New Lawyer

1337 Words
Kringg Kringg Kringg Bunyi alarm mengusik tidur nyenyak seorang wanita yang baru tertidur selama 2 jam. Dengan malas malasan, dia mematikan alarm itu dan bangun dari tidurnya. Dia melihat kalender tembok. 31 Oktober 2016. Hari yang sudah dia tunggu tunggu sejak sebulan yang lalu. Hari di saat dia bisa membalaskan kematian kedua orang tuanya. Wanita itu berjalan ke dalam kamar mandi. Dia menatap bayangannya di cermin wastafel. Kulit kuning langsatnya terlihat pucat. Bayangan hitam di bawah matanya tampak menjelas. Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Sejak seminggu yang lalu dia semakin tertekan menanti hari ini. Dia stres dan menghabiskan waktunya berlari di taman kota selama berjam jam. Dengan berlari dia merasa bisa melepaskan bebannya. Dia merasa bisa lari dari kenyataan walau hanya sebentar. Perempuan itu tercenung saat pikirannya mengingat pertemuannya dengan pria asing yang tidak dikenalnya tadi di taman. Pria itu sangat tampan. Hingga ketampanannya melebihi fantasinya yang terliar sekalipun. Tapi dia terlihat sangat tertekan, sedih dan frustasi. Melihat pria itu entah kenapa membuat dia merasa bukan dia sendiri manusia yang memiliki kekelaman dalam hidupnya. Tapi paras pria itu begitu memikat. Sorot matanya, rautnya, sikapnya benar benar menarik. Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan semua bayangan pria itu. "Fokus Pattaya. Ingat prioritasmu. Mencari pembunuh orang tuamu" Perempuan bernama lengkap Pattaya Clearesta Alexander itu menanggalkan satu persatu pakaiannya dan berjalan masuk ke dalam bilik shower. Dia menyalakan airnya dan menikmati air dingin yang menyapa kulitnya. Jared Dwihard Calligan Dia hanya mendapatkan nama itu dari semua penyelidikan yang telah dia lakukan saat kuliah dulu. Semua data yang berhasil dia temukan tidak ada yang menampilkan wajah pria iblis itu. Laman wikipedia pria itupun tidak menampilkan wajahnya. Dia hanya tau nama itu dan kenyataan bahwa pria itu adalah pemilik sebuah kantor hukum terbaik di dunia. Pattaya tertawa sinis. Bisa bisanya seorang pembunuh memiliki sebuah kantor hukum yang harusnya menghukum para penjahat sepertinya. Pattaya sudah menyerah terhadap hukum. Seberapa kuat pun dia memperjuangkan kematian orang tuanya, para penegak hukum itu seolah tutup mata dan telinga, tetap menganggap kejadian itu sebagai suatu kegilaan ayahnya. Padahal itu tidak benar. Dia ada di rumah saat mamanya menyuruhnya bersembunyi. Saat orang tuanya meregang nyawa. Tapi dia tidak berhasil melihat siapa pria itu. Hanya separuh tato seperti sayap yang tersingkap dari belikat kanan pembunuh itu yang menjadi petunjuknya. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. *** Taksi yang ditumpangi Pattaya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit mewah di Wall Street. Pusat perkantoran dan bisnis di Kota New York. Setelah menyerahkan beberapa bucks pada supir taksi, Pattaya melangkah turun. Dia berjalan ke arah gedung. Pintu otomatis terbuka untuknya. Menampilkan beberapa orang yang berlalu lalang. Pakaian mereka terlihat mahal dan berkelas. Beberapa orang menatapnya tidak peduli dan beberapa memperhatikannya lekat lekat. Pattaya menatap pakaian yang dikenakannya. Hanya sebuah blus sederhana dipadukan dengan cardigan dan rok span selutut. Dia memang bukan tipe wanita yang terobsesi dengan semua yang dipakainya. Dia cenderung cuek. Dan pakaian seperti two pieces atau three pieces yang dipakai rata rata orang dalam gedung ini tentu bukan salah satu favoritnya. Jika saja dia tidak mendengar kematian orang tuanya, mungkin dia sekarang lebih memilih menjadi volunteer di negara negara miskin. Seseorang menyenggol bahunya dengan sengaja membuat Pattaya terhuyung dan maju beberapa langkah. Dia sudah siap memaki siapapun yang sengaja menyenggolnya, tapi saat dia melihat orangnya, dia segera membungkam mulutnya. Perempuan yang menyenggolnya sangat cantik dan berkelas. Rambut pirangnya disanggul rapih. Tulang wajah yang sempurna ditambah bibir, alis dan matanya yang tajam membuatnya menjadi luar biasa cantik. Tubuhnya tinggi semampai ditambah heels yang dia pakai membuatnya lebih seperti model. Perempuan itu menenteng tas merah menyala yang Pattaya tau sangat mahal. Perempuan itu menatap Pattaya dengan tatapan menilai yang mencela. Dia tersenyum sinis dan berjalan kembali melewati Pattaya. Pattaya menghembuskan nafasnya panjang. Sabar Pattaya. Ini demi misimu. Pattaya kembali berjalan menuju meja receptionist. Seorang wanita tersenyum ramah padanya. "Ada yang bisa saya bantu?" "Ini hari pertama saya bekerja. Saya Pattaya Clearesta Alexander" "Oh iya, saya sudah diberitahu tentang anda. Mari ikut saya". Receptionist itu mengajak Pattaya berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya. Bersama beberapa orang yang asik dengan kesibukan masing masing. "Nanti kamu akan kerja di lantai 45. Lantai 45 itu tempat para pengacara senior divisi satu. Jujur saya juga tidak mengerti kenapa pelamar baru, apalagi baru lulus seperti kamu bisa langsung bergabung dengan para pengacara senior. Tapi, setelah mengetahui ini rekomendasi langsung dari direksi, aku yakin kamu pasti sangat pintar dan berkopeten" Pattaya meringis. Dia sudah berulang kali merekayasa ijazah dan memalsukan semua sertifikat miliknya agar dia bisa masuk ke kantor hukum ini. Untung dia memiliki teman yang berkompeten untuk urusan itu. Lift berhenti di setiap lantai dan terus naik ke atas. "CEO kita sangat baik dan ramah. Mr. Jared namanya. Tapi orang orang biasa memanggilnya Mr. J. Kamu pasti langsung menyukainya. Dia pintar, tampan, kaya dan hebat. Dia tidak pernah kalah dalam setiap kasusnya." Jared. Dia pasti adalah iblis itu. Pattaya menatap perempuan yang berdiri di sebelahnya. "Tapi kamu jangan sampai suka padanya. Ms Kellyn sudah mengincarnya dari dulu. Jika kamu ingin tetap bekerja di sini, satu pesanku jauhi Kellyn. Sejauh jauhnya" Pintu lift terbuka di lantai 45. Pattaya tercengang melihat betapa mewah dan terbukanya tempat itu. Seluruh dinding adalah kaca. Kubikel kubikel luas dengan semua perlengkapan yang mendukung. Dia melangkah masuk mengekori receptionist tadi. "Oia, namaku Angel" Pattaya tersenyum menanggapi Angel. Angel berjalan menuju sebuah kubikel kosong. Hanya sebuah komputer, lemari kosong, dan lainnya. "Ini milikmu. Selamat bekerja", Angel berjalan meninggalkan Pattaya. *** Hari pertama bekerja tapi Pattaya sudah mendapatkan banyak pekerjaan. Dia diberikan banyak studi kasus yang harus dia teliti dan menyusun hipotesanya. Otaknya serasa mengepul. Dia memang lulusan hukum, tapi dia bukan cumlaude. Dan berkat campur tangan temannya, dia bisa memiliki ijazah cumlaude dengan keterangan terbaik sepanjang universitas itu berdiri. "Pattaya, tolong fotocopy ini 15 kali ya. Kalau sudah bawa ke ruangan saya" Perempuan yang tadi menyenggolnya di pintu masuk, datang sambil membawa setumpuk berkas yang sangat banyak. Mungkin tingginya ada 50 cm. Ternyata perempuan yang dibicarakan Angel dan yang tadi menyenggolnya adalah orang yang sama. Kellyn. Si nenek sihir. Dan sialnya, Kellyn adalah ketua divisi Senior Lawyer 1. Divisi tempatnya bekerja. Di kantor hukum ini dibagi menjadi beberapa divisi lawyer baik senior maupun junior. Untuk lawyer senior satu,ditempati oleh 4 sampai 5 orang. Pattaya menghembuskan nafasnya panjang. Dia meraih tumpukan itu dan mulai berjalan. Pandangannya tertutupi oleh semua tumpukan itu. Lengannya serasa akan putus. Dasar nenek sihir sialan. Pattaya berjalan menuju ujung ruangan. Tempat fotocopy berada di dekat tangga darurat. Langkah Pattaya tersendat karena harus berhati hati melangkah. Berkali kali dia menabrak entah itu dispenser, meja kerja yang lain, kubikel dan lainnya. BRAK Pattaya tersentak. Semua kertas kertas sialan itu berjatuhan ke bawah. Bukan ke bawah lantai tapi tercecer ke tangga yang menurun di depannya. Kaki Pattaya terangkat tidak menginjak lantai. Dan sebuah lengan kokoh memeluk perutnya erat. Menahannya. Tiba tiba hembusan nafas hangat menyapa tengkuknya yang tidak tertutup rambut. "Hati hati dengan langkahmu. Meski aku suka dengan merah, bukan berarti aku suka menghias kantorku dengan darah yang berceceran" Badan Pattaya terangkat dan kembali menginjak lantai. Pattaya segera berbalik dan matanya terperangkap iris biru sejernih lautan. Pria ini. Pria yang dia temui di Central Park tadi subuh. Jantung Pattaya berdetak cepat. Tatapannya beralih pada orang orang di lantai 45 yang menatap ke arahnya tidak percaya. Si nenek sihir berlari kecil ke arah Pattaya. Mati aku mati. Dia pasti akan mencaci makiku. "Mr J kamu tidak apa apa? " Mr J Jantung Pattaya terasa berhenti berdegup. Dia menatap tidak percaya pada pria yang  telah menarik perhatiannya tanpa dia tahu siapa. Pria itu tersenyum sangat manis, "Aku tidak apa apa. Lagi pula, dialah yang harusnya kamu tanyakan kabarnya Kellyn" Suara bariton yang dalam dan menyenangkan terdengar. Pria itu tersenyum manis dan beralih menatapnya. "Apa kamu tidak apa apa? " Pattaya tertegun. Pria ini iblis Pattaya melihat kekejaman dalam matanya bercampur obsesi yang mengerikan, begitu menusuk menyeramkan. Berbeda dengan bibirnya yang tersenyum manis. Pria itu tertawa kecil. "Maafkan aku. Betapa tidak sopannya aku. Aku Jared Dwihard Calligan. Pemilik Kantor Hukum ini. Senang bertemu dengan pengacara baruku." Dia pembunuh itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD