The Devil Inside

2057 Words
Maybe you should fall That's what rivers do 'cause when you're in love You don't mind a different view Pattaya memaksakan senyum. Dia melangkah memasuki ruang tamu. Kepalanya menunduk. Dia menggigit bibir bawahnya tidak nyaman. Sesekali dia meremas lengannya. Semua hal kecil itu tidak luput dari iris biru yang menatap tajam. Jared terus menatap Pattaya dengan sorot yang sulit diartikan. Keinginan melihat Pattaya meregang nyawa di tangannya terasa sangat menggoda. Apalagi dia belum bisa meredam semua gejolak gilanya tadi. Jared mengeratkan giginya. Dia tidak bisa melanggar peraturan yang dia pegang selama ini. Dia tidak akan melampiaskan nafsu gilanya di tempat tinggalnya maupun di kantornya. Dan dia tidak akan membunuh tanpa order.  Pattaya mengernyitkan kening merasakan hening yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ini bodoh. Dia ingin membunuh pembunuh orang tuanya. Tapi, baru berhadapan seperti ini saja nyalinya sudah ciut. Bodoh! Pattaya menguatkan tekadnya. Dia mengangkat wajahnya. Dan tertegun melihat bagaimana cara Jared menatapnya. Pattaya ingin menangis. Dia ingin segera pergi dari tempat yang membuatnya ketakutan ini. Tapi, dia tidak bisa. Dia harus memenuhi tujuannya. "Mr J" Jared tersenyum sangat manis. Matanya ikut tersenyum walau tidak mengurangi sedikitpun ketakutan pada diri Pattaya. "Apa yang membuatmu datang ke tempatku Pattaya?" Pattaya menelan salivanya. Suara Jared mengalun dengan lembut dan terasa menyenangkan di telinga. Terlebih saat memanggil namanya, membuat letupan kecil dalam dirinya. Tapi karena dia merupakan orang yang teliti, dia bisa menangkap nada yang mengerikan terselip dalam alunan suara lembut itu. "Saya datang eng.. untuk mengantarkan surat penting untuk anda", Pattaya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop seukuran folio berwarna coklat dengan cap dari salah satu perusahaan terkemuka di NY. "Ah, akhirnya datang juga. Terimakasih", Jared mengambil berkas itu dari lengan Pattaya dan melemparkannya ke sofa hitam ruang tamu mewahnya. Pattaya memundurkan langkahnya. Dia membungkuk kecil dan menatap kaki Jared. "Kalau begitu saya permisi dulu Mr J" Ya, Pattaya merasa cukup untuk hari ini. Dia kini tau tempat tinggal Jared dan bagaimana cara masuk ke tempat tinggalnya ini. Kini dia bisa lebih leluasa merancang skenario baru untuk membunuh pria yang berdiri di depannya ini. Selain dari alasan itu, dia merasa pergi dari penthouse ini adalah ide yang terbaik. Dia tidak bisa terus berada di tempat yang membuatnya ketakutan seperti ini. Setidaknya dia harus menenangkan hatinya. Untuk bisa lebih berani menghadapi iblis yang nyata. "Kenapa kamu tidak bergabung denganku untuk makan malam? " Pattaya tertegun. Badannya terasa dingin. Dia kembali menatap atasannya itu. Pattaya semakin merasa ciut. Dia melihat tatapan Jared yang tajam padanya. Berbanding terbalik dengan senyuman yang setia menemani wajahnya. Tapi kedua paduan itu hanya membuat Jared terlihat menyeramkan dan tampan. Pattaya menelan salivanya. Dia tidak bisa menolak. Tapi dia juga tidak mau berada di tempat ini. "Kemari Pattaya" Jared membalikkan badannya dan mulai berjalan masuk ke dalam. Saat dia berada di ambang perbatasan ruang tamu, dia menolehkan kepalanya. Matanya melengkung membentuk senyuman begitupula bibirnya. Tidak lama kemudian mata itu terbuka dan menatap Pattaya mengancam. "Aku tidak pernah membiarkan tamuku pergi tanpa jamuan". *** Pattaya meremas jemarinya. Dia kini tengah duduk di salah satu kursi menghadap kabinet dapur di penthouse Jared yang mewah. Jared bilang dia akan membuatkan Pattaya makanan. Dan tidak akan membiarkan Pattaya pergi sebelum makan. Pattaya menatap sosok pria jangkung yang sedang mengambil beberapa bahan mentahan dari kulkas. Pattaya tercenung. Tatapan yang diberikan Jared padanya tadi seolah menunjukkan betapa inginnya Jared mencabut nyawanya. Meski bibirnya selalu tersenyum, tapi matanya mengatakan hal lain. Pattaya tersentak. Apa dia tau siapa aku dan apa tujuanku? Tapi, jika dia tahu kenapa dia tidak membunuhku? Atau dia mencari waktu yang tepat? Ya Tuhan.. Pattaya segera meloncat dati kursi dan menahan jemari Jared yang hendak memasang celemek. Jared sedikit terkejut. Dia menatap lengan mungil yang menangkup lengan besarnya. Tapi dia kembali bisa menguasai ekspresinya. Dia menoleh menatap Pattaya dengan senyum di wajahnya. "Ada apa? " Pattaya menelan salivanya. Lengannya bergetar karena takut,"Biar aku yang memasak." Pattaya langsung menundukkan wajahnya begitu tatapan Jared padanya berubah menusuk. "Aku tuan rumahnya Pattaya" Pattaya memejamkan matanya. Dia sungguh ingin lari dari tempat itu. Dia tidak tahan mendengar nada suara dingin dengan ancaman yang terselip itu. Dia tidak tahan dengan aura membunuh kental yang dipancarkan Jared. Tapi, dia tidak bisa. Satu satunya jalan untuk mengalahkan iblis adalah dengan mendapatkan kepercayaannya. Pattaya mendongakkan kepalanya. Dia memberanikan dirinya, "Saya bawahan anda Mr J. Lagi pula, saya ingin anda mencicipi masaka saya" Jared terdiam. Dia menyeringai dalam hati. Dia tau Pattaya ketakutan. Dia bisa membacanya dengan jelas. Apa mungkin dia takut kubunuh? Memikirkannya membuat jiwa psikopat Jared berseru girang. Apa yang lebih dinikmati seorang psikopat sepertinya selain ekspresi ketakutan sang korban? Jared merasa kepalanya berdenyut. Keinginan untuk membunuh perempuan di depannya semakin mendobrak keras. Wajah Jared mengeras menahan dorongan itu. Dia tidak akan menjadi seorang pesakit jiwa yang membunuh seenaknya. Dia punya aturan. Dan aturan itulah yang membuatnya bisa berada di sini sekarang. Jared menatap Pattaya. "Jared", Pattaya mengernyit. Jared tersenyum begitu manis. "Panggil aku Jared saat kita tidak di kantor Pattaya" Pattaya entah kenapa merasa pipinya memerah. Pandangan Jared yang begitu intens membuat dia tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan, di satu sisi dia ketakutan tapi di sisi lain, entah kenapa dia merasa istimewa. "Terserah jika kamu mau melakukannya". Jared melangkah meninggalkan Pattaya dan duduk di tempat yang tadi ditinggalkan Pattaya. Pattaya menelan salivanya mendengar nada rendah dingin yang dikeluarkan Jared. Dia bisa merasakannya. Merasakan bagaimana kuatnya keinginan gelap Jared. Entah apa yang menahan Jared untuk tidak membunuhnya sekarang. Pattaya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia hanya paranoid. Mr J sosok yang disukai bawahannya. Begitu kata Angel. Di sini dia yang akan membunuh bukan sebaliknya. Pattaya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tapi, entah kenapa hatinya terus mengingkari. Karena asik dengan pikirannya, dia tidak sengaja mengiris jarinya sedikit saat dia mengiris sayuran. Cairan merah kental menetes. Jared langsung tegang ditempatnya. Dia refleks berjalan ke samping Pattaya. Jared mengambil jemarinya yang berdarah dan langsung memasukannya ke mulutnya. Pattaya tersentak. Tapi sensasi pada jarinya, membawa gelenyar aneh pada dirinya. "Jared" Jared melepaskan bibirnya. Matanya menatap lurus tajam dan menakutkan pada Pattaya. Pertahanan topeng yang dikenakannya lenyap sudah. Sejak kedatangan Pattaya, topeng itu sudah sulit untuk dipertahankan dan kini, telah lenyap. "Aku sudah memberitahumu sebelumnya. Walau aku suka warna merah, aku tidak suka menghias tempatku dengan darah." Suara Jared terdengar berbeda. Sangat dingin degan kesan diseret yang menakutkan. Mata Jared beralih menatap jari telunjuk Pattaya yang kembali mengeluarkan warna merah pekat. Jared tersenyum menyeramkan dan kembali menatap iris Pattaya. "Tapi mungkin aku bisa membuat sebuah pengecualian" Pattaya tersentak. Semua alarm dalam dirinya berbunyi. Dia segera menarik lengannya dan berjalan mundur beberapa langkah. Badannya bergetar ketakutan. Tubuhnya terasa dingin, "Sa..saya pamit pulang Jared. Maaf, tapi saya harus pulang sekarang." Pattaya langsung berlari mengambil tasnya. Dia menekan tombol lift. Berulang kali. Dia ingin cepat pergi dari tempat itu. Matanya terus menatap layar kotak di atas lift yang menampilkan angka yang terus berubah naik. Cepat kumohon. Cepat. Tiba tiba sebuah lengan melingkari perutnya. "Kutunggu kedatanganmu selanjutnya" Pattaya tersentak dengan suara dingin dan lengan itu. Pintu lift yag terbuka membuat Pattaya berlari memasuki lift seiring lengan yang melepaskannya. Pattaya meremas tali tasnya dengan mata yang menatap iris biru yang balas menatapnya. Jared tersenyum dengan sangat manis, "Sampai jumpa" Pintu lift tertutup. Pattaya langsung luruh. Dia benar benar ketakutan. Jantungnya berdebar sangat cepat. Dia takut. Bagaimana dia bisa membunuh pria yang membuatnya takut? Bagaimana dia bisa meraih kepercayaan pria itu jika dia takut? Pattaya meremas lengannya erat. Tidak berguna!! ♣♣♣ Pattaya berlari mengitari Central Park di pagi buta. Entah sudah berapa putaran dia berlari. Kakinya terasa mati rasa, nafasnya tersenggal, paru parunya seperti terbakar. Tapi dia terus berlari kencang. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Dia mencoba menguatkan hatinya. Dia berusaha lari dari kenyataan kalau dia takut. Dia takut pada Jared, terlebih dia takut tidak bisa membunuh pria itu. Pattaya menarik nafas keras dan menghembuskannya. Dia berhenti setelah dirasakannya paru parunya terasa tercekik. Dia meneguk air mineral yang dia bawa dengan rakus. Dia berjalan menuju sebuah bangku dan duduk di sana. Tiba tiba dia tercenung. Di tempat ini dia pertama kali bertemu dengan Jared. Saat itu dia tidak tahu kalau pria itu adalah orang yang sama dengan orang yang telah membunuh orang tuanya. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Saat itu dia terpesona pada paras yang dimiliki Jared. Jared tampak sangat sempurna dan rapuh di saat yang bersamaan. Dia merasa dia dan Jared memiliki nasib yang sama. Dia bisa melihat kalau pria itu hidup dalam bayang bayang masa lalu yang kelam sama seperti dirinya. Karena hal itu,dia menghampiri Jared dan menawarkannya minuman.  Saat itu Jared sama sekali tidak terlihat mengerikan. Sangat berbeda dengan Jared yang menjadi atasannya saat ini. Sorot matanya, caranya bicara dan senyumnya semua berbeda. Pattaya menundukkan wajahnya. Matanya terpejam. Dia mengakuinya. Dia menyukai pria yang dia temui di central park waktu itu. Dia mengerti sekarang. Dari mana semua rasa takut dan letupan aneh dalam dirinya. Itu semua karena dia menyukai Jared. Dia tidak akan pernah bisa berdiri tanpa rasa takut apalagi membunuh Jared jika dia masih menyukai pria itu. Kelebatan wajah Jared saat mereka pertama kali bertemu di Central Park kembali membayang. Pattaya menggelengkan kepalanya. Dia iblis yang membunuh orang tuaku. Tidak peduli bagaimana perasaanku padanya, aku harus membunuhnya.Tapi pertama, aku harus membunuh perasaan ini terlebih dahulu. *** Jared menatap Pattaya dari balik kemudi Lykannya. Entah kenapa dia ingin kembali melihat Pattaya hari ini. Keinginan itu seolah mencekiknya, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dia ingin membunuh Pattaya. Dia ingin bermain dengan kumpulan pisau koleksinya pada tubuh Pattaya, menikmati saat darah menghiasi kulit itu. Keinginan itu seolah menelan kesadarannya. Jared mengeraskan wajahnya. Dia tidak bisa sembarang membunuh orang. Dia memiliki aturan. Aturan yang sudah terpatri jelas dalam benak dan jiwanya. Jared memiliki masa kecil yang tidak mudah. Melihat kematian orang tuanya, menjadi korban atas kegilaan bibinya, masuk penjara anak karena pembunuhan keji yang dia lakukan saat dia masih remaja hingga masuk perawatan rumah sakit jiwa bagian isolasi. Sampai dua orang memperkenalkan dirinya sebagai hidden assassin menyelamatkanya dan melatih mentalnya. Membuat Jared bisa mengontrol semua kegilaan dan kegelapan yang seolah sudah mendarah daging dengannya. Dengan menerapkan aturan aturan yang terpatri pada benaknya yang secara mutlak tidak bisa dilanggar dirinya. Dia mulai menjadi seorang assassin yang hebat. Membunuh tanpa hati terbalut dalam senyum yang menawan. Dia menikmati bagaimana hidupnya berjalan. Di saat dia tidak bisa menahan hasrat gilanya, dia mendapatkan order untuk melampiaskannya. Dia bukannya tidak bisa keluar dari organisasi itu. Tapi dia tidak mau. Dalam organisasi itu, dia bisa menyalurkan hasrat gilanya, dia juga bisa mengontrol jiwanya agar tetap seimbang, terlebih lagi dia bisa mencari pembunuh yang membunuh orang tuanya. Hingga suatu hari, seorang pria bernama James Calligan datang. Dia memperkenalkan dirinya sebagai sepupu Jared. Pria itu membawa Jared untuk menemui kenyataan kalau dia adalah keturunan keluarga Calligan. Salah satu keluarga yang berpengaruh di dunia. Dan saat itulah dunianya kembali berubah. Mata Jared kembali menatap sosok wanita yang memakai jaket berwarna pink pucat dan celana training yang sedang duduk di salah satu bangku di Central Park. Jared tersenyum kecil. Di tempat itulah pertama kali mereka bertemu. Sepertinya kamu sedang mengenang memori kita Pattaya. *** Jared sedang mempelajari dokumen yang dibawakan Pattaya dua hari yang lalu. Hari sudah hampir berganti, tapi dia belum beranjak dari ruangannya di kantor. Matanya dengan cekatan mempelajari berkas itu. Sebuah kasus pengakuisi salah satu perusahaan besar di Kota Manhattan. Tapi, karena satu dan bayak hal, pemilik perusahaan yang sudah kehilangan saham itu menolak pengakuisi perusahaannya. Jared tersenyum kecil. Ini kasus yang mudah. Tapi karena yang terlibat adalah perusahaan perusahaan dengan mega power, kasus ini menjadi kasus penting. Mungkin dia tidak perlu turun tangan langsung. Dia bisa menyuruh salah satu pengacaranya untuk menangani kasus ini. Drrrrt Drrrrt Jared menatap Ponselnya yang bergetar. Dia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Unknown Number Jared tersenyum kecil. Ini adalah order baru. Dia menggeser lambang hijaunya dan menjawab panggilannya. "Waktu Mr Derriel sudah habis. Kamu bisa menuntaskannya sekarang. Dia berada di apartementnya. ID cardnya akan disiapkan di receptionist apartementnya nanti" Mr Derriel. Jared tersenyum puas. Dia sudah muak memasang senyum dan sikap bersahabat pada pejabat korup yang berlindung di balik nama kemanusiaan itu. Dia benar benar akan menikmati waktunya nanti. Tiba tiba sebuah ingatan menyusup ke benaknya. Apartement tempat Derriel bukanlah apartement mewah yang biasa dipakai pejabat pada umumnya. Tapi sebuah apartement tipe studio sederhana di pinggir kota. Apartement yang sama dengan apartement Pattaya. "Siapkan aku ID Card milik Pattaya Clearesta Alexander juga"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD