Bab 9

1005 Words
"Udah malam tidur sana!" Celin yang melihat Mimi duduk dibalkon langsung menyuruh Mimi untuk tidur. Pasalnya Mimi kurang sehat, karena ia terlalu banyak fikiran. "Entaran deh Lin." Kata Mimi, sambil melihat kearah langit yang sedang memperlihatkan bintang. "Masih kepikiran tentang tadi?" Flashback onn "Lo ada hubungan apa sama Pak Rendi?" Dengan tanpa ragu Faiq menjawab pertanyaan Mimi. "Gue sama dia enggak ada apa-apa, jangan khwatir. Sekarang kamu istirahat." Faiq tersenyum lalu, menyuapi Mimi makanan. Flashback off "Iya, tapi, gue yakin Lin, kalo pak Renjun ada suatu hubungan dengan Faiq." "Mungkin dia kenal dengan Faiq, atau mungkin temenan. Jangan berperasangka buruk dulu, mending lo tidur. Ini sudah malam nanti lo ngedrop." Kata Celin sambil tersenyum kearah Mimi. Mimi menghadap Celin, lalu menatap Celin dengan mata terpesona. "Lo bijak juga ya. Beruntung kak Malika punya Lo, Lin." "Malika? Malika siapa? Maksud lo kak Chandra?" "Nah iya, hehehe lupa namanya. Yaudah karena kulit eksotis. Hitam manis yaudah. Hehehe, jangan kasih tau ke pacar lo," "Asal lo mau tidur sekarang juga gue enggak akan ngadu ke kak Chandra." Kata Celin "Oke, ini mau tidur. Have an nice dream Lin. Makasih," Mimi pun masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Celin menatap pintu kamar Mimi pun tersenyum hangat. Senyuman hangat seorang ibu. Tentu saja merawat Mimi bagaikan merawat seorang anak kecil. Tiba-tiba ponsel Celin berdering, lalu Celin mengangkat telepon itu. "....." "Wa'alaikumsalam," "......." "Iya dia baik-baik aja, sekarang dia sedang tidur, tadi ia sempat bertanya dengan Faiq," "...." "Sekarang?" "......" "Apa enggak terlalu berbahaya kalo sekarang?" "...." "Saya tau, tapi itu bisa membuat resiko," "...." "Baiklah," ____ Sambungan terputus, dengan Celin yang memutuskan nya duluan. "Mending gue tidur, dari pada ada yang bangun." Dengan secepat kilat Celin masuk kedalam kamar tamu. ### Keesokan harinya. Celin menyiap kan makanan untuk Zaufa dan Mimi. Diantara ketiganya. Celin lah yang bisa masak. Sungguh ia terlihat seperti seorang ibu. "Makan," "Mi, bagi napa elah. Itu kan ikan gue." Kata Zaufa sambil merebut ikan yang tersisa satu. "Ih, enggak ya. Mimi duluan yang ambil. Berarti ini punya Mimi." Kata Mimi sambil menunjuk ikan nya. "Udah-udah kalian beratem aja. Ini mabil jatah gue." Kata Celin sambil menyodorkan ikanya pada Zaufa. "Terus lo makan apa?" "Roti." Zaufa mulai memakan Ikan milik Celin. Tenti saja membuat Mimi sedikit tidak enak. Mimi pun memberi tatapn kearah Celin. Dan menawarkan ikanya. Celin hanya membalas dengan gelengan. Dan berakhirlah Mimi memakanya. Celin pun mulai mengoleskan selai pada rotinya. "Ayo kita berangkat!" selesai memakan makanan nya Mimi dan kedua sahabatanya mulai berangkat. Kebetulan pelajaran hari ini adalah olahraga. Tentu saja setelah jam olahraga biasa nya ada, jam kosong. "Sudah sampai kita, yuk turun." Mimi dan kedua sahabatnya turun dari mobil. "Et, tunggu!" "Kenapa Lin?" Tanya Mimi "Kalian duluan aja, gue mau kekantin dulu." Kata Celin, lalu Celin mengkode kearah Zaufa untuk membawa Mimi. Alhamdulilah Zaufa mengerti kode Celin, ia langsung membawa Mimi kekelas. Celin pun melangsanakan aksinya. Ia menghampiri seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Setelah berbincang sebentar akhirnya, Celin masuk kedalam kelasnya. ### "Lin, kamu kok lama sekali?" tanya Mimi sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Celin terkekeh, sedangkan Zaufa berakting seolah-olah ia mual. Bu Ela, masuk dan memulai pelajaran. Bu Ela sendiri adalah guru Bahasa Indonesia. Bu Ela adalah kakak bagi kelas Mimi. Jika ada yang memanggil nya dengan sebutan 'bu'. Ia pasti akan berkata "begini anak, saya itu masih mudaa. Masih gahol. Jadi jangan panggil ibu, panggil kakak aja." "kak!" "iya Nathan, ada apa?" "tumben kakak enggak cerita-cerita?" tanya Nathan "loh, emang nak Nathan sudah jadi tugasnya?" "sudah." "oke, listen, alkisah. Ada seorang gadis yang koma beberapa lama. Saat-saat dimana gadis itu koma, gadis itu berada di alam yang lain. Ia melakukan segala hal disana dengan terasa nyata. Hingga ia bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku dia adalah suaminya. Tentu saja sang gadis tidak terima, dan sang gadis membenci laki-laki kaya. Karena suatu insiden dimasalalu nya. Lalu-" Kring kring Kring ktring "YAHHH!" Mimi mengerucutkan bibirnya, hampir saja tadi ia terlelap. Hingga suara bel istirahat menggangu acaranya. "sudah anak, lain kali kakak lanjutkan. Masukkan buku, dan beristirahat lah." kata Bu Ela, sambil berjalan keluar dengan senyuman manis diwajah nya. Mimi kecewa dengan bel istirahat.padahal ia sangat menyukai dongeng. Celin dan Zaufa pun menghampiri Mimi yang sedang mengerucutkan bibir nya. "udah, lain kali gue yang cerita. Ayo makan! Nanti lo sakit." kata Celin "nah, bener tuh. Ayo kekantin." Mimi pun beranjak dari bangkunya dan pergi menuju kantin. ### Saat sedang menyantap makanan nya, seseorang datang dan duduk di bangku sebelah Mimi. Dia adalah Dimas. Laki-laki yang akhir-akhir ini mendekati Mimi. Celin dan Zaufa saling tatap, bingung. "heh, dek, kok duduk disini? Enggak izin lagi. Punya sopan santun gak lo?!" teriak Zaufa geram. Kini mereka menjadi pusat perhatian. Semenjak, Zaufa dan Celin dipanggil Rendi, mereka berdua makin proktektif terhadap Mimi. Ada yang dekat dengan Mimi langsung sikat. "hmm, gimana Mi, makanan nya enak gak?" tanya Dimas. Tiba-tiba Dimas mengalihakan topik. Mimi melihat Dimas dengan tatapan bingung sambil memakan roti nya. Celin menatap Dimas dsngan tatapan marah, dan Zaufa menyumpah serapahkan Dimas. "ikut gue!" Dimas menarik lengan Mimi. Mimi sudah berdiri dan bersiap dibawa kabur oleh Dimas, tetapi seseorang mengenggam lengan Mimi. Kini Mimi ditarik oleh dua orang. "lepaskan atau kamu akan menyesal!" "Pak Rendi?!" Semua orang yang melihat kejadian itu membelakakkan matanya. Karena guru yang terkenal dingin, acuh, cuek dan tidak peduku dengan siapa pun kini menahan lengan Mimi, hingga mengancam Dimas. "siapa anda. Menyuruh saya untuk melepaskan Mimi. Tidak, saya tidak akan melepaskan Mimi. Seperti yang dilakukan oleh Nilla." kata Dimas sambil tersenyum, lebih tepatnya smirk. Mata Rendi menyipit. "sudah ku duga, kau adalah anak asuhnya." Ucap Rendi sambil tersenyum meremehkan. Mimi pun kebingungan, sedetik kemudian. Selintas memori pun teringat. Dimana terlihat seorang gadis, yang sedang ditarik. Lalu dari arah berlawanan ada ke-empat laki-laki. Salah seorang laki-laki menarik lengan sang gadis. Terilhat adegan yang sama namun, berbeda. Seketika lamunan Mimi buyar. Tetapi kepalanya terasa berat. Celin yang sadar dengan Mimi langsung, menghempaskan tangan Dimas dan Rendi. Celin pun langsung mengambil Mimi dan membawanya ke uks. Tetapi terlamat, Mimi jatuh pingsan saat itu juga. Rendi berlari menghampiri Mimi dan Celin. ### Mimi terbangun dari pingsanya. Tetapi ia merasa seperti tidak asing dengan tempat ini. Ohh, benar! Ini adalah rooftop. Mimi mulai melangkahkan kakinya. Lalu sebuah pasangan datang dan duduk di pinggir rooftop. "Renjun." ### Instagram : @im_yourput
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD