PART 12 MASALAH RISHA

1001 Words
Gadis itu celingukan mencari keberadaan seseorang, sedari tadi ia mencarinya sampai ke taman belakang sekolah, tapi sang empu tak terlihat meski batang hidungnya sekalipun. Hal itu membuatnya keheranan, tak biasanya ia bolos sekolah. "Woy, Sha. Lo nyari apa sih?" teriakan itu mampu membuat Risha tersadar. Lantas ia menoleh. Abel dan Shaga nampak tengah berjalan mendekatinya. "Gue daritadi nyari Grizella, dari kemarin ponselnya nggak aktif. Gue takut terjadi sesuatu," helaan nafas terdengar jelas, bahu gadis itu melorot dengan kepala yang menunduk. Terlihat jelas raut wajahnya yang khawatir. Shaga menepuk bahunya beberapa kali, "tidak perlu khawatir, aku yakin dia akan baik-baik saja." Abel mengangguk, menyetujui ucapan Shaga yang ada benarnya. "Mending kita ke kantin, Lo bilang dari pagi belum sarapan, ayo kita isi perut Lo!" Ajakan antusias itu dari Abel yang saat ini menarik tangan Risha yang hanya diam bagai patung. Namun, segerombolan perempuan yang melintas melewatinya membuat Risha menepis tangan Abel dan mendekati perempuan itu. "Grizella mana?" tanya Risha seraya menjambak rambut Amara yang kebetulan lewat. Reflek, Perempuan itu menjerit kesakitan karena jambakan yang terbilang tiba-tiba itu, para teman-temannya berusaha melepaskannya. "Mana gue tau! Lepasin t***l, sakit!" teriak Amara yang mengundang perhatian murid lain. Tangan perempuan itu berusaha melepaskan rambutnya dari cengkraman Risha, sesekali perempuan itu memukulnya hingga keras, tapi sang empu masih mempertahankan cengkraman nya. "Gue nggak bakal lepasin kalo Lo ngasih tau keberadaan Grizella," desis Risha mengeratkan jambakannya. "Aaaaa s****n! Bantu gue bodoh!" Pekik Amara kepada temannya, yang hanya gelagapan entah harus berbuat apa. Temannya berusah menghentikan Risha, namun, Abel yang sedari tadi diam segera mendorong tubuhnya yang membuatnya tersungkur kelantai dingin. "s****n! b****g gue," gumam salah tau teman yang baru saja di dorong oleh Abel. Abel menatap remeh kearahnya. "Gue nggak tau apa-apa s****n! Lepasin gue," teriak Amara penuh amarah. Mata Perempuan itu sudah berkaca-kaca karena menahan rasa sakit yang menjalar di kepala nya. "Lo bohong! Lo tau! Grizella pergi dari rumah gara-gara Lo kan?" "Ini pembalasan Grizella buat Lo, gue wakilin dia buat habisin Lo! Gue nggak mau dia menderita sendirian akibat ulah Lo, jalang!" Bentak Risha mendorong tubuh Amara yang langsung tersungkur dan mencium dinginnya lantai. Gadis itu duduk diatas perut Amara, Amara kelabakan, ia segera melindungi perutnya dari b****g Risha, ia tak mau bayinya kenapa-kenapa, jika itu terjadi, ia tak segan-segan membunuh perempuan yang ada diatasnya ini. Plak Satu tamparan mendarat di pipi Amara yang membuat perempuan itu memalingkan wajahnya kesamping, Amara terkekeh sinis, ia menatap Risha dengan tajam. "Meskipun Lo bunuh gue sekalipun, gue nggak akan beritahu letak keberadaan Grizella," Risha tersulut emosi, tangannya mulai terangkat kembali, dan Plak Plak Plak Darah segar mulai keluar dari sudut bibir Amara, perempuan itu menyekanya menggunakan jari jempolnya. Ia terlentang diatas keramik dingin, kedua mata perempuan itu memejam dengan mulut yang mengeluarkan kekehan-kekehan kecil. Para murid yang menonton sudah mengabdikan momen, dengan merekamnya menggunakan ponsel masing-masing. Amara menatap kembali wajah Risha yang memerah akibat menahan rasa marahnya terhadap perempuan yang berada di bawahnya. "Lo harusnya menjauh dari pembunuh s****n itu! Kalo nggak, Lo orang yang selanjutnya dia bunuh," Abel dan Shaga saling melirik, tak tau apa yang dimaksud oleh kakak dari temannya itu. lalu pandangannya menoleh kearah Risha yang nampak semakin emosi. "Jaga mulut lo, b******n!" teriak Risha yang kembali menampar Amara dengan brutal. Gadis itu sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, ia terlalu marah untuk diam. "Lo harusnya bela dia bukan malah menghina nya! Lo emang Kaka nggak becus, Lo kakak b******n!" teriak Risha yang saat ini sudah terisak pilu. Abel mendekat, gadis itu menarik tubuh Risha agar bangun dari tubuh Amara yang sudah terkapar tak berdaya. "Tahan emosi Lo, Risha," peringat Abel. "Dia melakukannya nggak sengaja, itupun ulah Lo! Dia nggak bersalah! Asal Lo tau, disana bukan ada kalian berdua, gue juga ada! Gue tau semuanya, Lo! Masalahnya!" Geram Risha yang membuat Amara terdiam membisu, perkataan Risha membuat perasaannya kembali gelisah. Jika Risha tau semuanya, maka habislah ia. "Ada apa ini?!" Teriakan itu mampu membuat murid lain ketar ketir melarikan diri. Salah satu guru BK mulai mendekat dengan tangan yang membawa penggaris panjang. "Risha?! Kamu apa-apaan hah?" Guru tersebut panik melihat keadaan Amara yang bisa dibilang cukup parah. "Bawa Amara ke UKS!" perintah guru tersebut kepada teman Amara yang langsung dilaksanakan. "Risha, kamu ikut ibu keruang BK!" Shaga dan Abel segera mendengus kesal, ia sudah tau jika akhirnya akan seperti ini. "Kamu ini perempuan, bukan laki-laki! Jaga attitude kamu, apalagi disekolah! Keluarga Amara donatur terbesar disekolah ini!" Celoteh guru BK itu membuat kedua telinga Risha memerah karna panas mendengarnya. Risha hanya diam, gadis itu menyuruh Shaga dan Abel untuk ke kelasnya. Karna jam istirahat sudah berakhir. Ia tidak mau kedua temannya itu ikut dihukum karena ulahnya. Abel yang tadinya ingin ikut ia urungkan karena tatapan tajam Risha yang membuat nyalinya menciut. "Lo dimana sih Zell?" gumam Abel yang mundar mandir tak jelas di depan pintu kelas. Sedangkan orang yang mereka maksud. Grizella merebahkan tubuhnya ketika pekerjaan rumah sudah ia selesaikan. Gama, lelaki itu sudah berangkat sekolah setengah jam yang lalu. Alasan ia tidak sekolah karena, 'malas banget liat muka beruk Amara, gue nggak sekolah aja ahh'. ia tidak tahu, bahwa sekolahnya mengalami kekacauan yang diakibatkan oleh temannya. Tangan gadis itu meraih benda pipih yang berada di atas meja bundar itu, ia menatap layar ponselnya, reflek ia duduk ketika puluhan panggilan yang berbeda-beda berada di layar ponselnya. "Anjir, gue lupa lagi," ia menepuk jidatnya karena kebodohannya sendiri. Lalu, Grizella menekan salah satu nomor dan mengangkatnya kearah telinga, menunggu seseorang di sebrang sana menjawab telpon nya. "LO DIMANA, ZELLA?" Gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika teriakan itu menyambut Indra pendengarnya yang membuat telinganya berdengung sakit. "Anjir, kalem bro!" "APA LO BILANG? KALEM? INI NGGAK BISA ZELL! RISHA DALAM MASALAH!" Kedua alis Grizella bertautan. Gadis itu berdiri dengan ponsel yang masih berada di telinganya. "Maksud Lo?" Nampaknya, Abel yang di sebrang sana menghela nafasnya sebelum menjawab. "RISHA HAJAR KAKAK LO SAMPE BABAK BELUR!" Sontak saja ucapan dari Abel membuat kedua bola matanya membulat sempurna. Apa ia tak salah dengar? Risha? Menghajar kakaknya? Maksudnya Amara? Tapi apa masalahnya? "Gimana ceritanya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD