“Kamu lihat sendiri, anaknya Dario saja menolakmu sebagai calon suaminya. Itu karena pekerjaanmu tidak jelas sampai sekarang. Contohlah kakakmu, Jonathan, yang selalu sukses mengelola bisnis kita. Dia memiliki semua kriteria sebagai pria mapan, sehingga semua wanita berlomba-lomba ingin menjadi istrinya,” tukas Tuan Handika.
Raskal merotasikan bola matanya dengan jengah. Ia sudah bosan dibanding-bandingkan terus dengan Jonathan.
“Pa, fotografer itu juga pekerjaan yang menjanjikan. Bidang fotografi berhubungan erat dengan perusahaan kita yang bergerak di bidang media cetak dan periklanan. Aku yakin bisa memajukan perusahaan lewat keahlianku ini.”
“Apa yang dibilang Raskal itu benar, Pa. Untuk apa Papa marah-marah begini, nanti tensi Papa bisa naik. Menurut Mama gadis itu saja yang tidak tahu diri,” imbuh Nyonya Clara, ibunda Raskal.
Tuan Handika menarik napas panjang, lalu menatap tajam kepada Raskal.
“Baiklah, Papa akan memberimu kesempatan untuk membuktikan ucapanmu itu. Tunjukkan kepada Papa kalau hobimu bisa membawa kemajuan bagi Mega Media Corp. Papa akan memberimu sebuah tugas penting.”
“Aku selalu siap menerima tugas dari Papa,” tantang Raskal.
“Besok Rabu, berangkatlah ke Jogja untuk menjadi fotografer di Majalah Cinta Budaya. Buatlah majalah warisan kakekmu itu bangkit kembali. Kalau kamu berhasil, Papa akan mengakui bahwa pekerjaanmu pantas diperhitungkan.”
“Oke, siapa takut,” jawab Raskal penuh percaya diri.
“Tetapi kamu harus ingat, jangan bawa-bawa identitasmu sebagai anak keluarga Raharja. Papa mau kamu bekerja secara profesional seperti staf biasa. Jangan mengandalkan uang dan juga wajah tampanmu itu. Dengan begitu, Papa bisa memantau bagaimana kinerjamu di sana.”
“Pa, kenapa harus begitu? Kasihan Raskal,” cegah Nyonya Clara.
Raskal beranjak dari kursinya sambil bersedekap.
“Papa nggak perlu khawatir. Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bantuan Papa. Aku pastikan nggak akan ada yang tahu kalau aku adalah anak Papa.”
Usai menerima tantangan dari sang ayah, Raskal berjalan menuju ke pekarangan rumah. Ia langsung masuk ke dalam mobil untuk menenangkan diri.
“Tuan, tunggu saya!” teriak Gilang berlari menyusul bosnya.
Dengan napas terengah-engah, Gilang duduk di samping Raskal.
“Tuan, mau ke mana? Saya tahu perasaan Anda sedang buruk hari ini, tetapi jangan berpikir untuk bunuh diri. Masih ada wanita di luaran sana yang menginginkan Anda, apalagi kucing dan anjing yang sering Anda foto.”
Raskal mencengkeram setir mobilnya sambil mendelik ke arah Gilang.
“Kau pikir aku mau bunuh diri hanya karena satu wanita? Cih, kamu belum kenal siapa Raskal Januari. Aku mau pergi ke toko untuk membeli beberapa peralatan yang menunjang penyamaranku.”
“Hah, menyamar? Anda mau ikut audisi film detektif?” tanya Gilang keheranan.
“Bukan, aku akan mengubah penampilanku untuk menyelesaikan sebuah misi penting. Dan kamu, Gilang…aku memberimu tugas untuk membuat kartu identitas sementara untukku sebagai fotografer. Aku butuh foto baru dan nama baru.”
Lagi-lagi Gilang dibuat melongo mendengar perintah majikannya yang tidak masuk akal.
“Anda mau ganti nama?”
“Betul sekali. Aku akan memakai nama tengahku tanpa embel-embel Raharja. Setelah ini, semua orang akan mengenalku sebagai…Januari!” tandas Raskal dengan mata berapi-api.
***
Taksi yang membawa April dari Bandara Adisutjipto telah sampai di depan gapura kecil bertuliskan “Kampung Perjuangan”. Ia yakin ini adalah tempat tinggal Mbok Sumi, pengasuhnya semasa kecil yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri.
“Pak, saya turun di sini saja, supaya taksi Bapak tidak perlu putar balik,” ucap April seraya membayarkan sejumlah uang.
“Baik, Mbak, saya akan bantu mengeluarkan kopernya.”
April lantas menggandeng Zayn keluar dari taksi itu.
“Mom, apa kita sudah sampai di rumah yang baru?” tanya Zayn penasaran.
“Iya, Sayang, nanti kita akan bertemu dengan Eyang Putri.”
“Eyang itu apa, Mom?” Zayn membulatkan matanya karena tidak mengerti dengan istilah asing yang baru saja dia dengar.
“Eyang itu sama dengan nenek atau grandma dalam bahasa Inggris, Zayn.”
Zayn mengangguk kecil meski sesungguhnya ia masih bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh April.
April mendorong koper dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam pergelangan tangan Zayn. Bocah kecil itu ikut membantu dengan mendorong koper miliknya sendiri perlahan-lahan.
Ketika melewati gapura, ada seorang laki-laki muda berkulit kuning langsat berjalan menghampiri mereka.
“Mbak April, bukan?” tanya pemuda berparas manis khas Jawa itu.
Ia memandang April dengan tatapan penuh kekaguman. Baru kali ini ia melihat wanita cantik yang kulitnya putih bak porselen. Bahkan mungkin lalat pun akan terpeleset jika hinggap di kulit mulus nan bercahaya itu.
“Kamu siapa, kok bisa tahu nama saya?” balas April waspada.
“Saya Seno, anak bungsu Mbok Sumi. Saya diberi tugas oleh Ibu untuk menjemput Mbak dan mengantar ke rumah.”
“Oh, Mas Seno, maaf, saya nggak tahu. Waktu terakhir kita bertemu kamu masih berusia enam tahun dan saya sebelas tahun,” ujar April.
Mbok Sumi memang pernah membawa Seno ke rumah April di Jakarta. Hanya saja Seno masih kecil dan wajahnya berbeda sekali dengan sekarang.
“Iya, Mbak, dulu saya dekil, ceking, dan ingusan. Untung masih hidup,” sahut Seno sadar diri.
“Nggak, kamu lucu kok waktu kecil. Kamu sekarang kuliah di mana?” tanya April.
“Di UGM, Mbak, jurusan Ilmu komputer.”
“Wah, kalau begitu kamu pasti pintar merakit dan memperbaiki komputer.”
“Lumayan, Mbak, mari saya bantu membawakan koper, lalu saya antar ke rumah kontrakan. Setelah itu, kita menemui Ibu di warung soto.”
Zayn memandangi Seno yang mengambil alih barang bawaan mereka dengan sigap. Ia juga melihat otot-otot lengan lelaki itu yang menyembul keluar.
“Halo, Om, namaku Zayn. Apa Om yang akan menjadi Daddyku?” tanya Zayn mengamati Seno.
Seno hanya cengar-cengir mendengar ocehan bocah laki-laki itu. Tentu saja dia tidak akan menolak jika menjadi ayah sambung Zayn, karena itu adalah sebuah rezeki nomplok. Meski usianya terpaut lima tahun lebih muda dari April, itu tak akan menjadi halangan dalam cinta.
“Bukan, Zayn, ini Om Seno, anaknya Eyang Putri Sumi,” jelas April.
“Aku kira Mommy akan memberiku Daddy di tempat yang baru. Lalu kapan aku punya Daddy seperti teman sekolahku?” tanya Zayn kecewa.
“Mommy belum tahu, Zayn. Mulai besok Mommy akan sibuk bekerja, jadi nggak bisa mencari Daddy untukmu,” jawab April apa adanya.
Seno membalikkan punggungnya, lalu berhenti sebentar untuk bertanya kepada Zayn. Entah kenapa jiwa keponya mendadak meronta-ronta.
“Kalau boleh Om tahu, Zayn pengen Daddy yang seperti apa?” tanya Seno. Siapa tahu ia masuk dalam kriteria calon ayah yang diidamkan bocah kecil ini.
Zayn memutar bola matanya sambil mengulum bibir. Ia terlihat begitu senang setelah berhasil membayangkan calon ayah masa depannya.
“Aku mau yang seperti Superman, Om. Tinggi, pakai kacamata, dan mukanya agak jelek. Tetapi waktu berubah jadi superhero tiba-tiba dia kuat dan ganteng,” kata Zayn dengan wajah sumringah.
April hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Zayn, sementara hati Seno langsung mencelos. Hilang sudah peluangnya untuk menjadi suami April, karena dia tidak memiliki ciri-ciri seorang superhero. Apalagi ia selalu memakai celana di dalam, bukan di luar seperti Superman.
Mereka bertiga terus berjalan hingga tiba di rumah bercat biru dengan pekarangan depan yang luas. Di pekarangan tersebut tumbuh sejumlah pohon besar, seperti pohon belimbing dan pohon pisang. April hanya berharap pohon-pohon itu tidak ada penghuninya, karena ia paling takut dengan yang namanya hantu.
“Mari masuk, Mbak, ini rumah kontrakan ibu saya.”
“Ah, iya, terima kasih. Ayo, Zayn,” ajak April melangkahkan kakinya.
Sebelum melewati pintu utama, ponsel April mendadak berbunyi. Mengira itu panggilan dari Stella, April segera meraih ponselnya tanpa memperhatikan lebih dulu siapa yang menghubunginya.
“Halo, ada apa, Stella?”
“Saya bukan Stella, Nona April,” jawab sebuah suara berat dari seberang telepon.
April mengernyitkan dahinya karena yang menjawabnya adalah seorang pria. Buru-buru April menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memeriksa nomer si penelepon. Ternyata itu adalah sebuah nomer tak dikenal yang baru menghubunginya untuk pertama kali.
“Maaf, Anda siapa, Tuan? Kenapa Anda bisa mengetahui nama saya,” jawab April curiga.
“Belum waktunya Nona tahu siapa saya. Saya hanya ingin membicarakan mengenai keponakan Anda, Zayn.”
Rahang April mengetat saat mendengar perkataan pria misterius itu. Ia yakin pria ini ada hubungannya dengan kejadian tragis yang menimpa Yuna. April lantas berjalan menjauh, agar perkataannya tidak didengar oleh Zayn dan Seno.
“Saya peringatkan Tuan, jangan macam-macam dengan putra saya, atau saya akan melaporkan Anda kepada polisi! Katakan siapa Anda sebenarnya! Apa Anda seorang penculik?” bentak April.
“Maaf, Nona, Anda sudah salah paham. Saya menelepon untuk menanyakan di mana keberadaan Anda saat ini, karena Tuan kami sangat mencemaskan kondisi putranya, Zayn.”
Darah April semakin mendidih saat mendengar perkataan pria ini. Sekarang ia tahu bahwa si penelepon adalah utusan dari lelaki tidak bertanggung-jawab yang sudah menghamili kakaknya, lalu menghilang begitu saja. Bisa-bisanya ia pura-pura perhatian kepada Zayn, padahal selama ini dia tidak pernah sekali pun menunjukkan batang hidungnya.
“Sekarang saya bertambah yakin jika dia adalah laki-laki pengecut. Nyatanya dia tidak berani menghubungi saya secara langsung, tetapi harus lewat Anda. Tolong bilang kepadanya agar jangan pernah mengganggu Zayn, karena saya tidak akan membiarkannya. Jika dia masih punya hati, seharusnya dia menyerahkan diri ke polisi, dan mengakui semua perbuatan bejatnya yang menyebabkan kakak saya meninggal.”
Bukannya merespon perkataan April, pria itu malah tertawa sehingga membuat kemarahan April semakin tersulut.
“Nona, jika Anda berkata demikian, maka setiap pria yang berhubungan dengan kekasihnya harus dipenjara. Tuan kami dan Nona Yuna adalah sepasang kekasih di masa lalu. Hubungan mereka didasarkan suka sama suka, dan Nona Yuna sendiri yang setuju untuk menyerahkan dirinya. Kami semua punya bukti-buktinya. Jadi dalam hal ini, Tuan kami tidak bisa dituntut dengan alasan apa pun. Sekarang lebih baik Nona berterus terang ke mana Nona membawa Zayn pergi.”
“Cukup, Tuan! Saya tidak akan membiarkan Anda menghina kakak saya. Tolong katakan kepada lelaki pecundang itu bahwa dia tidak berhak atas Zayn. Sampai kapan pun saya tidak akan memberitahukan keberadaan Zayn.”
“Nona, saya tidak ingin berdebat dengan Anda. Perlu Nona tahu bahwa Tuan kami pasti akan menemukan putra kecilnya, meski Nona membawanya ke luar negri. Sebenarnya Tuan kami hanya ingin memberikan sebuah penawaran kepada Nona,” ujar pria itu.
April semakin mengencangkan genggaman tangannya pada ponsel, hingga buku-buku jarinya memutih.
“Penawaran apa yang Anda maksud, Tuan?”
“Tuan kami ingin Nona bersedia menjadi istrinya, atau Nona akan kehilangan Zayn untuk selamanya,” tukas pria itu dengan suara dingin.