PART 15 KEMBALI?

1144 Words
Perlahan, mata indah itu mulai terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat, seorang lelaki yang tengah tertidur dengan bantalan tangannya. Grizella menghela nafasnya, ia menatap langit-langit kamar, memikirkan apa yang terjadi. Lalu, gadis itu kembali menatap Gama. Senyuman manis terukir disudut bibir gadis itu. Melihat orang yang memperdulikannya, membuat ia melupakan segala masalahnya, meskipun sementara. Lima menit ia menatap Gama, sampai akhirnya lelaki itu terbangun seraya menguap dengan lebar. Grizella hanya terdiam, dan menatap dalam lelaki yang tak sadar bahwa ia sedari tadi menatapnya. "Eh, astagfirullah, Lo udah bangun?" pekik Gama yang baru menyadarinya. Gadis itu menghembuskan nafasnya gusar, ia merubah posisinya menjadi duduk. "Eh, Gimana? Udah mendingan?" Grizella menautkan kedua alisnya. "Apa yang mendingan? Emang gue kenapa?" Gama menggaruk sebelah pipinya yang kebetulan gatal, ia cengengesan menatap Grizella. "Gue pikir Lo tadi sakit, mungkin cuman mimpi kali ya?" Padahal, tadi memang Grizella sempat demam, tapi hanya sebentar, mungkin akibat terlalu lama menangis jadi wajahnya sangat panas. Kalian pernah kan begitu? Grizella mengabaikan Gama, gadis itu bergegas untuk keluar, tapi perkataan Gama membuat langkahnya harus tertunda. "Lo ada masalah apa?" "Lo nggak mau cerita sama gue?" Grizella membalikkan badannya, ia menghela nafasnya lalu menjawab pertanyaan Gama. "Gue belum siap cerita." Gama mengangguk, lalu lelaki itu berjalan mendekati Grizella. "Lagian, gue nggak mau orang lain tau masalah gue," lanjut gadis itu. "Lo tinggal sama gue, jadi, masalah Lo, masalah gue juga. Gue bakal bantu Lo, Zell." Ucap Gama kala ia sudah berhadapan dengan Grizella. "Lo masih anggap gue orang lain?" Grizella menggeleng cepat. "Nggak, cuman kita baru kenal beberapa hari. Rasanya, nggak pantas kalo harus cerita semua masalah gue." "Gue tunggu Lo sampai siap. Bukannya gue penasaran sama masalah Lo, tapi gue bener-bener peduli sama Lo!" Grizella mengambangkan senyumannya. Perkataan Gama membuatnya menjadi lebih semangat. Ternyata di dunia ini masih ada yang peduli kepadanya, ia tak menyangka. Grizella buru-buru mengangguk. "Makasih, Gam. Em, gue pergi dulu, ada urusan yang harus gue selesaikan." Grizella membalikkan badannya, selama beberapa detik ia berdiam seraya mengembangkan senyumnya. Lalu, ia pergi meninggalkan Gama, dengan perasaan yang menghangat. "Gue tunggu Lo pulang," gumam Gama. *** "s****n!" Teriak pria paruh baya seraya membanting barang yang ada di meja. Istri dan anaknya hanya terdiam, melihat rumahnya yang berantakan akibat ulah Rico. Ravendra berjalan mendekat, kedua tangan lelaki tampan itu menyilang di d**a menatap sang ayah dengan tatapan datar. "Tolong hentikan," perkataan Ravendra membuat Rico menoleh. Ia menatap tajam kearah anaknya, dan bergegas mencengkram kerah bajunya. "Saya sudah tau, dari awal kamu memang tidak bisa marah kepada Grizella! Kamu seharusnya menjauhinya, bukan malah membelanya, s****n!" Entah setan apa yang merasuki jiwa Rico, sampai pria paruh baya itu berani berkata kasar dan mengatai anaknya. "Apa kamu tidak jijik mempunyai adik seorang lacur?" Bugh! Ravendra tersulut emosi, lelaki itu meninju perut ayahnya yang kini sudah berada di lantai. Ia tak suka jika ada orang yang menghina Grizella. Memang, adiknya itu bersalah, tapi ia sama sekali tak pernah membencinya. Perkataan ayahnya ini sudah membuat hatinya sakit. "Jaga bicaramu! Dia anak mu, dia putri kandungmu! Anda tidak pantas berbicara seperti itu kepada anakmu sendiri!" Ravendra mencengkram kerah baju Rico, meskipun Rico ayahnya tapi ia sama sekali tak peduli. Lelaki itu memukul brutal wajah Rico. "Raven, lepaskan, nak. Dia ayahmu," Mira menyentuh bahu Ravendra, wanita cantik itu sudah menangis sejak sang suami membuat kekacauan dirumahnya sendiri. "Diam! Gue nggak peduli!" "Gue nggak pernah anggap kalian keluarga. Jika kalian nggak pernah anggap Grizella keluarga, maka, gue selamanya gak akan anggap kalian keluarga!" Ucapan itu mampu membuat hati Mira jatuh, wanita itu terduduk lesu seraya memegang dadanya yang terasa sakit. Amara buru-buru mendekat kearah ibunya, ia memeluknya dengan erat. "Kalian memang tidak pantas disebut Ayah, Ibu! Orang tua macam apa kalian?" "Abang! Amara mohon, udah hentikan!" Sentak Amara. "Diam Lo! Ini semua gara-gara Lo, jalang! Lo penyebab hancurnya keluarga kita," Amara menatap Ravendra tak percaya, Abangnya yang selama ini ia sayangi kini tega berkata kasar hanya karna satu orang? "Abang," cicit perempuan itu, perlahan matanya mulai berkaca-kaca. "Gue bilang diam!" Teriak Ravendra emosi. "Lepasin ayah," ucap Rico. "Ayah? Gue nggak Sudi ngakuin Lo sebagai ayah! Gue nggak punya ayah," balas Ravendra menohok. "Bahkan, gue nggak punya ibu, gue hanya punya satu orang adik!" "Dan itu, sudah kalian usir hanya karna kesalahan pahaman." Ravendra bangkit. "Mulai sekarang, gue bukan lagi keluarga kalian. Gue udah putusin semua ini dari jauh-jauh hari, gue bakal pergi jauh dari kalian, dan hidup bersama Grizella!" Ucap Ravendra menatap kearah Amara dengan tajam. Lalu, setelah mengucapkan itu, Ravendra bergegas menuju kamarnya dan membereskan pakaiannya lalu pergi dari rumah yang menurutnya seperti neraka menggunakan mobilnya. "Jangan, Nak. Jangan tinggalin Bunda!" Mohon Mira menyusul Ravendra yang sudah pergi. "Raven, Bunda mohon, jangan pergi!" Teriaknya, tapi tak di gubris oleh Ravendra. Lelaki itu kejam, sampai ia berani meninggalkan keluarganya hanya demi Grizella. Saat ini, ia hanya ingin hidup kembali bersama adiknya itu, ia menyesal karna ia tidak bisa berbuat apa-apa kala Grizella diusir oleh ayahnya. Ia tak peduli, Grizella hamil atau tidak ia sama sekali tidak peduli! Ia hanya ingin adiknya kembali, ia menginginkan adiknya. Ia tak tau dimana keberadaan Grizella. "Zell, kamu dimana?" Mata lelaki itu memanas, dan bersiap untuk menjatuhkan bulir-bulir air. Tapi, melihat seseorang yang amat sangat familiar di depannya, membuat ia mengembangkan senyumnya dan mengucek kasar matanya, ia tak percaya adiknya berada di tempat yang tak jauh dengan letaknya. Lantas, ia turun dari mobilnya. "Grizella!" panggil Ravendra membuat gadis yang tak lain Grizella menoleh dan tak percaya melihat keberadaan sang kakak. "Abang? Abang ngapain disini?" tanya Grizella, bukannya menjawab pertanyaan Grizella tapi Ravendra malah memeluk erat tubuh dingin Grizella. Kening gadis itu bertaut. "Abang kenapa? Kenapa bisa ada disini?" "Kamu kemana aja? Selama ini kamu hidup dengan baik, kan?" Ravendra melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya yang tidak terasa sudah turun. Grizella menggeleng, ia menyentuh bahu Ravendra dengan pelan. Menatap lekat manik hitam milik Ravendra, "Abang diusir?" Grizella melirik sekilas kearah koper besar yang dibawa oleh Ravendra. Ravendra menggeleng. "Abang pergi dari rumah." "Loh kenapa?" "Kita tinggal bareng lagi ya?" "Abang mau tinggal bareng Zella? Emangnya Abang punya rumah?" Ravendra terkekeh geli, lelaki itu mengacak-acak rambut panjang Grizella. "Punya lah, Abang punya apartemen." Grizella manggut-manggut. "Yaudah, ayo!" Lalu, mereka berdua pun bergegas untuk ke apartemen milik Ravendra menggunakan mobil lelaki itu. Ahh, saat ini hati Grizella kembali hangat. Ia kira Ravendra benar-benar sudah tidak peduli kepadanya, tapi kali ini ia harus lebih bersyukur lagi. Nyatanya, ia masih di kelilingi oleh orang baik yang masih memperdulikannya. Mulai saat ini, ia tak mau berharap apapun kepada keluarganya. Semenjak ayahnya memutuskan hubungan dengannya, ia sudah benar-benar memutuskannya, ia tak akan pernah kembali kerumahnya meskipun keluarganya sudah memaafkan kesalahannya. Ia sudah mempunyai Ravendra, ia rasa itu sudah cukup. Biarkan saja, siapa yang berbohong suatu saat akan terbongkar dengan sendirinya. Ia tak perlu capek-capek mencari bukti atas kesalahan yang sama sekali tak ia perbuat. Ia harap, Amara segera bertobat dan mengakui semua kesalahannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD