Fanny memaksakan senyumnya ketika mendengar penuturan Ana, senyum yang sangat menyedihkan bagi siapapun yang melihatnya.
Dustin seketika merasakan hambar dilidahnya, makanan yang belum terkunyah sempurna tertelan begitu saja. Tangannya tidak lagi menari indah diatas piring untuk memilah nasi dan lauk.
“Pa,” tegur Leo lembut.
Dustin tersadar langsung tersenyum kaku ke Leo.
“Aahh, begitu,” katanya singkat.
Edo langsung berdiri juga, melihat raut papanya yang tidak semangat. Yasudahlah.
Leo dan Ana menangkap keanehan dari kedua orangtua mereka memilih untuk diam saja. Dustin kembali meneruskan makannya yang tinggal sedikit.
Usai makan, Dustin mewawancarai Leo. Fanny sudah kembali ke kamar usai membersihkan piring bekas makan suaminya tadi.
“Kapan kamu mendaftar beasiswa?” tanya Dustin to the point.
“Enam bulan lalu, Pa,” kata Leo.
“Kenapa Sahara?”
“Karena itu Negara yang terdekat, Pa,” jawab Leo dengan suara lirih dan sampai menunduk karena takut akan tatapan Dustin.
Dustin serba salah. Niat Leo sangat dibenarkan karena selama ini kehidupan orang tuanya sangat terbatas dalam materi.
“Siapkan diri kamu, kamu akan Papa kuliahkan di Ibukota Manggola saja. Papa bisa membiayai kamu kalau disana.”
“Tapi ini universitas terbaik, Pa. Aku juga berjuang untuk mengalahkan beberapa pesaing untuk mendapatkan beasiswa ini.” Leo pun menuntut haknya, kepalanya yang tadi menunduk kini terangkat untuk menatap Dustin.
Dustin tidak boleh egois. Dia tidak boleh mengambil tindakan dalam keadaan kacau seperti sekarang. Yang dibutuhkannya adalah menenangkan diri. Terutama untuk Fanny. Wajar tadi Fanny terluka. Sirat matanya menyakitkan.
“Papa belum bisa memberikan kamu izin. Papa harus bicara dulu dengan mama kamu,” ujarnya lalu meminum air dan berdiri untuk menuju kamar.
“Kalian istirahatlah. Nanti kita shalat Ashar di mushola bersama-sama,” katanya lagi sebelum meninggalkan meja makan.
.
“Tenangkan dirimu. Aku belum memberikan jawaban ke Leo.” Dustin langsung mendekap Fanny yang sedang duduk ditepi ranjang sambil terus menangis. Sesekali mencium pucuk kepala istrinya.
“Semua hanya masa lalu dan semua bisa berubah. Sabar,” lanjutnya.
“Sayang aku nggak bisa,” jawab Fanny sambil sesegukkan karena masih terus menangis.
“Anakmu hanya menuntut ilmu.” Dustin menepuk pelan punggung istrinya memberikan kenyamanan.
“Mereka tidak akan mendapati dia. Aku jamin itu. Leo tidak pernah tahu dari mana ia berasal. Orang orang sekitar sini pun tidak tahu siapa kita. Sabar sayang. Nanti aku usaha lagi bicara dengan Leo.” Dustin terus memeluk istrinya sampai benar-benar tenang.
Leo dan Ana kini sudah dikamar berduaan. Mereka membahas respon orang tua mereka yang tidak sesuai dengan ekspetasi. Padahal selama ini mama Fanny selalu antusias mendengar pencapaian anaknya baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
“Kamu sadar nggak dek, dari awal Mama nggak ada komentar soal kelulusan abang di Sahara?” tanya Leo pada adik cewek satu-satunya. Raut wajah Fanny yang tidak seperti biasanya terus menghantui isi kepala Leo.
“Iya bang. Papa juga tadi sempat murung. Gimana kalau mama papa gak izinkan abang kesana?”
“Abang kira mereka akan senang karena abang bisa masuk sekolah terbaik saat ini. Usaha abang juga lumayan, dek. Tiap malam kurang tidur supaya bisa dapat nilai bagus, di tambah belajar untuk kelulusan seleksi beasiswa. Masa mama papa nggak pertimbangkan itu,” jawab Leo. Ana hanya ngangguk kecil tanda mendukung abangnya.
“Tapi dimana mana, ridho orangtua yang utama bang,” kata Ana mengingatkan.
“Iya. Abang tahu,” Leo merebahkan tubuhnya di kasur yang tidak empuk itu. Kini dia butuh istrahat sejenak.
Di kamar sebelah, Dustin sedang pusing memikirkan siapa yang akan diutamakannya. Bukan tidak bisa ia menyekolahkan anaknya, sebenarnya ia mampu, tetapi jika Leo dibiarkan di Sahara sendirian, maka nyawa Leo akan menjadi ancaman besar. Tetapi ia tidak punya alasan untuk tidak melepas Leo menggapai cita-citanya.
“Nanti kita cari solusinya sama sama ya.” Dustin melepas pelukannya pada sang istri dan langsung mengusap pipi istrinya dengan kedua ibu jarinya.
Fanny terpukul. Tidak mungkin dia tidak mendukung anaknya. Tapi memikirkan trauma masa lalu di Negara Sahara masih terasa dihatinya sampai sekarang.
***
Di Istana Sahara
“Maaf umi, aku akan ikut tes sekali lagi,” ucap seorang gadis kepada Uminya sambil berlutut.
Sudah 3 kali dia ikut tes untuk masuk ke Universitas Ekonomi Islam Sahara tetapi tetap tidak pernah lulus. Uminya hanya mau membiayainya di kampus itu.
Asiah. Begitu nama gadis yang sedang bersimpuh didepan wanita paruh baya ini. Kehidupannya didalam istana tidak seperti dongeng.
Dari kecil ia tidak mendapati kasih sayang yang cukup dari orang sekitarnya.
“Sekali lagi Umi izinkan kamu ikut tes. Kalau sampai kamu masih belum lulus, belajar saja dalam istana. Nikmati hidupmu sampai kakekmu mencarikanmu jodoh,” ketus Uminya dan langsung berlalu tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
Asiah kembali ke kamarnya. Tempat yang menjadi saksi bisu ia menjalani hari harinya. Kasur sebagai tempatnya berkeluh kesah. Dulu saat masih ada kakak sepupunya, maka kakak sepupunya yang selalu menghiburnya.
Jarang ada senyum di wajahnya. Sekalipun ia tersenyum, mungkin hanya bertahan 10 menit. Segala keburukan hidup dan takdir dari Uminya selalu dilampiaskan kepadanya. Padahal dia juga punya adik laki laki, tetapi adiknya sangat disayang oleh Uminya. Berbeda dengan dia yang lebih banyak dibuat menderita.
Padahal jika bisa memilihpun, dia tidak ingin lahir dari bagian istana seperti sekarang.
“Lebih baik aku mandi lalu tidur. Tengah malam akan terjaga lagi untuk belajar tes universitas. Kali ini adalah ujicoba terakhir yang diberikan Umi,” gumamnya lalu menghapus airmatanya dan bergegas ke kamar mandi. Mewah. Cukup satu kata menggambarkan kondisi kamarnya bak di film princess.
Tapi untuk apa kamar mewah jika hati tidak bahagia, bukan?
…
Azan kembali berkumandang di kuping kelima orang di rumah Dustin. Ia langsung membangunkan Fanny yang sempat terlelap karena kelelahan menangis. Begitu juga Leo dan Ana yang terbangun sendirinya untuk bersiap ke Mushola seperti perintah papanya setelah makan tadi. Mereka tidak sengaja tertidur satu kasur karena sibuk dengan pikiran masing masing.
Sedangkan Edo tetap terjaga didepan TV sambil membaca buku.
Jarak antara rumah dan mushola hanya 5 menit berjalan kaki. Mushola yang dibangun secara swadaya dari warga setempat. Desa yang mereka tempati penghuninya tidak lebih dari 500 jiwa dan kurang lebih 200 diantaranya beragama Islam. Setidaknya masih ada yang mengurus mushola dan menjalankan kegiatan keagamaan sehari hari.
“Dimana abangmu, An?” tanya Dustin pada Ana. Mereka berempat sudah siap pergi dan hanya menunggu Leo seorang yang tak kunjung tampak. Azan baru saja berakhir, mereka bisa ketinggalan shalat berjamaah nanti.
“Iya pa.” ternyata Leo mendengar ketika dirinya dipertanyakan Papanya tadi dan segera keluar kamar menghampiri keempat orang orang terkasihnya.
Meski sendu dan menampakkan kesedihan, Fanny mencoba tersenyum didepan ketiga anaknya. Untuk sementara dia harus menekan egonya.
Bukannya dia tidak mau Leo menjadi pribadi yang sukses, namun seandainya ada cara dan tempat bersekolah lain, maka dia akan memilih hal tersebut.
“Apa mama tidak membiarkanku sekolah disana? Tapi kenapa?” Leo mencoba berpikir setelah melihat wajah sedih Fanny yang masih cantik diusianya yang tidak lagi muda itu.
“Ayo jalan sekarang,” ajak Papa Dustin.
Usai shalat tadi, di shaff perempuan, banyak mulut emak-emak yang meninggikan anaknya dengan nilai kelulusan terbaik mereka, mendapatkan beasiswa di sekolah ternama dan terbaik. Segala macam bentuk pujian bahkan mungkin sindiran kepada Fanny. Ana mengelus punggung mamanya lembut, sorot matanya meminta mamanya juga ikut mengeluarkan keunggulan Leo. Fanny hanya menggeleng ketika dilototi oleh Ana.
“Anak saya juara umum untuk kelulusan tahun ini,”
“Putraku satu satunya menyelesaikan studinya dengan baik, sekarang dia sedang tes di salah satu universitas ternama Eropa,”
“Anakku malahan sudah diterima di ibukota Manggola,”
Begitulah kata kata yang memenuhi telinga Fanny sebelum dia memutuskan untuk pamit dari barisan emak-emak gossip.
“Kenapa mama gak balas sih?” Ana mulai meninggikan suaranya saat perjalanan pulang. Dia lupa Dustin berada disisi istrinya sehingga mendapat teguran karena sudah berbicara dengan suara besar pada wanita yang melahirkannya.
“Maaf,” cicitnya.
“Sudah jangan dibahas terus. Orang begitu gak perlu dilayani. Dengarkan saja omongan mereka,” kata Fanny menjawab.
“Leo mau makan apa malam ini? Mama akan memasakkan kamu apapun yang kamu mau sebagai ucapan selamat dari Mama karena kamu sudah lulus dengan nilai yang bagus,” Fanny menatap Leo sambil berjalan.
Leo mendekat lalu merangkul dan menciumi pipi Fanny bertubi tubi.
“Sudah jangan seperti itu. Ini masih dijalan,” kata Fanny.
“Apa aja, Mom yang penting mommy yang masak pasti aku senang dan menerimanya dengan bahagia,” jawabnya jujur.
“Ya sudah. Ana nanti sampai dirumah temani mama masak ya,”
Kata kata simpel tapi membuat Ana memutar bola matanya malas.