Jared merasa dirinya sakit. Rasa frustasi mencekik dirinya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju salah satu sudut di ruang kerja penthousenya. Dia menarik sebuah buku dari rak dan tiba tiba rak buku yang panjang dari lantai hingga menyentuh langit langit itu terbagi dua. Menyisakan sebuah pintu dengan kotak tombol.
Jared menggertakan giginya merasakan sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat. Setelah memasukkan beberapa angka, pintu itu terbuka. Jared masuk ke dalam. Sebuah ruangan berwarna putih berbentuk persegi yang hanya berisi sebuah single bed sederhana berwarna sama. Ruangan itu hanya diterangi sebuah lampu yang berpijar putih.
Pintu di belakang Jared tertutup otamatis. Dia berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya di atasnya. Dia menginginkan darah.
Monster dalam dirinya berontak menagih darah. Dia ingin menikmati bau anyir yang serasa oasis untuknya. Dia ingin menikmati saat korbannya meregang nyawa.
Tapi dia tidak bisa.
Dia tidak membiarkan dirinya membunuh hanya untuk memuaskan hasratnya yang tidak pernah padam. Karena jika itu dibiarkan, dia akan menjadi orang gila yang akan membunuh siapapun yang dia temui. Sama seperti dulu.
Karena satu dari alasan itulah, Jared setuju untuk masuk ke dalam organisasi hidden assasin. Dia akan mendapat order untuk membunuh orang orang tertentu yang sudah disiapkan. Dan dia juga ingin menemukan pembunuh orang tuanya.
Dia bukan orang bodoh. Sebenarnya dia tahu kalau pembunuh orang tuanya berasal dari organisasi yang sama dengannya sekarang. Dan dia sedang mencari siapa pembunuh itu.
Jared menatap langit langit ruang isolasi itu. Dia sengaja membelenggu dirinya sendiri untuk menahan hasratnya. Sebenarnya ini cukup aneh, biasanya dia sangat pandai dalam meredam hasratnya dan mengontrol dirinya. Tapi semenjak perempuan itu datang ke perusahaannya, semua pertahanan dirinya seolah berubah menjadi setipis kertas.
Pattaya.
Perempuan itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan ibunya yang merupakan salah satu karyawan yang mengkhianati orang tuanya dulu. Ini seperti mengorek luka lama.
Tangannya gatal ingin mencekik perempuan itu. Menikmati ekspresi wanita itu saat oksigennya terenggut. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak membiarkannya melakukan itu. Mata wanita itu membuat Jared merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan hal itulah yang membuat monster dalam dirinya seolah semakin tak terkendali. Dia seolah ingin menyekap Pattaya, memuaskan dirinya sendiri dan memberikan teror yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, membuat wanita itu memohon untuk kematiannya dan akhirnya dia memberikan kematian yang cepat pada Pattaya.
***
"Mr J tidak ke kantor hari ini"
Pattaya menoleh ke arah Angel yang masih asik menyantap chicken soup yang menguarkan aroma menggiurkan.
Mereka sekarang berada di kantin kantor. Sebuah kantin yang hampir menyerupai foodcourt. Bahkan terdapat salah satu kedai kopi dengan brand terkenal di dalam kantin itu. Sekeliling kantin diselimuti kaca kaca yang memberikan pemandangan jalanan Kota New York yang sedang diguyur hujan deras.
"Apa maksudmu?"
Angel menatap Pattaya dengan seringaian di bibirnya. "Semua orang kantor tahu apa yang terjadi padamu dan Mr J di hari pertama kamu di sini. Kamu membuat si nenek sihir berang"
Pattaya menghembuskan nafas berat. Dan kembali menikmati Vanilla latte miliknya.
"Aku mendukungmu jadi tenang saja"
Pattaya tersenyum kecil. Seandainya Angel tahu apa yang sebenarnya ingin dia lakukan pada bosnya itu.
Tiba tiba Angel memekik. Dia menatap Pattaya berbinar. "Kamu bisa datang ke penthousenya"
Pattaya mengernyitkan kening, "Untuk apa?"
"Ada surat penting datang untuknya pagi tadi. Kamu bisa menggunakan alasan ini untuk datang ke penthousenya dan melakukan pendekatan. Biasanya Mrs Jillian yang akan mengantarkan surat untuknya. Tapi Mrs Jill sedang cuti hamil. Ini kesempatan bagus untukmu"
Pattaya ingin mengiyakan dan melihat tempat tinggal iblis itu. Ini mungkin menjadi jalan untuk mempermudahnya membuat rencana untuk membunuh Jared. Atau bahkan dia bisa membunuh Jared hari ini juga. Tapi, entah kenapa dia merasakan firasat buruk. Apalagi mengingat kalimat yang diucapkan Jared padanya saat dia hampir jatuh kemarin.
Sebuah tepukan membuatnya kembali mengerjap. Angel tersenyum lebar padanya. "Pergilah. Aku mendukungmu"
***
Pattaya menatap apartement pencakar langit di Leonard Street. Dia tahu apartement ini. Apartement yang hanya dimiliki orang orang terkaya di New York City. Orang orang berlalu lalang dengan pakaian necis. Mobil mobil yang melintas pun bukanlah mobil murah. Pattaya menggenggam tali tasnya erat. Rasa tidak percaya diri kembali menghantamnya. Tapi dia menguatkan tekad. Untuk orang tuanya.
Pattaya melangkah memasuki apartement. Interior yang sangat mewah menyapa inderanya. Pattaya berjalan kikuk menuju receptionist.
"Saya mau bertemu dengan Mr Calligan. Saya staffnya di kantor"
Salah seorang receptionist di sana tersenyum manis, "Ditunggu sebentar ya. Maaf sebelumnya dengan Ms siapa? "
"Saya Pattaya"
Receptionist itu menelpon seseorang. Setelah mendapat jawaban, dia kembali tersenyum pada Pattaya. "Silahkan ikuti saya"
Receptionist itu berjalan menuju salah satu lift, "Ini lift khusus menuju penthouse. Mr Calligan sudah menunggu anda"
Pattaya tersenyum dan mengangguk. Dia masuk ke dalam kotak besi itu. Semakin dekat dengan tempat Jared, membuatnya merasa jantungnya berpacu semakin cepat dan lengannya berkeringat.
Ting
Pintu lift terbuka dan sebuah ruang tamu mewah menyapanya. Di tengah tengah ruangan terdapat pria yang sangat tampan menunggunya. Pria itu hanya memakai kaos sederhana dan celana kain selutut. Pria itu tersenyum. "Halo Pattaya"