“Anda mengancam saya, Tuan? Anda pikir saya tidak berani….”
April tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena lelaki itu sudah mematikan sambungan telepon. Rongga dadanya mendadak terasa berat dan sesak. April ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan emosinya yang campur aduk.
Dengan susah payah, April telah berlari sejauh ini untuk menghindari perjodohan dengan putra keluarga Raharja. Namun, kini ia malah diburu oleh seorang predator wanita yang pernah merusak kehidupan kakaknya. Ibarat peribahasa keluar dari kandang singa, masuk ke dalam lubang buaya. Sungguh, April lebih memilih menjadi perawan tua daripada harus menikahi salah satu dari pria itu.
“Mommy, bicara dengan siapa? Kenapa Mommy seperti orang marah?” tanya Zayn berlari menghampiri April.
“Mommy nggak marah, Sayang. Yuk, kita masuk ke dalam, di luar banyak angin,” ujar April memeluk bahu kecil Zayn. Meskipun pikirannya sedang semrawut, April berusaha menutupinya dari Zayn. Ia hanya ingin Zayn menikmati masa kecilnya dengan rasa bahagia, tanpa beban apa pun.
“Mbak, mau beres-beres barang dulu atau langsung ketemu Ibu di warung?” tanya Seno setelah meletakkan koper milik April dan Zayn di dalam rumah.
“Ketemu Mbok Sumi, Mas, saya kangen.”
“Baik, Mbak, mari ikut saya.”
Sambil menggandeng tangan Zayn, April berjalan kaki menyusuri jalanan setapak di kampung itu dengan dipandu oleh Seno. Setiap kali lewat, April dan Seno kerapkali menyapa ibu-ibu yang mengobrol dan bercengkerama di pinggir jalan. Zayn juga terpana melihat banyaknya anak-anak kecil yang berlarian. Suasana di perkampungan memang penuh keakraban, berbeda dengan lingkungan perumahannya dulu yang selalu sepi.
Mereka akhirnya sampai di ujung jalan perkampungan itu. Terlihatlah sebuah warung sederhana yang dilengkapi meja dan bangku panjang dari kayu. Di dalam warung nampak seorang wanita paruh baya yang sedang membuat teh hangat. Melihat kedatangan April, ia bergegas meninggalkan pekerjaan itu.
“Mbok Sumi,” ucap April menghambur ke pelukan wanita yang telah lama dirindukannya.
Mbok Sumi membalas pelukan April dengan penuh kasih sayang. Karena tidak memiliki anak perempuan, April sudah dianggapnya sebagai putri kandung sendiri. Apalagi ia yang mengasuh April sejak berusia empat tahun sampai beranjak remaja.
“Lama ndak ketemu, Non April semakin cantik, saya sampai pangling.”
“Mbok Sumi juga masih awet muda,” ucap April balas memuji.
“Non, belum nikah ‘kan? Lalu bocah ini siapa?” tanya Mbok Sumi memandang wajah anak laki-laki yang berada di sisi April.
“Ini Zayn, keponakan saya, Mbok.”
“Oh, anaknya Non Yuna. Maaf, Non, waktu itu saya ndak bisa ke Jakarta untuk menghadiri pemakaman.”
“Nggak apa-apa, Mbok.”
April melerai pelukannya, lalu memperkenalkan Mbok Sumi kepada Zayn.
“Zayn, ini Eyang Putri Sumi.”
“Halo, Eyang Putri, aku Zayn,” ucap Zayn mencium punggung tangan Mbok Sumi.
Mbok Sumi sangat senang melihat Zayn yang hampir seumuran dengan cucunya. Maklumlah cucu dari putra pertamanya tinggal di kota Malang, sehingga mereka jarang bisa bertemu.
“Cah Bagus, mulai besok Eyang yang akan menjaga Zayn, biar mamanya bisa kerja.”
“Tapi Mbok Sumi punya warung soto, apa nggak kerepotan nanti?” tanya April merasa tidak enak hati.
“Ndak, Non, tenang saja, ada Minten, pegawai saya, dan juga Seno yang bisa membantu. Warung ini hanya buka sampai jam dua siang, setelahnya saya tinggal di rumah.”
Mendengar percakapan April dan Mbok Sumi, Zayn menguap beberapa kali. Matanya terasa berat setelah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogja.
