Saat malam telah tiba, Tania benar-benar ingin menghindar dari Sean yang menatapnya penuh misteri, dirinya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pria tersebut, mungkinkah? ....
"Sean, kita bukan suami-istri lagi, kuharap kau jaga batasan!" peringat Tania.
Sean tak peduli akan batasan itu, yang jelas, Tania ada di sampingnya sekarang. Sesuatu yang tak terduga, dilakukan oleh Sean, dia memeluk Tania dan menghirup aroma tubuh yang dirindukannya.
"Sean, berhentilah, aku sudah memperingatkanmu!" bentak Tania, Sean terkejut mendengar bentakan Tania yang selama ini belum pernah didengarnya.
Memang sepatutnya hal tersebut terjadi, karena Tania merasa bahwa Sean telah lupa diri, jangan kira mereka berada di rumah orang tuanya, Sean b******n ini dapat memanfaatkan situasi yang ada, karena Tania takkan diam melawan pria busuk itu.
"Tania, kenapa kau membentakku?"
"Untuk apa kau bertanya, bodoh? Sudah kuperingatkan sebelumnya, tetapi kau tetap keras kepala dengan segala pikiran mesummu itu, dan perlu kau ingat pula, bahwa diriku tidak akan mau disentuhmu lagi, paham?"
Sean tersenyum simpul, dirinya kembali mendekati Tania. Namun tujuan yang berbeda, yaitu ... memberitahu Tania bahwa dia dapat mengguncangkan hati wanita itu dalam beberapa detik saja.
"Tidakkah cukup kau membuatku menderita Sean? Kau sendiri yang memulai sebuah malapetaka dalam hubungan kita sebelumnya, dan kau pula yang menginginkanku untuk kembali padamu? Hei! Jangan harap, Sean. Perselingkuhan tak bisa dimaafkan, camkan itu!" Tania merasa bahwa Sean sekarang menjadi pria yang tidak tahu malu, karena fakta sebelumnya Sean sangatlah berwibawa dan menjunjung tinggi yang namanya harga diri. Namun sekarang tidak lagi, karena lihatlah, Sean tidak peduli dengan apa yang telah dia lakukan.
"Kau lupa jika seseorang tengah berusaha untuk mencapai kesehatannya? Bukan hal yang sulit untuk membuat mantan mertuaku itu menjadi tumbang."
Tania melototkan matanya, Sean begitu tega mengatakan itu, Sean telah gila sekarang ini! Dalam pikiran Tania, Sean akan memanfaatkan kelemahan utamanya, yaitu ayah dan ibunya.
"Sean, kumohon jangan sampai kau memberitahukan ayah perihal hubungan kita, kau bisa membuat penyakitkan kambuh lagi, dan aku tidak ingin hal itu terjadi!" Tania menatap Sean penuh frustasi, tak habis pikir dengan skema yang akan dilakukan oleh pria itu untuk mengembalikan rumah tangga mereka.
"Turuti permintaan ataupun perintahku, maka rahasia ini akan aman." Yah, dugaan Tania selalu benar, karena baru saja pria tersebut memerlihatkannya, dengan ancaman, Sean selalu bisa berada di atas orang lain, tapi kali ini ... Tania akan melawan Sean sebisa mungkin tapi dia juga akan menghindari kemurkaan Sean yang notabennya seorang pria yang penuh dengan perasaan emosional tinggi.
"Ka-kau keterlaluan, kau menjadikanku sendiri sebagai budakmu? Aku tidak akan pernah mau, Sean!"
"b***k? Aku tak berpikiran ke situ. Namun kau yang menyinggungnya, membuatku tertarik untuk melakukan hal tersebut, sepertinya ... bukan hal yang buruk." Sean benar-benar menguasai keadaan, Tania bahkan tak dapat berkutik, karena kesehatan ayahnya begitu penting, dan ia tidak ingin hal yang buruk terjadi.
Kenapa diriku berada di posisi yang sesulit ini? Sean benar-benar b******n dan membuatku semakin membencinya, jika disuruh memilih ... aku lebih baik bersama Xavier, walau dia merupakan bekas dari Valerie yang murahan itu, karena setidaknya, Xavier sedikit menghargaiku.
"Tidak perlu berpikir panjang, karena malam ini kita akan tidur nyenyak bersama, kau pun tak perlu khawatir, diriku masih memberi waktu soalnya, dan berharap ... kau berubah pikiran untuk tidak menjauh dariku, dan kembali dalam dekapanku, seperti dahulu," ujarnya, yang membuat Tania berteriak dalam batin bahwa ia sangat menolak keras jika Sean ingin mengajaknya untuk kembali seperti dulu.
♤♡◇♧
Tania bersyukur jika Sean belum bangun, memang wajar karena melihat jam yang menerterakan bahwa hari masih subuh.
Dirinya pun dengan cepat beranjak dari ranjang, meninggalkan Sean yang terpulas di sana. Keluar dari kamar, dirinya menyalakan lampu satu per satu, kemudian menuju dapur untuk memasak sesuatu.
Ketika menuju tempat tersebut, Tania mendengar seseorang yang sedang menggoreng, dan ternyata benar, ibunya lebih bangun dari dirinya ternyata, karena Leny sudah bertempur dengan alat dapur.
"Ibu."
"Oh, Tania. Kau mengagetkan Ibu."
Tania cengengesan, merasa bersalah dan akhirnya turut membantu ibunya. Di usia 48 tahun ini, ibunya masih nampak kuat, melihat itu membuat Tania merasa lega.
"Bu, jangan bekerja terlalu berat juga yah, lakukan sedikit-sedikit, jangan memaksakan diri," ucap Tania, terdengar sedikit kecemasan di sana.
Leny terkekeh, ia pun membalas perkataan anaknya, "Ibu sudah terbiasa, terkadang ayahmu pun turut membantu walau dia sedang sakit, padahal Ibu selalu menyuruhnya untuk duduk agar tidak kelelahan. Namun, dia tetap kukuh, sehingga ada perkataan yang membuat Ibu menangis, yah ... dia mengatakan, 'sakit masih bisa kutahan, yang tidak bisa kutahan adalah, membiarkanmu sendiri melalukan sesuatu, bahkan hal sekecil ini sekalipun.' Dan kalimat itu sangatlah romantis, Ibu selalu berdoa agar ayahmu selalu sehat, bahkan Ibu berharap, jika aku ingin meninggal bersamanya, kapanpun dan di manapun, asal bersamanya."
Dunia percintaan ibunya begitu indah, membuatnya sangat iri karena impian tersebut tak pernah ia gapai, bahkan hidup bersama pasangan dengan bahagia, merupakan cita-cita Tania. Namun, semuanya harus pupus ketika Valerie menghancurkan hubungan tersebut, terlebih lagi kepada Sean yang tega melakukannya.
Dan sekarang, tak tahu malunya, Sean datang dan memanfaatkan keadaan keluarganya yang sekarang, ini pulalah yang menjadikan alasan jika Tania tak bisa melawan Sean untuk sekarang ini, ayahnya begitu rapuh, saat mereka-orang tua Tania-mengatahui kabar mengecewakan ini, apakah kondisi kesehatan ayahnya tetap membaik? Bukan hanya itu, Tania pun peduli terhadap ibunya yang sangat senang ketika Sean adalah suaminya, walau pria itu memiliki kekurangan, Leny tak pernah memersalahkan, malah mendukung Sean untuk tetap semangat.
Kurang baik apa lagi keluarganya kepada Sean? Namun teganya pria itu memanfaatkan mereka untuk menjadi senjata, agar ia dapat kembali kepada b******n itu.
"Tania, kenapa kau menangis, Nak?"
Tania pun sadar, dirinya dengan cepat mengusap air mata, lalu mengatakan, "Mendengar kisah Ibu, membuatku ingin pula seperti itu," jawab Tania, dengan nada yang terharu.
"Bukannya kau telah merasakannya?"
Oh tidak ... Tania sampai keceplosan, ia mengumpat pada diri sendiri yang terbawa alur.
"Ah, iyah Bu, hanya saja ... tingkat kesetiaan dalam hubungan rumah tanggaku, masih terbilang muda," jawab Tania setenang mungkin.
"Kalian tinggal memertahankannya, sepuluh tahun memang terbilang muda, tetapi juga terbilang lumayan lama, Nak. Di mana, masa-masa sepuluh tahun yang telah kalian lalui, membuat dirimu maupun Sean tahu cara untuk memertahankan rumah tangga."
Yah, benar sekali, Bu. Cuman, hanya diriku yang tahu bahkan selalu berusaha untuk memertahankan hubungan rumah tangga kami. Namun tidak dengan Sean, dia mengkhianatiku, juga Ibu dan Ayah, serta melanggar sumpah saat pernikahan terjadi.