"Anak sial! Anak sial! Anak sial! "
Seorang anak berumur 7 tahun menangis mendapat pukulan sabuk di seluruh punggungnya. Dia menangis, menjerit, tapi perempuan setengah baya yang memukulnya menulikan telinganya dan terus menerus memukul anak itu.
"Mama", Anak itu kembali memanggil mamanya. Walau dia tahu itu mustahil tapi anak itu terus memanggil mamanya.
"Mama"
" IBUMU TIDAK AKAN DATANG JARED! KARENA KAMU DIA MATI! KAMU ANAK SIAL! "
Jared terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya memburu dengan peluh bercucuran di keningnya. Matanya nyalang menatap sekitar kamarnya yang berada di lantai teratas sebuah apartement dengan dinding terbuat dari kaca yang menampilkan pesona Kota New York.
Mimpi sialan itu lagi.
Jared menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke ranjang kingsize berseprai hitamnya dengan pandangan kosong.
Meski aku sudah membunuh Aunty Mary dengan tanganku sendiri, ketakutan itu masih ada.
Jared menggertakan giginya tidak suka. Dia turun dari ranjang menuju pintu kamar mandi, berjalan menuju wastafel dengan ukiran indah berwarna hitam dan membasuh wajahnya di sana.
Jared Dwihard Calligan.
Anak terbuang dari keluarga Calligan.
Jared adalah anak tunggal dari Michael Calligan. Michael Calligan atau yang akrab disapa Mike adalah anak kandung dari sepasang pengusaha multiinternasional yang sangat sukses. Kakak Mike, Jason Calligan menjadi anak kesayangan orang tuanya. Tidak seperti anak dari Jason, Jared termasuk tidak beruntung. Karena mencintai seorang pelayan, Mike diusir dan terpaksa hidup dari nol. Mike benar benar bekerja keras siang malam bersama istrinya, seorang perempuan berdarah Indonesia yang setia menemaninya. Hingga akhirnya semua keringat dan air mata terbayar. Mike berhasil membuat sebuah perusahaan perangkat lunak yang walau kecil tapi bisa bersaing. Dan inilah awal kehancuran keluarga mereka.
Seorang pengusaha melihat perusahaan Mike sebagai peghalang. Dia mulai bernegosiasi untuk membelinya. Tapi hal itu tidak berhasil. Karena ditolak membuat pengusaha itu menyewa hidden assasin untuk membunuh keluarga Mike.
Saat itu Jared masih berumur lima tahun saat dia bersembunyi di bawah kolong laci yang sangat sempit. Ibunya menyuruhnya bersembunyi di sana dan jangan berisik. Dengan kedua matanya dia melihat bagaimana kedua orang tuanya dibunuh secara tragis dan brutal.
Jared menggelengkan kepalanya. Mencoba menghilangkan bayangan kematian orang tuanya. Dia kembali menatap cermin dan memberikan senyum yang sangat menawan.
***
"Halo? "
"Master bilang kamu harus menghapus Catherine hari ini. Bayarannya akan ditransfer saat kamu berhasil. Waktunya satu jam dari sekarang"
Sambungan terputus. Dia kembali menatap wajahnya dan tersenyum menawan.
"My dear Catherine your time is up"
Catherine Lionel.
Sudah seminggu ini dia menjalin hubungan dengan model menawan yang sedang mengurus pembagian harta setelah bercerai dengan suaminya yang miliarder. Dengan wajah dan kharismanya , tidak sulit untuk Jared memikat wanita matere dan culas itu.
Sebenarnya Jared malas melakukannya. Dia hanya membuang buang waktu dan menekan dalam rasa muak dan jijiknya.
Tapi itu sepadan.
Sepadan dengan kepuasannya saat melihat sorot luka, terkejut dan terkhianati dari pancaran mata korbannya saat dia bunuh. Karena dikhianati oleh orang yang sudah dipercaya rasanya akan sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari rasa sakit saat meregang nyawa.
***
Jared mengendarai Lykan hitamya menuju pusat Kota Manhattan. Langit masih gelap. Jalanan kosong. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi dia sudah membelah keheningan malam.
Jared menghentikan mobilnya di depan kondominium besar bergaya Victoria. Kondo itu terletak di sebuah perumahan mewah yang memiliki view langsung ke Central Park. Saat Jared turun dari mobil, pintu utama terbuka. Menampilkan sosok wanita akhir 30an yang memiliki wajah dan tubuh yang sangat indah. Rambut pirang wanita itu disanggul asal ke atas. Tubuhnya dibalut bathrobe putih yang terlihat mahal.
"Jared", Wanita itu berlari kecil dan langsung memeluk Jared erat. "Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu"
Jared tersenyum kecil dan ikut berbisik di telinga Catherine dengan suara menggoda, "Aku juga"
Carherine menarik lengan Jared ke dalam kondonya. Terus melintasi ruangan ruangan mewah menuju sebuah kamar utama yang sangat luas. Kamar itu telah didesain khusus untuk malam ini. Dengan kelopak kelopak mawar, lilin lilin aromatherapy dan d******i merah. Hari ini hari ulang tahun Catherine dan dia ingin merayakannya bersama Jared.
Catherine berjalan membelakangi Jared menuju tengah ruangan. Tanpa menatap Jared, dia membuka bathrobenya perlahan menampilkan lingerie tipis yang sangat menggoda. "Jared, kemari dan dapatkan aku."
Jared tersenyum sangat manis. Dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sepatu yang dia kenakan. Sebuah pisau yang berkilat terpantul cahaya menandakan betapa tajamnya benda itu. Jared berjalan mendekat pada Cahterine dan berhenti tepat di belakang wanita itu. Dengan secepat kilat, Jared menusukkan pisau itu ke titik suara di leher Catherine. Darah memuncrat. Dan pekikan Catherine terbungkam.
Catherine berbalik dan menatap tidak percaya pada Jared. Catherine terus menutupi luka di lehernya yang terasa sangat menyakitkan, seolah membakarnya. Darah terus mengalir.
Jared tersenyum manis dan menawan. Sosoknya begitu luar biasa menawan tapi juga menakutkan di saat yang sama. Jared terus berjalan perlahan seiring Catherine yang berjalan mundur dengan ketakutan. Mata Catherine penuh ketakutan, kekecewaan dan perasaan terkhianati.
Jared sangat puas. Dia terus berjalan sambil memainkan pisau di lengannya.
Catherine terhantuk kasur. Dia terhuyung tertidur di kasur.
Jared tertawa. Suaranya begitu merdu dan menggoda, "Kenapa sayang? Bukannya kamu menginginkan aku ?"
Jared menjatuhkan badannya di atas Catherine bertumpu pada kedua lengannya di samping kepala Catherin dan kakinya yang masih menginjak lantai.
Catherine megap megap berusaha mengeluarkan suara tapi suaranya raib.
"Jangan terlalu memaksakan diri sayang. Aku tadi mengenai pas di pita suaramu. Kamu tidak bisa bersuara lagi", Jared mengatakannya sambil menekan ujung pisaunya yang lain di sisi kanan wajah Catherine. Membuat sebuah lajur darah yang menetes.
Catherine menangis dan kesakitan. Tapi hatinyalah yang paling terluka. Dia tidak pernah menyangka akan dikhianati oleh pria yang dia cintai.
Jared tersenyum manis dan matanya berkilat puas, "Selamat tinggal sayang"
Jared menikam jantung Catherin dengan keras. dan terus menekannya hingga bilah alumuniumnya tenggelam. Dan Catherine kehilangan nyawanya.
Jared bangun, mengendus darah di tangannya. Dia mendesah puas. Jared pergi ke toilet dan membasuh darah yang masih menempel, menghilangkan warna merah dan juga bau amisnya. Setelah selesai, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kirimkan tim pembersih ke Kondo Catherine. Aku sudah selesai di sini"
Sambungan diputus Jared sepihak. Dia berjalan ke luar toilet dan menatap dingin pada jasad Catherine. Dia lalu kembali berjalan dan membawa mobilnya menuju Central Park.
***
Jared duduk di salah satu kursi di central park. Menatap dalam keheningan dan kegelapan.
Perasaan kosong itu kembali.
Dia kira kepuasan saat membunuh, dan melihat bagaimana kekecewaan menelan korbannya bisa mengisi kekosongan, menutup luka dan mengatasi kekecewaan di hatinya. Tapi dia salah. Kekosongan itu kembali datang setiap dia selesai menunaikan misi. Luka karena kematian orang tuanya pun masih tetap ada malah mengakar semakin kuat dan dalam. Juga kekecewaan yang terus menggerogotinya.
Pluk.
Jared mendongak menatap seorang perempuan yang berparas cantik memberikannya botol mineral. Perempuan itu berambut coklat kayu dengan kulit kuning langsat yang cantik. Rambutnya diikat ponytail tinggi. Peluh membasahi wajahnya, memakai training tanpa lengan dan celana panjang.
Dia?
"Kamu pasti punya banyak masalah."
Jared tertegun. Tapi tidak lama dia tersenyum kecil, "Bagaimana kamu tau?"
Perempuan itu terkekeh. Dan ikut duduk di samping Jared. "Aku juga punya masalah dalam hidup. Dan aku melampiaskannya dengan lari di pagi buta di Central Park. Saat belum ada orang dan hanya ada aku bersama keheningan. Itu cara paling ampuh bagiku. Kalau tidak aku mungkin sekarang sudah gila"
Perempuan itu terkekeh. Dia berbalik menatap Jared tepat di maniknya.
Jared tertegun menatap mata hijau jernih yang menatapnya polos.
Matanya cantik.
"Dan kurasa kamu juga sama. Mana ada pria tampan sepertimu yang diam sendirian di Central Park di pagi buta. "
Jared megangkat sudut bibirnya dan menatap perempuan itu penuh minat, "Kamu bilang aku tampan?"
"Eh?" Perempuan itu tampak salah tingkah. Wajahnya memerah hingga leher. "Bukan itu poinku"
Jared terkekeh.
"Dengar, aku tidak peduli apapun masalahmu tapi daripada kamu melamun seperti orang i***t lebih baik kamu ke sini lain waktu dan berlari". Perempuan itu berdiri dan kembali berlari meninggalkan Jared yang masih menatap kepergian perempuan itu.
Kebetulan yang menarik. Dia anak tunggal keluarga Alexander yang ingin menuntut balas padaku. Tapi sepertinya dia tidak tahu siapa aku.