PART 13 AYAH...

1103 Words
Grizella berlari menyusuri koridor sekolah yang sepi itu, karna jam pelajaran tengah berangsur. Abel yang dari kejauhan, melambaikan tangannya kearah Grizella, hal itu membuat langkah kaki Grizella semakin cepat. "Dimana Risha?" Meskipun nafasnya terengah-engah, tapi ekspresi wajah gadis itu menunjukkan kekhawatiran. Abel menunjuk pintu yang bertulisan, 'Ruang BK!'. Sebelum masuk, Grizella menatap sebentar kearah Abel. "Lo masuk kelas, jangan sampe Lo bolos!" Abel hanya mengangguk, setelah Grizella masuk, gadis itu meninggalkan tempatnya. Nampaknya, suasana di ruangan tersebut sangat mencekam, tatapan antara orangtuanya dan juga orang tua Risha memancar raut kebencian. "Oh jadi kamu dalang dari permasalahan ini?" suara dingin itu menusuk Indra pendengarnya. Ia berusaha menulikannya, lalu berjalan kearah Mala yang tengah menatapnya. "Ma?" Panggil Grizella dan menyalami tangan Mala. Panggilan itu membuat hati Mira sedikit teriris, ia tak menyangka jika orang tua Risha akrab dengannya. "Kamu darimana aja, sayang?" Mala sengaja menaiki nada bicaranya, ia mau membuat ibu kandung Grizella cemburu melihatnya, karna akrab dengan anak kandungnya. Grizella hanya menanggapinya dengan senyuman. Lalu pandangannya teralihkan kepada Risha. "Sha? Lo nggak papa?" Risha menoleh, lantas gadis manis itu tersenyum tipis dan menggeleng. "Gue baik-baik aja, maaf udah bikin kakak Lo babak belur," Risha menatap kearah Amara yang kini berada di belakang punggung Orangtuanya. Grizella tersenyum. "Nggak papa, itu pantas kok!" Sontak saja, perkataan Grizella membuat kedua orangtuanya tersulut emosi. Rico berdiri, pria paruh baya itu memandang Grizella Marah. Guru BK yang berada di depan mereka pun hanya diam, mungkin saja kali ini masalahnya tentang keluarga? Ia tak mau banyak omong jika benar masalahnya tentang itu. "Kamu! Benar-benar anak tidak tau diuntung!!!" pekik Rico menendang punggung Grizella. Perlakuan itu membuat guru BK yang bernama, Serena dan juga Orang Tua Risha terpekik kaget. "Kenapa masih bisa sekolah disini, hah?" "Apa kalian tau? Perempuan yang kalian bangga-banggakan ini adalah seorang jalang?!" Sontak, Risha maupun orang yang berada di ruangan itu dibuat terkejut kembali oleh perkataan pria yang tak lain ayah dari Grizella. Bagaimana bisa? Orang yang sudah membuat ia lahir di dunia ini berkata seperti itu di depan orang lain? Itu hal yang memalukan! Grizella terdiam, air matanya lolos begitu saja. Ia tak berani menatap ayahnya yang tengah tersulut emosi. "Saya sangat menyesal, punya anak seperti kamu!" Amara sedari tadi hanya diam, bibirnya keluh hanya untuk berdehem saja. Suasana semakin mencekam, suami Mala, Avin merengkuh tubuh Grizella. "Apa kamu tidak malu? Berkata seperti itu didepan orang lain?" Avin membuka suara, pria paruh baya itu berdiri membuat Mala dan yang lainnya pun ikut berdiri. "Buat apa malu? Saya lebih malu mempunyai anak seperti dia!" Avin terkekeh kecil. "Baiklah! Kalo begitu, izinkan saya mengambil hak asuh Grizella!" Mira maupun Mala membulatkan kedua matanya, tapi tak ayal Mala mengembangkan senyumannya. Ini yang ia mau! "Itu terserah anda, jika anda mau kedatangan bayi haram yang dia kandung itu akan membawa keluarga anda kesialan!" Bagaikan ditikam ribuan belati tak kasat mata, hati Grizella kembali sakit mendengarnya. Apalagi Mala, Risha dan juga Avin, sontak ketiganya menatap Grizella penuh tanda tanya. Serena diam, ia menatap Grizella tak percaya. Bagaimana bisa? Gadis baik dan berprestasi seperti Grizella melakukan hal jijik seperti itu. Amara pun ikut diam, kedua tangannya bergetar tak karuan. Hatinya kembali gelisah, panik, dan juga takut. "Tidak mungkin! Grizella tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" Mala membela Grizella, wanita itu membawa Grizella ke belakang, dan bergabung dengan Risha. 