Heartbeat

920 Words
Can you feel my heartbeat? Pounding into nothing Broken bones are floating In my empty body Can you feel it reaching? Moving through the feeling Won't you bring me down? Won't you bring me down to size Jared keluar dari salah satu kamar apartement dengan wajah yang sarat kepuasan. Dia kembali mengendus lengannya menikmati bau anyir yang masih menempel walau sudah dibasuh air. Dia memejamkan matanya dan kembali teringat bagaimana wajah terkejut Deriel saat melihatnya keluar dari bayangan kegelapan dan mencabut nyawanya. Bahkan Deriel sempat memohon untuk hidupnya, yang membuat Jared semakin menikmati momen itu.  Jared berjalan meninggalkan apartement tempat Deriel setelah sebelumnya meminta organisasi membereskan semua yang telah dia lakukan. Dia berjalan ke arah balkon dan membiarkan angin malam menyentuh wajahnya. Dia memejamkan mata dan merasakan kekosongan itu datang lagi. Dia merasa sangat hampa. Jared meremas lengannya. Dia menikmati momen saat mencabut nyawa orang orang. Hatinya, jiwanya dipenuhi rasa puas bagai predator yang mendapatkan mangsa istimewa. Tapi, setelah dia meminta organisasi membereskan korbannya, dia merasa hampa dan kosong. Ini bagai candu. Candu yang mengharuskan Jared terus membunuh untuk menghindarkan perasaan hampa itu. Bibirnya menyeringai. Dia akan meminta list yang baru. Tiba tiba dia tertegun. Bayangan saat pertama kali bertemu dengan Pattaya kembali memenuhi benaknya. Jared terdiam, dia baru menyadarinya kini. Saat bertemu Pattaya malam itu, dia tidak merasa kosong. Itu satu satunya momen dia tidak merasa kosong setelah membereskan korbannya. Bibir Jared mengembang menampilkan seringaian yang menyeramkan. Mungkin dia harus menyekap dan memiliki Pattaya untuk dirinya sendiri. Menjadikan perempuan itu pengisi kekosongannya. Membayangkan sosok rapuh Pattaya dihiasi raut ketakutan yang tersekap di ruang pribadinya terasa begitu menggoda. Dia membayangkan bisa sedikit bermain dengan pisau pisau kesayangannya pada tubuh indah Pattaya, tanpa membiarkannya mati. Dia akan tersenyum puas  atas semua jerit kesakitan Pattaya. Jared mengernyit. Sisi dalam jiwanya sedang bertentangan. Ada bagian dalam dirinya mendukungnya untuk itu, tapi kewarasan yang sudah ditempa olehnya begitu lama menentangnya. Jared mengeraskan wajahnya. Dia mengepalkan lengannya erat. Dia tidak boleh kelewat batas. Dia tidak bisa kehilangan kontrol yang selama ini dia banggakan. Dia tidak bisa. Jared memejamkan matanya. Merasa jengkel pada dirinya sendiri. Sejak kedatangan wanita itu, kontrol dirinya terasa sangat rapuh. Dia tidak bisa membiarkannya. Bayangan Pattaya kembali mengisi benaknya. Lengannya masuk merogoh saku celana jeans yang dia kenakan dan terasa sebuah Card dalam genggamannya. Matanya terbuka memancarkan kepuasan yang tidak bisa dideskripsikan. "Giliran aku yang mengunjungimu Pattaya" *** Jared menutup pintu apartement milik Pattaya. Dia mulai berjalan masuk ke dalam tanpa suara. Dia sangat lihai. Dia bagaikan senyap. Tanpa suara menyatu dalam bayangan. Hal itulah yang paling menakutkan dari Jared. Dia bisa tiba tiba ada dan mencabut nyawa korbannya tanpa sang korban sadari. Jared menatap apartement sederhana itu. Hanya sebuah ruang tamu sekaligus ruang makan dan ruang nonton tv yang bersebelahan dengan dapur yang langsung menuju balkon. Tidak terlalu banyak barang. Matanya berhenti pada sebuah pintu putih yang dia yakin adalah kamar Pattaya. Bibirnya mengembang membentuk senyum mengerikan dengan mata bersinar obsesi yang kejam. Kakinya melangkah mendekat. *** Jared membuka pintu kamar itu dan matanya terpaku pada sebuah ranjang queen size yang tertutup kelambu. Dia tersenyum kecil. Tapi kakinya tidak melanglah mendekat. Dia berjalan mengitari ruangan, memuaskan matanya menatap semua barang barang yang ada di kamar itu hingga dia berhenti di depan sebuah meja sederhana yang diperuntukkan untuk menyimpan foto foto dan pajangan pajangan. Lengannya terulur mengambil sebuah potret Pattaya yang mengenakan toga di acara wisudanya. Di potret itu Pattaya tampak sangat dekat dengan seorang pria yang juga memakai toga. Mereka berangkulan dan tersenyum ke arah kamera. Jared mengernyit tidak suka. Dia tidak mau Pattaya dekat dengan pria lain. Secara tidak sadar, Jared telah menandai Pattaya menjadi miliknya. Miliknya yang hanya untuk dia. Pikirannya mulai memikirkan bagaimana cara dia mendapatkan data data tentang pria itu. Jared tersenyum kecil. Sadar bahwa pada akhirnya dia pasti akan bisa mendapatkan pria itu. Pikiran gilanya mulai mendominasi. Dia mulai berfikir bagaimana dia akan menghabisi korbannya. Apakah dengan pisau atau kecelakaan yang akan dia siapkan. Jared memyeringai apapun caranya nanti, dia tahu kalau dia akan sangat menikmati waktunya. Sisi dalam jiwanya mulai menentang. Mengingatkan aturan yang sudah terpatri dalam benaknya. Jared mengeraskan wajahnya meredam nafsu gilanya. Ini gila. Sejak kedatangan Pattaya, pertahanan dirinya sangat tipis. Bahkan saat tadi dia menghabisi Deriel, dia tahu kalau dia telah melakukan dengan terlalu berlebihan. Sangat berbeda dari kebiasaannya. Seolah dia sedang meraup serakus rakusnya momen yang seakan sulit  dia dapatkan lagi. Padahal dia selalu mendapatkan order secara berkala. Dia membunuh Deriel dengan sangat perlahan. Menyiksanya dengan tetap mempertahankan kesadaran Deriel walau sangat tipis. Membuat Deriel tetap bisa merasakan setiap luka dari sayatan yang dia ciptakan. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi lama. Dia tidak bisa kehilangan kendali dirinya. Apa mungkin aku harus membunuh Pattaya untuk menghentikan obsesi ini? Jared termenung. Dia memiliki aturan. Tidak mungkin dilanggar. Tapi, lebih baik memadamkan api yang masih kecil dari pada memadamkan api yang sudah membesar. Benarkan? Tapi, apakah aku akan membiarkan pengisi kekosonganku pergi? Jared terdiam. Dia harus memilih. Dan tentu dia akan memilih mempertahankan kewarasan yang dia punya karena aturan aturan yang telah terbentuk. Jared menyeringai kejam dan matanya menyorot puas. Maaf sayan, tapi aku harus melenyapkanmu. Pandangannya kembali menelusuri foto foto itu dan dia tertegun pada sebuah foto. Jantungnya seolah dicabut dari tempatnya. Seluruh pegangannya raib dan semua universe seolah hilang menyisakan dia dan foto itu. Setelah kesadaran Jared perlahan kembali, lengannya bergetar meraih foto itu. Dia menatap foto itu dengan sorot tidak percaya. Foto itu seolah menghantam tepat di kewarasannya. Dan menariknya kembali ke masa masa kelam yang selalu ingin dia lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD