"Kira-kira, itu cincin siapa?"
"Gak tau Fa." Jawab Mimi dengan lirih
"Terus itu ada surat. Isi nya apa?" Tanya Zaufa
Mimi memberikan surat itu kepada kedua sahabatnya. Zaufa dan Celin, membaca surat itu. Betapa terkejutnya mereka melihat tulisan, yang terlihat seperti tulisan Mimi.
"Mi, lo pernah suka sama siapa? Ini terlihat seperti tulisan lo." Kata Celin.
"Gak tau, gue dulu pernah lupa ingatan dan serius gue gak ingat apa-apa." Jawab Mimi sambil memegangi kepalanya.
"Lo punya salah mungkin sama dia." Kaga Zaufa. Celin menyentil dahi Zaufa dan mengatakan "Lo jangan ngadi-ngadi deh, emang lo ada saat itu? Gak kan. Yaudah diem."
Perkataan Celin cukup membuat Zaufa bungkam. Zaufa adalah seorang murid pindahan dari SMA Garuda. Sedangkan Celin adalah seorang murid pindahan dari Amerika. Jadi mereka tidak tahu kejadian nya.
"Udah kalian gak usah ribut, jangan difikirin!" Kata Mimi.
"Btw, cincin nya cocok di lo. Kenapa gak lo pakai aja." Usul Zaufa
"Nah iya tuh,"
"Gak usah, kita gak tau ini punya siapa." Kata Mimi
"Pakai aja Mi, terus kenapa dia naruh di rumah lo? Mungkin dia ngasih lo."
"Emang gak papa?" Tanya Mimi sambil memperhatikan cincin itu.
"Gak papa kok." Kata Zaufa
"Yaudah deh," Mimi menggunakan cincin itu, dan betapa indahnya cincin itu di jari manis Mimi.
"Ngerasa kayak pernah liat gak sih ini cincin?" Tanya Mimi
"Gak tuh." Jawab Celin
"MI ADA YANG CARI NIH!" Baru saja Mimi mau membalas perkataan Celin tapi terhalang oleh teriakan Zaufa. Mimi dan Celin bergegas menuju Zaufa. Rupa-rupa nya yang datang adalah Faiq.
"Ada apa?" Tanya Mimi
"Ini gue disuruh Mami ngasih in- Lho itu cincin siapa?!" Faiq terkejut melihat cincin yang dikenakan oleh Mimi. 'Ada apa dengan cincin ini' -batin Mimi.
"Udah lupain cincin nya, Mami mau ngasih apa?"
"Gak mau jawab dulu!"
"Ck! Nemu, kenapa sih?"
"Gak, Ini Mami ngasih Brounis. Bagi juga ke teman-teman lo." Kata Faiq.
"Oh, bilang sama Mami makasih. Fa, Fa, Zaufa," Zaufa dari tadi tidak mendengar ucapan Mimi. Dan malah fokus pada Faiq.
"I-iya Mi k-kenapa?"
"Ini loh Brounis, bawa kedalam."
"Siap." Zaufa langsung meninggalkan Mimi dan Faiq disana. Kemana Celin? Jawabanya sedang video call dengan pacarnya didalam. Faiq sedikit berbicang dengan Mimi, lalu ia pamit untuk pulang.
Malam ini Mimi dan kedua sahabatnya menghabiskan waktu malamnya dengan menonton drama korea. Sudah sangat malam Mimi, Celin dan Zaufa pun tertidur.
pagi harinya, terlihat tiga gadis sedang buru-buru, untuk berangkat sekolah. Dan Mimi yang merengek minta dibuatkan s**u dan menyisir rambutnya.
Mimi setiap pagi selalu dibuatkan s**u dan disisiri rambut oleh sang Bunda, karena tidak ada Bunda Mimi meminta bantuan kepada Celin. Kenapa tidak Zaufa? Gadis itu malah membuat s**u yang pahit dan malah mengacak rambut Mimi.
"Telat nih kita, ngebut Lin." Kata Zaufa. Sesuai perintah Zaufa, Celin mengebut. Mimi sudah teriak-teriak tidak jelas sambil menyuruh Celin berhenti. Tapi Celin tetap ngebut.
Akhirnya mereka sampai di sekolah, eengan selamat dan beruntung tidak terlambat.
"Untung tidak terlambat," kata Celin sambil menghela nafas pelan. Sedangkan Mimi hanya mengerucutkan bibir nya kesal. Zaufa dan Celin paham Mimi sedang marah kepada mereka.
"Udah yuk masuk, maaf ya Mi lakn kali gak ngebut lagi kok." Kata Celin.
"Iya deh Mimi maafin,"
"Yaudah yuk masuk, nanti Bu Cucok marah lagi." Kata Zaufa.
Mimi, Celun dan Zaufa masuk kedalam kelas, tetapi ada Rendi disana. Mereka bingung seharusnya Bu Cucok yang mengajar, tetapi mengapa malah ada Rendi. Bu Cucok itu nama aslinya Bu Badriah, hanya saja saat mengajar dia selalu mengatakan 'Cucok' sehingga ia dijuluki 'Bu Cucok'.
Mimi dan kedua sahabatnya masuk kedalam kelas, Rendi pun mengizinkan mereka masuk dan duduk dibangku maaing-masing.
"Bapak kesini hanya ingin mengatakan bahwa Bu Badriah sedang berhalangan hadir untuk mengajar dikelas ini dan untuk sementara waktu bapak akan mengajar disini." Kata Rendi.
"Yasudah keluarkan buku kalian dan perhatikan papan!"
"Baik pak!"
Pelajaran Bu Badriah yang digantikan oleh Rendi selesai. Kali ini Mimi terlihat sedang tidak ingin menghampiri Rendi, dan malah melewatinya menuju Kantin.
Rendi yang melihat tingkah Mimi hanya mengedikkan bahunya. Tiba-tiba Rendi memanggil Zaufa dan Celin.
"Iya ada apa pak?" Tanya Celin
"Nanti selesai istirahat keruangan saya!"
"Siap pak,"
"Jangan ajak Mimi." Lanjut nya. Zaufa dan Celin terlihat kebingung dan menyetujui apa yang dikatakan Rendi.
###
Kali ini Mimi tidak mood untuk bertemu Rendi, sehingga Mimi memutuskan untuk pergi ke taman. Mimi duduk disalah satu bangku itu sambil menatap kearah cincin yang ia gunakan.
Teman-teman mereka tidak ada yang curiga dengan cincin yang digunakan oleh Mimi. Toh juga tidak ada yang melarang ia untu kenggunakan cincin, hanya saja tidak boleh berlebihan.
Mimi menatap kearah pepohkn itu sambil sedikit menghela nafas. Tiba-tiba sesuatu yang dingin terasa di pipi Mimi. Mimi meihat kesamping dan terlihatlah Dimas sedang menempelkan sebuah minuman dingin di pipi gembul milik Mimi.
"Lo ngapain disini? Kayak anak hilang aja,"
"Ih gak sopan, sama kakak kelas." Jawab Mimi sambil menunjuk Dimas.
"Iya-iya, kak Mimi nhapain disini kayak orang hilang aja." Kata Dimas.
"Ihh," kata Mimi sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"Hahaha, ini gue bawain lo minuman. Kesian gue liat lo kayak orang hilang." Kata Dimas
"Gue bukan orang hilang ya!"
"Iya-iya tapi, kayak anak nyasar. Hahahaha,"
"Apasih!"
"Oke-oke gue bercanda."
Tanpa mereka sadari seseorang menatap mereka berdua dengan senyuman yang tidak dapat diartikan.
Kring kring
Kring kring
"Udah masuk nih, masuk sana!" Kata Mimi
"Yaudah kak Mimi aja duluan. Gue ada pelajaran olahraga."
"Oh, oke, gue duluan ya. Dahh,"
"Dahh."
"Gue berhasil,"
###
Zaufa dan Celin terlihat cemas dengan Mimi. Tidak biasanya Mimi pergi tanpa memberitahu mereka. Hingga pintu kelas dibuka oleh seseorang. Dia adalah, Mimi.
"MIMI!"
"Lu darimana aja?" Tanya Zaufa
"Lu gak tau, gue sama Zaufa nyariin lo." Kaa Celin
"Maaf ya, tadi gue habis dari taman." Kata Mimi sambil menundukkan kepalanya.
"Yuadah lain kali bilang dulu,"
"Iya."
"Udah mulai ini, ayo duduk."
###
Mimi, Zaufa dan Celin, sedang makan siang. Tetapi Mimi terlihat tidak nafsu makan. Celin dan Zaufa sudah berusaha membujuk Mimi untuk makan, tetapi ia tetap tidak mau makan. Akhirnya Celin memanggil Faiq. Bagi Mimi, Faiq adalah kakak laki-lakinya.
Faiq pun mencoba membantu mereka untuk membujuk Mimi makan. Tetapi nihil, Mimi tidak ingin makan. Faiq kembali mencoba untuk memasukkan makanan kemulut Mimi, hingga Mimi mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Faiq diam seribu bahasa.
"Lo ada hubungan apa sama Pak Rendi?"