Info Penting

1229 Words
“AAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!” suara histeris bahagia keluar dari kedua mulut gadis remaja akhir yang sedang loncat-loncat di kasur mewah sebuah kamar yang sangat luas. Mereka sedang mengekspresikan rasa gembira karena salah satu dari mereka baru diterima di Universitas Birmingham England. Cita-cita mereka dari kecil yang ingin bersekolah bersama di Inggris. Sayangnya usia mereka terpaut satu tahun.   Laudya yang harus lebih dulu terbang Birmingham dan meninggalkan Asiah, sepupunya yang sekarang masih kelas 3 SMA. Mereka adalah puteri istana Negara Sahara. Memiliki kedudukan yang sama dalam struktur keluarga. Meski banyak sepupu lain yang usianya tidak jauh beda, tetapi sepupu dan keluarga lain selalu meremehkan Asiah dan memandang sebelah mata. Laudya seoranglah yang sejak kecil menjadi sepupu yang menyayanginya dengan tulus. Beda kadar dalam pemberian kasih sayang. Itu yang selama ini dilakukan oleh para keluarga didalam istana kepada Asiah, tetapi dengan hal itu membentuknya menjadi orang yang terbiasa dengan hinaan dan perilaku tak senonoh. Laudya dan neneknya yang menjadi sumber kekuatannya selama ini. Seminggu berlalu, Laudya meninggalkan kampung halamannya dan meninggalkan Asiah. Sebenarnya terasa berat hatinya untuk meninggalkan adik sepupunya tapi mereka selalu saling menguatkan dan percaya jika satu tahun bukanlah waktu yang lama untuk bisa kembali bersama di Negara Ratu Elizabeth tersebut. "Hari-hariku akan terasa berat tanpa Laudya disisiku." Asiah bergumam sendiri dalam hati setelah mobil yang dinaiki Laudya sudah hilang dari pandangan matanya. Situasi yang akan dilaluinya tanpa Laudya setahun kedepan akan sulit. *** Satu tahun kemudian, Di Barat Negara Manggola, sebuah desa yang tak tersentuh oleh perkembangan zaman. “MAMAAAAAAA………” Leo berteriak memasuki rumah mereka yang sederhana dan langsung menabrak tubuh mamanya dengan kasar. Untung saja mamanya bisa jaga keseimbangan. Leo menangis dipelukan mamanya. “Kamu kenapa, sayang?” mamanya juga ikutan memeluk anak sulungnya dengan heran. “Aku dapat beasiswa, mam,” ucapnya melepaskan pelukan dan menyerahkan sebuah kertas ke tangan mamanya agar bisa melihat surat tersebut. Sebulir airmata keluar tanpa permisi di sisi mata kiri Habibah ketika membaca kata per kata dari kertas yang diberikan Leo. “Mama senang yaa sampai menangis,” Leo kembali menciumi wajah orang yang paling dicintainya. Makin terisak saja tangis Habibah. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Leo atau Leonardo adalah anak sulung dari Habibah dan Mansoor yang kini mengasingkan diri dan merubah identitas mereka menjadi Dustin dan Stefanny atau mama Fanny. Leo kini sudah lulus SMA dan akan berkuliah. Mendapatkan beasiswa di salah satu universitas terbaik dunia. “Kita tunggu papa pulang baru kita bahas ya sayang.” Fanny menyeka airmata putranya lalu mencium kening Leo cukup lama. Keseharian Dustin hanya menggembala domba dan kambing, disuatu ladang yang besar, 15 menit dari rumah mereka. Kini ia punya hampir 50 domba dan 100 ekor kambing. Tidak sulit baginya untuk memelihara semuanya karena itulah rutinitasnya selama hampir 19 tahun ini. Dengan menahan tangis Fanny langsung masuk kamar dan menutup pintu. Tangisnya pecah dengan tubuh belakangnya bersandar di daun pintu. Luka lama yang selama ini dia tutup rapat terbuka kembali bagai diberikan perasan jeruk nipis. Jam kini sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mata Fanny masih sembab saat menyiapkan makan untuk suaminya yang sebentar lagi akan pulang. Leo sedang berada diruang tengah dan bercerita kepada adiknya tentang beasiswa yang baru didapatkannya. Isyana atau biasa dipanggil Ana yang berusia 15 tahun dan Pedro yang kini berusia 12 tahun. “Abang hebat…” Ana langsung memeluk abangnya begitu mendengar informasi dari Leo. Sedangkan Edo, begitu nama panggilan Pedro memilih tak acuh. Memang sikapnya lebih dingin dibanding dua saudaranya yang lain. Bukan berarti dia tidak bahagia, dia termasuk orang yang minim ekspresi dan sedikit angkuh. “Assalamualaikum.” suara dari pintu memenuhi telinga mereka bertiga.   “Walaikumsalam,” sahut ketiga putra putri Dustin dan langsung berlari kearahnya untuk mencium tangan sang papa. Ana langsung mengambil tas ayahnya dan topi sedangkan kedua anak lelaki kembali duduk ke tempat semula. “Mama di dapur lagi siapin Papa makan. Papa mandi dulu ya, baru makan. Ada informasi terkini dan membahagiakan dari Bang Leo,” Ana mensejajarkan dirinya berjalan menuju dapur dengan Dustin. “Oh ya? Apaan?” Dustin tak kalah kepo. “Mandi dulu pa, mandi." Ana terus mendorong cinta pertamanya ke kamar mandi. Melewati mama Fanny yang termenung di meja makan. “Biarin papa mandi dulu, Ma, baru makan,” Ana menjelaskan mengapa ia mendorong papanya seperti tadi. Fanny menarik senyumnya tapi tidak bisa membohongi Ana jika itu senyum terpaksa. Ah, pikir Ana mungkin mama Fanny lagi sedih mau berpisah dengan Bang Leo. Segera ia ke salah satu sudut rumah untuk menyimpan barang papanya yang tadi ia sambut di depan pintu. Hari ini hari Sabtu. Baik Ana dan Edo sudah pulang sekolah sejak jam 12 tadi. Mereka bersekolah dekat rumah saja, 10 menit berjalan kaki karena SD dan SMP mereka berdua bersebelahan. Berbeda dengan Leo yang sekolahnya berada 20 menit berjalan kaki dan berbeda arah dari sekolah kedua saudaranya. “Bang, Dek, yok tungguin papa di meja makan. Kita harus segera memberitahu Papa nih,” ajak Ana sambil menutup pintu depan. Karena mereka akan berkumpul di dapur semuanya. Mereka berlima tinggal di desa tertinggal. Bayangkan saja, Dustin memiliki ponsel yang hanya bisa SMS dan telpon. Ketiga anaknya tidak diberikan gadget secara berlebihan. Hanya diberikan laptop tanpa jaringan. Alasannya bukan karena tidak mau tapi karena memang tidak tersedia. Ketiga anak tersebut jika secara offline mampu mengoperasikan laptop dengan baik dan cepat berkat ilmu yang diberikan Dustin, setiap malam hari, Dustin selalu memberikan anak-anaknya pemahaman mulai dari bedah buku atau mengoperasikan laptop dengan baik, manfaat dan kegunaan masing-masing fitur.  Hiburan mereka lainnya hanya TV itupun tidak selalu menyala. Mereka hanya dibekali buku, baik dari buku agama, ekonomi, sejarah, fiksi hingga antropologi. Cuma itu yang Dustin sediakan untuk anaknya. Sisanya, mereka dibiarkan bermain diluar dengan anak anak tetangga dari kecil. Mengisi kegiatan bersama orang kampung dengan bermain badminton atau voli di lapangan seadanya, tapi kental akan kekeluargaan. Mereka berempat sudah duduk di kursinya masing masing, hanya menunggu sang papa karena mereka sudah makan jam 12 tadi, jelas dengan niat terselubung. Mana mungkin mereka mau menemani papanya makan jika mereka sudah makan. Hanya Fanny yang setia menemani suaminya kalau makan siang. Ketiganya tidak sabar ingin menyampaikan berita gembira kepada Papa. “Tumben semuanya duduk disini,” sindir Dustin pada anak-anaknya. Sekilas matanya bertemu dengan mata Fanny yang sembab. Fanny langsung tersenyum dan dipastikan Dustin 1000 persen pasti ada yang menganggu istrinya. Apakah mungkin ada informasi dari keluarga Fanny di Indonesia? Tapi dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari istrinya. “Pa, tadi Bang Leo pengumuman kelulusan SMA lhoo,” Ana buka suara. “Anak papa pasti lulus lah. Papa sudah tau jawabannya dari mimpi semalam.” tenang Dustin sambil bercanda. “Papaaa, kami gak bercanda,” rengek Ana. “Kamu kira papa gak serius?” Dustin kembali menggoda putri satu-satunya. Fanny diam saja. Sungguh perih hatinya. Mau menangis pun ada kebahagiaan anaknya yang harus dijaga. Dustin tidak terlalu antusias dengan kelulusan Leo. Bukan berarti dia tidak sayang, hanya saja kalau anaknya tidak pintar dibidang akademik dia tidak akan memaksa. Toh selama ini hasil rapot yang dibuahkan Leo semuanya diatas rata rata. Yang pasti dia menuntun anaknya agar menjadi tauladan dan disiplin sejak dini. “Udah udah.. kalau kelulusan bang Leo bagi papa gak menarik. Adalagi nih, informasi lain..” Ana masih terus menjadi jubir bagi Leo. Dustin setia mengunyah makanan menunggu kata kata berikutnya dari Ana… . . “Bang Leo dapat beasiswa di Universitas Ekonomi Islam Sahara,” Ana berteriak mengucapkannya saking antusias..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD