Ketika dirumah, Fanny masuk ke kamar bersama Dustin untuk membuka mukenah dan baju koko untuk dipakai lagi ketika shalat Magrib.
“Selama kita menikah, aku gak pernah meminta apapun dari kamu. Apapun. Uang, harta, anak, cinta, pengorbanan. Tapi hari ini, aku mohon sayang, carikan solusi untuk Leo.” Fanny menatap suaminya dengan berkaca-kaca. Suasana hati Fanny masih menyesakkan d**a. Dia terus memikirkan nasib Leo jika berada di Sahara sendirian dalam waktu yang lama.
Sejak bertatapan dengan Leo ketika hendak ke Mushola dia sudah menahan petir dihatinya. Diperjalanan pulang dia mencoba mengajak anaknya bercanda. Rasanya sulit untuk menolak agar Leo meneruskan kemauannya ke Sahara padahal ia tahu Leo sudah berjuang keras, sehalus apapun mereka menolak, tetap menyakitkan bagi Leo. Fanny tidak mau hal itu terjadi.
Dustin memijit pelipisnya.
“Apa sudah saatnya kita memberitahu mereka siapa mereka dan siapa kita? Bukankah akan bagus untuk mereka menikmati kesenangan duniawi sekarang. Kasihan mereka belum bisa menikmati dunia padahal kita mampu memberikannya?” tanya Dustin singkat.
“Kalau kau mau nyawa anakmu terancam. Silahkan.” Fanny segera keluar menuju dapur untuk masak makan malam.
Sedangkan dikamar, Dustin tampak menghubungi seseorang.
***
Pukul 3 dini hari dikesunyian malam. Bukan cuma malam, hati seorang gadis pun merasakan hal serupa.
Asiah. Gadis yang tidak pernah menerima kebahagiaan dari sekelilingnya. Selalu dipandang sebelah mata atas takdir yang sudah diluar kuasa manusia. Dia terus disalahkan Umi nya karena berjenis kelamin perempuan. Qadrullah, entah ibu seperti apa yang menyalahkan jenis kelamin anaknya.
Bukan hanya Umi, tetapi semua sepupu dan pamannya meremehkannya, dia dianggap tidak ada di dalam istana itu.
Hanya Tuhan dan neneknya yang selalu bersamanya, menemani semua luka dan airmata.
Ia terbangun karena alarm di ponsel terus berbunyi menandakan ia harus segera menyelesaikan tugasnya, tugas akhirat dan dunia. Segera ia duduk sekitar satu menit sebelum berlalu ke kamar mandi. Atas dasar kesehatan medis untuk tidak langsung berdiri ketika bangun tidur.
Kini ia sedang menjalani ibadah, banyak yang perlu ia minta kepada pemilik semesta tapi yang paling utama hanya satu, membuat hati Umi nya berbalik menjadi lembut. Dari kecil ia tidak pernah disayang layaknya seorang anak. Dan permintaan keduanya adalah agar ia diterima di satu satunya universitas yang ditetapkan sang Umi. Hanya satu universitas saja yang mau dibiayai Uminya.
Setelah itu, dia segera mengambil beberapa buku pelajaran untuk dijelajahi guna memantaskan dirinya menjadi salah satu mahasiswi di Universitas impian Uminya.
Hingga azan subuh mengumandang, barulah ia istirahat sejenak dan turun ke lantai 1 untuk sholat berjamaah dengan keluarga yang lain. Mereka semua tinggal di istana, lebih 50 orang mulai dari sepupu, saudara, Raja Hassan dan Ratu, diluar dari pelayan dan staff yang mengurusi mereka.
Usai sarapan pagi, ibu ratu ke kamar Asiah. Hampir tidak pernah ia mengunci kamarnya ketika siang hari sehingga ketika neneknya masuk Asiah tidak menyadari hal itu karena sedang asyik dengan buku yang sedang dibacanya.
Neneknya mendekat dan mengusap rambutnya pelan.
“Jangan terlalu serius,” tegur sang nenek yang sudah sakit sakitan.
“Iya nek, ntar kalau capek juga udahan,” Asiah mengangkat kepalanya untuk melihat wajah neneknya sambil tersenyum.
“Nek,” panggilnya.
“Kenapa sayang?” tanya neneknya.
2 menit neneknya menunggu tetapi Asiah tetap tidak melanjutkan kata-katanya.
“Ada apa? Tanyakan saja sama nenek,” bujuk neneknya.
Asiah tertunduk, matanya berembun. Ibu ratu menarik kepala Asiah agar merapat ke perutnya lalu semakin mengusap rambut tebal sang cucu. Asiah melingkarkan tangannya ke perut neneknya dan semakin menenggelamkan wajahnya untuk mengurangi rasa sakit di hatinya.
“Kenapa Umi cuma mau menyekolahkan aku di universitas itu nek?”
“Kamu nggak suka? Itukan bagus, nak,” jawab neneknya.
“Aku juga mau seperti sepupu yang lain sekolah sampai di luar negeri,” katanya pelan.
Hati ibu ratu menangis mendengar ucapan cucunya. Dia paham betul Asiah sedang didiskriminasi baik oleh anak menantunya maupun suaminya. Benar benar tidak ada celah bagi Asiah untuk bahagia.
“Umi gak mau kamu berjauhan dengan dia sayang,” sahut ibu ratu dengan suara bergetar menahan tangis. Segera ia angkat kepalanya agar airmatanya tidak menetes. Hatinya pun teriris melihat kondisi cucunya sekarang.
Pupus sudah harapan Asiah untuk kembali bersama dengan Laudya. 3 hari 3 malam Laudya menangis mendengar cerita dari Asiah jika tantenya tidak memberikannya izin untuk kuliah ditempat yang sama dengan dirinya. Laudya paham, tantenya memang seperti itu.
Ibu ratu mengatur nafasnya dia meminta Asiah kembali belajar karena ia ingin kembali ke kamar. Mencoba berbicara pada Raja Hassan agar Asiah diberikan kesempatan yang sama dengan Laudya.
Ternyata sedari tadi Hilman mendengar semua percakapan antara sang nenek dan sang kakak. Dia hendak ke kamar Asiah, tentu saja untuk membully dan memanas manasi lagi. Tiada hari yang dilakukannya selain menganggu kakaknya. Hilman adik Asiah yang terpaut 3 tahun darinya, selalu dimanja Umi dan selalu menyebalkan. Sifatnya childish dan egois.
Melihat neneknya hendak keluar kamar kakaknya, segera ia bersembunyi di balik tembok yang ada dekat pintu kamar.
“Mimpimu ketinggian mau nyusul kak Laudya ke London,” sinisnya ketika sudah berdiri disamping Asiah.
Gadis itu tidak merespon, menurutnya sia sia saja merespon omongan Hilman, yang ada dia semakin tambah emosi dan berujung Hilman mengadu pada Umi dan Abahnya.
“Disini aja gak lulus lulus seleksi universitasnya, apalagi luar negeri,” sambung Hilman.
“Keluar aja kalau cuma mau ganggu kakak,” Asiah menimpali.
“Huuuu. Sebagai adik yang baik aku doain semoga seleksi kali ini lulus,” sindir Hilman.
Asiah menarik nafas berat, hal seperti itulah yang diterimanya setiap hari sejak ia kecil.
***
Di belahan Negara berbeda suasana meja makan sangat hening. Hanya ada suara kecapan dari 5 mulut berbeda yang mengunyah makanan. Suasana sangat mencekam saat ini, setelah sarapan Ana dan Edo akan ke sekolah dan Leo hanya dirumah saja karena sudah tidak ada kegiatan selain menunggu ijazahnya keluar dan hari pelepasan siswa di sekolahnya.
Kini tinggal mereka bertiga yang berada di rumah, Dustin tak tampak bersedia untuk menggembala hewan ternaknya. Dia sedang duduk termenung di ruang tamu mereka padahal Leo sudah bersedia untuk menemani ayahnya pergi ke ladang hari ini untuk membantu menggembala.
“Duduk dulu,” kata Dustin memerintah Leo.
Fanny pun keluar membawa secangkir teh hangat untuk suaminya. Dari raut wajah Dustin, dapat dipastikan yang akan dibahas adalah hal serius. Perasaan Leo sudah tidak enak. Fanny pun ikut duduk disamping Dustin.
“Kenapa kamu daftar beasiswa secara diam-diam?” tanya Hamran menatap lurus putra sulungnya.
“Mmm…..” jantungnya berdegup kencang mendapati tatapan tajam papanya hingga lidahnya kelu tak bisa menjawab.
“Mendaftar di Manggola University. Papa bisa membiayai kamu kalau kamu bersekolah disana,” tegas papanya.
Leo menggeleng.
“Leo hanya mau menjadi anak yang membanggakan, Pa. Leo tau pengorbanan papa dan mama membesarkan Leo tidak mudah. Dengan mendapat beasiswa di universitas besar Leo ingin agar derajat keluarga kita terangkat dengan ilmu yang akan Leo terima semasa berkuliah,” ia berusaha menjawab meski hatinya juga nyeri.
“Gimana kalau mama kangen sayang?” Fanny mencoba memancing Leo.
“Bersabarlah Ma, 3 tahun 5 bulan saja. Leo usahakan akan selesai. Leo janji tidak akan melewati batas,” Leo turun dari kursi dan bersimpuh di lutut Fanny sambil menangis.
Sama halnya Fanny, Leo pun sadar ini bakal menjadi hal terberat dalam hidupnya. Berjauhan dengan keempat keluarganya dan disana ia harus berjuang dengan estimasi waktu yang ia janjikan kepada orangtuanya.
Leo sadar janji yang diucapkannya akan mengurangi ia menikmati masa mudanya, 3 tahun 5 bulan bukan hal yang mudah dengan persaingan dengan mahasiswa dari berbagai dunia yang otaknya pun tidak diragukan lagi.
Belajar giat, kerja keras dan kurang tidur akan diterimanya selama menempuh pendidikan. Fanny sampai tertunduk menciumi kepala anaknya yang tengah memeluk kakinya.
Leo sadar dari awal ia memberitahu soal kelulusan beasiswanya, Fanny tidak lagi pernah tersenyum dan matanya menyiratkan luka. Tapi disisi lain Leo sangat bertekad agar hari tua orangtuanya tidak lagi berpanas-panasan menggembala dan ingin menawarkan indahnya dunia kepada mamanya. Orang yang sudah merawatnya tanpa pamrih.