Tak terasa Zee sudah masuk tahun ketiga kuliah di ESMOD, artinya setahun lagi ia, akan menyelesaikan kuliahnya dalam bidang desain, Zee berniat ingin melanjutkan 3 tahun lagi untuk menimba ilmu dalam bidang bisnis fashion internasional. Bagi Zee dunia fashion takkan lengkap jika ia tidak tahu seluk beluk cara berbisnisnya.
Banyak hal yang ia pelajari selama hidup jauh dari tempat ia dilahirkan. Ia harus bisa segera menyesuaikan diri dengan pola hidup yang jauh berbeda dengan saat ia di negaranya. Kebiasaan hidup, pergaulan, makanan, cuaca yang lebih sering membuat Zee kedinginan. Bagi Zee ternyata negaranya tetaplah yang terbaik.
Banyak perkembangan hubungannya dengan Andre, Zee sudah tidak malu lagi menggandeng lengan Andre saat mereka berdua berjalan-jalan di Paris, hanya jika ke Lourmarin ia agak sungkan pada tante Berta, meski Andre kadang mencium keningnya di depa papa dan mama Andre, sudah berkali-kali ia mengingatkan Andre tapi tetap saja Andre lakukan dengan alasan lupa.
Liburan semester ini Zee tidak pulang ke Lourmarin karena ia dan teman-temannya menyiapkan fashion show akhir tahun. Pergelaran besar yang menyedot pikiran Zee ia akan mengerahkan seluruh kekuatannya, karena nanti akan dihadiri papa dan Andre, rencananya tante Berta dan om Ansel, orang tua Andre, juga akan hadir.
Zee konsentrasi pada pemilihan tema, ia akan mengangkat tenun-tenun Indonesia. Seminggu ini ia berkutat pada pemilihan bahan, namun masih saja bingung dengan tema.
Sore menjelang malam saat ia belum mandi tiba-tiba pintu apartemennya terbuka, wajah Andre menyembul di balik pintu. Ia terlihat lelah. Setahun terakhir Andre bekerja di salah satu perusahaan otomotif terbesar di Paris sebagai tenaga accounting setelah menamatkan kuliahnya.
Andre masuk meletakkan tasnya, menarik dasinya dan membuka jasnya, dilemparkannya entah kemana. Zee membelalakkan matanya. Tumben. Andre terlihat melangkah ke dapur sambil menggulung kemejanya sampai ke lengan. Menyeduh kopi dan kembali ke sofa.
Zee duduk di dekat Andre, melihat wajahnya dari dekat. Andre menoleh dan tersenyum meski terlihat lelah.
"Tumben kamu nggak ngomong Ndre," sapa Zee. Andre tak berkata sepatah katapun, tiba-tiba ia memeluk dan menciumi Zee, Zee mengerutkan keningnya ada apa? Pikirnya. Saat Andre melepas pelukannya dilihatnya mata Andre yang terlihat sedih dan lelah.
"Ada apa Andre, kamu tidak biasanya?" tanya Zee sambil menengadah memegang pipi Andre dan melihat matanya yang tiba-tiba menggenang air mata.
"Aku mencintaimu, Zee, jangan pernah tinggalkan aku," bisik Andre parau. Zee tersenyum lembut dan mengangguk.
"Yah, aku mencintaimu Andre, sangat mencintaimu, kamulah laki-laki pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta," ucap Zee pelan, dan kembali Andre memeluknya. Zee semakin bingung, sesaat kemudian Andre berlutut di depan Zee, tangannya menggenggam jemari Zee yang duduk di sofa, dengan mata penuh air mata.
"Berjanjilah padaku Zee bahwa kamu tidak akan berhenti mencintaiku, tidak akan menjauh dariku, apalagi sampai memutuskan hubungan ini," ujar Andre semakin mengeratkan genggamannya. Zee mengangguk ragu, entah mengapa dadanya tiba-tiba berdebar keras. Ada rasa takut dan kawatir yang tiba-tiba ia rasakan.
"Ada apa Ndre, katakanlah," ucap Zee mengelus jari Andre.
"Aku akan jujur, tapi kamu janji, kamu tidak akan meninggalkanku, akan tetap mencintaiku," ucap Andre dengan mata lelah.
"Yah aku janji, asal kamu jujur," kembali Zee tersenyum dan semakin membuat Andre ingin memukul dirinya sendiri.
"Sebulan lalu perusahaanku merayakan ulang tahun, kami semua merayakan sampai malam, kami semua berpesta, makan dan minum sepuasnya, aku..aku terlalu mabuk waktu itu Zee, terakhir aku ingat teman kantorku Ellena yang juga mabuk mengantarku pulang ke apartemenku, saat aku bangun akuu akuuu Zeee..maafkan aku," Andre menangis menyesal menunduk dilutut Zee. Zee tetap tenang, mengelus kepala Andre yang berada di lututnya.
"Aku...bangun di apartemen Ellena dan kami tanpa sadar telah melakukan hal itu, dan...tadi Ellena mengatakan jika, jika dia hamil Zee, maafkan aku, maafkan aku, jangan tinggalkan aku Zee," Andre semakin menjadi tangisnya, meski tak bersuara, namun gerakan bahunya menjelaskan semuanya. Zee memeluk kepala Andre, meski dadanya serasa dipukul sepuluh orang namun ia tetap berusaha tenang, kejujuran Andre membuat ia tetap menahan segala perasaan sakit yang tiba-tiba menjalar disekujur tubuhnya.
"Ellena akan menggugurkan kandungannya Zee karena ia tidak menginginkannya, ia juga sadar jika dirinya tidak pernah tertarik padaku, kami melakukan hal yang salah, ia sudah memiliki tunangan," Andre masih berlutut di depan Zee, Zee menggeleng dengan keras.
"Jangan dibunuh, jangan digugurkan, bayi itu tidak bersalah, kalian harus menikah," ucap Zee dengan pelan.
"Tidak, kami tidak saling mencintai, aku akan membawa Ellena padamu, agar kamu tahu, bahwa kami memang berada di tempat dan waktu yang salah," ucap Andre bersungguh-sungguh. Sekali lagi Zee menggeleng.
"Tidak perlu, aku tidak perlu tahu dan mengenal Ellena, lakukanlah hal yang benar pada bayi itu," kata Zee pelan namun sanggup membuat Andre bergidik melihat tatapan matanya, Andre tahu Zee terluka dan ia tidak akan memaafkan dirinya.
"Maafkan aku Zee, kamu akan tetap mencintaiku kan, tidak akan menjauh dariku kan Zee?" tanya Andre mengguncangkan bahu Zee, dan Zee mengangguk pelan. Andre memeluk Zee dengan erat, namun tatapan Zee menjadi dingin saat ia mulai menghembuskan napas dengan berat.
"Aku mandi dulu Ndre," ujar Zee menuju kamar mandi, Andre melihat Zee dengan hati gamang.
Di dalam kamar mandi Zee menghidupkan shower, ia biarkan air mengalir pada tubuhnya tanpa membuka bajunya, ia biarkan air mengalir searah dengan air matanya yang turun dengan deras. Ia sandarkan kepalanya pada tembok kamar mandi menangis tanpa bersuara, ia gigit bibirnya dan tanpa sadar sudah berdarah.
Zee terduduk di kamar mandi, ia tidak menyesali jalan hidupnya yang selalu berakhir mengenaskan dalam masalah cinta, cinta pada mamanya dan kini cinta pertamanya.
Satu jam Zee belum juga ke luar Andre segera menggedor kamar mandi, tidak ada sahutan, Andre gedor lagi dengan agak keras, ia kawatir pada Zee, ia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi hal menyakitkan pada Zee.
"Zeeee...Zeee buka pintunya..Zee," gedoran Andre yang keras tidak juga membuat pintu kamar mandi terbuka. Terpaksa Andre membenturkan bahunya sampai pintu kamar mandi agak terbuka, didorongnya dengan hati-hati oleh Andre dan ia dapat melihat tubuh Zee yang meringkuk, tergeletak di bawah guyuran shower.
"Zeee...tidaaak, Zeeee apa yang kamu lakukan maafkan aku Zeeee," teriakan Andre disela kepanikan dan tangisannya. Digendongnya Zee ke kamar, ia keringkan Zee dengan bedcover, lalu dibukanya baju basah Zee, cepat ia ganti semuanya dengan baju kering, sambil bercucuran air mata Andre menangisi ketololannya. Setelah semua ia lakukan dengan baik, diselimutinya badan Zee agar hangat, ia peluk Zee sambil menangis.
"Maafkan aku, maafkan aku Zee jangan siksa aku dengan cara begini," suara lirih Andre terdengar menyayat. Ditengah kebingungannya Andre ingat sahabat Zee, dengan cepat ia cari ponsel Zee dan menelusuri nama Sonia di sana, setelah ia temukan, ditelponnya Sonia. Tak kurang dari 15 menit Sonia muncul dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan cepat Sonia menuju kamar Zee, dilihatnya wajah pucat Zee, mata sembabnya dan bibirnya yang agak bengkak dan ada bekas luka. Sonia melihat wajah Andre yang lusuh dan mata Andre yang juga sembab.
"Ada apa dengan kalian, aku tidak pernah melihat wajah Zee sepucat ini, dan kalian sama-sama menangis?" Sonia bertanya dengan nada kawatir. Andre diam saja. Ia hanya menghembuskan napas dengan berat.
"Kami mengalami masalah berat, tapi ia akan kuat, temani dia, aku..aku akan kembali ke apartemenku, kabari aku jika ada sesuatu," ujar Andre pelan. Saat Andre akan melangkah, Sonia berkata,
"Jika Zee kau sakiti, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup," ujar Sonia dengan tatapan dingin, dan Andre segera berlalu tanpa menoleh lagi.
Setelah Andre pergi, Sonia segera mencari sesuatu yang bisa membuat Zee hangat, ia mencari-cari dikotak obat Zee. Setelah ia temukan segera ia balurkan ke kaki, tangan, d**a dan punggung Zee. Sonia cemas memandang wajah sahabatnya.
Setangah jam kemudian Zee mulai membuka matanya, ia melihat Sonia dan menangis tanpa bersuara, air matanya bercucuran. Sonia mendekat dan dipeluknya dengan hangat badan sahabatnya.
"Tenanglah Zee, aku selalu didekatmu, jangan bercerita dulu jika kau tak ingin," Sonia menghapus air mata Zee dan melihat Zee memejamkan mata, ia tahu sahabatnya hanya memejamkan matanya, tapi ia tidak akan bisa tidur lagi.
"Makan dulu ya Zee aku yakin kau belum makan, aku akan memesan dulu," ujar Sonia, tapi tangan Zee mencegahnya.
"Tidak usah, aku tidak ingin makan, tidak akan bisa masuk Sonia," ucap Zee pelan.
"Tidak, kau harus makan, kau harus kuat, mana Zee yang aku kenal?" ujar Sonia dan beranjak mengambil ponselnya untuk memesan makanan.
Tak lama pesanannya datang dan Sonia menuju kamar Zee, ia menyuapi Zee perlahan, ia kawatir benar pada sahabatnya, melihat matanya yang menatap dinding kamar dengan pandangan kosong, rasanya ingin ia menemui Andre dan memukulnya.
Tak lama berselang ternyata Zee bisa tidur, mungkin karena capek atau karena lelah pikirannya. Sonia memandang dengan wajah kawatir, saat tidurpun Zee terlihat gelisah, beberapa kali ia terlihat mengerang. Karena kawatir, akhirnya Sonia meraih ponsel Zee, mencari nomor papa Zee dan menelponnya, memberi tahu kondisi Zee saat ini. Dan Sonia memutuskan untuk menemani Zee, ia tidak tega membiarkan sahabatnya menanggung derita sendiri, meski ia belum tahu, apa sebenarnya masalah Zee dan Andre