“Mommy, aku ngantuk, mau pulang,” rengek Zayn menarik ujung blouse yang dipakai April.
Melihat Zayn merajuk, Seno segera mengambil kesempatan. Dia harus melakukan pendekatan kepada Zayn, sebelum nanti menaklukkan hati sang ibu.
“Yuk, Om antar pulang ke rumah biar Zayn bisa bobok,” jawab Seno hendak menggandeng Zayn. Namun Mbok Sumi malah menggeser badan anaknya itu ke samping.
“Seno, kamu beres-beres dan tutup warung kita. Ibu yang akan mengantar Non April dan Zayn ke rumah.”
Tanpa menunggu jawaban dari Seno, Mbok Sumi mengantarkan April dan Zayn kembali ke rumahnya.
***
Gilang keheranan sendiri karena Raskal mengajaknya ke toko kacamata, padahal setahu Gilang sang tuan muda tidak memiliki masalah penglihatan. Bahkan kedua mata Raskal sangat tajam dan jeli dalam membidik setiap objek dengan kameranya.
“Tuan, untuk apa kita ke sini?” tanya Gilang mengekori Raskal dari belakang.
“Untuk beli makan, perutku lapar,” jawab Raskal melenggang masuk.
Mata Gilang terbelalak lebar mendengar perkataan Raskal. Mengira bosnya sedang kesambet, Gilang segera mendahului langkah Raskal dan memegang lengan lelaki itu.
“Stop, Tuan Muda! Jangan memakan kacamata, nanti usus Tuan banyak pecahan belingnya dan harus dioperasi. Membayangkannya saja membuat saya ngeri. Ingat, Anda ini bukan pemain kuda lumping. Lebih baik kita makan nasi uduk saja di warung Babe Malik,” ucap Gilang merasa cemas.
Raskal memijat pangkal hidungnya sambil berdesah panjang. Memiliki asisten seperti Gilang memang anugerah sekaligus bencana untuknya. Anugerah karena ia adalah orang yang tulus dan setia menemaninya selama empat tahun terakhir. Bencana karena pikiran Gilang seringkali lemot, bahkan melebihi kelambanan seekor siput.
“Kamu yang aneh. Sudah tahu ini toko kacamata, masih nanya aku mau beli apa. Sekarang bantu aku memilih model kacamata yang cocok untuk penyamaranku. Kamu ke etalase kiri, aku ke etalase kanan,” ujar Raskal menghempaskan tangan Gilang.
“Oh, jadi ini bagian dari misi penyamaran,” gumam Gilang mengikuti instruksi Raskal.
Dengan langkah lebar, Raskal menuju ke etalase untuk melihat-lihat berbagai macam bentuk kacamata. Namun tak ada yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Pramuniaga yang melayani Raskal sampai bingung sendiri, karena ia sudah mengeluarkan seluruh koleksi terbaru yang ada di toko itu.
“Mbak, saya akan lihat ke etalase yang kiri,” ujar Raskal lantas berpindah ke tempat Gilang berada.
“Lang, sudah dapat?” tanya Raskal.
“Ini saya sudah memilihkan tiga model, ada hitam, biru, dan cokelat tua,” ucap Gilang dengan bangganya.
Raskal mengambil kacamata yang berbingkai hitam, lalu memandang tampilannya di depan cermin.
“Yang ini saja, Tuan, pas sekali. Anda kelihatan ganteng seperti pemain drakor, siapa itu namanya, Kang…Kang…”
“Kang Asep,” sahut Raskal sambil melepas kacamatanya dengan ekspresi kecewa.
“Aku nggak mau yang ini, karena malah membuatku semakin ganteng. Aku ingin kacamata yang bisa membuatku berubah menjadi jelek. Bila perlu aku ingin menjadi laki-laki cupu yang sering menjadi sasaran bully di sekolah.”
Gilang dan pramuniaga toko langsung melongo mendengar perkataan Raskal. Baru sekali ini mereka mendengar ada orang membeli kacamata supaya wajahnya semakin jelek. Gilang semakin yakin bila pikiran Raskal sedang konslet akibat ditolak oleh calon istrinya.
Tanpa menghiraukan Gilang, Raskal mencodongkan tubuhnya untuk mengamati sebuah kacamata yang terletak di sudut etalase. Tiba-tiba saja ia mengetuk etalase dengan jemarinya, hingga membuat Gilang dan sang pramuniaga berjengit kaget.
“Mbak, saya mau yang itu. Yang di sudut, bentuknya kotak, besar, dan berwarna hitam,” tunjuk Raskal dengan mata berbinar.
Pramuniaga itu langsung mengerti, karena kacamata yang dimaksud Raskal adalah koleksi yang paling tidak diminati oleh pembeli. Bahkan bosnya sudah berniat untuk mengobral kacamata itu di akhir tahun dengan diskon tujuh puluh persen. Tak disangka ada orang yang bersedia membelinya dengan harga normal.
Sebelum Raskal berubah pikiran, sang pramuniaga buru-buru mengambil kacamata tersebut dan menyodorkannya kepada Raskal.
“Silakan dicoba, Pak.”
Dengan tidak sabar, Raskal memakai kacamata pilihannya. Senyum penuh kepuasan terukir di bibir Raskal ketika memandang pantulan dirinya di cermin. Ternyata kacamata ini terbukti ampuh untuk mengubah penampilannya dalam sekejap.
“Mbak, saya ambil kacamata ini. Segera buat notanya.”
“Baik, Pak.”
Bak mendapat durian runtuh, pramuniaga itu bergegas menuju ke kasir. Rasanya ia ingin menari sambil berputar mengelilingi toko saking bahagianya. Karena kebodohan pria berwajah tampan ini, ia akan mendapat bonus besar dari sang pemilik toko.
Sementara itu, Gilang tidak berani berkomentar banyak. Ia memutuskan untuk mengikuti saja kemauan Raskal daripada kondisi mental tuan mudanya semakin parah. Takutnya Raskal sebentar lagi akan menangis kemudian tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.
“Tuan, apa kita sudah selesai?” tanya Gilang melihat Raskal berjalan menuju ke mobil.
“Belum, aku masih harus ke salon, ke toko baju, dan terakhir ke dokter gigi. Jadi sebaiknya kamu pergi dan urus kartu identitas serta tiket pesawatku ke Jogja. Kalau kamu masih ngotot ikut denganku, aku akan membuat gigimu yang gingsul menjadi rata. Mau?”
Mendapat ancaman mengerikan dari Raskal, Gilang buru-buru menyingkir. Pasalnya jika gigi kebanggaannya hilang, otomatis ia tidak akan manis lagi.
“Sa-ya akan pulang naik taksi. Silakan lakukan apa saja yang Anda mau, Tuan Raskal.”
“Januari! Biasakan memanggilku dengan nama itu atau kupotong….”
Raskal sengaja menggantung kalimatnya lantas masuk ke mobil. Dari spion, ia bisa melihat wajah pucat Gilang yang ketakutan karena keliru memaknai ucapannya. Namun ia harus menakut-nakuti asistennya itu supaya tidak mengganggunya lagi sepanjang hari.
Dengan cepat, Raskal pun menyelesaikan semua urusannya. Menjelang sore hari, barulah ia kembali ke apartemen dan melihat Gilang telah menantinya di lobi. Laki-laki itu membuntuti Raskal seperti seorang anak kecil yang mengekori orang tuanya.
“Tuan, ini tiket pesawat dan kartu identitas Anda yang baru,” ucap Gilang menyerahkan pesanan Raskal. Ia bergidik ngeri setiap melihat foto bosnya di kartu pengenal. Entah apa yang dilakukan Raskal pada dirinya sendiri sehingga bisa berubah sedrastis itu.
“Bagaimana dengan tempat kos?” tanya Raskal sembari menata baju dan kemejanya di dalam koper.
“Sudah beres juga, Tuan, saya menyewanya selama satu tahun ke depan.”
Saat melirik ke dalam koper, Gilang dibuat heran karena yang dibawa Raskal bukan pakaian bermerk, melainkan pakaian sederhana yang mirip dengan miliknya.
“Tuan, apa selera berpakaian Anda sudah berubah? Jangan-jangan Anda diam-diam mengagumi saya, sehingga meniru gaya berpakaian saya,” tanya Gilang yang langsung dibalas dengan sentilan di dahi oleh Raskal.
“Untuk apa aku menirumu. Mulai sekarang aku akan berpakaian seperti orang biasa, makanya aku sengaja membeli baju-baju ini. Sudah sana pulang, besok jemput aku jam enam pagi.”
Bukannya pergi, Gilang malah termangu menatap behel berwarna perak yang terpasang di gigi Raskal.
“Tuan, apa Anda nyaman memakai kawat gigi begitu?”
“Untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan pengorbanan total, dan inilah bentuk dari pengorbananku.”
Gilang menggaruk kepalanya karena tidak mengerti dengan makna ucapan Raskal. Terkadang bosnya itu suka memelintir kalimat dengan memakai kiasan aneh, yang hanya bisa dimengerti oleh segelintir makhluk bumi.
“Kenapa bengong? Cepat keluar atau aku akan memaksamu memakai behel warna-warni,” ancam Raskal.
“I-iya, Tuan, saya keluar sekarang.”
Selepas Gilang pergi dari apartemen, Raskal menutup kopernya. Sebelum tidur, ia hendak mempraktekkan cara menyisir rambut dengan gaya belah tengah, sesuai yang disarankan oleh petugas salon. Tadi ia sengaja mendatangi salon untuk berkonsultasi, dan petugas salon sudah mengubah rambutnya untuk sesi pemotretan. Sekarang ia akan mencoba untuk mempraktekkannya sendiri.
Raskal mengambil sisir dan gel rambut untuk memulai aksinya. Namun, ia berhenti tatkala mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekatinya.
“Bang Nathan, kenapa malam-malam datang ke apartemenku?” tanya Raskal terkejut melihat kedatangan sang kakak.
“Apa aku dilarang menjenguk adikku sendiri?” tanya Jonathan menepuk bahu Raskal.
“Biasanya Tuan CEO selalu sibuk, kalau bukan karena urusan kantor pasti urusan wanita,” kata Raskal sembari tersenyum smirk.
“Kamu sedang menyindirku? Sekarang aku sudah punya Zavia, mana mungkin aku sibuk dengan wanita lain,” sanggah Jonathan.
“Baguslah kalau Abang sudah menemukan tambatan hati. Aku akan menunggu pernikahan kalian,” ucap Raskal. Entah mengapa masih ada setitik rasa sakit di hatinya saat mengucapkan hal itu.
“Aku akan menikah setelah menyelesaikan beberapa urusan penting. Sekarang lebih baik kita bahas tentang kepergianmu. Apa kamu benar-benar akan bekerja di Majalah Cinta Budaya? Aku akan bicara dengan Papa supaya….”
“Tidak usah, Bang. Aku sendiri yang setuju untuk menerima tantangan dari Papa. Abang fokus saja mengurus perusahaan dan mempersiapkan pernikahan dengan Zavia. Besok aku akan berangkat ke Jogja dengan penerbangan pertama. Aku akan kembali setelah berhasil memperbaiki keadaan di sana,” jawab Raskal penuh percaya diri.
“Menurut Mama, pemicu dari pertengkaranmu dengan Papa adalah karena wanita yang akan dijodohkan denganmu memilih kabur. Apa benar itu?”
“Iya, Bang, setelah tugasku di Jogja selesai, aku akan mencari wanita itu.”
“Seperti apa orangnya? Apa dia cantik?” tanya Jonathan penasaran.
“Aku tidak tahu karena aku belum pernah melihat fotonya. Aku hanya tahu nama depannya saja.”
Jonathan menaikkan setengah alisnya. Ia baru sadar bahwa ada yang berubah dari penampilan Raskal.
“Sepertinya wanita itu sangat membekas di hatimu sampai kamu rela memakai behel. Boleh aku tahu siapa namanya?”
Sebenarnya Raskal enggan mengingat nama wanita itu, tetapi ia terpaksa menjawab karena terlanjur ditanya oleh Jonathan.
“Namanya ada kemiripan denganku. Jika aku adalah bulan pertama, maka namanya adalah bulan yang ke empat dalam tahun masehi.”
Untuk sesaat, Raskal melihat ekspresi tak biasa yang diperlihatkan sang kakak. Jonathan tampak berpikir keras untuk menebak nama wanita tersebut.
“Apakah namanya…April?” tanya Jonathan dengan wajah tegang.