Plak
Wajah Mala memaling ke samping, tamparan keras itu berasal dari Mira. Wanita cantik itu menatap tajam kearah Mala, seolah ia tidak akan membiarkan wanita di hadapannya bernafas lagi.
Avin, Risha, Grizella bahkan Amara terkejut menderita tamparan yang amat keras itu. Bisa dilihat, bagaimana tangan Mira tercetak jelas di sebelah pipi putih milik Mala.
"Bunda, hentikan! Ayo kita pergi," Amara segera menarik tangan Mira yang saat ini masih menatap Mala.
"Kurang ajar kau jalang!" teriak Mira frustasi.
Grizella berdiri, gadis itu memegang pundak Mala dengan lembut. Wajahnya tersirat kekhawatiran.
"Mama, maafin Zella," ujar Grizella kepada Mala.
"Ayo pergi, Ma!"
Risha pun ikut menggandeng tangan Mala, Grizella, Mala dan juga Risha bergegas pergi meninggalkan mereka yang hanya diam bagaikan manekin.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang! Tunggu saja," teriakan yang berasal dari Mira itu masih bisa mereka dengar. Ketiganya saling melirik, lalu Mala menggeleng lemah.
"Maafin Mama, yang baru tau masalah kamu," ucap Mala tiba-tiba, wanita itu mengelus tangan Grizella yang berada di lengannya.
Grizella menggeleng cepat.
"Nggak, ini bukan salah Mama."
"Pasti perih kan, Ma?" Gumam Grizella menatap pipi Mala yang bekas tamparan.
Mala hanya diam, menanggapi ucapan Grizella dengan senyuman.
Sedangkan mereka yang masih di ruangan BK.
Avin menatap tajam kearah Rico dan juga Mira. Ia menahan amarahnya ketika sang istri ditampar oleh wanita gila di hadapannya. Ya, Mira gila, Mira gila karna sudah membuat Grizella menderita karena ulahnya.
"Jika keluarga saya dalam bahaya, saya tidak akan segan-segan membunuh kalian!" gertak Avin menunjuk Mira dan Rico.
Rico terkekeh, kedua tangan pria itu ia masukkan kedalam saku celananya.
"Lakukan jika anda bisa," ucapnya.
"Ambil saja anak itu, saya sudah tidak membutuhkannya lagi." Ucapan Mira membuat Avin manggut-manggut.
"Baiklah, terima kasih!" Setelah mengatakan itu, Avin melenggang pergi seraya menyenggol bagi Rico yang menghalangi jalannya.
Avin melemaskan bahunya, dan berjalan kearah parkiran untuk menemui istri dan anaknya.
Para siswi yang berada di lorong sekolah terpekik kaget, karena melihat pria yang menurutnya cocok untuk dijadikan sugar Daddy. Tampang dan penampilan Avin memang tidak bisa di ragukan lagi selain hot ia juga berparas tampan, tidak terlihat seperti pria paruh baya lainnya.
Setelah menginjakkan kakinya di area parkiran, ia celingukan mencari keberadaan ketiga perempuan yang saat ini tak ia temukan.
"Papa!" Teriakan itu mampu membuat Avin menoleh kearah sumber suara, dan menemukan Risha yang tengah melambaikan tangannya seolah menyuruhnya untuk mendekat.
Avin mendekati mereka.
"Makasih, Pa. Dan maaf udah ngerepotin kalian," ujar Grizella yang saat ini sudah berhadapan dengan Avin.
"Itu bukan masalah besar, tidak usah sungkan," balasnya seraya terkekeh.
Lalu, Risha menggandeng lengan Grizella dan menatapnya.
"Lo kemarin pergi kemana?" Baik Mala maupun Avin menunggu jawaban dari Grizella.
"Ada orang yang baik sama gue, dia ngasih gue tempat tinggal," kerutan di dahi ketiganya terlihat jelas jika mereka tengah kebingungan sekaligus penasaran. Siapa orang baik yang sudah menolong Grizella? Mereka harus berterimakasih.
"Siapa?" tanya Mala.
Grizella tersenyum.
"Ada."
"Yaudah, kalo begitu, kita pulang," ajak Avin yang di balas anggukan oleh Mala dan juga Risha, tapi tidak dengan Grizella.
Gadis itu menolak ajakan Avin.
"Zella masih ada urusan, kalian pulang aja," Risha menyipitkan matanya.
"Lo mau kemana?"
"Em, ada sesuatu yang harus gue urus."
Avin manggut-manggut tanda mengerti, "yaudah kalo begitu kita pulang terlebih dahulu, kamu hati-hati Zella. Kalo ada apa-apa telpon papa!"
Grizella menerbitkan senyum manisnya. Lalu gadis itu mengangguk mengerti.
Setelah kepergian mereka, Grizella terduduk lesu, tubuhnya seketika lemas. Kedua matanya kembali memanas, tangannya pun bergetar hebat. Ia tak tahu ia kenapa, yang saat ini ia rasakan adalah gelisah, dan juga panik.
"Sakit," lirih gadis itu memukul dadanya dengan keras.
Ia kembali membayangkan ucapan orangtuanya yang membuat hatinya kembali sakit.
Se s**l itu ia lahir.
Punggungnya yang sakit sama sekali tak ia hiraukan, hatinya lebih sakit saat ini.
Air matanya kembali turun. Ia membiarkannya, saat ini ia hanya ingin menangis di tempat sepi ini. Tapi, siapa sangka, tempat sepi ini juga terdapat salah satu lelaki yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
Lantas lelaki itu menghampirinya dan duduk di sebelah Grizella.
"Butuh pelukan?" tanya lelaki itu yang membuat Grizella mengangkat kepalanya dan menoleh.
Tanpa sepatah kata, ia menghambur ke pelukannya. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan.
Lelaki itu membiarkannya, mengusap punggung Grizella yang tengah kesakitan itu, mengusapnya dengan penuh perasaan.
"Sakit, Gam," bisik Grizella membuat lelaki yang tak lain Gama itu mempererat pelukannya, menenggelamkan kepalanya di curuk leher sang gadis.
"Gue ada disini," bisik Gama.
"d**a gue sakit!"
"Perkataan mereka buat gue sakit hati," meskipun saat ini Gama tengah kebingungan, tak mengerti apa yang Grizella ucapkan. Tapi lelaki itu masih terus memeluknya bahkan semakin erat.
"Gam, gue capek," Gama menggeleng kuat, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Grizella yang masih menangis itu.
"Nggak, Lo nggak boleh capek! Gue ada disini, bahkan jika Lo butuh sesuatu, gue selalu disini!" Lelaki itu dengan sigap memeluk kembali tubuh Grizella.
Air mata lelaki itu ikut turun, ia tak bisa melihat gadisnya menangis. Ia bersumpah, ia akan membuat perhitungan kepada orang yang sudah membuat gadisnya menangis.
"Bukan gue yang hamil, Lo harus percaya sama gue, bukan gue! Benda itu bukan milik gue," karena kelelahan, Grizella melemaskan tubuhnya dengan kesadaran yang semakin menipis. Untungnya, Gama yang memeluknya dengan erat tidak membuat tubuh sang gadis terjatuh, ia segera membopongnya dan memasukkannya kedalam mobil dan pergi dari tempat itu.
"Gue nggak tau masalah Lo apa, tapi yang gue tau, Lo perempuan kuat! Gue nggak akan biarin Lo menderita sendirian, gue nggak akan biarin Lo menderita lagi, Zell. Gue janji," ucapan mantap dari Gama membuat hati Grizella yang masih tersadar itu menghangat.
Gama mempercepat laju mobilnya, setelah sampai di depan apartemennya ia segera mengangkat tubuh Grizella.
Diletakkannya tubuh ringkih itu keatas kasur empuk, Gama membuka sepatu yang melekat di kaki sang gadis. Ia dengan telaten membuka cardigan yang gadis itu kenakan.
Gama menghela nafasnya sebentar, ia dengan lekat menatap manik mata yang tertutup itu. Bahkan, tengah tertidur pun gadis ini sangatlah cantik.
Ia mengagumi kecantikannya.
Kedua tangan Gama terangkat dan menyentuh salah satu tangan Grizella. Ia mengecupnya sejenak sebelum membawanya kearea pipi.
"Gue penasaran sama kehidupan Lo, Zell. Tapi ngeliat Lo kaya gini, kayanya gue mulai lupa sama niat awal gue yang hanya mau tau tentang kehidupan Lo aja." Gama menjeda ucapannya.
"Gue pikir Lo gadis ceria kaya orang-orang, tapi maaf gue salah menilainya. Lo nggak seceria itu, entah apa masalah yang tengah Lo hadapi, sampai Lo nggak pernah senyum. "
"Gue mulai suka sama Lo, bahkan kita baru kenal beberapa hari tapi gue udah mulai suka sama Lo, gue serius Zell."
"Gue berharap, setelah Lo bangun, Lo cerita masalah Lo. Gue nunggu momen itu, dimana Lo cerita tentang semua keluh kesah Lo ke gue, dan gue jadi pendengar baik buat Lo."
"Gue selalu disini, Zell. Gue nggak akan kemana-mana selama Lo nggak nyuruh gue pergi."
"Gue bakal jadi pelindung, Lo."