'jadi ini masalah Lo, Zell?' "Sudah-sudah, bagaimana jika kita periksa ke UKS? Kebetulan, disana ada dokter, jadi kita bisa melihat Grizella memang benar tengah mengandung atau tipuan semata," Serena memberi usul, Mala dan Avin mengangguk setuju. "Bagaimana tuan Rico?" "Tidak perlu, saya cukup yakin, bahwa dia memang benar hamil! Saya muak berhadapan dengannya," setelah mengatakan itu, Rico membuka pintu dan berniat untuk pergi. Namun, "Ayah, kapan ayah percaya sama Zella? Testpack itu, bukan punya Zella! Zella nggak pernah ngelakuin hal seperti itu. Tolong, kali ini aja percaya sama Zella," gadis itu berlari dan bersujud di bawah kaki Rico, Mala memalingkan wajahnya, tak mau melihat Grizella yang keadaannya seperti ini, ia tak kuat melihatnya. "Zella bukan perempuan jahat," lirih gadis itu seraya menunduk. Rico tak bergeming, pria itu enggan untuk melirik kearah anaknya yang tengah memohon kepadanya. "Kamu tetap perempuan b***t yang saya kenal!" Sentak Rico. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya dan mendongak untuk menatap ayahnya dari belakang. "Nggak, ayah! Zella bukan perempuan b***t," elaknya. Rico berbalik, menatap Grizella dengan wajah yang memerah. "Jika kamu bukan perempuan b***t, lantas mengapa sekarang kamu bisa baik-baik saja ketika saya usir dua hari yang lalu? Apa para pria yang selalu tidur denganmu memberi kehidupan mewah?" "Bahkan, tubuhmu sedikit berisi," Mala membulatkan matanya kembali, jadi, saat Risha menemukan Grizella dipinggir jalan, itu sudah diusir? Kenapa kejam sekali ayahnya ini. "Kamu memang tidak punya hati nurani! Kamu sebagai ayah, tapi kelakuan mu tidak mencerminkan bahwa kamu adalah seorang Ayah!" Perkataan kejam itu keluar dari mulut Mala yang sedari tadi menahan emosinya. Kedua tangan wanita itu terkepal erat. "Hai! Kamu orang lain, tidak usah ikut campur dalam masalah keluargaku!" Mira menyahut, ia dari dulu memang tak menyukai keluarga Mala. Mala dan Mira sebenarnya sempat berteman baik, tapi kejadian lima tahun yang lalu ulah Grizella membuat kedua keluarga itu renggang, dan berakhir saling membenci. Mala hanya ingin membela Grizella, tapi keluarga Mira malah menjauhinya bahkan merendahkannya, hal itu membuat Mala semakin membenci Mira. "Menurutmu aku memang orang lain, tapi tidak dengan Grizella. Dia menganggap ku ibunya," sebuah senyum smirk terbit disudut bibirnya. Ia puas membuat Mira mati kutu karna ucapannya. "Hentikan omong kosong mu! Aku lah ibunya," Mala terkekeh, wanita cantik itu berjalan mendekat kearah Mira. "Jika kamu ibunya, kenapa tidak membela anakmu? Kenapa disaat Grizella membutuhkan seorang ibu, kamu tidak ada? Apa itu yang disebut ibu? Kamu bukan seorang ibu! Ibu tidak akan melakukan hal seperti itu, ibu tidak membiarkan anaknya menderita!" Grizella kembali menangis, perkataan Maka benar. Selama ini ia selalu membutuhkan ibunya, tapi ia selalu sendiri, tak berani menemui ibunya, bahkan untuk menatap saja ia sangat takut. "Kamu bener-bener wanita jahat, Mira! Aku bersyukur karena hubungan kita kini renggang, jika tidak, mungkin aku sudah muak menanggapi sikap buruk mu itu," lanjutnya. "Kamu dan Rico memang pantas bersama," Mala berjongkok, wanita itu menarik bahu Grizella untuk berdiri. Tapi, Grizella enggan untuk berdiri, gadis itu masih mempertahankan posisinya. "Bangun, Zell! Kamu nggak pantas seperti ini," Grizella menggeleng. "Lepasin, Ma." "Ya, kamu benar, Mala. Aku pun ikut bersyukur karena kita tidak seperti dulu, sejujurnya aku juga muak denganmu," Mala yang tau jika Grizella enggan untuk berdiri, wanita itu lebih dulu berdiri dan menatap sebentar Mira. "Berdiri, Zell. Kita harus pergi, abaikan orang tua seperti mereka ini. Mereka tidak pantas disebut ayah dan ibu! Mereka hanyalah anjing kejam yang tidak tahu belas kasihan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD