Situasi Yang Buruk

1049 Words
"Ayah, tolong dengarkan Tania. Ayah tidak boleh melakukan hal-hal yang berat, karena kami mengkhawatirkan keadaan Ayah sekarang ini, dan di saat ini pula, diriku akan tinggal bersama kalian," ujar Tania. Bentuk kekhawatirannya dari hari ke hari semakin menjadi dan ini adalah kewajaran dari seorang anak yang sangat ketakutan agar tak ditinggal oleh ayahnya. "Tetapi, itu hanya sementara, Nak, karena sewaktu-waktu, kau pun akan kembali ke rumah suamimu, benar begitukan, Sayang?" balas sang ayah, dan Leny pun setuju akan hal tersebut. "Kalimatmu itu seakan kau telah berpisah dengan Sean saja, Nak. Cukup dirimu tinggal beberapa minggu saja, kami sudah sangat senang," tambah Leny yang membuat Tania sedikit risau, pada kenyataannya, apa yang ibunya katakan itu adalah kebenaran, bahwa dirinya dan Sean telah berpisah, kini ... mereka berstatus mantan dan Tania sangat bahagia dengan statusnya yang sekarang ini. Tania sempat berpikir bahwa Sean sangatlah tega, padahak hubungan rumah tangga mereka sebelumnya sangatlah romantis sehingga Tania menganggap Sean adalah pria yang sangat setia. Namun nyatanya pria itu tergoda pula dengan si Valerie wanita jalang itu. "Tenang saja, diriku akan tinggal lebih lama di sini, soalnya aku sangat rindu," balas Tania, kedua orang tuanya pun senang mendengar kabar ini. Di sisi lain, Sean akhirnya tiba di rumah, pria itu menunjukkan senyumnya di hari ini, karena Sean sangat berharap, bahwa takutnya Tania akan kondisi sang ayah sekarang, dapat menjadi senjata agar ia memaksa wanita itu kembali. "Huft ... aku butuh menyegarkan diri saja, setelah itu, menuju rumah orang tua Tania," gumam Sean, kemudian masuk dalam kamarnya. ♤♡◇♧ Xavier terbangun, pria itu membasuh wajahnya kemudian keluar dari kamar mandi lalu menuju kamar Tania, untuk melihat, apa yang dilakukan oleh wanita itu. "Tania," panggil Xavier, sedikit lama tetapi respon di dalam sana tak kunjung terbalas. Hingga, Xavier mencoba memutar gagang pintu dan melihat hal yang memancing atau membuat kemarahannya timbul. Barang-barang Tania tidak ada, dan yang paling ia cari adalah, koper, ke mana koper wanita itu? Dengan cepat, Xavier mengelilingi rumah ini dan mencari keberadaannya. "Tania!" "Ke mana, kau?" "Jangan bilang dirimu lari dariku!" Mendengar keberisikan itu, membuat pelayan yang menemui Tania tadi, terheran-heran, mengapa tuannya mencari Nona Tania? Sementara Nona Tania mengatakan bahwa dia telah pamit atau izin ke pria tersebut, pada akhirnya, si pelayan pun menghampiri tuannya. "Tuan mencari Nona Tania?" Xavier berbalik, dirinya sedikit kaget karena kedatangan salah satu pelayan secara tiba-tiba. "Iyah, apa kau melihatnya?" Si pelayan menggaruk kepala, kemudian menjawab, "Iyah, saya melihat Nona Tania pergi dari rumah ini Tuan, dan Nona menitip salam kepada Anda, dan menyuruh saya agar menyampaikannya ketika Tuan telah terbangun." "Kenapa kau membiarkannya pergi?" "Bukannya Nona Tania telah pamit kepada Tuan? Nona mengatakannya kepada saya tadi," jawab sang pelayan, Xavier menjadi marah dengan wajah yang merah. "Dia membohongi orang-orang, termasuk diriku!" "Ma-maaf, Tuan. Saya tidak ta-" Perkataan sang pelayan segera dipotong oleh Xavier. "Jangan dipikirkan, aku sendiri yang akan mengurus Tania, kembalilah bekerja atau istirahat saja." "Terima kasih, Tuan." "Hm." Tania telah pergi, mencari keberadaan wanita tersebut tentu tidak mudah, dirinya memang memiliki penciuman yang tajam, tetapi dalam radius tertentu saja yang dapat ia lacak, sementara bau Tania hanya sampai di rumah ini saja. "Sialan, dia harus kudapat dan melakukan penghukuman." Baru saja ingin melangkah, niatnya terurungkan karena mendengarkan Helio yang menertawainya. Panik sekali kau, untuk apa mencarinya? Dia bukan siapa-siapa, lagipula, dia pun janda, sangat tidak mengasyikkan, lantaran telah dicicipi oleh pria lain. (Helio) "Jangan munafik sialan, ketika dia bertelanjang pun, kau langsung mengaum m***m nantinya. Dasar serigala, malu tapi mau," balas Xavier kemudian memutus telepatinya. Xavier akan mencari Tania hingga dirinya menemui wanita itu dan mengurungnya di rumah terus menerus dengan penjagaan yang ketat layaknya kurungan abadi. ♤♡◇♧ "Aku tidak akan pulang, karena diriku tinggal di rumah orang tua Tania dalam beberapa waktu yang diriku sendiri tidak tahu seberapa lama, kuharap kalian terus mengawasi Valerie dan tak membiarkan wanita itu keluar dari rumah, mengerti?" "Mengerti, Tuan." "Baiklah, aku memercayakan kalian sepenuhnya." Sean pun meninggalkan rumah lalu menuju rumah orang tua Tania dengan laju yang lebih cepat, beberapa menit kemudian, dirinya pun sampai dan melihat Tania yang sedang bermanja dengan sang ayah, kehadirannya pun turut disambut oleh ibunya Tania. "Penampilanmu selalunya menarik perhatian wanita, Sean, tak salah jika dirimu dikejar banyak perempuan di luar sana, kuharap hubungan kalian abadi hingga maut memisahkan," ujar sang ibu, mengubah ekspresi Sean dalam sekejap, karena kalimat dari Leny benar-benar menamparnya. Tatapan dari Tania pun tak kunjung lepas dari Sean, wanita itu terkejut pula, akan tetapi tidak bertahan lama, karena kegelisahan kian menyambut dari mimik wajah. "Iyah, Bu. Kalau begitu, aku mengajak Tania ke kamar dulu, kami ingin berbincang sebentar," balas Sean, dan Leny menyetujuinya. Tania segera beranjak dan menyusul mantan suami, ketika mereka sampai di kamar, Sean langsung membuka pembicaraan, "Kau tidak melihat tatapan serta tak mendengar ucapan ibumu? Terlebih lagi kepada ayahmu, mereka masih mengira bahwa kita sepasang pasutri. Namun itu salah, kau tega bukan jika aku memberitahu kabar rumah tangga kita?" tanya Sean, langsung inti pembicaraan. Tania tahu, bahwa ini akan menjadi hal yang berat untuknya, karena kedua orang tuanya masih mengira kondisi rumah tangga mereka baik-baik saja. "Aku tidak tahu apa jalan pikiranmu, Sean. Kita telah berpisah, lantas mengapa kau ke sini? Jika kau tidak ada, aku bisa memberitahu kedua orang tuaku secara baik-baik. Namun kehadiranmu mengacaukan semuanya," balas Tania. "Aku bersyukur akan hal itu, Tania. Dengan inilah, aku bisa memanfaatkan orang tuamu sebagai senjata agar kau kembali padaku, ingat ... nyawa ayahmu berada di tanganku, dalam artian: seandainya ini terbongkar, apa ayahmu baik-baik saja?" Sean menunjukkan sifat liciknya, dan Tania sangat benci hal ini. "Kau cerdik juga yah, mantan suamiku, dan ini alasannya aku semakin membencimu, kita bisa kembali rujuk. Namun, jangan harap aku akan memerlakukanmu seperti dahulu kala, karena dirimu telah memiliki Valerie bukan? Sementara aku telah dimiliki laki-laki lain." (Dan maafkan aku Xavier, aku terpaksa mengikutkanmu dalam permasalahanku, agar si Sean sialan ini, tidak bisa seenak yang ia perkirakan) -batin Tania. "Tidak peduli, selama kau menjadi Istriku, siapa pun bisa kusingkirkan, dan status kita akan membuat priamu itu mundur karena tak dapat berbuat apa-apa," balas Sean, sebagai ultimatum yang membuat Tania membisu. "Tenanglah sayang, kau harus merilekskan diri, karena nanti malam, kita akan sekamar, perlu kau ingat, bahwa akan terjadi peperangan indah di atas ranjang, dan kuharap setiap mor pengalas, cukup kuat untuk menopang berbagai gaya yang kita lakukan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD