di depannya bakal membantah dan menolak ucapannya, tapi ia harus mengacungi jempol untuk Grizella.
"Tapi, bukannya rumah Lo samping rumah gue?" tanya Grizella penasaran. Gadis itu meletakkan baju-bajunya kedalam Tote bag.
Gama duduk di sampingnya.
"Iya, tapi gue lebih sering nginep disini. Gue nggak suka dirumah, terlalu berisik!" jawabnya membuat Grizella ber 'oh ria.
"Kenapa emang?" tanya Gadis itu yang semakin lama semakin penasaran.