Xavier pulang sekitar jam dua siang hari, pria tersebut melihat Tania yang sedang menonton bersama salah satu asisten rumah tangganya.
Ketika kepulangan Xavier disadari, Tania dengan cepat menghampiri pria tersebut, kemudian memukul lengannya.
"Kenapa kau lama sekali?! Seharusnya aku bekerja hari ini. Namun kurunganmu membuatku bolos untuk pertama kalinya," beritahunya tapi Xavier tidak peduli, dan memilih menghindari wanita di depannya, daripada mendengar omelan yang memancing Helio untuk terbangun, cukuplah serigala malas itu terus protes karena ia lagi-lagi membawa wanita asing ke rumah.
"Kau ingin ke mana, Xavier? Kau belum merespon protesanku," sebal Tania.
"Tidak ada yang perlu kurespon, kau cukup menjadi ibu rumah tangga di sini, lalu menungguku pulang dari bekerja dan melayaniku selayaknya suamimu," balas Xavier dan Tania melongo tidak percaya, lagi dan lagi, Xavier menganggapnya sebagai seorang istri, padahal sudah jelas bahwa dia tidak mau. Namun, Tania pun sedikit penasaran, apa yang akan dilakukan oleh Xavier ketika ia terus menolak.
"Sudah berapa kali kubilang bahwa diriku tidak bisa menjalani perintahmu, Tuan Xavier, tolong mengertilah, aku masih dalam proses menenangkan hati," curhatnya, berharap bahwa pintu hati Xavier terketuk agar dia sedikit paham tentang perasaannya sekarang ini.
"Pun sudah berapa kali kukatakan, jika penolakan adalah penerimaan, penerimaan tetap penerimaan, mengerti? Perlu kau ketahui, seandainya Valerie tak bertemu dengan Sean ataupun dirimu, hubunganku tetap berjalan dengan baik sampai saat ini. Akan tetapi, apa yang telah terjadi, cukup membuatmu mengerti bahwa kau hanya penebus dari kesalahan itu!" tutup Xavier kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Tania yang diam terpaku.
"Diriku penebus? Dan bisa dikatakan, aku pun pengganti dari Valerie, dia memang jahat Tania, aku harus pergi dari tempat ini."
Sementara Xavier, pria itu butuh istirahat karena ia sangat mengantuk dan akhirnya terlelap di ranjang, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tania untuk bersiap-siap keluar dari rumahnya, yah ... wanita tersebut telah mengambil barang-barangnya yang berupa koper, lalu keluar dari pintu dan hanya pamit kepada pelayan, itu pun dengan kebohongan.
"Xavier mengizinkanku untuk pergi beberapa hari lalu kembali ke sini, tolong salamkan diriku ke pria itu, tetapi nanti karena mungkin dia sedang istirahat."
"Eum, baik Nona, sampai jumpa dan berhati-hatilah."
"Terima kasih."
Setelah keluar dari rumah Xavier, Tania dengan terburu-buru mencari taxi, takut jika pria gila itu keluar, ia berjalan terus sampai menemukan kendaraan lain.
Tujuannya yang sekarang adalah, kembali ke rumah orang tuanya dan memberitahu semuanya, walau dia amat merasa bersalah karena tak memberitahu masalah rumah tangga mereka sebelum bercerai, itu pun ... orang tuanya tak tahu pula jika ia dan Sean telah berpisah.
Sedikit lama menunggu, akhirnya dia menemukan taxi, ia pun menuju rumah orang tuanya. Sampai di sana, ia melihat kendaraan yang tidak asing, kendaraan tersebut ternyata milik Sean, yang membuat Tania menjadi panik, serta khawatir.
"Ayah, Ibu?" tanya Tania, saat dirinya telah berada di rumah, kedua orang tuanya memandang Tania dengan tersenyum, di samping mereka pun ada Sean yang duduk dengan santainya.
"Tania, ke sinilah. Dasar anak nakal, suamimu sendiri sempat-sempatnya datang menjenguk walau ia di tengah kesibukan, tetapi dirimu?" tanya sang ibu, Tania sedikit tidak mengerti, mengapa orang tuanya masih menganggap Sean sebagai menantu?
"Benar yang dikatakan ibumu, Nak," tambah sang ayah. Namun, ada yang berbeda dari ayahnya, yaitu suara yang terdengar sedikit kurang enak badan.
"Maafkan aku, aku sampai lupa untuk menjenguk kalian, karena diriku dikejar deadline, tapi aku janji, akan-"
"Akan?" tanya sang ibu penasaran.
Tania memejamkan mata, hampir saja ia keceplosan, dirinya pun terkekeh, kemudian berkata, "Yah, akan menjenguk kalian lebih sering lagi. Oh iyah, Ibu. Kenapa dengan Ayah? Wajahnya terlihat pucat disertai suara yang sedikit tidak feet, apa Ayah kurang sehat?"
"Jantung ayahmu kumat lagi, kemarin-kemarin dirinya sempat masuk di rumah sakit dan itu membuat Ibu sangat khawatir dan hampir terpukul, untunglah Ayahmu dapat diselamatkan, sehingga kali ini, Ibu akan terus mengawasi ayahmu agar tetap sehat," jawab sang ibu, membuat Tania terkejut, juga semakin khawatir.
"Ibu, kenapa tidak memberitahu Tania?" Intonasi dari pertanyaan Tania begitu menjelaskan bahwa dirinya lebih khawatir lagi dari sebelumnya.
"Bagaimana mungkin, Nak? Dirimu sedang sibuk bukan? Bahkan menjenguk kami pun jarang, maka dari itu, Ibu tak ingin membebani pikiranmu juga, serta ayahmu pun berpikiran sama," jawaban dari ibu membuatnya terpukul, serta tertampar pula.
Air mata Tania pun menitik, Tania sangat merasa bodoh, karena terlalu mengejar dunia yaitu pekerjaan, dirinya sampai-sampai mengabaikan ayah dan ibunya, Tania kembali berpikir bahwa dirinya sudah layak disebut sebagai anak yang melantarkan sang ayah. Bahkan Tania sangat tertampar setelah sang ibu menyatakan kalimat itu, dan apakah Tania benci pada ibunya? Tidak! Tania sangat bersyukur karena dari situlah ia bisa sadar.
Akhirnya, Tania memeluk orang tuanya dengan erat, Tania sungguh menyesal atas kelalaiannya.
Jika ditanya, bagaimana perasaan Tania apabila ayahnya sampai-sampai meninggal? Tania akan sangat terpuruk, bahkan apa pun yang ada di dunia ini selain ibunya, akan sangat sulit menenangkan batin dan jiwa wanita tersebut.
"Maafkan Tania, Tania akan sering berada di sisi kalian, Tania janji." Ucapan Tania begitu lirih dan sangat bersungguh-sungguh, sehingga tepukan pelan di punggungnya pun dilakukan oleh sang ibu untuk menenangkan hati Tania.
"Sudahlah, Nak. Ayah sudah baikan, hanya butuh beberapa hari untuk membuat keadaanku semakin sehat," ucap Ayah Tania, agar putrinya tenang.
"Nak, mengapa kau membawa koper?" tanya Leny.
Jantung Tania berdegup kencang kemudian, bagaimana ini? Jika ia mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, kemungkinan besar keadaan ayahnya akan semakin parah, dan Tania takkan pernah mengharapkan hal tersebut terjadi.
Detik kemudian, tatapan Tania dan Sean bertemu, Sean melemparkan senyumannya, seolah memberi penjelasan bahwa dia dapat mengurus hal ini.
"Diriku dan Tania ingin tinggal beberapa hari di sini, Bu, jadi ... Tania membawa kopernya saat berangkat kerja tadi, sebenarnya bisa ke diriku, tetapi dia lupa dan terburu-buru sehingga berangkatnya lebih pagi." Sean berharap, bahwa mertunya menerima alasan yang sedikit konyol ini.
"Lalu bagaimana dengan pakaianmu, Nak?"
"Kebetulan diriku ingin pulang terlebih dahulu, Bu, sekalian ingin membersihkan diri pula, jadi ... aku kembali nanti sekalian membawa beberapa pakaian," balas Sean, nada pria itu terdengar lega karena mertuanya tidak curiga, sekalian pun dirinya pamit untuk pergi.
Setidaknya, hari ini dia tidak salah tujuan, yaitu rumah orang tua Tania, dan di sisi lain, keadaan sang ayah membuat Sean amat beruntung, karena dapat memertahankan atau mengembalikan hubungan mereka seperti semula.
"Yah, Tania. Kita akan seperti dulu lagi."